Sumber.

www.alsofwah.or.id <http://www.alsofwah.or.id/> 

5 Prinsip dalam Menyikapi Faham Islam Liberal
Rabu, 07 April 04 

Agama atau "dien" di dalam Bahasa Arab berarti aturan yang dipatuhi dan
dijadikan sebagai jalan hidup. Ber-agama, katakanlah beragama Islam, itu
artinya kita memilih dan menjadikan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah
Shalallaahu alaihi wasalam , sebagai pedoman atau jalan hidup yang kita
tempuh dan kita patuhi selama menjalani kehidupan di dunia ini. Kita patuhi
segala aturan dan ajarannya dengan penuh kesadaran, baik dalam kehidupan
individu maupun dalam kehidupan kolektif (masyarakat). Memilih Islam sebagai
jalan hidup itu juga berarti kita rela dengan segala konsekwensinya, kita
yakini dengan sepenuh hati dan penuh kesadaran jiwa dan akal akan apa yang
diperin tahkan kepada kita untuk diyakini, dan kita laksanakan semua
perintah-perintahnya dengan penuh kesadaran pula, dan kita jauhi
larang-larangnya dengan penuh keikhlasan dan ketulus-an hati kepada Allah
Subhannahu wa Ta'ala . 

Maka seorang muslim yang baik adalah muslim yang selalu memelihara dan
menjaga komitmennya kepada keyakinannya, dan tetap berpegang teguh kepada
pendirian dan keyaki-nannya sebagaimana tercermin di dalam ajaran Islam yang
ia anut, apa pun resikonya. Itulah arti dari memilih Islam sebagai agama dan
the way of life (jalan kehidupan). 

Berikut ini beberapa prinsip dasar yang harus tetap kita yakini dan kita
pelihara di tengah dahsyatnya kecamuk golombang pemikiran yang sesat dan
menyesatkan yang dihembuskan oleh sekelompok orang yang tergabung dalam
lingkaran syetan JIL (Jaringan Islam Liberal), pengusung faham Islam
Inklusif atau pun Pluralisme, mereka berkeyakinan, bahwa semua agama adalah
sama, tidak boleh mengatakan agama sendiri (Islam) yang benar, sebab
semuanya adalah benar, semua menuju Tuhan, hanya penamaan Tuhan dan cara
beribadahnya saja yang berbeda. Dengan memahami prinsip-prinsip dasar agama
Islam, mudah-mudahan kita tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh
syubhat/kerancuan yang mereka lontarkan, insya Allah. 

Prinsip-prinsip dasar yang dimaksud yakni: 

*         Prinsip pertama; Kita meyakini dengan sepenuh hati dan
seyakin-yakinnya, bahwa hanya Allah yang berhak kita sembah. Dia tidak
beranak dan tidak pula diperanakkan. Tidak ada sesuatu apa pun yang
menyerupai-Nya. 

Prinsip ini jelas manafikan segala macam sesembahan dan obyek ibadah selain
Allah, maka penamaan Tuhan (ilah) yang tidak berdasarkan keterangan yang
dijelaskan sendiri oleh Allah dan Rasulullah adalah batil. Itu tidak lebih
sebagaimana yang dikatakan Allah "asma' sammaitumuha antum wa abaukum"
sebutan (nama-nama) Tuhan yang kalian dan moyang kalian julukkan, sama
sekali tidak ada hujjah dan sulthan (kekuatan argumen) atasnya. 

Oleh karena itu, menamakan Allah dengan nama Brahma atau Kristus misalnya,
serta beribadah kepadanya, maka jelas merupakan kebatilan, karena yang
demikian bertentangan dengan prinsip tauhid atau keesaan Allah. Berbeda
halnya ketika umat Islam menyebut ar-Rahman atau ar-Rahim, maka yang dituju
dan dimaksud tetap Allah juga, karena Allah sendiri telah menyatakan, bahwa
Dirinya memiliki nama demikian. Di samping itu, ada masalah yang lebih
prinsip lagi yaitu, bahwa masing-masing penyebutan Tuhan di dalam setiap
agama memiliki konsep, persepsi dan kaidah yang berbeda-beda yang jelas
tidak mungkin bersatu dengan konsep ketauhidannya kaum muslimin. Maka
menyamakan prinsip ketuhanan antara Islam dengan agama-agama yang lain,
berarti menyamakan Allah dengan ilah-ilah yang lain atau kalau itu
diisti-lahkan dalam Bahasa Arab namanya syirik alias menyekutukan Allah. 

*         Prinsip ke dua ; Kita yakini, bahwa satu-satunya jalan keselamatan
yang dapat mengantarkan kita kepada keridhaan Allah adalah menempuh jalan
hidup di atas ajaran Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, Shalallaahu
alaihi wasalam . 

Memegang prinsip ini berarti menolak tata cara ibadah yang tidak berdasarkan
tuntunan yang dibawa oleh Rasulullah , maka tidak berlaku slogan banyak
jalan menuju Roma, namun yang berlaku adalah beribadah hanya kepada Allah
dengan cara yang telah diajarkan Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam,
inilah makna syahadat la ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Orang Islam
tidak akan mungkin menyembah Allah di Pura dengan tata cara ibadah Hindu,
meskipun dengan menyebut nama Allah, atau menyembah dewa Brahma, Kristus di
dalam masjid. Demikian pula orang Hindu tidak akan mungkin melakukan shalat
di masjid, meskipun dengan menyebut Tuhan mereka. Jika hal itu sampai
dilakukan oleh seorang muslim, maka persaksian la ilaha illallah Muhammad
rasulullah dengan sendirinya gugur dan batal, maka pengakuan seribu kali
sebagai muslim pun tidak berlaku sebelum ia betaubat serta meninggalkan
sesembahan selain Allah dan cara ibadah yang di luar Islam itu. 

"Sesungguhnya agama (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam". (Ali Imran:
19) 
"Barang siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali Allah
tidak akan menerimanya, dan ia di akhirat kelak termasuk orang-orang yang
merugi". (Ali Imran: 85) 
"Pada hari ini telah Kusempurna-kan bagimu agamamu dan telah Kusem-purnakan
atasmu karunia-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agama bagi kamu". (al-Ma'idah:
3) 

*         Prinsip ke tiga; Kita yakin dengan sepenuh hati, bahwa Islam telah
mewakili dan sekaligus meng-hapus (muhaiminan `alaih) agama-agama yang
pernah diturunkan Allah sebelumnya. 

Dan sebaliknya kita pula meyakini, bahwa agama lain sama sekali tidak dapat
dijadikan sebagai jalan menuju keselamatan, sekalipun kata pemeluk-nya
merupakan jalan menuju kesela-matan. Karena al-Qur'an, kitab suci kita
menginformasikan kepada kita, bahwa ajaran dan kitab suci agama-agama
terdahulu (baca: Taurat dan Injil) telah tidak sempurna, mengalami perubahan
substansial, diselewengkan (tahrif). Yang demikian itulah yang diajarkan
oleh agama Allah. Dan kita wajib meyakini, bahwa siapa saja yang tidak
beriman kepada Islam, Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam, dan keesaan
Allah (tauhid) yang diajarkan oleh para nabi, adalah kafir dan tempatnya di
neraka. Sebab Allah Subhannahu wa Ta'ala. dan Rasul-Nya telah menyatakan
demikian! 

"Demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, tiada seorang Yahudi
ataupun seorang Nasrani yang mendengar seruanku ini, lalu ia mati (padahal)
tidak beriman kepada ajaranku, melainkan ia adalah penghuni neraka." (HR.
Muslim dari Abu Hurairah). 

Nabi Shalallaahu alaihi wasalam telah mengisyaratkan bahwa siapa saja dari
umat yang dia dakwahi dan atau ia mendengarkan dakwah tersebut, namun tidak
mau beriman dengan risalah yang beliau bawa, maka dia pasti menjadi penghuni
neraka, tidak peduli Yahudi atau Nashrani. 

Akan tetapi, meskipun kita meyakini, bahwa Islam adalah jalan satu-satunya
yang dapat mengantarkan kita kepada keselamatan, ia tidak boleh dipaksakan
kepada non muslim untuk meyakini dan mengamalkan ajarannya, apalagi memaksa
mereka supaya memeluknya. Sebab Allah telah menegaskan, "Tidak ada paksaan
di dalam agama". Namun tugas yang diembankan kepada kita, yaitu
me-nyampaikan dan menyosialisasikan ajaran Islam adalah harus dan wajib kita
lakukan dengan penuh hikmah, pelan-pelan dan memberikan kesempatan kepada
mereka untuk merenung dan berproses secara bertahap. 

*         Prinsip ke empat ; Kita wajib mengafirkan mereka (non muslim) atau
menyebut mereka sebagai orang kafir. 

Karena Allah telah menyatakan kekafiran mereka, sebagaimana firman-Nya,
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani)
dan orang-orang musyrik, bahwa mereka tidak akan meninggalkan agamanya
sebelum datang kepada mere-ka bukti yang nyata". (al-Bayyinah:1) 

"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata "sesungguhnya Allah
itu ialah "Almasih putra Maryam". (al-Ma`idah: 72). 
Demikian pula tentang aqidah trinitasnya kaum Nashara, Allah telah
menjelaskan dengan gamblang, 
"Sesungguhnya kafirlah orang- orang yang mengatakan (berkeyakinan)
bahwasanya Allah itu salah satu dari yang tiga". (al-Ma`idah:73). 

Meragukan kekafiran mereka adalah bentuk ketidakpercayaan kepada Allah dan
firman-Nya dan wujud ketidakberimanan kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam. Maka dari itu para ulama menegaskan, bahwa di antara penyebab
seseorang itu murtad, keluar dari Islam adalah "Tidak mengafirkan atau
meragukan kekafiran orang-orang kafir", yaitu mereka yang dinyatakan oleh
Allah sebagai orang kafir. 

*         Prinsip ke lima ; Kita tidak boleh melakukan tindakan tidak
beradab, anarkisme, pembunuhan, perusakan dan kekerasan terhadap siapa pun,
terhadap orang muslim ataupun orang kafir. 

Selagi orang-orang kafir itu tidak mengganggu atau memerangi kita dalam
bentuk apa pun. Bahkan sebaliknya Allah menganjurkan kepada kita agar kita
berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka. 
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap
orang-orang (kafir) yang tidak memerangimu, karena agama dan tidak (pula)
mengusirmu dari negerimu. Sesung-guhnya Allah menyukai orang-orang yang
berlaku Adil". (al-Mumtahanah: 8) 

Rasulullah, Shalallaahu alaihi wasalam pun telah bersabda: "Barang siapa
yang mengganggu seorang kafir dzimmi, maka aku adalah musuh-nya di Hari
Kiamat kelak". (al-Hadits).

 

Begitu indahnya ajaran Islam yang kita anut ini! Ajarannya penuh dengan
keadilan, kesejukan, keramahan dan ketegasan. Betapa indahnya eksklusifisme
yang diajarkannya kepada kita! Ia mengajak kita supaya menjadi muslim yang
eksklusif! Muslim yang benar-benar menampakkan jati diri, tidak mengkaburkan
diri namun adil dan menjunjung tinggi nilai-nilai budi pekerti yang luhur. 

Eksklusif tapi tidak anarkis. Eksklusif tapi tidak memaksakan kehendak!
Eksklusif tapi tetap bersikap baik terhadap siapa pun selagi tidak disakiti,
tidak diganggu dan tidak diperangi! Eksklusif tapi adil! Eksklusif tapi
tegas! Eksklusif tapi toleran dengan tidak mencampur baurkan ajaran agamanya
dengan ajaran agama lain! 

Jika demikian, maka kita kaum muslimin harus bangga dengan Islam yang kita
anut, harus bangga menjadi seorang muslim yang eksklusif. "Katakanlah,
saksikan, bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam!". 

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke