BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
492. Le Corsaire Noir

      Demi keotentikan, sebagai pertanggung-jawaban kepada Allah SWT, dalam 
kolom ini setiap ayat Al Quran ditransliterasikan huruf demi huruf. Bila 
pembaca merasa "terusik" dengan transliterasi ini, tolong dilampaui, langsung 
ke cara membacanya saja.
      Kita patut menyatakan turut berduka-cita atas jatuhnya korban, baik di 
Amerika maupun di Palestina. Kita patut lebih berdukacita karena pemerintah 
Amerika Serikat sama sekali tidak pernah merasa turut berduka-cita atas 
terbantainya 5000 warga Palestina oleh Israel dalam kurun waktu dua tahun 
terakhir. Kita patut sangat berduka-cita lagi karena pemerintah Amerika Serikat 
justru mendukung teroris Israel dengan membelanya dalam Konferensi HAM dan Anti 
Rasisme yang diadakan di Afrika Selatan baru-baru ini. 
      Penduduk dunia dewasa ini diarahkan dan digiring kedalam perangkap opini 
bahwa seolah-olah mereka yang melakukan teror melalui enghancur-leburan dua 
gedung pencakar langit World Trade Center di New York dan Gedung pertahanan 
Pentagon di Washington serta peledakan mobil yang berisi bom di depan gedung 
kementrian luar ngeri, Kamis, tanggal 11 September 2001 adalah "terorist" 
muslim dan bahwa Osama Bin Laden adalah otak dari tindakan teror tersebut!
 Mampukah Osama Bin Laden memimpin langsung organisasi yang sedemikian rapi dan 
hebat serta sangat rahasia tidak dapat dicium oleh CIA-nya Amerika dan 
Mossad-nya Israel, menghasilkan kinerja dengan timing yang tepat serta 
perhitungan arah yang akurat, bahkan didalam kekuasaan pemerintah federal 
Amerika, sehingga mampu menluluh lantakkan secara spektakuler dua gedung 
pencakar langit yang menjadi jantung "perdagangan dunia" dan "pertahanan polisi 
dunia" itu??? 
      Demikian pula, mampukah orang-orang muslim dari Afghanistan ataupun 
pejuang-pejuang muslim dari Palestina menjalankan operasi penghancuran simbol 
kapitalisme dunia dan simbol super-power dunia di kandangnya super power itu 
sendiri dengan cara yang spektakuler?
      Kalau demikian, siapakah gerangan otak dan pelaksana yang sangat tinggi 
kinerjanya itu? 
      Masih ingatkah pembaca bagaimana Timothy McVeigh, 33 tahun, yang memiliki 
sikap kebencian pada pemerintah federal, pukul 09.00, 19 April 1995, 
menghancur-leburkan gedung federal (gedung Alfred P. Murrah) di jantung kota 
Oklahoma yang menewaskan 168 jiwa, dan telah dihukum mati dengan disuntik 
lethal pada tanggal 11 Juni 2001, yaitu tepat 3 bulan yang lalu sejak 
luluh-lantaknya WTC dan luluhnya pentagon? Dan sebelumnya McVeigh terhendus, 
siapa yang dituduh di jadikan kambing hitam? Siapa lagi kalau bukan ummat Islam 
sang terroris.
 Maka kesimpulan sementara yang paling punya kemampuan untuk menjalankan 
operasi peluluh-lantakan itu adalah orang-orang warga Amerika sediri yang 
merasa anti kepada segala bentuk kebijaksanaan yang dibuat oleh pemerintah 
federal Amerika, dan tentu saja mereka itu semua adalah bukan muslim.

***
 Saya masih teringat sayup-sayup sebuah film yang berjudul Le Corsaire Noir 
(diucapkan: le kokhsaikhe noakh, seperti "r"-nya orang Langkat, atau "r"-nya 
Rizal Ramli). Film itu pernah saya tonton sekitar 50 tahun lalu. Si Bajak Laut 
hitam ini, demikian dalam cerita, sangat menyusahkan negeri-negeri di Eropa, 
terutama Inggris yang menganggap dirinya "Penguasa Laut", ruler of the waves. 
Karena sudah terkenal (berucht) di kalangan negeri-negeri Eropa, maka asal ada 
pembajakan baik di laut, maupun pada pemukiman-pemukiman di pesisir, 
serta-merta jemari selalu ditujukan kepada Le Corsaire Noir, walaupun yang 
membajak itu bajak laut yang lain.
 Seperti cerita-cerita dalam sinetron kita, cerita ini diisi bumbu-bumbu 
"perselingkuhan". Si Bajak Laut hitam ini berselingkuh dengan "Lady", isteri 
seorang bangsawan pemilik sebauh "castle". Ada dialog yang saya masih ingat, 
yang ada persamaannya dengan "terrorist" dewasa ini. "Mengapa kau jadi 
perompak," tanya si Lady dalam suatu perjumpaan asmara di tempat rahasia. "Oh," 
sahut Le Corsaire Noir, "kapal ini adalah kerajaanku. Orang mengatakan pangkat 
saya kapten, tetapi sebenarnya menurut saya sendiri, saya adalah raja dalam 
kerajaanku itu", sambil ia menunjuk ke kapalnya yang sedang berlindung di 
sebuah teluk. "Saya menentukan kerajaan mana yang menjadi sahabat dan kerajaan 
mana yang menjadi musuhku," ujar Le Corsaire Noir lebih lanjut. "Dan," 
tambahnya pula, "kerajaan yang menjadi saya punya musuh bebuyutan (aarst 
vijand) adalah Kerajaan Inggris. Celakanya, dalam cerita itu Kerajaan Inggris 
tidak pernah berhasil melacak Le Corsaire Noir. Film itu ditutup dengan 
menyerahkannya kepada penonton. Terjadi pembajakan di pelabuhan Inggris 
Portsmouth, suatu pelabuhan kapal-kapal perang Inggris, yang sangat dibanggakan 
oleh Kerajaan Inggris pada waktu itu. Mengapa saya katakan diserahkan kepada 
penonton? Karena film itu ditutup dengan mengundang pertanyaan: "Apakah Le 
Corsaire Noir yang melabrak Portsmouth, ataukah bajak laut yang lain?" Cerita 
Le Corsaire Noir ini analog dengan Al-Qaidahnya Osama bin Laden. Inggris yang 
menganggap dirinya "Penguasa Laut", ruler of the waves, adalah analog dengan 
USA yang menganggap dirinya super power polisi dunia. Inggris yang tidak pernah 
berhasil melacak Le Corsaire Noir, analog USA juga tidak pernah berhasil 
melacak Osama bin Laden. Pembajakan di pelabuhan Inggris Portsmouth, suatu 
pelabuhan kapal-kapal perang Inggris, analog dengan penghancur-leburan dua 
gedung pencakar langit World Trade Center di New York dan Gedung pertahanan 
Pentagon di Washington.

***
 Biarkanlah Amerika dan sekutunya berprasangka, Le Corsaire Noir itu Osama bin 
Laden. Namun ummat Islam janganlah pula ikut-ikutan berprasangka buruk terhadap 
Osama bin Laden. Firman Allah: 
-- WLA TQF LA LYS LK BH 'ALM AN ALSM'A WALBSHR WAFWaAD KL AWLaK KAN 'ANH MSaWLA 
(S. ASRY, 36), dibaca: 
-- wa la- taqfu ma- laysa laka bihi- 'ilman inna alsm'a walbshr walfua-da kullu 
ula-ika ka-na 'anhu mas.u-la- (s. isra-), artinya: 
-- janganlah engkau memperturutkan apa yang tidak ada pengetahuan engkau 
tentang halnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hasil pemikiran, 
masing-masinga akan dipertanggung-jawabkan (di Hari Pengadilan kelak).  
WaLla-hu a'lamu bishshawa-b.

*** Makassar, 16 September 2001
      [H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2001/09/492-le-corsaire-noir.html


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke