Undangan Diskusi Publik

Tema:
Hipokrit: Negara, Media Dan Masyarakat
Dalam Melihat Persoalan Seksualitas
( Kajian Kritis Terhadap Video Porno mirip Ariel dan Luna Maya )
Diselenggarakan oleh Indonesia Media Watch

Hari/Tanggal : Rabu, 23 Juni 2010 
Pukul : 15.00- 18.00 WIB
Tempat : Galeri Café (Taman Ismail Marzuki) 
Jl Cikini Jakarta Pusat, 


I. Latar Belakang

Saat ini pemberitaan media massa tentang video porno yang diduga mirip Ariel 
dan Luna Maya setiap hari kita lihat dan baca. Bahkan di infotaiment menjadi 
headline, di media cetak dan media televisi memberitakannya melebihi 
pemberitaan kasus century dan kasus korupsi lainnya. Masyarakat selama ini 
sudah muak dan putus asa dengan kondisi Negara yang penuh dengan penipuan dan 
korupsi disana-sini. Sehingga pemberitaan tentang video porno itu menjadi 
"obat" mujarab untuk menghentikan sejenak perhatian masyarakat terhadap 
persoalan Negara. Karena setiap saat disuguhkan dengan pemberitaan tentang 
video porno secara terus-menerus membuat masyarakat terbawa dalam perdebatan. 
Sebagian masyarakat mengencamnya tapi sebagian masyarakat juga mengunduhnya. 
Tidak mengherankan video itu menjadi buruan oleh banyak orang, termasuk siswa 
sekolah. Sampai harus dilakukan razia hand phone untuk memastikan ada atau 
tidak video porno tersebut.

Pembicaraan tentang video porno tersebut dilakukan oleh hampir semua lapisan 
masyarakat. Mulai kelas atas sampai tingkat bawah asyik membahas hal tersebut. 
Ibarat menonton adegan ranjang bintang yang dipujanya secara gratis. Kemudian 
peluang ini semakin ditangkap oleh media untuk membangun opini publik bahwa 
video itu layak dihujat tetapi sekaligus enak dinikmati.Pemerintah khususnya 
Kementerian Pendidikan Nasional kemudian menyatakan bahwa tidak menjadi penting 
pendidikan seksual diberikan di lembaga pendidikan. Karena alasannya ditakutkan 
anak-anak akan melakukan praktek seks secara langsung karena mendapatkan 
pendidikan seks.

Dari situasi itulah, Indonesia Media Watch berencana mengadakan dialog publik 
bertema "Hipokrit: Negara, Media dan Masyarakat Dalam Melihat Persoalan 
Seksualitas". Sebuah kajian kritis terhadap video porno mirip Ariel dan Luna 
Maya. Khususnya tentang peran media massa dalam memberikan pendidikan 
seksualitas

Indonesia Media Watch (IMW) sebagai lembaga sosial masyarakat yang fokus dengan 
kerja-kerja monitoring media massa di Indonesia dalam isu perempuan, pluralism, 
HAM maupun seksualitas menganggap bahwa hal ini menarik untuk dibicarakan dan 
didiskusikan. Diharapkan media massa semakin memberikan kecerdasan dan 
kedewasaan kepada masyarakat untuk lebih paham soal apa itu pendidikan seksual. 
Sehingga tidak semakin membentuk masyarakat yang hipokrit terhadap seksualitas. 
Satu sisi menghujat tetapi disisi lain menikmatinya.


II. Tujuan

. Membangun paradigma baru bagi media massa di dalam melihat persoalan 
seksualitas
. Memberikan wacana alternatif bagi Negara dalam melihat persoalan seksualitas
. Mensosialisasikan IMW kepada pemerintah, media maupun masyarakat dengan Soft 
Launching Pusat Pengelolaan Informasi dan Pendapat Publik IMW


III. Pembicara / Narasumber

. Ketua Komisi I DPR RI
. Veven Sp. Wardana ( Pengamat/kritikus Media )
. Idi Muzayyat ( Anggota Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia )
. Hendra Kaprisma (Indonesia Media Watch)
. Andy Budiman Aliansi Jurnalis Independent (AJI)

Ulasan Thema
. Djenar Measa Ayu (dalam konfirmasi)
. Dewi Lestari (dalam konfirmasi)
. Titi Sjuman (dalam konfirmasi)
. Ahmad Sarkawi
. Gus Nuril

Moderator 
. Ikhaputri

V. Agenda Acara

Waktu Kegiatan
15.00-15.10 Pembukaan oleh MC 
15.10-15.20 Kata Sambutan Ketua IMW Sekaligus Soft Launching 
Pusat Pengelolaan Informasi dan Pendapat Umum, Website
15.20-15.30 Ulasan Thema dari Ketua Komisi 1 DPR RI
15.30-16.00 Ulasan dari Gus Nuril dan Djenar Maesa ayu dkk
16.00-17.30 Diskusi Publik
17.30-17.45 Penyerahan ucapakan terima kasih kepada pembicara
17.45-18.00 Penutup

Jakarta, 21 Juni 2010


Hormat Kami,

Hartoyo 
Ketua Pelaksana

Kontak Panitia : 0813 7619 2516 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke