Dulu orang tua memaksa saya untuk mempercayai bahwa kitab suci itu adalah 
kumpulan sabda-sabda Tuhan [yang konon bersemayam di langit]. Sabda-sabda itu 
diwahyukan kepada para nabi secara langsung berupa ayat-ayat [suci]. Lalu 
ayat-ayat itu dibukukan oleh para alim-ulama [para ahli pikir, teolog, 
cendekia] serta para pemuka masyarakat [yang dikenal sebagai orang-orang yang 
bijaksana]. Golongan elit ini diberi  otoritas [oleh penguasa setempat] untuk 
memverifikasi kebenaran ayat-ayat [yang berupa kisah dan syair] sebelum 
kemudian membukukannya secara sistematik menjadi sebuah kitab [suci].  

Bayangan saya waktu itu ada semacam sinar [seperti laser] putih yang menyorot 
dari langit ke arah kepala para nabi. Lalu setelah sorotan sinar itu berhenti, 
para nabi [yang semula sudah pintar] berubah menjadi sangat pintar, genius dan 
hafal ayat-ayat yang baru didonlot melalui sinar tersebut.  

Pasti fantasi saya ini, seperti fantasi-fantasi kanak-kanak lainnya, salah. 

Kirim email ke