Seperti biasanya, AS selalu terlambat mengeluarkan pernyataan saat sekutunya, 
Israel melakukan pembantaian pada warga sipil. Bahkan ketika yang menjadi 
korban adalah para aktivis kemanusiaan dari berbagai kewarganegaraan termasuk 
dari AS sendiri.
Bagi AS berlaku premis "Pasal 1, Israel tidak pernah salah. Pasal 2, jika 
Israel salah, kembali ke pasal 1." Setidaknya hal itu tersirat dalam pernyataan 
tertulis yang diserahkan duta besar AS untuk PBB terkait serangan pasukan 
komando Israel ke kapal pembawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza, Mavi Marmara, 
Senin (31/5) subuh kemarin.

Dalam pernyataan tertulisnya, jelas tersirat bahwa AS menyalahkan semua orang 
atas peristiwa berdarah itu, kecuali Israel. Meski faktanya, Israellah yang 
telah melakukan tindakan ilegal, menyerbu kapal dan membunuh penumpangnya yang 
masih berada di perairan internasional.


Dubes AS untuk PBB, Alejandro Wolff dalam pernyatannya tertulisnya pada PBB 
mengatakan, "Seperti yang saya katakan di hadapan Dewan Keamanan pada bulan 
Desember 2008, ketika kita dihadapkan pada situasi yang sama, tentang mekanisme 
pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza oleh negara-negara anggota (PBB) dan 
organisasi-organisasi yang ingin melakukannya. Bahwa mekanisme yang tidak 
provokatif dan tidak konfrontatif yang harus digunakan untuk membantu warga 
Gaza."

Selanjutnya, Wolff menulis, "Pengiriman bantuan langsung melalui laut adalah 
tindakan yang tidak tepat dan tidak bertanggung jawab, dan tentu saja tidak 
efektif dalam situasi ini ... Kami (AS) akan tetap melibatkan Israe, setiap 
hari, untuk memperluas cakupan dan jenis barang-barang yang dibolehkan masuk ke 
Gaza untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan warga Gaza dan untuk keperluan 
pemulihan (di Gaza)."

Dalam pernyataannya, Wolff juga menuding Hamas menjadi penyebab terjadinya 
insiden serangan Israel ke konvoi kapal bantuan kemanusiaan internasional 
"Armada Pembebasan."

"Campur tangan Hamas terkait muatan kapal bantuan internasional dan kerja 
organisasi-organisasi non-pemerintah menambah rumit upaya bantuan ke Gaza. 
Hamas terus melakukan penyelundupan senjata dan komitmennya pada terorisme, 
yang mengganggu keamanan dan kesejahteraan rakyat Palestina dan orang-orang 
Israel," tuding Wolff.

Dubes AS untuk PBB itu juga menyatakan, apa yang dilakukan aktivis kemanusiaan 
sehingga memicu serangan Israel, menghambat upaya perundingan damai antara 
Israel-Palestina. Dalam pernyataannya, Wolff tidak menjelaskan apa yang ia 
maksud dengan pengiriman bantuan yang tidak provokatif dan tidak konfrontatif, 
karena rezim Zionis Israel menutup semua akses jalan darat untuk pengiriman 
bantuan ke Gaza sehingga para aktivis kemanusiaan memilih jalan laut.

Seperti sikap AS yang menolak mengecam blokade Israel di Gaza, pemerintah AS 
juga menolak mengutuk aksi serangan brutal tentara Zionis Israel ke kapal-kapal 
bantuan sipil di perairan internasional, seperti yang terjadi senin subuh 
kemarin. (ln/isc)






[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke