Bagian (1/4)
----- Original Message ----- 

From: "sunny" <am...@tele2.se>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Tuesday, May 25, 2010 15:05
Subject: Re: [wanita-muslimah] Latar Belakang Timbulnya Radikalisme


Pak HMNA yang terhormat,

Anda menulis dalam artikel Anda bahwa kaum muslimin dizalimi maka itu dikirim 
laskar Jihad ke Ambon (Maluku). Bisakah Anda memberikan contoh-contoh  apa yang 
dizalimkan di Maluku?
####################################################################
HMNA:
Lho, apa anda tidak baca catatan kaki dalam Seri 408 di bawah ?
Ini saya copy paste:
- - - - - - - - - - - - - - - - - 
- - - - - - - - - - - - - - - - - 
Untuk daerah Ambon dan Maluku Utara pembahasan harus dimulai dari permulaan 
yang menyulut qital (pembantaian), yaitu pada waktu ummat Islam sedang shalat 
Iyd pada 19 Januari 1999 sekonyong-konyong diserbu dan dibantai oleh gerombolan 
pengacau liar non-Muslim, kemudian ummat Islam diusir meninggalkan tempatnya 
bermukim.
- - - - - - - - - - - - - - - - -
- - - - - - - - - - - - - - - - -
Ini lengkapnya:
 -------------------------
  (*)
  BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

  WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
  [Kolom Tetap Harian Fajar]
  408. Masalah Ambon dan Maluku Utara

  Respons dan sikap ummat Islam sehubungan dengan masalah Ambon dan Maluku 
Utara haruslah dipilah secara "regional", yaitu: Pertama, sikap ummat Islam di 
daerah yang terlibat langsung dalam "perang". (Untuk selanjutnya akan dipakai 
bahasa Al Quran, yaitu qital, yang akar katanya dibentuk oleh qaf, ta dan lam, 
QTL qatala artinya membunuh. Jika dibubuhkan alif diantara qaf dan ta, 
menjadilah QATL qa-tala yang berarti saling bunuh = perang). Kedua, sikap ummat 
Islam di daerah yang tidak terlibat dalam qital. Daerah pertama ialah Ambon dan 
Maluku Utara sedangkan daerah kedua adalah daerah di luarnya.

  Untuk daerah Ambon dan Maluku Utara pembahasan harus dimulai dari permulaan 
yang menyulut qital (pembantaian), yaitu pada waktu ummat Islam sedang shalat 
Iyd pada 19 Januari 1999 sekonyong-konyong diserbu dan dibantai oleh gerombolan 
pengacau liar non-Muslim, kemudian ummat Islam diusir meninggalkan tempatnya 
bermukim. Apapun alasannya, apakah itu kesenjangan sosial, lebih-lebih jika itu 
berbau SARA ataupun apakah itu ulah penghasut (provokator) elit politik yang 
bertujuan mengacaukan Sulawesi Selatan (para exodus Muslim etnis Bugis-Makassar 
dari Ambon dan Kupang) untuk mendiskreditkan Habibie yang mempunyai hubungan 
emosional dengan orang Bugis-Makassar, maka bagi ummat Islam yang sedang shalat 
Iyd yang dizalimi di Ambon itu setahun yang lalu, akan merasakan dan meresapkan 
betul dalam hati sanubari akan makna Firman Allah:
  -- ADZN LLDZYN YQATLWN BANHM ZHLMWA WAN ALLH 'ALY NSHRHM LQDYR. ALDZYN 
AKHRJWA MN DYARHM BGHYR HQ ALA AN YQWLWA RBNA ALLH (S. ALHJ, 39-40), dibaca: 
Udzina lilladzi-na yuqa-talu-na biannahum zhulimu- wainnaLla-ha 'ala- nashrihim 
laqadi-r. Alladzi-na ukhriju- min diya-rihim bighayri haqqin illa- ayyaqu-lu- 
rabbunaLla-hu (s. alhjj), artinya: 
  -- Diizinkan berperang karena mereka dizalimi. Yaitu orang-orang yang diusir 
dari tempatnya bermukim dengan tidak benar hanya karena mereka berkata Maha 
Pemelihara kami adalah Allah (22 : 39-40).
  -- KTB 'ALYKM ALQTAL WHW KRH LKM W'ASY AN TKRHWA SYY^N WHW KHYR LKM W'ASY AN 
THBWA SYY^AN WHW SYR LKM WALLH Y'ALM WANTM LA T'ALMWN (S. ALBQRT, 216), dibaca: 
Kutiba 'alaykumul qita-lu wahuwa karhul lakum wa'asa- an takrahu- syay.aw 
wahuwa khayrul lakum wa'asa- an tuhibbu- syay.aw wahuwa syarrul lakum waLla-hu 
ya'lamu waantum la- ta'lamu-n (s. albaqarah), artinya: 
  -- Diwajibkan atas kamu berperang padahal itu kamu benci, dan boleh jadi kamu 
benci akan sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu senang akan 
sesuatu tetapi itu buruk bagimu, dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak 
ketahui (2 : 216).

  Al Quran adalah ibarat lemari yang di dalamnya terdapat rak-rak yang tersusun 
berisi pakaian yang dapat diambil untuk dipakai oleh ummat yang membutuhkannya 
sesuai dengan "suasana kebatinan" ummat itu. Bagi ummat Islam yang dizalimi 
waktu shalat Iyd setahun yang lalu itu yang cocok dengan suasana kebatinannya 
adalah kedua ayat di atas itu.

  Untuk daerah yang diluar Ambon dan Maluku Utara perlu disimak Hadits yang 
diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Nu'man ibn Basyir seperti berikut:
  -- ALMW^MNYN FY TRAHMHM WTWADHM WT'AATHFHM KMTSL ALJSD ADZA ASYTKY 'ADHWA 
TDA'AY LH SA^R JSDH BALSHR WALHMY, dibaca: Almu'mini-na fi- tara-humihim 
watawa-dihim wata'a- thifihim kamatsalil jasadi idzasy taka- 'udhwan tada-'a- 
lahu sa-iru jasadihi bissahri walhumma, artinya: 
  -- Para mu'min dalam kasih mengasihi, cinta mencintai, tolong menolong, 
ibarat tubuh, jika ada salah satu anggota yang terkena luka, seluruh tubuh ikut 
menderita tidak dapat tidur dan ditimpa demam. (The Messenger of Allah (SAWS) 
said: "The example of the believers in their mutual love, compassion and mercy 
is like a single body.If there is a pain in any part of the body, the whole 
body feels it." [Bukhari, Muslim])

  Demam itu membara di Mataram dan meriang kecil di Makassar dalam wujud 
penggeledahan KTP dengan ekses penganiayaan serta "perpeloncoan" disusuh 
merayap, yang dilihat dari segi hukum positif termasuk tindakan kriminal. 
Hendaknya tanpa embel-embel murni, sebab dengan itu mengandung nuansa anak-anak 
kita mahasiswa yang demam itu disamakan dengan preman. Untuk meredam demam ini 
jalan satu-satunya ialah menyelesaikan akar permasalahannya di Ambon dan Maluku 
Utara. Untuk itu sebaiknya ditempuh upaya yang bersifat taktis dan strategis.

  Upaya yang bersifat taktis supaya ditempuh oleh pemerintah cq polisi. Buat 
sekat, artinya pisahkan kelompok Muslim dengan non-Muslim. Kemudian batas-batas 
berupa sekat itu dijaga oleh polisi dibantu oleh TNI yang profesional dalam 
arti tidak memihak, tidak menjadi partisan. Status quo ini dipertahankan hingga 
tercapai suasana cooling-down. Termasuk dalam upaya taktis ini adalah segera 
menangkap sumber penghasut, dalang yang menghasut massa non-Muslim untuk 
membantai ummat Islam yang shalat Iyd setahun yang lalu. Supaya tidak salah 
tangkap harus difokuskan kepada yang non-Muslim, elit politik dari partai yang 
tidak berasaskan Islam dan yang tidak berbasis massa Muslim, dengan 
pertimbangan sejahil-jahilnya orang Islam di Ambon itu, ia tidak akan mungkin 
menyuruh membantai ummat Islam yang sedang shalat Iyd setahun yang lalu.

  Upaya yang bersifat strategis ialah supaya ditempuh rekonsiliasi "regional". 
Ini yang paling berat. Pendapat Presiden Abdurrahman Wahid bahwa masalah Maluku 
harus diselesaikan oleh orang Maluku sendiri sesungguhnya ada benarnya jikalau 
dalam konteks upaya strategis rekonsiliasi "regional". Yang memegang peran 
dalam upaya rekonsiliasi ini haruslah dalam kalangan ulama, pendeta, 
tokoh-tokoh adat dan masyarakat orang Maluku yang ada di Maluku, bukan mereka 
orang Maluku yang ada di Jakarta atau di Makassar, atau di tempat-tempat lain 
di luar Maluku. Rekonsiliasi yang bersifat protokoler, formal, bahkan yang 
berbau hura-hura seperti menyanyi-menyanyi, menari-menari di luar Maluku 
apapula di Maluku sendiri supaya dihentikan, sebab tidak ada gunanya, berhubung 
tidak menyentuh grass-root.
  Firman Allah:
  -- LQD JA^KM RSWL MN ANFSKM 'AZYZ 'ALYHI MA 'ANTM HRYSH 'ALYKM BALMW^MNYN 
R^WF RHYM (S. ALTWBT, 128), dibaca: Laqad ja-akum rasu-lum min anfusikum 
'azi-zun alayhi ma- 'anittum hari-shun 'alaykum bilmu'mini-na rau-fur rahi-m 
(s. attawbah), artinya: 
  -- Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kalanganmu, yang 
amat berat "dirasakan" olehnya akan derita kamu serta harap akan keimananmu, 
lagi sangat kasihan dan penyayang kepada orang-orang yang beriman (9 : 128).

  Jiwa ayat di atas itu ialah masyarakat hanya akan mendengarkan seruan 
pimpinannya, hanya jika pimpinannya itu dari kalangan mereka yang ikut 
menderita, ikut menjadi korban qital dari konflik horisontal. Sebab berat mata 
memandang, lebih berat bahu memikul. WaLla-hu a'lamu bi shshawa-b.

  *** Makassar, 30 Januari 2000
  [H.Muh.Nur Abdurrahman]
  http://waii-hmna.blogspot.com/2000/01/408-masalah-ambon-dan-maluku-utara.html

(Bersambung ke 2/3)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke