Tambahan: Namun dalam versi umat Islam yang di bantai dan di dzalimi.

Jadi pesan saya, wahai orang2 yang beragama, menjadi pintarlah dengan 
mengintrospeksi diri sendiri....

Yuk ya..yuuuuk...

wassalam,

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Lina" <linadah...@...> wrote:
>
> Om Sunny yang baik hati dan tidak sombong,
> 
> Seorang teman Katolik saya bercerita bahwa dia pernah diajak teman2 seimannya 
> untuk menonton video kebrutalan umat Islam di Maluku. Dan itu membuat teman 
> saya, yang saya anggap cukup netral dalam berbagai masalah, tersulut marah 
> karena bgmnpun dia merasa teman2 seimannya dibantai.
> 
> Namun dalam beberapa minggu kemudian teman saya itu diajak teman2 muslimnya 
> untuk menonton video pula. Yang menakjubkan isinya hampir persis sama seperti 
> yang minggu lalu dia tonton bersama teman2 Katoliknya.
> 
> So what?
> 
> salam introspeksi,
> Lina
> 
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "sunny" <ambon@> wrote:
> >
> > Pak HMNA yang terhormat,
> > 
> > Anda menulis dalam artikel Anda bahwa kaum muslimin dizalimi maka itu 
> > dikirim laskar Jihad ke Ambon (Maluku). Bisakah Anda memberikan 
> > contoh-contoh  apa yang dizalimkan di Maluku?
> > 
> > Sangat berterimaksih atas jawaban Anda.
> > 
> > Wassalam,
> > Sunny
> > 
> > 
> >   ----- Original Message ----- 
> >   From: H. M. Nur Abdurahman 
> >   To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
> >   Sent: Tuesday, May 25, 2010 1:14 AM
> >   Subject: [wanita-muslimah] Latar Belakang Timbulnya Radikalisme
> > 
> > 
> >     
> >   Latar Belakang Timbulnya Radikalisme
> >   oleh HMNA
> > 
> >   Fenomena radikalisme yang belakangan banyak terjadi tidak dapat 
> > ditudingkan sebagai implikasi dari pemahaman nas-nas Alquran yang literal. 
> > "Kekerasan" (baca: jihad dengan harta dan nyawa) yang dilakukan umat Islam 
> > sesungguhnya muncul sebagai reaksi atas ketertindasan dan perlakuan tidak 
> > adil yang kerap diterima umat Islam. Tak ada asap tanpa api. Seorang Muslim 
> > tidak mungkin berpangku tangan melihat saudara-saudaranya dizalimi. Ibarat 
> > satu tubuh, bila ada bagian tubuh yang sakit, maka yang lainnya turut 
> > merasakan. Laskar Jihad, misalnya, tidak akan repot-repot mengirim 
> > anggotanya ke 
> >   Ambon(*), Poso(**), , dll. sekiranya umat Islam di sana tidak dizalimi; 
> > Front Pembela Islam tidak akan susah-susah merekrut relawan untuk dikirim 
> > ke Palestina, seandainya ada pihak-pihak yang mau dan mampu mengendalikan 
> > perilaku barbar bangsa Yahudi; aksi bom syahid dan intifadhah tidak akan 
> > ada kalau bangsa Palestina tidak diteror secara membabi-buta oleh bangsa 
> > Yahudi; dan seterusnya dan seterusnya. 
> > 
> >   Radikalisme berwujud "terror" di Indonesia, adalah ijtihad meeka yang 
> > menganggap Indonesia ini adalah Dar al-Harbi, daerah perang. Padahal 
> > menurut ijtihad yang lain (termasuk yang difahami penulis dan Abu Bakar 
> > Ba'asyir), Indonesia ini BUKAN Dar al-Harbi. WaLla-hu a'lamu bi shshawa-b.
> > 
> >   -------------------------
> >   (*)
> >   BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
> > 
> >   WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
> >   [Kolom Tetap Harian Fajar]
> >   408. Masalah Ambon dan Maluku Utara
> > 
> >   Respons dan sikap ummat Islam sehubungan dengan masalah Ambon dan Maluku 
> > Utara haruslah dipilah secara "regional", yaitu: Pertama, sikap ummat Islam 
> > di daerah yang terlibat langsung dalam "perang". (Untuk selanjutnya akan 
> > dipakai bahasa Al Quran, yaitu qital, yang akar katanya dibentuk oleh qaf, 
> > ta dan lam, QTL qatala artinya membunuh. Jika dibubuhkan alif diantara qaf 
> > dan ta, menjadilah QATL qa-tala yang berarti saling bunuh = perang). Kedua, 
> > sikap ummat Islam di daerah yang tidak terlibat dalam qital. Daerah pertama 
> > ialah Ambon dan Maluku Utara sedangkan daerah kedua adalah daerah di 
> > luarnya.
> > 
> >   Untuk daerah Ambon dan Maluku Utara pembahasan harus dimulai dari 
> > permulaan yang menyulut qital (pembantaian), yaitu pada waktu ummat Islam 
> > sedang shalat Iyd pada 19 Januari 1999 sekonyong-konyong diserbu dan 
> > dibantai oleh gerombolan pengacau liar non-Muslim, kemudian ummat Islam 
> > diusir meninggalkan tempatnya bermukim. Apapun alasannya, apakah itu 
> > kesenjangan sosial, lebih-lebih jika itu berbau SARA ataupun apakah itu 
> > ulah penghasut (provokator) elit politik yang bertujuan mengacaukan 
> > Sulawesi Selatan (para exodus Muslim etnis Bugis-Makassar dari Ambon dan 
> > Kupang) untuk mendiskreditkan Habibie yang mempunyai hubungan emosional 
> > dengan orang Bugis-Makassar, maka bagi ummat Islam yang sedang shalat Iyd 
> > yang dizalimi di Ambon itu setahun yang lalu, akan merasakan dan meresapkan 
> > betul dalam hati sanubari akan makna Firman Allah:
> >   -- ADZN LLDZYN YQATLWN BANHM ZHLMWA WAN ALLH 'ALY NSHRHM LQDYR. ALDZYN 
> > AKHRJWA MN DYARHM BGHYR HQ ALA AN YQWLWA RBNA ALLH (S. ALHJ, 39-40), 
> > dibaca: Udzina lilladzi-na yuqa-talu-na biannahum zhulimu- wainnaLla-ha 
> > 'ala- nashrihim laqadi-r. Alladzi-na ukhriju- min diya-rihim bighayri 
> > haqqin illa- ayyaqu-lu- rabbunaLla-hu (s. alhjj), artinya: 
> >   -- Diizinkan berperang karena mereka dizalimi. Yaitu orang-orang yang 
> > diusir dari tempatnya bermukim dengan tidak benar hanya karena mereka 
> > berkata Maha Pemelihara kami adalah Allah (22 : 39-40).
> >   -- KTB 'ALYKM ALQTAL WHW KRH LKM W'ASY AN TKRHWA SYY^N WHW KHYR LKM W'ASY 
> > AN THBWA SYY^AN WHW SYR LKM WALLH Y'ALM WANTM LA T'ALMWN (S. ALBQRT, 216), 
> > dibaca: Kutiba 'alaykumul qita-lu wahuwa karhul lakum wa'asa- an takrahu- 
> > syay.aw wahuwa khayrul lakum wa'asa- an tuhibbu- syay.aw wahuwa syarrul 
> > lakum waLla-hu ya'lamu waantum la- ta'lamu-n (s. albaqarah), artinya: 
> >   -- Diwajibkan atas kamu berperang padahal itu kamu benci, dan boleh jadi 
> > kamu benci akan sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu 
> > senang akan sesuatu tetapi itu buruk bagimu, dan Allah mengetahui, sedang 
> > kamu tidak ketahui (2 : 216).
> > 
> >   Al Quran adalah ibarat lemari yang di dalamnya terdapat rak-rak yang 
> > tersusun berisi pakaian yang dapat diambil untuk dipakai oleh ummat yang 
> > membutuhkannya sesuai dengan "suasana kebatinan" ummat itu. Bagi ummat 
> > Islam yang dizalimi waktu shalat Iyd setahun yang lalu itu yang cocok 
> > dengan suasana kebatinannya adalah kedua ayat di atas itu.
> > 
> >   Untuk daerah yang diluar Ambon dan Maluku Utara perlu disimak Hadits yang 
> > diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Nu'man ibn Basyir seperti berikut:
> >   -- ALMW^MNYN FY TRAHMHM WTWADHM WT'AATHFHM KMTSL ALJSD ADZA ASYTKY 'ADHWA 
> > TDA'AY LH SA^R JSDH BALSHR WALHMY, dibaca: Almu'mini-na fi- tara-humihim 
> > watawa-dihim wata'a- thifihim kamatsalil jasadi idzasy taka- 'udhwan 
> > tada-'a- lahu sa-iru jasadihi bissahri walhumma, artinya: 
> >   -- Para mu'min dalam kasih mengasihi, cinta mencintai, tolong menolong, 
> > ibarat tubuh, jika ada salah satu anggota yang terkena luka, seluruh tubuh 
> > ikut menderita tidak dapat tidur dan ditimpa demam. (The Messenger of Allah 
> > (SAWS) said: "The example of the believers in their mutual love, compassion 
> > and mercy is like a single body.If there is a pain in any part of the body, 
> > the whole body feels it." [Bukhari, Muslim])
> > 
> >   Demam itu membara di Mataram dan meriang kecil di Makassar dalam wujud 
> > penggeledahan KTP dengan ekses penganiayaan serta "perpeloncoan" disusuh 
> > merayap, yang dilihat dari segi hukum positif termasuk tindakan kriminal. 
> > Hendaknya tanpa embel-embel murni, sebab dengan itu mengandung nuansa 
> > anak-anak kita mahasiswa yang demam itu disamakan dengan preman. Untuk 
> > meredam demam ini jalan satu-satunya ialah menyelesaikan akar 
> > permasalahannya di Ambon dan Maluku Utara. Untuk itu sebaiknya ditempuh 
> > upaya yang bersifat taktis dan strategis.
> > 
> >   Upaya yang bersifat taktis supaya ditempuh oleh pemerintah cq polisi. 
> > Buat sekat, artinya pisahkan kelompok Muslim dengan non-Muslim. Kemudian 
> > batas-batas berupa sekat itu dijaga oleh polisi dibantu oleh TNI yang 
> > profesional dalam arti tidak memihak, tidak menjadi partisan. Status quo 
> > ini dipertahankan hingga tercapai suasana cooling-down. Termasuk dalam 
> > upaya taktis ini adalah segera menangkap sumber penghasut, dalang yang 
> > menghasut massa non-Muslim untuk membantai ummat Islam yang shalat Iyd 
> > setahun yang lalu. Supaya tidak salah tangkap harus difokuskan kepada yang 
> > non-Muslim, elit politik dari partai yang tidak berasaskan Islam dan yang 
> > tidak berbasis massa Muslim, dengan pertimbangan sejahil-jahilnya orang 
> > Islam di Ambon itu, ia tidak akan mungkin menyuruh membantai ummat Islam 
> > yang sedang shalat Iyd setahun yang lalu.
> > 
> >   Upaya yang bersifat strategis ialah supaya ditempuh rekonsiliasi 
> > "regional". Ini yang paling berat. Pendapat Presiden Abdurrahman Wahid 
> > bahwa masalah Maluku harus diselesaikan oleh orang Maluku sendiri 
> > sesungguhnya ada benarnya jikalau dalam konteks upaya strategis 
> > rekonsiliasi "regional". Yang memegang peran dalam upaya rekonsiliasi ini 
> > haruslah dalam kalangan ulama, pendeta, tokoh-tokoh adat dan masyarakat 
> > orang Maluku yang ada di Maluku, bukan mereka orang Maluku yang ada di 
> > Jakarta atau di Makassar, atau di tempat-tempat lain di luar Maluku. 
> > Rekonsiliasi yang bersifat protokoler, formal, bahkan yang berbau hura-hura 
> > seperti menyanyi-menyanyi, menari-menari di luar Maluku apapula di Maluku 
> > sendiri supaya dihentikan, sebab tidak ada gunanya, berhubung tidak 
> > menyentuh grass-root.
> >   Firman Allah:
> >   -- LQD JA^KM RSWL MN ANFSKM 'AZYZ 'ALYHI MA 'ANTM HRYSH 'ALYKM BALMW^MNYN 
> > R^WF RHYM (S. ALTWBT, 128), dibaca: Laqad ja-akum rasu-lum min anfusikum 
> > 'azi-zun alayhi ma- 'anittum hari-shun 'alaykum bilmu'mini-na rau-fur 
> > rahi-m (s. attawbah), artinya: 
> >   -- Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kalanganmu, yang 
> > amat berat "dirasakan" olehnya akan derita kamu serta harap akan 
> > keimananmu, lagi sangat kasihan dan penyayang kepada orang-orang yang 
> > beriman (9 : 128).
> > 
> >   Jiwa ayat di atas itu ialah masyarakat hanya akan mendengarkan seruan 
> > pimpinannya, hanya jika pimpinannya itu dari kalangan mereka yang ikut 
> > menderita, ikut menjadi korban qital dari konflik horisontal. Sebab berat 
> > mata memandang, lebih berat bahu memikul. WaLla-hu a'lamu bi shshawa-b.
> > 
> >   *** Makassar, 30 Januari 2000
> >   [H.Muh.Nur Abdurrahman]
> >   
> > http://waii-hmna.blogspot.com/2000/01/408-masalah-ambon-dan-maluku-utara.html
> > 
> >   ------------------------------------
> >   (**)
> >   BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
> > 
> >   WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
> >   [Kolom Tetap Harian Fajar]
> >   724 Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu.
> > 
> >   Poso dihuni dua kelompok besar pemeluk agama. Daerah pinggir Poso Kota 
> > dan pegunungan dihuni penduduk asli, suku Toraja, Manado, dan lain-lain. 
> > Mereka beragama Kristen Protestan dengan pusatnya di Tentena, pusat Sinode 
> > Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST). Daerah Poso Pesisir kebanyakan 
> > dihuni oleh pendatang Bugis, Jawa, Gorontalo, dan penduduk asli. Agama 
> > mereka Islam. Pemeluk Katolik hanya sedikit, termasuk Tibo Cs yang datang 
> > dari Flores.
> > 
> >   Vonis mati dijatuhkan Pengadilan Negeri Palu pada 5 April 2001, diperkuat 
> > Pengadilan Tinggi Sulteng, 17 Mei 2001, dan Mahkamah Agung, 21 Oktober 
> > 2001. Penolakan grasi dari presiden 9 November 2005. Pengajuan kembali 
> > perkara (PK) telah dilakukan, tetapi dianggap tidak benar. Menurut ahli 
> > hukum, PK boleh diajukan bila syaratnya memang terpenuhi.
> > 
> >   Ir. Lateka adalah mantan pejabat di Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah. Dia 
> > adalah pimpinan "perang" Kelompok Merah yang membakar pemukiman dan 
> > membunuh masyarakat Muslim di Poso Pesisir pada 23 Mei 2000. Pada hari itu 
> > Tibo Cs yang setelah menyerang dan merusak beberapa kelurahan, ternyata 
> > ketahuan oleh massa Muslim berlindung dan terperangkap dalam kompleks 
> > Gereja Santa Maria. Segera kompleks itu dikepung oleh massa. Tibo Cs 
> > bernegosiasi dengan polisi agak lama dan alot, akhirnya polisi melepas Tibo 
> > Cs melalui pintu belakang kompleks mengikuti rombongan penghuni kompleks 
> > yang dievakuasi. Massa Muslim yang jumlahnya makin banyak menjadi naik 
> > pitam lalu merusak dan membakar kompleks, karena polisi membiarkan Tibo Cs 
> > lolos, 
> > 
> >   Pada 2 Juni 2000, Lateka dan pasukannya masuk Poso Kota, setelah menelpon 
> > Kapolres Baso Opu bahwa Lateka akan masuk Poso pada malam itu juga. 
> > Kapolres yang berasal dari Selayar ini menyarankan agar Lateka mengurungkan 
> > niatnya, tetapi Lateka tidak perduli. Dia datang dengan massa dalam jumlah 
> > besar, dengan menggunakan truk dan mobil mikrolet. Sasarannya adalah 
> > membumi-hanguskan Poso Kota. Di Kayamanya, mereka dihadang oleh Jamaah 
> > Majelis Dzikir Nurul Khairaat dan para santri pimpinan Habib Shaleh 
> > Alaydrus serta penduduk setempat, sehingga terjadi pertempuran sengit di 
> > depan masjid di Kelurahan Kayamanya itu. Sekitar 1 jam pertempuran itu 
> > terjadi, dan tiba-tiba terdengar pekik Allahu Akbar yang keras disertai 
> > robohnya kedua orang pimpinan Kelompok Merah, yaitu Lateka dan Paulina. 
> > Pasukan Merah mundur, setelah tahu kedua pemimpinnya itu menemui ajalnya 
> > oleh pasukan Habib Shaleh. Saat itu sudah sangat pagi, sekitar jam 06.15 
> > Wita. 
> > 
> >   Setelah Lateka menemui ajalnya, di Tentena berlangsung konsentrasi massa 
> > yang sangat besar di sebuah lapangan sepak bola. Saat itu, dibacakan "surat 
> > wasiat" dari Lateka yang menunjuk Tibo sebagai pimpinan Kelompok Merah. 
> > Maka saat itulah, Tibo resmi menjadi pimpinan Kelompok Merah. Sebagai 
> > tambahan informasi, jaksa agung muda Prasetyo dalam wawancara di AN TV 
> > menyebutkan latar belakang Fabianus Tibo yang pernah menjadi residivis 
> > karena membunuh 4 orang Muslim atas dasar masalah agama !!!
> > 
> >   Puluhan istri dan anak-anak mengaku bahwa suami dan ayah mereka digantung 
> > dan dipenggal di depan mata kepala mereka, lalu mayatnya dibuang ke sungai 
> > Poso. Semuanya menunjuk Tibo, Dominggus dan Marinus. Korban Muslim di 
> > Tagolu dan sekitarnya itu dibantai oleh pasukan Tibo. Ditemukan di baruga 
> > (tempat pertemuan) di Desa Tagolu, banyak sekali tali bekas gantungan dan 
> > bekas darah orang diseret dan sudah mengering. Ada kuburan massal yang 
> > berisi 19 mayat. Ada yang tinggal kepala, ada yang hanya kaki, tangan dan 
> > ada yang masih utuh. Tibo Cs juga menyerang dan membunuh warga Muslim di 
> > Pesantren Walisongo dan sekitarnya. Pesantren Walisongo dibakar habis dan 
> > penghuninya dibunuh. Pada pembantaian dan pembakaran ini banyak saksi hidup 
> > yang melihat Tibo Cs sebagai penjagal. Pesantren Walisongo terletak di 
> > Kilometer 9 menuju Tentena dari arah Poso Kota.
> > 
> >   Pantaslah kalau ketiga PENJAGAL POSO itu dihukum mati karena 
> > perbuatannya. Penolakan grasi dari presiden 9 November 2005 kepada Tibo Cs, 
> > itu sudah memenuhi rasa keadilan masyarakat.
> > 
> >   Itulah peristiwa penting dan pahit dalam Kerusuhan Poso. Mereka sudah 
> > didamaikan atas prakarsa HM Yusuf Kalla dan Susilo Bambang Yudoyono di 
> > Malino, Sulawesi Selatan. Salah satu butir kesepakatan dalam Perdamaian 
> > Malino adalah proses hukum bagi yang bersalah berjalan terus. Mengingat itu 
> > kasus Tibo Cs mestinya tidak diposisikan sebagai subjek tunggal. Dilihat 
> > dari latar belakangnya, riwayat hidup dan tingkat pemahaman terhadap 
> > konflik yang terjadi, dapat dipastikan sangat tidak mungkin Tibo Cs sebagai 
> > otak (aktor intelektual), melainkan hanya sekadar sebagi operator lapangan. 
> > Tibo Cs menunjuk 16 orang tokoh, terutama dari pihak Tentena. 
> > 
> >   Setelah Tibo bernyanyi tentang 16 nama dalam Kerusuhan Poso, Tibo Cs 
> > kembali melantunkan nyanyian baru pada 15 April 2006 di Lapas Kelas II A di 
> > Jalan Dewi Sartika Palu, soal keterlibatan Majelis Sinode GKST di Tentena 
> > dalam konspirasi dgn Yahya Patiro untuk cari jabatan sebagai Bupati Poso 
> > saat itu, yang berakibat Kerusuhan Poso. "Saya tidak tahu mengapa (mereka 
> > yang memegang jabatan di Majelis Sinode) tidak pernah diperiksa polisi," 
> > kata Tibo dalam wawancara eksklusif dengan sejumlah wartawan. "Saya katakan 
> > bahwa sebelum kami turun ke Poso, kami didoakan di halaman GKST oleh para 
> > pendeta," kata dia meyakinkan. Senada dengan nyanyian Tibo, Dominggus juga 
> > bernyanyi: "Bagaimana mereka tidak terlibat kalau mereka yang mendanai dan 
> > memimpin doa saat suruh kita pergi baku bunuh," katanya. Dengan nada bicara 
> > meledak-ledak, Dominggus bahkan mendesak polisi segera menangkap Yahya 
> > Patiro, yang menjabat sekretaris daerah Poso saat itu. "Saat itu saya 
> > berada di kantor GKST dan mengangkat telepon dari Yahya yang mencari 
> > Tungkanan. Karena Tungkanan tidak ada di tempat, Yahya kemudian menitip 
> > pesan supaya Tungkanan menghalangi jalan (Trans Sulawesi) yang akan 
> > dilalaui pasukan TNI dari arah Palopo, Sulawesi Selatan," katanya. "Justru 
> > dia itu (Yahya Patiro) yang mau cari jabatan hingga Poso jadi bagini," 
> > timpal Marinus Riwu. Berita sepenting ini tidak muncul di Koran KOMPAS ! 
> > Padahal beberapa hari sebelum nyanyian itu KOMPAS cukup rajin menampilkan 
> > artikel yang mendukung "pembebasan" Tibo! Nyanyian baru Tibo Cs ini 
> > diberitakan oleh Republika dan Media Indonesia. 
> >   Untuk Republika di 
> > http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=243803&kat_id=375
> >   Untuk Media Indonesia di http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=96740
> > 
> >   Hasil nyanyian Tibo Itu perlu dituntaskan untuk memenuhi rasa keadilan, 
> > sehingga memang sebaiknya eksekusi Tibo Cs ditunda, untuk dijadikan saksi 
> > dalam pengusutan. Tentu saja dengan tidak mengganggu-gugat keputusan 
> > hukuman mati yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dengan ditolaknya 
> > grasi mereka ketiganya oleh Presiden RI. Artikel-artikel tentang 
> > "pembebasan" Tibo yang dimuat di Kompas itu sungguh-sungguh menyinggung 
> > rasa keadilam masyarakat.
> > 
> >   Khutbah kedua dalam khutbah Jum'at biasanya ditutup dengan S. An Nahl, 
> > 90: 
> >   -- AN ALLH YWaMR BAL'ADL WLAhSAN, dibaca: innaLlaha ya'muru bil 'adli wal 
> > ihsa-n, artinya:
> >   -- Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil dan kebajikan (16:90). 
> > WaLlahu a'lamu bisshawab.
> > 
> >   *** Makassar, 23 April 2006
> >   [H.Muh.Nur Abdurrahman] 
> >   
> > http://waii-hmna.blogspot.com/2006/04/724-fabianus-tibo-dominggus-da-silva.html
> > 
> >   [Non-text portions of this message have been removed]
> > 
> > 
> > 
> >   
> > 
> > 
> > 
> > 
> >   =======
> >   Wiadomosc przeskanowana przez Spyware Doctor - nie znaleziono wirusów ani 
> > spyware.
> >   (Email Guard: 7.0.0.18, baza wirusów/spyware: 6.15060)
> >   http://www.pctools.com
> >   ======= 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>


Kirim email ke