Seorang muballigh (penyampai) ataupun da'i (penghimbau) harus dapat menyadari 
posisinya bahwa ia tidak berada di atas orang yang dihimbaunya, tidak mempunyai 
otoritas atas mereka, tidak dapat memerintah mereka. Sehingga seorang muballigh 
ataupun da'i tidak dapat melakukan amar ma'ruf nahi mungkar (memerintahkan 
kebajikan, mencegah kemungkaran). Ia hanya dapat yad'u-na ilal khayr 
(menghimbau, menyampaikan nilai-nilai kebajikan). Oleh sebab itu orang mengenal 
dua jenis organisasi, yaitu organisasi da'wah dan organisasi (baca: partai) 
politik. Organisasi da'wah tidak termasuk dalam sistem kekuasaan, seperti 
misalnya MUI, Muhammadiyah, NU dll, jadi tidak dapat memerintahkan kebajikan 
dan mencegah kemungkaran. Partai politik termasuk dalam sistem kekuasaan, 
sehingga dapat memerintahkan kebajikan dan mencegah kemungkaran jika Parpol itu 
menang dalam Pemilu. Sayangnya ummat Islam masih banyak yang tidak menyadari 
hal ini, sehingga tidak dapat memerintahkan kebajikan menurut nilai Islam, oleh 
karena tidak atau belum insaf sehingga belum mau mengelompokkan diri dalam 
partai yang berasaskan Islam.

Yang berminat silakan baca lengkapnya di bawah
Salam
HMNA

**************************************************************************************

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
 
WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
401. Wasilah Da'wah

Dalam menghadapi bulan Ramadhan DPP IMMIM melaksanakan kegiatan Refreshing 
Muballigh, pada hari Kamis 24 Sya'ban 1420 H, 2 Desember 1999. Penulis kolom 
ini mendapat amanah memberikan materi Wasilah Da'wah, yang sebagian dari 
padanya dinukilkan dalam seri ini. Dalam Seri 399 yang berjudul: Wasilah dan 
Paradigma Ilmu telah dijelaskan bahwa wasilah berarti perantara. Orang-orang 
Arab pada zaman jahiliyah ada yang menyembah berhala, namun ada pula yang tidak 
menyembah berhala melainkan menjadikan berhala itu sebagai wasilah dalam 
menyembah Allah. Dalam Al Quran Allah hanya mengabulkan do'a hambaNya jika 
ditujukan langsung kepadaNya tanpa perantara disertai dengan syarat:
-- AJYB DA'WATA ALDA'A ADZA D'AAN FLYSTJYBWA LY WLYW"MNWA BY (S. ALBQRT, 
2:186), dibaca: Uji-bu da'watad da-'i idza- da'a-ni falyastaji-bu- liy 
walyu'minu- bi- (S. albaqarah), artinya: 
-- Aku perkenankan permohonan (do'a) pemohon (pendo'a) apabila bermohon 
(berdo'a) kepadaKu, namun (dengan syarat) haruslah mengikuti perintahKu dan 
beriman kepadaKu).

Wasilah atau perantara dalam bahasa Indonesia yang diserap dari bahasa barat 
disebut media. Bentuk kata ini sebenarnya bentuk jama', bentuk tunggalnya 
adalah medium. Akan tetapi dalam bahasa Indonesia bentuk kata media dipakai 
baik dalam bentuk tunggal maupun jama'.

Kita dapat baca kata da'wah dalam ayat (2:186) yang dikutip di atas, yaitu 
dalam bacaan: da'watad da-'i. Kurang begitu jelas kelihatan kata da'wah, karena 
konsonan d sesungguhnya mesti dilekatkan pada da-'i, jadi da'wata dda-'i. Bunyi 
ta apabila ada di akhir kata yang berdiri sendiri dibaca: h. Jadi da'wata 
dibaca da'wah kalau berdiri sendiri atau di akhir perhentian kalimat yang 
diucapkan. Dalam ayat (2:186) da'wah berarti permohonan, karena ditujukan 
kepada Allah. Apabila da'wah ditujukan kepada sesama manusia berarti himbauan. 
Secara substantif kedua terjemahan itu menujukkan bahwa si pemohon ataupun si 
penghimbau tidaklah mempunyai otoritas atas kepada siapa permohonan ataupun 
himbauan itu ditujukan. Demikianlah seluk-beluk kedua kata yang membentuk judul 
di atas.

Demikianlah seorang muballigh (penyampai) ataupun da'i (penghimbau) harus dapat 
menyadari posisinya bahwa ia tidak berada di atas orang yang dihimbaunya, tidak 
mempunyai otoritas atas mereka, tidak dapat memerintah mereka. Sehingga seorang 
muballigh ataupun da'i tidak dapat melakukan amar ma'ruf nahi mungkar 
(memerintahkan kebajikan, mencegah kemungkaran). Ia hanya dapat yad'u-na ilal 
khayr (menghimbau, menyampaikan nilai-nilai kebajikan). Oleh sebab itu orang 
mengenal dua jenis organisasi, yaitu organisasi da'wah dan organisasi (baca: 
partai) politik. Organisasi da'wah tidak termasuk dalam sistem kekuasaan, 
seperti misalnya MUI, Muhammadiyah, NU dll, jadi tidak dapat memerintahkan 
kebajikan dan mencegah kemungkaran. Partai politik termasuk dalam sistem 
kekuasaan, sehingga dapat memerintahkan kebajikan dan mencegah kemungkaran jika 
Parpol itu menang dalam Pemilu. Sayangnya ummat Islam masih banyak yang tidak 
menyadari hal ini, sehingga tidak dapat memerintahkan kebajikan menurut nilai 
Islam, oleh karena tidak atau belum insaf sehingga belum mau mengelompokkan 
diri dalam partai yang berasaskan Islam.

Hanya pada kesempatan tertentu seorang muballigh dapat menyampaikan pesan-pesan 
secara langsung kepada ummat yang jumlahnya ratusan ataupun ribuan. Itu hanya 
dapat dilakukan pada kesempatan membacakan khuthbah Jum'at, khuthbah 'Iydu 
lFithri dan 'Iydu lQurban, serta pada peringatan hari-hari besar Islam yang 
lain, seperti peringatan Mawlid dan Isra-Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Sedangkan 
pada kesempatan lain yang lebih sering muballigh menyampaikan pesan-pesan 
secara langsung hanya terbatas kepada jumlah ummat yang sedikit, seperti dalam 
pendidikan formal, paling banyak yang mengisi ruang aula.

Oleh sebab itu muballigh dalam keadaan biasa hanya dapat menyampaikan 
pesan-pesan secara tidak langsung dengan memakai wasilah: media cetak, media 
elektronik dan kesenian. Wali Songo mempergunakan cerita wayang dengan gamelan 
sebagai wasilah da'wah. Cerita wayang itu dimodifikasi sedemikan rupa sehingga 
dapat berwujud da'wah Islam, seperti misalnya mengintroduser senjata pamungkas 
yang paling tangguh yang disebut senjata Kalimasodo, yang maksudnya tidak lain 
dari Kalimah Syahadatain. Substansi pesan-pesan yang disampaikan hanya dapat 
mengenai sasarannya jika keluar sepenuhnya dengan ikhlas dari qalbu muballigh. 
Apabila pesan-pesan itu keluar dari sektor shadru dari qalbu (hati nurani) para 
muballigh, maka pesan-pesan itu akan menghunjam masuk juga ke dalam hati nurani 
pendengarnya. Jika pesan-pesan itu keluar dari sektor fuad dari qalbu (nalar) 
para mubaligh, maka pesan-pesan itu akan termakan dengan baik oleh nalar 
pendengarnya.

Kesenian adalah wasilah yang paling cocok untuk substansi yang berhubungan 
dengan hati nurani. Rhoma Irama dengan lagu dangdutnya, Ainun Najib dengan 
Kiyai Kanjengnya merupakan wasilah di bidang musik dewasa ini yang populer. 
Hanya sayangnya lagu-lagu dangdut mempunyai irama yang genit, merayu dan vulgar 
(irama India), sehingga tidak begitu cocok untuk wasilah da'wah. Buktinya 
lagu-lagu dangdut itu pada umumnya menjurus kepada rangsangan kekerasan dan 
libido kaum remaja. Sebenarnya lagu-lagu jenis keroncong dan seriosa yang cocok 
sebagai wasilah da'wah. Sayangnya lagu-lagu seriosa tidak merakyat, sedangkan 
lagu-lagu keroncong yang pernah merakyat itu dikalahkan oleh lagu-lagu dangdut. 
Menjadi tantangan bagi seniman Muslim untuk menggubah lagu-lagu keroncong 
sebagai wasilah da'wah. Di Tugu di pinggiran Jakarta ada komunitas 
saudara-saudara sebangsa kita yang beragama Nasrani, konon turunan dari bangsa 
Portugis, yang memakai lagu keroncong sebagai musik dalam gereja. Walla-hu 
a'lamu bishshawa-b.

*** Makassar, 5 Desember 1999
     [H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/1999/12/401-wasilah-dawah.html

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke