Fajar
Halaman 4 OPINI                                            
Rabu, 16 Juni 2010

======================================
Video "Mesum Itu" dan Urgensi Restorasi Sosial
======================================
oleh:
H SUKMAN BAHARUDDIN
Pemerhati Perilaku Sosial

Merebaknya peredaran video mesum itu sungguh memalukan dan memilukan. Video 
mesum yang pelakunya ditengarai dilakukan oleh sejumlah selebriti papan atas 
Indonesia, menjadikan bangsa ini kembali terpuruk karena mendapat predikat
baru yang sungguh sangat tidak elok, yakni sebagai negara dengan pengunduh 
video mesum tertinggi di Asia. Karena sebelumnya juga telah ditempatkan sebagai 
salah satu negara dengan perilaku korupsi terburuk didunia. Predikat buruk ini 
mungkin saja akan bertambah lagi. Itu bila kita cukup jujur untuk memasukkan 
sejumlah perilaku sosial yang tidak elok lainnya. 

Mengapa bangsa ini terpuruk seperti sekarang? Secara sederhana bisa disimpulkan 
bahwa sesungguhnya semua ini terjadi karena "ketahanan sosial" bangsa ini tidak 
cukup kuat lagi untuk membendung kuatnya arus dan tekanan yang memungkinkan 
terjadinya berbagai fenomena yang kurang elok itu. Berbagai perangkat soft ware 
bangsa ini (agama, pancasila, budaya) tampaknya tidak cukup kuat lagi, atau 
mungkin justru karena sejauh ini, kita telah lalai untuk mengamalkannya karena 
larut dengan euforia demokrasi dan reformasi.

Nilai-nilai kehidupan yang sejatinya memuliakan manusia, seperti keimanan, 
kejujuran, kehormatan, kejuangan dan sebagainya, telah terpinggirkan oleh 
kerakusan dan ketiadaan rasa malu untuk melakukan hal-hal yang merendahkan 
kemuliaan dan martabat kemanusiaannya. Mempertontonkan perbuatan asusila, 
amoral, dan perilaku menyimpang lainnya, tidak lagi menjadi sesuatu yang 
memalukan, bahkan pada titik tertentu justru merupakan sebuah kebanggaan.

Atas berbagai fenomena sosial yang tidak elok ini, maka pertanyaan mendasar 
bagi penulis adalah, benarkah bangsa ini bangsa mesum, bangsa korup, atau 
bangsa tak berperadaban? Lalu apa seyogianya yang perlu kita lakukan untuk 
menyikapi semua itu?

Dalam konteks inilah, penulis mencoba mengangkat tema ini dalam sebuah tulisan 
yang hanya merupakan sebuah hasil perenungan penulis, untuk menjadi bahan 
renungan bagi kita semua, yang tentu saja punya harapan dan impian besar 
tentang lahirnya sebuah generasi dan bangsa yang akan lebih maju dan modern, 
tapi tanpa harus tergerusi akar budaya dan folisofi berkebangsaannya yang luhur 
dan mulia.

---------------
Fenomenal
---------------
Fenomena video mesum itu sungguh dahsyat, dari data yang ada, hampir seluruh 
provider penyedia jasa layanan internet, telah mengalami over load hingga di 
atas 150 persen dibanding keadaan normal. Akibatnya tentu saja bisa dimaklumi
bila para pengguna internet mengalami berbagai kesulitan teknis untuk mengakses 
ataupun sekadar browsing guna mendapatkan berbagai data dan informasi melalui 
internet.

Razia yang dilakukan oleh para guru di sejumlah sekolah, sungguh mencengangkan. 
Umumnya HP para pelajar yang dirazia semua berisi rekaman video itu dan tanpa 
ada kesan rasa malu memiliki termasuk menontonnya. Fakta ini menunjukkan betapa 
patokan rasa malu di kalangan pelajar pun sudah mulai tergerus dan semakin 
tidak jelas alat ukurnya.

Sesungguhnya perilaku mesum para selebriti atau yang dilakukan oleh para 
pesohor lainnya, bukanlah hal baru. Bahkan sudah merupakan sajian rutin yang 
bisa dinikmati oleh masyarakat luas melalui berbagai media dan cara. Tapi
sesungguhnya justru di sinilah pangkal masalahya, yang menurut penulis perlu 
pencermatan secara bersama.

Akibat adanya rekayasa dan intensitas penyajian yang tidak elok ini, yang 
begitu mudah dan murah mengalir secara bebas dan terbuka untuk dikonsumsi oleh 
masyarakat luas, menjadikan sajian ini telah mengalami proses penggerusan atas 
"visi & misi" dari yang seharusnya. Bahkan dalam kadar tertentu dan oleh 
kalangan tertentu, telah dipandang sebagai sesuatu yang
wajar dan lumrah dalam iklim kehidupan yang modern dan global. Masya Allah.

Kontrol kultural berupa tatanilai etik dan moral, bahkan tata-nilai spiritual 
sekalipun, nyaris tidak lagi menjadi sesuatu yang penting dan dipentingkan 
untuk mengawal setiap tayangan dan media yang disajikan kepada masyarakat. 
Semua ini kemudian menjadi semakin kebablasan, karena masyarakat tampaknya 
lalai dan bahkan ikut "menikmati" sajian yang tersedia. Video dan sajian-sajian 
yang sedemikian masif itu telah melumpuhkan sistem dan tata-nilai masyarakat, 
sebagai alat kontrol dan filter untuk menangkal dan atau mengadopsi setiap 
tata-nilai yang baru dan dipandang perlu.

------------------------
Peran Pendidikan
-------------------------
Di tengah karut-marut kehidupan bermasyarakat seperti ini, maka bolehlah kita 
menoleh sejenak ke sektor pendidikan kita. Peran yang telah dan akan dilakukan 
ke depan, untuk menjadikan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa menjadi lebih 
maju dan bermartabat adalah sangat penting dan strategis . Penanaman dan 
pemaknaan terhadap tata-nilai dalam dimensi kehidupan yang lebih luas, dalam 
segi-segi kependidikan, perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius lagi.

Dalam konteks inilah, penulis mengapresiasi dan respek terhadap program Pemkot 
Makassar untuk menginjeksikan pendidikan karakter bangsa dalam sistem kurikulum 
pendidikan dasar dan menengah di kota ini, meskipun upaya ini tentu saja 
belumlah memadai bila dibanding tingkat "kerusakan" yang telah terjadi. Oleh 
karena itu pelibatan seluruh elemen masyarakat, tentu saja perlu terus didorong 
untuk ikut mengambil bagian, dalam rangka melakukan kajian-kajian kependidikan 
guna mengawal proses restorasi sosial, melalui berbagai cara dan upaya.

Dalam kerangka pemikiran inilah maka, fungsi dan peran pendidikan sebagai 
institusi formal, tentu saja menjadi sangat strategis, khususnya peran yang 
dapat dimainkan oleh para Guru. Metode dan substansi pengajaran sudah perlu 
mendapatkan pengayaan "nilai" yang lebih dari sebelumnya, sehingga tidak perlu 
selalu terjebak pada hal-hal yang bersifat rutinitas dan normatif, atau mungkin 
hanya mengedepankan aspek-aspek yang kuantitatif dan kognitif semata.

Guru seyogianya tidak hanya sekadar sebagai Pengajar, melainkan yang jauh lebih 
penting adalah bagaimana agar para Guru secara sadar, dan sungguh-sungguh 
menjadikan profesi Guru sebagai Pengajar, Pendidik, sekaligus Pengabdi. Profesi 
Guru jangan lagi dipandang semata sebagai sebuah Jenis Pekerjaan, yang akan 
menghasilkan Gaji, melainkan sebagai sebuah ladang pengabdian untuk membentuk 
manusia yang cerdas dan mulia. Jangan lagi ada Guru yang ikut merendahkan 
kemuliaannya dengan cara-cara yang tidak terpuji, termasuk menjadikan ilmunya 
sebagai objek transaksional, seperti yang nyaring gaungnya terdengar selama ini.

Tentu saja tidak fair bila seluruh karut-marut ini, semata dibebankan kepada 
Guru untuk membenahinya. Kita semua sesungguhnya bisa meng-Guru-kan diri, 
sebagai pendidik, pengajar, dan pengabdi. Dari berbagai fenomena sosial yang 
terjadi saat ini, seyogianya mengusik kesadaran kita, untuk secara bersamasama 
mengambil peran sesuai porsi masing-masing. Dalam konteks inilah maka restorasi 
sosial itu menjadi urgen sifatnya, yakni upaya sadar yang dilakukan secara 
terencana, untuk menempatkan sesuatu, kembali pada posisi dan kondisinya yang 
ideal.

Fenomena video itu, kekerasan, kerakusan, kezaliman, korupsi, money politics, 
kepura-puraan, cukuplah sudah, karena semua itu hanya akan merusak sendi-sendi 
dan tata-nilai bagi generasi dan bangsa ini ke depan. Upaya hukum terhadap para 
pelaku sebagai bagian dari proses dan upaya penjeraan, tentu saja harus 
dilakukan secara tegas dan adil, tetapi pada saat yang sama, membentengi 
generasi dan bangsa ini dari perilaku asusila dan amoral, adalah tanggung jawab 
bersama, dan harus. Melakukan pembiaran terhadap fenomena ini, sesungguhnya 
sama dengan memutus sejarah bangsa dan generasi
Indonesia ke depan.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke