Lebih 5 tahun yang lalu, pada hari Jum'at, 18 Maret 2005 sekelompok yang 
mengaku Muslim dan Muslimah Amerika sekitar 90 orang melakukan ibadah Jum'at, 
yang menjadi khatib merangkap imam adalah perempuan. Boleh jadi dul-dul jabrut 
ikut juga menjadi makmum?

HMNA

http://waii-hmna.blogspot.com/2005/03/669-ukhrawi-untuk-duniawi.html

Dalam ibadah yang ritual berlaku qaidah: Semua tidak boleh kecuali yang 
diperintahkan dan dicontohkan oleh Nash. Pada waktu Rasulullah SAW sakit tidak 
menyerahkan pimpinan shalat itu misalnya kepada Fatimah RA, atau Aisyah. Bahkan 
RasuluLlah SAW waktu sakit itu terlambat masuk masjid ikut shalat dan 
membiarkan Abubakar RA mengimami beliau. Perintah Nabi SAW kepada Ummu Waraqah, 
itu dirampatkan (generalized) oleh Aminah Wadud meluas keluar rumah dan shalat 
wajib biasa dirampatkan meningkat ke shalat Jum'at. Budak laki-laki yang 
dikebiri(*) sebagai mu'adzinnya dirampatkan melebar kepada laki-laki yang 
potensial. Siapakah yang menjadi pengganti Nabi SAW yang menunjuk doktor 
filosofi ini menjadi imam? Kemudian imam itu dirampatkan pula melebar ke 
khatib! Inilah dia doktor yang berilmu asal-asalan. Firman Allah:
-- TSM J'ALNK 'ALY SYRY'AT MN ALAMR FATB'AHA WLA TTB'A AHWA^ ALDZYN LA Y'ALMWN 
(S. ALJATSYT, 18), dibaca: tsumma ja'alna-ka 'ala- syari-'atim minal amri 
fattabi'ha-  wala- tattabi' ahwa-al ladzi-na la- ya'lamu-n (s. alja-tsiyah), 
artinya: 
-- kemudian Kami jadikan engkau (hai Muhammad) atas syari'at di antara urusan, 
maka ikutilah syari'at itu dan janganlah engkau turut hawa-nafsu orang-orang 
yang  tidak berilmu  (45:18).  

Aminah Wadud ini termasuk di antara sosok orang-orang yang merusak Islam dari 
dalam, musang berbulu ayam. Dan sosok-sosok seperti ini tentunya menjadi 
sasaran empuk yang dimanfaatkan oleh mereka yang tidak suka pada islam. 
Kerjasama antara musang dari luar dengan musang berbulu ayam dari dalam ini 
akan terjalin hingga Allah menurunkan keputusanNya, baik melalui tangan 
makhlukNya atau atas kehendakNya sendiri. Maka ummat Islam berhati-hatilah 
terhadap aktivitas musang berbulu ayam ini yang berkecimpung menyelam di 
kawasan bersifat ukhrawi untuk tujuan duniawi, terkhusus dalam egalite 
(persamaan) gender yang kebablasan. WaLlahu a'lamu bisshawab.
-----------------------------
(*)
Budak laki-laki yang dikebiri ini adalah syaikh 'ajûz (lelaki tua renta), tidak 
berarti lelaki itu juga menjadi makmum Ummu Waraqah. 
o Pertama, harus dipahami bahwa justru karena ada hadits yang melarang 
perempuan menjadi mu'adzin, maka syaikh 'ajûz tadilah yang kemudian menjadi 
mu'adzin. 
o Kedua, tidak adanya riwayat yang mendukung bahwa lelaki tadi juga menjadi 
makmum Ummu Waraqah, sebaliknya hadits Nabi justru menyatakan: wa adzina lahâ 
an taumma nisâ'a ahli dârihâ, bahwa izin imamah shalat bagi Ummu Waraqah 
tersebut hanya diberikan untuk mengimami kaum perempuannya, sementara terhadap 
kaum prianya tidak.


----- Original Message ----- 
From: "sunny" <am...@tele2.se>
To: <Undisclosed-Recipient:;>
Sent: Sunday, June 13, 2010 15:29
Subject: [wanita-muslimah] Pandangan MUI tentang Perempuan Mengimami Shalat 
Jumat

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/fatwa/10/06/13/119644-pandangan-mui-tentang-perempuan-mengimami-shalat-jumat

Pandangan MUI tentang Perempuan Mengimami Shalat Jumat

Ahad, 13 Juni 2010, 12:42 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Majelis Ulama Indonesia (MUI) 
mengatakan perempuan tidak diperbolehkan menjadi Imam shalat Jumat. Menurut 
MUI, ijma' yang dilakukan para ulama di dunia memutuskan perempuan tidak boleh 
menjadi imam shalat Jumat. "Itu sudah jelas, tidak boleh perempuan menjadi 
imam," ujar Ketua Fatwa MUI, Ma'ruf Amin kepada Republika, akhir pekan lalu.

Ma'ruf menilai dengan kondisi apapun termasuk tiadanya laki-laki yang bisa 
menjadi Imam shalat Jum'at, perempuan tidak boleh menggantikan laki-laki 
menjadi Imam. Ia menegaskan kembali bahwa hukumnya sudah jelas, meski dalam 
Alquran tidak terdapat aturan khusus soal perempuan menjadi Imam Shalat Jumat. 

"Dalam hadis, Nabi mengajarkan perempuan tidak diperbolehkan memimpin shalat 
Jumat," tegasnya. Ia menyebut, perempuan yang memimpin shalat Jumat akan 
menimbulkan fitnah. Fitnah ini yang dinilainya berbahaya bagi kemaslahatan 
umat. Karena itu, ia meminta umat Islam untuk berhati-hati menyikapi hal ini. 
Kata dia, seandainya sebagian masyarakat ada yang merasa ragu atau 
bertanya-tanya soal itu bisa mendiskusikan itu dengan ulama. "Sekali pun 
perempuan memiliki pengetahuan agama yang cukup bukan berarti bisa menggantikan 
laki-laki sebagai imam kecuali memimpin shalat yang makmumnya juga wanita," 
tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, penulis buku asal Kanada,  Raheel Reza 
mengimami Shalat Jumat di Oxfor, Inggris. Tak hanya sebatas mengimami, Reza 
juga menyampaikan khutbah Jumat dan memimpin pembacaan syhadat kepada mualaf. 
Reza datang ke Oxford atas undangan Dr Taj Hargey, tokoh pendukung Islam 
liberal yang mendukung diizinkannya perempuan untuk menjadi imam.

Berita terkait
  a.. Mengenang Kembali Kontroversi Imam Perempuan (2-habis)
  b.. Mereka yang Kesandung Skandal Porno (1)
  c.. Rahasia di Balik Matematika Shalat
  d.. Perempuan Jadi Imam Termasuk Bid'ah Munkarah
  e.. Perempuan Boleh Jadi Imam, Tapi dengan Syarat

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke