Wawancara imajiner Osman Batur (OB) dengan Taufik Malin (TF)

OB: Anda Muslim?

Ya.

OB: Mengapa Anda melakukan korupsi?

TF: Apa hubungannya agama saya dengan korupsi yang saya lakukan?

OB: Bukankah Islam melarang Anda melakukan korupsi?

TF: Korupsi itu urusan muamalah, Bung. Itu wilayah publik. Jangan masukkan 
agama dalam ranah publik.

OB: Ada ayat di dalam Alquran yang melarang Anda untuk memakan harta dengan 
jalan yang batil. Bagaimana menurut Anda?

TF: Jangan memahami ayat secara tekstual. Ayat itu bisa diinterpretasi 
macam-macam. Semua orang bebas menafsirkan Alquran.

OB: Apakah Anda tidak takut adzab Allah di akhirat kelak?

TF: Zaman sekarang sudah tidak relevan lagi berbicara adzab akhirat. 
Orang-orang sudah sampai bulan, Anda masih bicara akhirat. Pola pikir mistis 
begini yang membuat orang Islam tidak kunjung maju.

OB: Jadi, Anda menganggap korupsi yang Anda lakukan itu sah-sah saja?

TF Tentu saja tidak. Hukum di negeri ini menyatakan korupsi adalah tindakan 
kriminal. Jadi, kalau Anda mau bicara soal korupsi, jangan kaitkan dengan 
agama. Itu tidak relevan. Anda mestinya bicara soal KUHP.

OB: Lalu, mengapa Anda masih tetap melakukan korupsi?

TF: Begini, bung, biar saya jelaskan. Teman-teman saya banyak yang korupsi. 
Saya lihat mereka bisa terus melakukannya tanpa tertangkap pihak berwenang. 
Saya ini, nasib saya saja yang kebetulan baru sial. Saya kurang hati-hati. Coba 
kalau saya sudah berpengalaman, mungkin nasib saya tidak akan seapes ini. 
Inilah, bung, salah satu keuntungan menjadi sekuler. Anda hanya cukup merasa 
takut kalau Anda dipenjara karena melanggar hukum. Anda tidak perlu takut 
hukuman Tuhan, tak perlu takut dosa. Anda hanya perlu takut jika Anda melanggar 
hukum, ketahuan, lalu dipenjara. Tapi hal itu bisa diatasi dengan pengalaman 
yang Anda miliki. Percayalah.---


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke