reflection
Kalau tak ada berada,
tidaklah elang bersarang rendah.
Kalau bukan karena pki
buat apa bertempat di Banyuangi

HMNA

**********************************************
=============================================
Sisi FPI yang tidak terungkap (ditutupi oleh media masa)
=============================================
Front Pembela Islam (FPI) sebenarnya sudah lama jadi incaran aliansi musuh 
Allah SWT yakni kelompok gabungan antara kelompok liberal, kelompok maksiat 
(prostitusi, perjudian, dan pornografi), kelompok kuffar, dan aparat serta 
pejabat yang selama ini mendulang uang haram dari perputaran bisnis haram 
tersebut. Sejak berdiri pada tahun 1998, FPI memang getol memerangi 
tempat-tempat maksiat. "Sudah banyak tokoh dan elemen Islam yang menyampaikan 
amar ma'ruf, maka FPI memang mengkhususkan diri pada Nahyi Munkar. Tapi tentu 
dengan prosedur yang benar secara hukum formal, 

Keberanian FPI ini dalam menggempur lokasi-lokasi kemaksiatan memang tidak 
main-main. Rumah-rumah pelacuran, rumah judi, termasuk kantor tempat raja media 
porno dunia "Playboy"di Jakarta, semua diganyang oleh laskar Islam yang satu 
ini. Bagi media massa, baik cetak, radio, maupun teve, tindakan FPI tersebut 
memang merupakan berita yang layak dijadikan tajuk utama. Sayangnya, 
media-media yang juga banyak disusupi kelompok liberal dan kelompok penyuka 
kemaksiatan ini yang diekspos adalah kekerasan FPI semata.

Padahal, kekerasan atau penyerbuan yang dilakukan FPI merupakan jalan terakhir 
yang terpaksa diambil FPI setelah melewati berlapis-lapis prosedur, di 
antaranya mendesak kepolisian untuk berbuat. 

Media massa hanya mengekspos hal itu, tapi tidak memuat apa yang FPI lakukan 
sebelum itu. Penyerbuan atau pengrusakkan merupakan langkah terakhir yang 
diambil FPI setelah melewati tahap-tahap sebelumnya. Jika ada informasi yang 
menyebutkan di suatu tempat ada lokasi yang tidak beres, maka FPI biasanya 
mengirim intelijennya yang terdiri dari beberapa orang untuk menggali informasi 
yang valid. Jika benar itu tempat yang tidak beres, maka ada dua pengelompokkan 
yang FPI lihat. Jika tempat maksiat itu didukung warga sekitar dalam arti 
banyak warga sekitar yang mencari nafkah di sana dan menggantungkan hidupnya di 
sana, maka FPI kirim ustadz untuk memberi pencerahan. Ini sisi amar ma'ruf FPI. 
FPI mendirikan pengajian dan sebagainya.

Namun jika tempat maksiat itu ternyata meresahkan warga sekitar, dan banyak 
yang dilindungi oleh preman terorganisir atau malah ada oknum aparat yang ikut 
melindungi, maka FPI biasanya melayangkan surat pemberitahuan kepada pihak 
kepolisian agar polisi bisa bersifat pro-aktif. Jika sampai waktu yang FPI 
minta belum ada tindakan apa pun juga dari kepolisian, FPI melayangkan surat 
kembali mendesak agar aparat segera turun tangan. Ini FPI lakukan sampai tiga 
kali. Namun jika aparat ternyata diam terus, tidak menunjukkan itikad baik 
untuk menyikat kemaksiatan, maka FPI pun segera mengirim surat pemberitahuan 
bahwa FPI akan mengirim laskarnya ke tempat tersebut untuk membantu tugas 
kepolisian. Ini semata-mata FPI lakukan karena polisi tidak bertindak. 

FPI membantu tugas kepolisian. Ini patut diberi tekanan. Karena polisi terlalu 
sibuk sehingga tempat maksiat tersebut tetap berjalan dengan aman dalam 
meracuni masyarakat, maka laskarFPI yang turun. Selain memberi surat kepada 
polisi, FPIpun melayangkan surat pemberitahuan berlapis-lapis kepada pengeloal 
tempat kemaksiatan itu, dan biasanya mereka membandel karena menganggap polisi 
saja tidak berani membereskannya, apalagi FPI. Tapi sekali lagi ditekankan, FPI 
berjihad untuk menegakkan agama Allah, jadi FPI tidak kenal takut terhadap 
segala kemaksiatan. Mereka yang berada di jalan setan saja berani, masak FPI 
yang berjaung di jalan Allah harus takut!

Sisi inilah yang jarang diekspos media massa sehingga masyarakat banyak tahunya 
FPI ini organisasi anarkis. Padahal FPI telah melakukan berlapis-lapis 
peringatan, bahkan berkoordinasi dengan kepolisian.

Sebenarnya, media-media massa di negeri ini banyak yang mengetahui hal 
tersebut. Namun disebabkan mereka memang banyak yang berkepentingan agar FPI 
bubar, maka yang diberitakan adalah sisi kekerasan dari FPI. Padahal, FPI hanya 
membantu tugas kepolisian yang terlalu sibuk dengan tugas-tugas rutin. (rz)
. 


----- Original Message ----- 
From: "sunny" <am...@tele2.se>
To: <Undisclosed-Recipient:;>
Sent: Thursday, July 01, 2010 23:27
Subject: [wanita-muslimah] Indonesian Military Behind Islamist Thugs, Lawmaker

http://www.thejakartaglobe.com/home/indonesian-military-behind-islamist-thugs-lawmaker/383394

June 30, 2010 

 
Members of the hardline Islamic Defenders' Front (FPI), pictured here in a file 
photo, forced the cancellation of a House of Representatives-led meeting on 
free health care in East Java because they thought, mistakenly, that it was 
being led by the banned Indonesian Communist Party (PKI). (AFP Photo/Romeo 
Gacad)



Indonesian Military Behind Islamist Thugs, Lawmaker

A lawmaker on Wednesday accused the security forces of secretly supporting 
Islamist vigilantes as a kind of paramilitary force to intimidate opponents and 
commercial rivals.

Indonesian Democratic Party of Struggle lawmaker Eva Kusuma Sundari said 
extremist vigilantes known for violent attacks on bars, minorities and human 
rights advocates had direct links to military and police generals.

"The organization is now part of the conflict management strategy the 
Indonesian military exercises to maintain its power," she told AFP, referring 
to the stick-wielding fanatics known as the Islamic Defenders Front (FPI).

"There are several military personnel who still 'use' the services of the 
FPI... I suspect they maintain and protect the FPI because they still have 
interests with them."

The FPI is known for threatening, intimidating and physically attacking 
Indonesians with almost complete impunity, despite repeated calls for the 
government to ban the organization.

On Sunday it threatened "war" against the Christian minority in the Jakarta 
suburb of Bekasi and urged all mosques in the city to create armed militias. 

Sundari is a member of a group of MPs who has demanded the government crack 
down on the vigilantes after they burst into an official meeting on health care 
in East Java last week and accused the organisers of being communists.

FPI chairman Habib Rizieq hit back at the group's critics, saying they were 
part of a conspiracy among communists and liberals against the imposition of 
sharia or Islamic law in the secular but mainly Muslim country.

"Police should not discriminate -- whoever propagates communism should be 
brought to justice as it is a criminal offence," he told a press conference at 
FPI headquarters in Jakarta.

He did not renounce violence and when a journalist asked him to respond to 
community concerns about violence he accused him of being a communist.


Agence-France Presse

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke