"Abdul Muiz" wrote:
Biarlah yang muda berpikir kritis dan logis bahwa yang namanya ide atau faham 
pasti ada irisan positifnya dengan faham lain. Biarlah generasi mudah belajar 
sendiri memilah dan memilih mengembangkan nalarnya apalagi sudah memiliki 
aqidah yang kuat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
########################################################################
HMNA:
Supaya anak muda dapat bernalar harus pula disuguhkan kepada mereka bahan-bahn 
untuk dapat berpikir kritis. Bahan-bahan itu antara lain marxisme, trik-trik 
neo-marxisme dan aqidah. Dan yang perlu diwaspadai, ialah tidak semua generasi 
muda kuat aqidahnta, bahkan kebanyakan generasi muda kontemporer terbius oleh 
narkoba "hura-hura".
************************************

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
476. Lindungilah Tunas Bangsa dari Marxisme
 
 "Pembakaran buku Franz hanya satu simbol. Seluruh buku komunis harus 
dimusnahkan, sebab meracuni generasi muda," ujar HM Suaib D, Ketua Umum Gerakan 
Pemuda Islam (GPI) kepada pers. GPI adalah salah satu di antara 33 ormas 
pendukung Aliansi Anti Komunis (AAK). Yang dimaksud dengan buku Franz adalah 
buku berjudul Pemikiran Karl Marx oleh Franz Magnis Suseno.  Ratna Srumpaet 
yang mewakili Aliansi untuk Kemerdekaan Berpikir dan Bersuara (AKBB) menyahut: 
"Iqra, bacalah, bukan bakarlah!" Hai, Ratna, jangan memotong ayat. Lengkapnya 
Firman Allah (demi keotentikan transliterasi huruf demi huruf): 
-- AQRA^ BASM RBK ALDZY KHLQ (S. AL 'ALQ, 1), dibaca: 
-- Iqra' bismi rabbikal ladzi- khalaq (s. al 'alaq), artinya: 
-- Bacalah atas nama Maha Pemeliharamu Yang mencipta (96:1). 
Apakah masuk dalam logika sehat, para remaja dan mahasiswa Muslim disuruh atas 
nama Allah Yang Maha Pemelihara Maha Pencipta untuk membaca buku-buku beraliran 
kiri yang berlandaskan paradigma atheisme historische materialisme, hai 
Sarumpaet? Sekali lagi kami ingatkan, jangan mengelabui para remaja dan 
mahasiswa Muslim dengan menjual ayat secara memotong ayat, hai Sarumpaet! 
 AAK berjanji akan menyisir dan membakar buku-buku kiri pada Hari Kebangkitan 
Nasional, 20 Mei 2001. Penyisiran dan pembakaran itu tidak jadi dilaksanakan, 
bukan karena Pemerintah melarang sweeping buku kiri. "Gertakan yang serius" 
dari AAK berhasil menciutkan nyali pemilik toko buku yang berorientasi pada 
pertimbangan ekonomis. Para pemilik toko buku tidak berani mengambil risiko, 
sehingga mengembalikan buku-buku kiri kepada penerbitnya sebelum 20 Mei.

***
 Bertebarnya buku-buku marxisme pada hakekatnya tidak terpisahkan dari gerilya 
politik yang dilancarkan oleh komunis gaya-baru. Buku-buku aliran kiri itu 
sangat bermanfaat bagi gerakan komunis gaya baru tersebut dalam upaya menjaring 
para remaja dan mahasiswa Muslim untuk dibina melalui diskusi sehingga para 
remaja dan mahasiswa Muslim itu tanpa sadar menjadi pion-pion orang-orang 
komunis, karena mereka telah diberi suntikan "narkoba" marxisme sehingga 
terbius. Beberapa mahasiswa saya di Universitas Muslim Indonesia menjadi 
simpatisan Partai Rakyat Demokratik (PRD) dari bacaan-bacaan yang dibacanya dan 
dari diskusi-diskusi yang diikutinya. Mereka menyangka seorang marxist dapat 
saja menjadi Muslim yang baik. Bahkan Drs H. Abdurrahman, seorang dosen senior 
IAIN, mengakatakan dalam sebuah forum mubahatsah, bahwa tidak kurang dari 
mahasiswa-mahasiswanya adalah simpatisan PRD yang menyangka bahwa marxisme itu 
sangat Islami. Di Jakarta onderbouw dari PRD yaitu Forum Kota (Forkot) dan 
Front Aksi Mahasiswa dan Rakyat Untuk Demokrasi (Famred), berbasis massa di 
IAIN. 
 Cerita lama berulang kembali. Riwayatmu dulu (meminjam ungkapan Gesang dalam 
Bengawan Solo), Alimin, yang orang tuanya Muslim yang baik, sejak umur 16 tahun 
"dicuri" dari orang tuanya dikirim ke Rusia ditempa menjadi kader komunis. 
Pulang ke Indonesia menjadi benggolan komunis yang menyusup ke dalam Syarikat 
Islamnya Allahu yarham HOS Tjokroaminoto. Riwayatmu ini (juga meminjam dari 
Gesang), Budiman Sudjatmiko, yang orang tuanya Muslim taat di Bogor menjadi 
Ketua PRD dan Faisal Reza, yang kemanakan Tosari Wijaya, menjadi Sekjen PRD, 
merupakan reklame yang baik sekali untuk memikat para remaja dan mahasiswa 
Muslim dengan slogan palsu: "Seorang marxist dapat saja menjadi Muslim yang 
baik, dan marxisme itu sangat Islami." 
        Agar para remaja, mahasiswa dan buruh Muslim dapat menjaga diri tidak 
kena suntik narkoba marxisme oleh gerilya politik komunis gaya-baru, maka di 
samping PRD, Famred dan Forkot yang telah disebutkan di atas, perlu mengetahui 
pula ormas-ormas yang sejenisnya: Liga Mahasiswa Untuk Demokrasi (LMUD), Komite 
Buruh Aksi untuk Reformasi (Kobar), Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia  
(FNPBI),  dan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI). Agitasi yang 
dilancarkan mereka berselubung ataupun bertopengkan memperjuangkan demokrasi, 
HAM dan membela kaum buruh.
      
***
       UUD 1945 mengamanatkan kepada Pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan 
bangsa. Maka berkatalah Tri Agus, koordinator AKBB: "Bagaimana bangsa ini mau 
cerdas kalau bukunya dibakar". Bangsa ini akan tetap dapat dibuat cerdas tanpa 
peredaran buku-buku kiri, hai Agus. Bahkan tunas bangsa harus dilindungi dari 
racun atheisme yang ditebarkan oleh buku-buku kiri. UUD mengamanatkan kepada 
Pemerintah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia. Terhadap racun atheisme 
Tap MPRS No.XXV/MPRS/1966, yang dikukuhkan oleh Tap MPR No.V/MPR/1973,  
mengamanatkan kepada Pemerintah untuk melarang penyebaran  ajaran  komunisme,  
leninisme dan marxisme. Lagi pula UU No.27 thn  1999  menegaskan pelanggaran 
terhadap larangan itu adalah tindak pidana. WaLlahu A'lamu bi Al Shawa-b.

*** Makassar, 27 Mei 2001
   [H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2001/05/476-lindungilah-tunas-bangsa-dari.html

##################################################################

 

----- Original Message ----- 
From: "Abdul Muiz" <mui...@yahoo.com>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Sunday, July 04, 2010 20:42
Subject: Re: mesttinya ranggas <= Re: [wanita-muslimah] FPI Akan Bongkar Patung 
Naga di Kota


mbak Mia bisa aja :) ngeles vs konsisten.

menurut hemat saya :

1). Apakah pertemuan itu memang pertemuan pengembangan komunis? ya belum tentu, 
memang benar bahwa yang diajak bertemu adalah anggota keluarga ex PKI, kita 
harus jujur dan tidak ada salahnya berbaik sangka, bahwa mereka selama ini 
diperlakukan lalim oleh pemerintah, dimarginalkan secara sistemik oleh negara, 
sudah saatnya untuk menghentikan sikap tidak adil ini. Saya masih ingat, saat 
testing masuk PNS atau Pegawai BUMN pada era orde baru dulu selalu ada yang 
namanya screening test (bersih lingkungan) kalau Calon pelamar mengaku ada 
anggota keluarganya terlibat langsung atau tidak langsung dengan OT (organisasi 
terlarang tidak cuma PKI tetapi juga Masyumi) maka dapat dipastikan tidak akan 
lulus. Ini jelas tidak fair jauh dari adil sebagaimana seruan Qur'an. Orang 
yang bersalah (PKI) tidak boleh ditanggung oleh anak cucunya yang lahirnya saja 
setelah peristiwa PKI. Ini jelas pelanggaran HAM yang amat jelas. Bahwa soal 
marxism memang meninggalkan phobi
 pada kalangan tua, tetapi apa ya seharusnya kalangan muda dipaksa mewarisi 
generasi tua yang memang memiliki pengalaman berbeda. Biarlah yang muda 
berpikir kritis dan logis bahwa yang namanya ide atau faham pasti ada irisan 
positifnya dengan faham lain. Biarlah generasi mudah belajar sendiri memilah 
dan memilih mengembangkan nalarnya apalagi sudah memiliki aqidah yang kuat, 
tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kecuali generasi muda ini dianggap domba 
yang tersesat. Jadi menurut saya terlalu dini mengangap pertemuan Riebka dan 
Rieke (anggota DPR) dengan anggota ex keluarga PKI di Banyuwangi merupakan 
pengembangan marxism. Sudah saatnya Pemerintah bersikap adil dengan 
mengembalikan hak warga negaranya sendiri yang terampas, diperlakukan lalim.

2). Bandingkan dengan maklumat terang2an dari beberapa pihak, HTI yang
ingin mendirikan khalifah islam, FPI , PKS dll yang ingin menerapkan
syariat Islam. Syariat islam itu adalah mencerahkan dan membebaskan, bukan 
membelenggu seperti ide yang diusung oleh HTI (nah di WM ini saya kira banyak 
teman-teman kita yang menjadi simpatisan HTI dan PKS, semoga ada sharing yang 
bermanfaat). Islam menurut saya adalah jalan hidup yang menjadi basis moral 
dalam berperilaku, kalau hanya mengutamakan kulit maka akan terjebak yang 
namanya politisasi, yakni akan terjadi kecenderungan agama akan dijual dengan 
harga yang sedikit. Kalau ide khalifah ala HTI diterapkan maka bubarlah NKRI, 
padahal founding father sudah meletakkan konsensus final bahwa Indonesia adalah 
NKRI dengan dasar negara Pancasila. Nah kalau PKS berjuang dalam wadah NKRI 
tunduk secara konstitusi adalah sah-sah saja mengusung ide-ide apapun, toh 
bukan untuk membubarkan NKRI, kalau ada ide-ide yang bolong dan kurang pas dari 
mereka tinggal diteriaki atau disoraki ramai-ramai, toh PKS sekarang 
bermetamorfosa menuju partai terbuka.

3). Tindakan FPI bukan hanya melanggar keamanan, tapi sekaligus juga melanggar 
agama, anti amar makruf nahyi munkar. Ya, saya setuju penilaian seperti ini 
mbak Mia. Media amar makruf nahi mungkar itu banyak, tidak hanya menjadi 
parlemen jalanan yang bawa pentungan dan main pukul sambil teriak takbir 
segala. Ada dakwah dengan media buku, contoh keteladanan perilaku akhlaq mulia, 
ceramah yang isinya menyejukkan, optimalisasi media massa, jurnal ilmiyah, 
kampanye damai tanpa merusak, membuat film islami, dll media dakwah tentu masih 
banyak yang belum dioptimalkan.

yang no 4 biar mbak Mia saja yang mengulas.

Wassalam
Abdul Mu'iz

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke