"Abdul Muiz" wrote:
Biarlah yang muda berpikir kritis dan logis bahwa yang namanya ide atau faham 
pasti ada irisan positifnya dengan faham lain. Biarlah generasi mudah belajar 
sendiri memilah dan memilih mengembangkan nalarnya apalagi sudah memiliki 
aqidah yang kuat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
########################################################################
HMNA:
Supaya anak muda dapat bernalar harus pula disuguhkan kepada mereka bahan-bahn 
untuk dapat berpikir kritis. Bahan-bahan itu antara lain marxisme, trik-trik 
neo-marxisme dan aqidah. Dan yang perlu diwaspadai, ialah tidak semua bahkan 
kebanyakan generasi muda kontemporer terbius oleh narkoba "hura-hura".
************************************

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
420. Pandangan Marxisme Tentang Agama

Materialisme yang kafir terhadap realitas di luar materi menganggap bahwa Tuhan 
hanya diciptakan oleh pikiran manusia. Tuhan tidak lain dari refleksi kekuatan 
misterius di dalam alam yang mengontrol kehidupan manusia. Marxisme,yaitu 
kekafiran materialisme versi Marx lebih menitik beratkan refleksi kekuatan 
misterius itu pada kekuatan ragam produksi kelas borjuis.  Sistem 
sosial-ekonomi kelas borjuis tidak mampu mengatasi krisis pada umumnya, seperti 
tidak dapat melindungi kelas atas   yaitu individu-individu pemodal dari 
kerugian dan kebangkrutan, juga tidak dapat menghilangkan pengangguran dari 
kelas bawah. Umumnya sangatlah jarang perencanaan sesuai dengan hasil yang 
diharapkan. Ada kekuatan misterius yang menghalangi manusia, sehingga manusia 
tidak dapat mencapai hasil yang diinginkannya. Lalu timbullah kepercayaan bahwa 
manusia berencana Tuhan yang menentukan. Maka demikianlah, Tuhan menurut 
pandangan marxisme tidak lain dari refleksi kekuatan misterius di belakang 
sistem sosial-ekonomi kelas borjuis, yaitu kekuatan ragam produksi.

Pandangan marxisme terhadap agama berdasar atas data historis Eropa menjelang 
akhir Abad Pertengahan. Ia melihat di Eropa bagaimana kaum bangsawan dan 
pendeta sebagai kelas atas bekerja sama membius kelas bawah supaya sabar 
menderita menerima nasibnya dengan iming-iming kebahagiaan di akhirat. 
Demikianlah agama diperalat, yaitu dijadikan obat bius oleh kelas atas  untuk 
mengisap kelas bawah. Itulah sebabnya Marx memberikan karakteristik agama 
sebagai candu bagi rakyat.

Marilah kita kuliti buah pikiran Karl Marx tersebut. Sejak dini pandangan Karl 
Marx sudah miring terhadap agama. Ia melihat contoh ayahnya yang berpindah 
agama karena hanya ingin menjadi notaris di Prusia. Ayah Karl Marx kelahiran 
Jerman dari etnik Yahudi, tetapi beragama Roma Katholik, pindah ke Prusia 
sekaligus beralih agama menjadi Kristen Protestan, karena aturan waktu itu di 
Prusia notaris tidak boleh dijabat oleh swasta, sedangkan pemerintah Prusia 
waktu itu berhaluan  Protestan. Benak Marx dihantui oleh persepsi bahwa agama 
itu hanyalah alat untuk mencapai tujuan politik dan ekonomi. Lalu ia terperosok 
ke dalam lubang perangkap buah pikiran kekafiran materialisme. 

Demikianlah titik tolak buah pikiran kekafiran materialisme marxisme berpangkal 
pada sentimen emosional terhadap agama. Marxisme timbul dari ketakutan terhadap 
ketidak-tentuan kehidupan ekonomi di dalam abad tatkala rasa keagamaan yang 
menyangkut kemanusiaan menderita dekadensi. Metode pendekatan yang 
materialistik dari marxisme terhadap masalah kemanusiaan merupakan refleksi 
benak Karl Marx yang dihantui oleh ketidak-tentuan kehidupan ekonomi (termasuk 
kehidupan ekonominya pribadi) tatkala itu.

Data historis yang diambil Marx hanya Eropa pada abad-abad menjelang akhir 
periode Abad Pertengahan. Data historis ini sangatlah tidak lengkap untuk 
membuat generalisasi. Inilah kecerobohan emosional dari Karl Marx. Bahwa karena 
di Eropa pada penghujung Abad Pertengahan penguasa yang terdiri atas kaum 
bangsawan yang berkerja sama dengan pendeta memperalat agama untuk menghisap 
rakyat jelata, lalu semua pada bagian dunia yang lain dari dahulu hingga yang 
akan datang berlaku karakteristik agama itu candu bagi rakyat. Karl Marx tidak 
melihat pada revolusi para petani dalam abad ke-14 (di Perancis tahun 1351 M., 
di Inggris pada tahun 1381 M.), dengan semangat keagamaan menyerang tirani 
pemerintahan raja dan kaum bangsawan, serta gerakan keagamaan puritan di 
Inggris dalam abad ke-17, menunjukkan bahwa agama itu bukanlah candu bagi 
rakyat. 

Sentimen keagamaan karena kekafiran Karl Marx yang menyebabkan ia tidak 
mengkaji bagaimana para Nabi pembawa agama-agama wahyu menentang tirani, yaitu 
Nabi Musa AS, Nabi 'Isa AS dan Nabi Muhammad SAW. Bagaimana Nabi Muhammad SAW 
bersama ummatnya menumbangkan sistem sosial-ekonomi 'Arab jahiliyah yang 
diskriminatif, kemudian mendirikan Negara Islam Madinah di atas landasan 
kesamaan sosial dan keadilan ekonomi. 

Generasi muda Islam yang kurang mendalami ajaran agamanya janganlah terpengaruh 
kepada Karl Marx yang memukul rata bahwa agama membius penganutnya menerima 
nasibnya di dunia dengan iming-iming  kebahagiaan di akhirat. Bahkan Karl Marx 
harus dilaknat karena agitasinya itu. Firman Allah SWT: 
-- WABTGH FYMA ATK ALLH ALDAR ALAKHRT WLA TNS NSHYBK MN ALDNYA (S. ALQSHSH, 
28:77), dibaca: 
-- Wabtaghi fi-ma- a-ta-kaLla-hud da-ral a-khirata wala- tansa nashi-baka minad 
dunya- (s. alqashash), artinya: 
-- tuntutlah kampung akhirat dengan (kemampuan) yang diberikan Allah kepadamu, 
dan janganlah lupakan bagian engkau dalam dunia (28:77). 

Gus Dur, Mathori, Agil Siraj, Muhaimin dan Mukhtar Lubis dengan alasan HAM dan 
demokrasi menghendaki supaya Tap MPRS No.XXV/MPRS/1966 dicabut. Itu berarti 
memberikan kebebasan menyebarnya secara luas buah pikiran kekafiran 
materialisme maxisme, tidak mau repot dalam hal pendidikan anak-cucu kita, 
khususnya membentengi aqidah mereka dari kekafiran marxisme. Mukhtar Lubis, 
walaupun dalam keyakinan politiknya berseberangan dengan komunisme, namun kalau 
masih tetap Mukhtar Lubis yang dahulu, ia adalah penganut wetenschappelijke 
socialisme, yang menganggap marxisme sebagai ajaran (een leer), bukan dogma. 
Ajaran ataupun dogma tidak ada bedanya dalam konteks buah pikiran kekafiran 
materialisme marxisme. Sehingga logis jika Mukhtar Lubis tidak mau repot akan 
aqidah anak-cucu kita. Yang tidak logis ialah kenyataan Gus Dur cs (baca: PKB) 
tidak mau repot secara nasional dalam hal pendidikan anak-cucu kita membentengi 
mereka dari kekafiran marxisme. Ingatlah, hanya sedikit anak-cucu kita yang 
dididik di pesantren!

Di layar TV Mukhtar Lubis mengatakan bahwa di Indonesia kita tidak perlu takut 
pada komunisme. Di negeri Belanda, katanya, Partai Komunis kurang peminatnya. 
Rupanya Mukhtar Lubis berlagak bebal, atau memang bebal. Di negeri Belanda 
sedikit rakyatnya yang miskin, umumnya berpendidikan lumayan, sehingga tidak 
mudah dikelabui komunisme. Sedangkan di Indonesia rakyatnya banyak yang miskin, 
kurang berpendidikan, sehingga gampang dikelabui komunisme. 

Alhasil MPR tidak boleh mencabut Tap MPRS No.XXV/MPRS/1966 dengan alasan HAM 
dan demokrasi. Sebab HAM hanyalah prioritas kedua dan demokrasi bahkan hanyalah 
prioritas keempat menurut Pembukaan UUD-1945, alinea ke-4. WaLlahu a'lamu 
bishshawab.

*** Makassar, 23 April 2000
    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
http://waii-hmna.blogspot.com/2000/04/420-pandangan-marxisme-tentang-agama.html

##################################################################

 

----- Original Message ----- 
From: "Abdul Muiz" <mui...@yahoo.com>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Sunday, July 04, 2010 20:42
Subject: Re: mesttinya ranggas <= Re: [wanita-muslimah] FPI Akan Bongkar Patung 
Naga di Kota


mbak Mia bisa aja :) ngeles vs konsisten.

menurut hemat saya :

1). Apakah pertemuan itu memang pertemuan pengembangan komunis? ya belum tentu, 
memang benar bahwa yang diajak bertemu adalah anggota keluarga ex PKI, kita 
harus jujur dan tidak ada salahnya berbaik sangka, bahwa mereka selama ini 
diperlakukan lalim oleh pemerintah, dimarginalkan secara sistemik oleh negara, 
sudah saatnya untuk menghentikan sikap tidak adil ini. Saya masih ingat, saat 
testing masuk PNS atau Pegawai BUMN pada era orde baru dulu selalu ada yang 
namanya screening test (bersih lingkungan) kalau Calon pelamar mengaku ada 
anggota keluarganya terlibat langsung atau tidak langsung dengan OT (organisasi 
terlarang tidak cuma PKI tetapi juga Masyumi) maka dapat dipastikan tidak akan 
lulus. Ini jelas tidak fair jauh dari adil sebagaimana seruan Qur'an. Orang 
yang bersalah (PKI) tidak boleh ditanggung oleh anak cucunya yang lahirnya saja 
setelah peristiwa PKI. Ini jelas pelanggaran HAM yang amat jelas. Bahwa soal 
marxism memang meninggalkan phobi
 pada kalangan tua, tetapi apa ya seharusnya kalangan muda dipaksa mewarisi 
generasi tua yang memang memiliki pengalaman berbeda. Biarlah yang muda 
berpikir kritis dan logis bahwa yang namanya ide atau faham pasti ada irisan 
positifnya dengan faham lain. Biarlah generasi mudah belajar sendiri memilah 
dan memilih mengembangkan nalarnya apalagi sudah memiliki aqidah yang kuat, 
tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kecuali generasi muda ini dianggap domba 
yang tersesat. Jadi menurut saya terlalu dini mengangap pertemuan Riebka dan 
Rieke (anggota DPR) dengan anggota ex keluarga PKI di Banyuwangi merupakan 
pengembangan marxism. Sudah saatnya Pemerintah bersikap adil dengan 
mengembalikan hak warga negaranya sendiri yang terampas, diperlakukan lalim.

2). Bandingkan dengan maklumat terang2an dari beberapa pihak, HTI yang
ingin mendirikan khalifah islam, FPI , PKS dll yang ingin menerapkan
syariat Islam. Syariat islam itu adalah mencerahkan dan membebaskan, bukan 
membelenggu seperti ide yang diusung oleh HTI (nah di WM ini saya kira banyak 
teman-teman kita yang menjadi simpatisan HTI dan PKS, semoga ada sharing yang 
bermanfaat). Islam menurut saya adalah jalan hidup yang menjadi basis moral 
dalam berperilaku, kalau hanya mengutamakan kulit maka akan terjebak yang 
namanya politisasi, yakni akan terjadi kecenderungan agama akan dijual dengan 
harga yang sedikit. Kalau ide khalifah ala HTI diterapkan maka bubarlah NKRI, 
padahal founding father sudah meletakkan konsensus final bahwa Indonesia adalah 
NKRI dengan dasar negara Pancasila. Nah kalau PKS berjuang dalam wadah NKRI 
tunduk secara konstitusi adalah sah-sah saja mengusung ide-ide apapun, toh 
bukan untuk membubarkan NKRI, kalau ada ide-ide yang bolong dan kurang pas dari 
mereka tinggal diteriaki atau disoraki ramai-ramai, toh PKS sekarang 
bermetamorfosa menuju partai terbuka.

3). Tindakan FPI bukan hanya melanggar keamanan, tapi sekaligus juga melanggar 
agama, anti amar makruf nahyi munkar. Ya, saya setuju penilaian seperti ini 
mbak Mia. Media amar makruf nahi mungkar itu banyak, tidak hanya menjadi 
parlemen jalanan yang bawa pentungan dan main pukul sambil teriak takbir 
segala. Ada dakwah dengan media buku, contoh keteladanan perilaku akhlaq mulia, 
ceramah yang isinya menyejukkan, optimalisasi media massa, jurnal ilmiyah, 
kampanye damai tanpa merusak, membuat film islami, dll media dakwah tentu masih 
banyak yang belum dioptimalkan.

yang no 4 biar mbak Mia saja yang mengulas.

Wassalam
Abdul Mu'iz

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke