Cermin Kehidupan Perantau

Di waktu lalu, entah sudah berapa lama kududuk terdiam, menyaksikan gerakan 
gambar di muka kaca screen tipis, gambar itu bukanlah berupa tayangan cerita 
filem-filem khayalan seperti filem karton yang bisa bikin hati kita terhibur, 
bukan pula filem horror untuk membuat orang jadi petakut, juga bukan filem 
drama kehidupan ala Hollywood atau Bollywood yang bisa menyihir orang jadi 
ngiler bermimpi punya gaya hidup berglamour ria.

Terhitung waktu jarum jam di dinding, berdetak detik demi detik, di keheningan 
malam sampai menjelang subuh pukul 03.00, kaca screen di Belanda menayangkan 
acara proses penghitungan suara 9 juta dari 12 juta rakyatnya yang punya hak 
suara dalam
 pemilu.

Hasil penghitungan suara pemilu 9 Juni 2010, akhirnya dimenangkan oleh partai 
Liberal (VVD) dan partai Ultra Kanan (PVV), yang menduduki urutan nomor 3 
terbesar, berhasil meraih suara, masing - masing 31% dan 24% dari 75% pemilih, 
berarti 3,3 juta orang di Belanda, telah menunjukan sikap dukungan dan 
kepercayaannya tehadap tawaran program agenda partai Ultra Kanan, yang 
berambisi berkoalisi dengan pemenang partai Liberal dan partai kalah bernama 
Kristen Demokrat.

Bila ku melihat di lingkungan sekitar hidupku,
di universitas, semua imigran berpendidikan tinggi,
di jalan- jalan, tercermin kehidupan kaya warna budaya,
di snack bar, makanan lezat, kebab dan pizzaTurki,
Aku berpikir, tentang bagaimana bentuk rupa masyarakatnya,
nyatanya 1 dari 6 orang di sekitarku tampaknya menjadi rasis,
walau semua orang ingin hidup berdamai tanpa ada rasa takut dan rasa lapar
Ketidak berdayaan adalah suatu yang
 mengerikan,
namun penyalahgunaan atas ketidak berdayaan membuat situasi semakin gawat!

Pemerintah dalam cengkraman tangan "demokrasi",
di negara yang dibangun di bawah air
mengatas namakan atas hak asasi manusia,
membentang hutan lindung di alam datar
tidak ada yang berubah,
mesin kopi otomat,
menguap panas tanpa akhir

Hembusan nafas angin badai,
menghempas akar rumput,
disepanjang kanal jalan,
disepanjang jalan taman,
di sepanjang jalan keramaian pasar,
disepanjang gang-gang jalanan.

Daun pohon dan ranting,
tegar, nyaman menggapai kemilau cahaya mentari,
ulat, cacing, semut hidup di antara himpitan rumput segar
gerakan seperti penjerat tikus di rumah kumuh,
bagaikan anak jaman terhempas resah,
yang merindukan pelukan hangat ibunda,
di alam kesaksian purnama.

Ada tantangan masa depan
hidup perantau tanpa senyum,
mendesah harapan baru,
menyatakan: "tabahlah, aku
 akan selalu bersamamu"

MiRa - Amsterdam, 15 Juni 2010

Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://sastrapembebasan.wordpress.com/
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke