100625  

Menyikapi taqdir.


Bismi l-lahi r-rahmani r-rahiem.

Terkadang kita mendengar orang yang berputus asa lalu mengatakan: "Ini 'kan 
sudah taqdir Allah; saya mau berbuat apa?". Pernyataannya itu sepertinya benar, 
padahal itu sudah menyalahi sunnatullah. Terkait dengan hal itu Allah SWT sudah 
menyebutkan: 
                    
 "ALLAH MEMBUAT PERUMPAMAAN DENGAN SEORANG HAMBA SAHAYA YANG DIMILIKI YANG 
TIDAK DAPAT BERTINDAK TERHADAP SESUATUPUN DAN SEORANG YANG KAMI BERI REZKI YANG 
BAIK DARI KAMI, LALU DIA MENAFKAHKAN SEBAGIAN DARI REZKI ITU SECARA SEMBUNYI 
MAUPUN SECARA TERANG-TERANGAN, ADAKAH MEREKA ITU SAMA?..." (Qur'an Surat 
an-Nahl [16] ayat 75) 

Pertanyaan Allah di ayat itu perlu kita renungkan, yang mungkin tidak mudah 
jika harus kita jawab segera. Allah menuntut  kita untuk lebih merenung lagi. 
Secara kasar dalam pandangan kita dapat kita lihat bahwa keduanya jelas 
berpeluang tak sama untuk berprestasi. Namun dalam tilikan Allah bagi keduanya 
sama-sama terbuka lebar peluang untuk memperoleh nilai tinggi dari apa yang 
dapat mereka lakukan. Selanjutnya Allah memberikan kerangka dasar kunci 
jawabannya: 

"...SEGALA PUJI HANYA BAGI ALLAH, TETAPI KEBANYAKAN MEREKA TIADA MENGETAHUI." 
(Qur'an Surat an-Nahl [16] ayat 75)          

Orang yang pemurung (pesimis) akan mengatakan "Kita tak dapat melawan taqdir", 
sedangkan orang berfikiran luas (optimis) akan mengatakan "Kita harus berbuat 
sebaik-baiknya walaupun dengan keadaan yang minim; kita berpeluang juga untuk 
memperbaiki keadaan asalkan kita mau"

Rasulullah Muhammad SAW sudah menyebutkan:

"Sesungguhnya Allah Ta'ala telah mewajibkan kalian untuk berusaha; maka 
berusahalah!"

Kewajiban berusaha itu merupakan konsekwensi lanjut dari ketetapan Allah dalam 
ranah kekuasaanNya yang disebutkan dalam ayat:  
           

"...SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MENGUBAH KEADAAN SESUATU KAUM SAMPAI MEREKA 
(MENUNJUKKAN UPAYA BERSAMA) MENGUBAH KEADAAN YANG ADA PADA DIRI MEREKA 
SENDIRI...." (Qur'an Surat ar-Ra'du [13] ayat 11)
 
Jadi jika kita merasakan adanya hal yang "tidak beres" kita tidak boleh tinggal 
diam; kita harus berusaha membenahinya. Berhasil ataukah tidak itu adalah haq 
Allah untuk mentaqdirkannya. Yang pasti adalah bahwa atas setiap niat baik kita 
Allah sudah memberi satu nilai positif. Jika upaya kita berhasil atas izin 
Allah, nilai itu akan jadi berlipat ganda sesuai dengan kesungguhan perjuangan 
kita (baca: keikhlasan kita); dari kesungguhan ini Allah memberi nilai penuh 
(jika berhasil) meskipun upaya kita itu akhirnya terkesankan sepertinya tak 
berhasil.

Semoga semangat juang kita tetap tinggi. 

Wa l-Lahu a'lamu bi sh-shawwab 





SAW. = shalla 'l-Lahu 'alaihi wa sallam (Semoga shalawat Allah dan salamNya 
terlimpahkan pada Rasulullah Muhammad).

SWT. = subhanahu wa ta-'ala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi kedudukanNya).




*** Kutipan ayat-ayat diperoleh dari penelusuran menggunakan software 
sederhana: "Indeks Terjemah Qur'an".

========================================





Assalamu 'alaikum wr. wb.



Semoga sedikit uraian di atas bermanfaat.

Sebarkanlah pelita hikmah ini dengan forward langsung ataupun dengan mengajak 
bergabung di URL http://groups.yahoo.com/group/pelita-hikmah. 
Jika Anda punya ataupun ingin kajian masalah tertentu untuk pegangan hidup 
silakan hubungi saya. 

Wassalam,
dr. H.R.M. Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.
                                    e-mail: tauhi...@gmail.com

Jalan Kendangsari Lebar 48 Surabaya    INDONESIA    60292 
Telp. (031)-841-7486, 081-652-7486 





=====================
Dana aktivita/dakwah? Bergabunglah dalam http://www.asiakita.com/Pandu-HW
Untuk yang serius berbisnis, kunjungi http://www.esyariah.com/?id=tauhidhw. 



Kirim email ke