Peradaban Islam: Peradaban Ilmu dan Tulisan

 

*Imam Syafii mengingatkan, "Ilmu itu bagaikan binatang liar, menulis

(mencatat) adalah pengikatnya."*

 

Oleh: Nuim Hidayat*

 

BANGSA Arab hingga pada masa jahiliah, telah mengapresiasi kegiatan
tulis-menulis dan urgensinya. Ketika itu, mereka memasukkan kemampuan
menulis sebagai salah satu dari tiga syarat utama seseorang disebut minal
kamilin (di antara orang-orang yang sempurna). Ibnu Sa'ad menuturkan, "Orang
yang sempurna (al-Kamil) menurut mereka pada masa Jahiliah dan permulaan
Islam adalah orang yang dikenal mampu menulis Arab, piawai dalam berenang,
dan ahli dalam memanah."

 

Rasulullah saw telah mendidik sahabat tentang pentingnya ilmu, dunia tulis
menulis, dokumentasi dan lain-lain. Prof. Mustafa Azami misalnya, menyebut
Rasulullah mempunyai 65 sekretaris (dalam bukunya Kuttabun Nabi,
diterjemahkan GIP dengan judul 65 Sekretaris Nabi). Jumlah tersebut
merupakan hasil penelitian sumber kitab-kitab yang ternama, dan
manuskrip-manuskrip yang belum ditemukan oleh ulama sebelumnya.

 

Azami menyatakan bahwa saat meneliti dan menulis kitab itu, ia memperoleh
naskah fotokopi dari kitab yang sangat bernilai, yaitu kitab al-Intishar lil
Qur'an karya al-Baqilani (w. 403 H). Al-Baqilani mengulas para sekretaris
Nabi saw. Ia menyebutkan nama-nama sekretaris Nabi yang sebagian besar telah
dikenal oleh para penulis yang lain. Tetapi, sebagian lainnya tidak terdapat
di kitab-kitab yang lain. Bahkan, ada beberapa nama dalam kitab tersebut
yang tidak kami temukan di kitab-kitab yang beredar dan dikenal mengulas
biografi sahabat, seperti kitab Thabaqat Ibni Sa'ad, Usudul Ghabah,
al-Ishabah, dan kitab-kitab besar lainnya.

 

Al-Baqilani berkata, "Nabi saw. mempunyai banyak jamaah yang hebat dan
cerdas. Semuanya dikenal sebagai sekretaris beliau, dan berasal dari
kalangan Muhajirin dan Anshar."

 

Azami menyebutkan, di antara sekretaris Rasulullah saw antara lain: Zaid bin
Tsabit yang ditugaskan untuk menulis surat kepada raja-raja, Ali bin Abi
Thalib yang bertugas menulis akad-akad perjanjian, al-Mughirah bin Syu'bah
yang menulis kebutuhan-kebutuhan Nabi yang bersifat mendadak, Abdullah ibnul
Arqam yang betugas mencatat utang-piutang dan akad lainnya di tengah
masyarakat, dan lain-lain.

 

Guru Besar Universitas Ibnu Saud ini menyatakan, salinan naskah dari
surat-surat Nabi saw. yang dikirimkan ke berbagai pihak di seantero penjuru
itu juga dipelihara keberadaannya oleh beberapa sahabat. Misalnya Ibnu
Abbas, Abu Bakar bin Hazm, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Umar ibnul Khaththab.

Abu Bakar memiliki naskah surat Nabi saw. tentang masalah sedekah. Sementara
Umar menyimpan semua naskah tentang akad-akad perjanjian dan kesepakatan
yang diambil dari para tokoh terkemuka. Salinan atau copy-an dari
surat-surat tersebut sangat berguna mengingat wilayah kekuasaan Islam yang
luas.

 

*Peradaban Tulisan*

 

Dalam sirah Nabi, dapat dibaca bahwa belum genap satu tahun Rasulullah saw.

tinggal di Madinah, beliau langsung menulis piagam yang dikenal dengan
"Undang-Undang Negara Modern," meminjam istilah beberapa peneliti. Piagam
tersebut mengatur hubungan antara kaum Muhajirin (Mekah) bersama kaum Anshar

(Madinah) di satu pihak, dan kaum Muslimin bersama kaum Yahudi di pihak
lain. Menurut Azami, Madinah menjadi sebuah negara bagi kaum Muslimin.

Sebuah negara menuntut adanya tata tertib, fasilitas, dan administrasi yang
jelas. Sehingga tumbuh diwan-diwan atau kesekretariatan pada masa Nabi saw.

 

Tentang tradisi tulis menulis ini, akhirnya Prof. Azami menyimpulkan:

"Ketika Islam datang, jumlah para penulis masih dibilang minim (di kalangan
kaum Quraisy hanya terdapat 17 orang -pen). Tetapi, berkat strategi
pengajaran yang diterapkan Nabi saw., ilmu pun tersebar luas dalam waktu
yang sangat singkat. Sehingga, jumlah para sahabat yang menulis untuk Nabi
ketika itu mencapai enam puluh orang. Dengan merujuk sumber-sumber yang
cukup memadai di tengah-tengah kita sekarang ini, kita dapat menggambar
grafik yang luas bagi aktivitas tulis-menulis atau administrasi pada masa
Nabi saw."

 

Mengutip kembali al-Baqilani, Azami menyatakan, "Nabi saw. mempunyai banyak
jamaah yang hebat dan cerdas. Semuanya dikenal sebagai sekretaris beliau,
dan berasal dari kalangan Muhajirin dan Anshar."

 

Azami mengkategorikan sekretaris Rasulullah sebagai berikut :

 

1. Kelompok yang dikenal sebagai sekretaris yang sering menulis, seperti Ali
bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka'ab, Mu'awiyah
bin Abu Sufyan ridhwanullah 'alaihim ajma'in.

 

2. Kelompok sahabat yang ditetapkan sebagai sekretaris, tetapi frekuensi
menulisnya tidak sama seperti kelompok pertama. Mereka misalnya Abu Bakar
ash-Shiddiq, Umar ibnul Khaththab, Abu Ayyub al-Anshari, dan lain
sebagainya, ridhwanullah 'alaihim ajma'in.

 

3. Kelompok sahabat yang nama-namanya tercantum dalam kitab al-Watsa`iqus
Siyasiyyah dan kitab-kitab lainnya, tetapi kami tidak menemukan penyebutan
nama mereka sebagai sekretaris Nabi saw.. Mereka misalnya Ja'far, al-Abbas,
Abdullah bin Abu Bakar ridhwanullah 'alaihim ajma'in.

 

Di antara Sekretaris Nabi dari kalangan Muhajirin, disebutkan: Abu Bakar
ash-Shiddiq, Umar ibnul Khaththab, Utsman bin 'Affan, Ali bin Abi Thalib,
Zaid bin Arqam, Khalid bin Sa'id, dan lain-lain. Para ahli sejarah
menuturkan bahwa Nabi sangat memercayai Khalid, sehingga beliau menyuruhnya
untuk mengumpulkan dokumen yang ditulisnya dan surat-surat yang
distempelnya. Ia juga sebagai sekretaris Abu Bakar. Sedangkan Umar
menugaskannya sebagai pengurus Baitul Maal.

 

Pada masa permulaan Islam, tempat "berkantor" para sekretaris dinamakan
Diwan. Diwan juga dapat diartikan kumpulan lembaran-lembaran dan daftar
tulisan yang berisi nama-nama tentara dan para pemberi sedekah. Dari hasil
penelitiannya, Azami menyimpulkan ada tiga macam diwan pada masa permulaan
Islam, yaitu:

 

1. Diwanul Insya` (kantor pembuatan surat-surat kenegaraan).

 

2. Diwanul Jaisy (pusat data personel militer)

 

3. Diwanul Kharaj/ al-Jibayah (pusat pengelolaan keuangan negara) untuk
menginventarisasi pajak yang dikembalikan pada Baitul Maal dan pemberian
yang diwajibkan atas setiap muslim.

 

Mengenai Diwanul Insya`, al-Qalaqsyandi berkata, "Diwan ini (al-Insya`)
merupakan diwan yang pertama ada dalam Islam. Diwan ini telah digunakan pada
masa Nabi saw."

 

Pusat administrasi-dalam formatnya yang sederhana-telah dipergunakan pada
masa Nabi saw. Tatkala roda pemerintahan dipegang oleh Sayyidina Umar r.a.

dan Daulah Islam telah meluas, maka pengembangan sistem administrasi adalah
suatu hal yang sangat penting. Umar r.a. telah menginstruksikan untuk
membuat pusat administrasi (diwan) dengan format yang lebih menyeluruh dari
format diwan sebelumnya.

 

Sebagai bukti, Diwanul Insya`(kantor pembuatan surat-surat
kenegaraan)-sebagaimana dinyatakan al-Qalaqsyandi-adalah diwan yang pertama
kali dibuat dalam Islam. Penggunaannya telah dimulai pada masa Nabi saw.

 

Berkaitan dengan Diwanul Jaisy (pusat data personel militer), sebuah
keterangan dalam Shahih al-Bukhari dijelaskan, ".dari Hudzaifah r.a., ia
berkata, 'Nabi saw. bersabda, 'Tulislah bagiku orang yang mengucapkan

(ikrar) Islam.' Maka kami pun menuliskannya sebanyak 1500 orang."

 

Di antara indikator yang menunjukkan salah satu kebiasan mereka dalam
mencatat orang-orang yang ditentukan keikutsertaannya dalam peperangan,
adalah riwayat Imam Bukhari dalam kitabnya, Shahih al-Bukhari. ".dari Ibnu
Abbas, ia mendengar Nabi saw. bersabda, 'Seorang laki-laki sungguh tidak
boleh menyendiri bersama seorang perempuan. Dan seorang perempuan sungguh
tidak boleh melakukan perjalanan kecuali ada mahram yang ikut bersamanya.'

Maka seorang pria berdiri dan berkata, 'Wahai Rasulullah! Apakah aku dicatat
untuk ikut dalam peperangan ini dan itu, sementara istriku keluar demi suatu
keperluan...'"

 

Rasululullah saw juga terbiasa menyuruh para sahabat agar segera menjawab
surat-surat yang masuk kepada pemerintahan-Nya. Ibnul Qasim meriwayatkan
dari Malik, ia berkata, "Telah sampai kepadaku sebuah riwayat, bahwa ada
sepucuk surat yang sampai kepada Rasulullah saw., 'Siapa yang mau menjawab
surat ini atas namaku?' Tanya beliau. Abdullah ibnul Arqam menjawab, 'Saya.'

Ia pun lekas menulis surat jawaban atas nama Nabi. Kemudian ia membawa surat
itu ke hadapan beliau (dan membacakannya). Beliau pun kagum dengan isi surat
tersebut lalu meluluskannya."

 

Tentang pentingnya menulis ini, Imam Syafii mengingatkan: "Ilmu itu bagaikan
binatang liar, menulis (mencatat) adalah pengikatnya. Ikatlah hewan buruanmu
dengan tali yang kuat. Adalah bodoh bila Anda memburu seekor kijang,
kemudian Anda lepas begitu saja tanpa tali pengikat."

 

Kehebatan dalam dunia tulis menulis ini terus berkembang, sehingga generasi
sahabat, tabiin, tabiiut tabiin, dan seterusnya berprestasi dalam menjaga
keotentikan Al-Qur'an dengan membukukannya, menuliskan Sunnah Rasulullah
saw, melahirkan ilmu aj jarh wat ta'dil, ilmu bahasa Arab (sharaf, nahwu
dll), ilmu matematika, ilmu fisika, dan lain-lain. Sejarah Islam kemudian
mencatat ilmu terus berkembang dan perkembangan buku dalam Islam --apalagi
setelah ditemukannya teknologi kertas-- melimpah luar biasa.

 

Dr Ahmad Amin dalam bukunya yang terkenal "Dhuha Islam" menyatakan: "Banyak
sekali jenis kertas yang terdapat dalam masa pemerintahan kerajaan
Abbasiyah, antaranya ialah kertas firaun (mengambil nama orang-orang Firaun
di Mesir), kertas sulaimani (mengambil nama Sulaiman bin Rashid, Gubernur
Harun al Rashid di Khurasan), kertas jaafari (mengambil nama Jaafar al
Barmaky), kertas al talhi (mengambil nama Thalhah bin Hasan). Pada masa
tersebut juga terdapat banyak sekali tempat perusahaan kertas, di antaranya
ialah di Samarqand, Baghdad, Tihamah, Yaman, Mesir, Damsyik, Tarablus,
Humah, Khimath, Mambaj, Maroko, dan juga Andalus. Dalam abad yang kedua
Hijrah terdapat perusahaan kertas yang dibuat dari perca-perca kain, kertas
jenis ini telah digunakan secara meluas dan dapat menandingi kertas-kertas
yang lain."

 

Hasil dari wujudnya bahan-bahan kertas serta penulisan ilmu pengetahuan pada
masa itu, maka terciptalah buku-buku dan tempat menyimpan buku
(perpustakaan). Karena itu, perpustakaan merupakan sumber utama bagi
kebudayaan di zaman Abbasiyah.

 

Ahmad Amin melanjutkan: "Satu perkara yang kita sebutkan di sini bahwa
dengan sebab banyaknya kertas yang digunakan sebagai bahan penulisan dan
banyaknya buku yang muncul pada masa itu, maka lahirlah pula satu perusahaan
yang bernama Wiraqah yaitu perusahaan yang bertugas untuk menyalin,
mentashih, serta menjilid buku-buku, dan lain-lain perkara yang berhubung
dengan buku. Dengan sebab itu banyak sekali toko Wiraqah dan ia merupakan
sumber yang penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu, karena
pemilik toko-toko ini menyalin buku-buku ilmu pengetahuan, kemudian mereka
mentashihnya, setelah itu dijilid lalu dijual kepada pembeli. Dengan
demikian buku-buku tersebut tersebar luas di seluruh daerah. Mereka yang
ingin mempelajari sesuatu ilmu pengetahuan pula akan mengunjungi toko-toko
ini untuk membaca dan mengkaji buku-buku yang terdapat disini."

 

Ziauddin Sardar dan MW Davies dalam bukunya berjudul Distorted Imagination
menggambarkan penerbitan buku di dunia Islam 10 abad silam, hampir setara
dengan pencapaian peradaban Barat saat ini, baik secara kualitas maupun
kuantitas. "Hampir 1000 tahun sebelum buku hadir di peradaban Barat,
industri penerbitan buku telah berkembang pesat di dunia Islam,"paparnya.

(lihat Republika, 9 September 2008).

 

Sardar menyatakan bahwa di dunia Islam kali pertama perpustakaan umum
berdiri. Peradaban Islam pula yang menjadikan perpustakaan sebagai tempat
untuk meminjam buku. Tak cuma sebatas itu, darul al ilm (perpustakaan) pun
menjadi tempat pertemuan dan diskusi. Perpustakaan di era kejayaan Islam
juga menjadi sarana pertukaran ilmu antara guru dan murid. Di Baghdad saja
saat itu, terdapat sekitar 36 perpustakaan umum, sebelum kota metropolis
intelektual itu dihancurkan oleh tentara Mongol.*

 

http://hidayatullah.com/opini/pemikiran/12000-perada

ban-islam-peradaban-ilmu-dan-tulisan

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke