BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
547. Yang Aneh-Aneh dan Mengejutkan

 In a New York park, a young boy was attacked by a savage dog. A passer by 
happened to see that and came to the rescue. Having tackled the dog, he 
strangled it to death. A reporter for the New Yorker News Letter was watching 
all this and took snap shots for a front page picture in the next days paper. 
Approaching our hero he says: Your heroic feat shall be published in tomorrow's 
paper under the headline - Brave New Yorker rescues boy; I'm not from New York; 
replied our brave hero. Oh in that case we'll change the headline - Brave 
American rescues boy from savage dog. I'm not American either replied our brave 
hero. On being asked about who he really is? our hero replied I'm Mojahed from 
Indonesia. Well, the next day the headline on the front page of New Yorker News 
Letter said: Mojahed, Muslim Fundamentalist strangles dog to death in New York 
park - FBI investigating possible link to al-Qaeda.
 Dipungut dari cyberspace, kemudian saya terjemahkan bebas dengan improvisasi 
seperti di bawah ini: 
 Al qissah, tersebutlah konon dalam sebuah taman di New York pada pagi yang 
sedikit berkabut, seorang buyung akan diterkam anjing galak. Mujurlah bagi sang 
buyung, atas pertolongan Allah SWT, tepat saat genting itu melintaslah seorang 
laki-laki bercambang dan berjenggot serta-merta langsung turun tangan 
menyelamatkan sang buyung. Ternyata laki-laki bercambang dan berjenggot itu 
adalah seorang pesilat. Dengan jurus "elang mencakar mangsa" dicengkeramnya 
leher anjing galak itu. Alhasil, maka tercekiklah anjing galak itu, matilah 
anjing itu menggeletak di tanah. 
 Arkian, seorang pewarta yang haus berita sensasi dari New Yorker News Letter 
sejak pergumulan itu berkecamuk, ia meliput, merekam dengan kameranya. "Pucuk 
dicinta, ulam tiba", pikirnya, sebuah sensasi untuk edisi New Yorker News 
Letter besok pagi untuk halaman muka. Tatkala anjing itu sudah berhenti galak 
karena telah tergeletak, merasa amanlah pewarta itu datang mendekat di TKP 
(tempat kejadian perkara). Maka berkatalah sang pewarta: Wahai pemberani, 
kuperkenalkan diriku, aku ini pewarta dari New Yorker News Letter. Aku amat 
kagum menyaksikan kegesitan anda. Sungguh tepatlah menurut pikiranku 
kepahlawanan anda untuk dimuat di halaman depan edisi New Yorker News Letter 
dengan head line: "Warga New York Pemberani Selamatkan Sang Buyung". "Bukanlah 
saya seorang warga New York," sahut sang pahlawan. "Kalau begitu judul berita 
saya ganti dengan: "Warga Amerika Pemberani Selamatkan Sang Buyung". "Bukanlah 
pula saya orang Amerika," sang pahlawan menimpali. Tatkala ditanya oleh pewarta 
itu siapakah gerangan sang pahlawan", berkatalah ia: "Saya Mujahid dari 
Indonesia."
 Syahdan, maka terpampanglah di New Yorker News Letter keesokan harinya sebuah 
berita sensasi berjudul panjang-panjang: Mujahid, Fundamentalis Muslim 
Indonesia Berjenggot dan Bercambang Mencekik Anjing Piaraan Seorang Buyung - 
FBI Sementara Intensif Menyelidiki Keterkaitannya Dengan Al Qaidah". 
Pemberitaan aneh. Kesimpulan, ini anekdot yang menyindir CIA dan media grafika 
Time.

***
 Al Farouq mengaku telah melakukan pemboman selama tahun 1999-2001 di 
Indonesia, harusnya Polri menangkapnya, bukan menyerahkannya ke CIA. Yang 
terbunuh, yang jadi korban adalah orang indonesia, bukan? Logikanya yang paling 
berkepentingan terhadap Al Farouq adalah Polri, bukan CIA! Penangkapan yang 
aneh. Al Farouq juga mengaku membom Masjid Istiqlal di Jakarta. Ini perbuatan 
aneh oleh orang aneh, dan anehnya lagi dipercayai kesaksiannya di bawah sumpah, 
oleh penyidik dari Polri sebagai bukti yuridis. Al Farouq katanya anggota Al 
Qaidah, itu sangat aneh jika sampai hati membom Masjid Istiqlal. Hanya tidak 
aneh jika Al Farouq adalah kaki-tangan CIA atau Mossad, yang disusupkan ke 
dalam organisasi-organisasi Islam.
 Berita mengejutkan datang dari harian Sunday Times. Koran Inggris ini menulis 
bahwa Umar Al Faruq selama ini telah membeli bahan peledak sebanyak 3 ton. 
Barang berbahaya sebanyak itu dibeli dari sumber-sumber TNI. Berita Sunday 
Times itu dilansir koran Singapura The Straits Times edisi Senin (21/10/2002). 
Sunday Times mengaku melihat sendiri sebuah dokumen penting yang berisi 
statemen Al Faruq yang mengaku telah membeli bahan peledak itu dari 
sumber-sumber TNI. 
Koran itu juga menyatakan bahwa militer Indonesia juga menggunakan bom plastik 
alias C-4 (C-four). Padahal petinggi TNI jauh hari telah membantah pihaknya 
memiliki dan menggunakan bom C-4. KSAD Jenderal E.Sutarto mengaku jajarannya 
hanya memakai bahan peledak jenis TNT. Pengakuan baru Al Farouq ini 
mengejutkan. Pengakuan baru Al Farouq ini, yang diperlancar oleh Sunday Times 
dan The Straits Times, bernuansa mengadu domba antara polisi dengan TNI. 
WaLlahu a'lamu bishshawab.

*** Makassar, 27 Oktober 2002
    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2002/10/547-yang-aneh-aneh-dan-mengejutkan.html


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke