Tidak jauh beda dengan keinginan komunis menyatukan dunia 
di bawah paham komunisme. Tentu di dalam pemilihan pimpinan 
negara komunis yang mendunia itu dilakukan dengan sistem 
"musyawarah", demokratis", dsb.
Kalau syarat khalifah harus muslim, adil, dsb demikian 
pula syarat pimpinan  negara komunis harus dari partai 
komunis, dsb.
Hanya ganti istilah dan ganti baju. selebihnya sama.
KM

----Original Message----
From: mnur.abdurrah...@yahoo.co.id
Date: 05/07/2010 20:00 
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Subj: Khilafah dan Khalifah <=Re: Trik-trik Penyusupan Neo-
Marxisme <= Re: mesttinya ranggas <= Re: [wanita-muslimah] 
FPI Akan Bongkar Patung Naga di Kota

Ini bukan propaganda tetapi Al-Maw'izhah Al-Hmasanah 
(informasi yang jelas).
HMNA 

==================
Khilafah dan Khalifah
==================
Untuk mengurai persoalan tersebut paling tidak ada empat 
hal yang perlu dibahas :
1. Pengertian Khilafah dan Khalifah 
2. Syarat-Syarat Khalifah 
3. Sistem Pemilihan Khalifah dan, 
4. Tugas dan Kewajiban Khalifah

1. Pengertian Khilafah dan Khalifah
Khilafaf dalam terminology politik Islam ialah sistem 
pemerintahan Islam yang meneruskan sistem pemerintahan 
Rasul Saw. dengan segala aspeknya yang berdasarkan Al-
Qur'an dan Sunnah Rasul Saw. Sedangkan Khalifah ialah 
Pemimpin tertinggi ummat Islam sedunia, atau disebut juga 
dengan Imam A'zham yang sekaligus menjadi pemimpin Negara 
Islam sedunia atau lazim juga disebut dengan Khalifatul 
Muslimin.

Khalifah dan khilafah itu hanya terwujud bila :
1.1 Adanya seorang Khalifah saja dalam satu masa yang 
diangkat oleh umat Islam sedunia. Khalifah tersebut harus 
diangkat dengan sistem Syura bukan dengan jalan kudeta, 
sistem demokrasi atau kerajaan (warisan). 
1.2. Adanya wilayah yang menjadi tanah air (wathan) yang 
dikuasai penuh oleh umat Islam. 
1.3. Diterapkannya sistem Islam secara menyeluruh. Atau 
dengan kata lain, semua undang-undang dan sistem nilai 
hanya bersumber dari Syariat Islam yang bersumberkan dan 
berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul Saw. seperti undang-
undang pidana, perdata, ekonomi, keuangan, hubungan 
internasional dan seterusnya. 
1.4. Adanya masyarakat Muslim yang mayoritasnya mendukung, 
berbai'ah dan tunduk pada Khalifah (pemimpin tertinggi) dan 
Khilafah (sistem pemerintahan Islam). 
1.5. Sistem Khilafah yang dibangun bukan berdasarkan 
kepentingan sekeping bumi atau tanah air tertentu, 
sekelompok kecil umat Islam tertentu dan tidak pula 
berdasarkan kepentingan pribadi Khalifah atau kelompoknya, 
melainkan untuk kepentingan Islam dan umat Islam secara 
keseluruhan serta tegaknya kalimat Allah (Islam) di atas 
bumi. Olehnya itu, objek Imamah (kepemimpinan umat Islam) 
itu ialah untuk meneruskan Khilafah Nubuwwah (kepemimpinan 
Nabi Saw.) dalam menjaga agama (Islam) dan mengatur semua 
urusan duniawi umat Islam.

2. Syarat-Syarat Khalifah
Karena Khalifah itu adalah pemimpin tertinggi umat Islam, 
bukan hanya pemimpin kelompok atau jamaah umat Islam 
tertentu, dan bertanggung jawab atas tegaknya ajaran Islam 
dan ururusan duniawi umat Islam, maka para ulama, baik 
salaf (generasi awal Islam) maupun khalaf (generasi 
setelahnya), telah menyepakati bahwa seorang Khalifah itu 
harus memiliki syarat atau kriteria yang sangat ketat. 
Syarat atau kriteria yang mereka jelaskan itu berdasarkan 
petunjuk Al-Qur'an, Sunnah Rasul Saw. dan juga praktek 
sebagian Sahabat, khususnya Al-Khulafa Al-Rasyidun setelah 
Rasul Saw, yakni Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, 
radhiyallahu 'anhum ajma'in. Paling tidak ada sepuluh 
syarat atau kriteria yang harus terpenuhi oleh seorang 
Khalifah :
2.1. Muslim. Tidak sah jika ia kafir, munafik atau 
diragukan kebersihan akidahnya. 
2.2. Laki-Laki. Tidak sah jika ia perempuan karena Rasul 
Saw bersabda : Tidak akan sukses suatu kaum jika mereka 
menjadikan perempuan yang memimpin urusan pemerintahan. 
2.3. Merdeka. Tidak sah jika ia budak, karena ia harus 
memimpin dirinya dan orang lain. Sedangkan budak tidak 
bebas memimpin dirinya, apalagi memimpin orang lain (secara 
kontekstual laki-laki yang diperbudak isterinya). 
2.4. Dewasa. Tidak sah jika anak-anak, kerena anak-anak 
itu belum mampu memahami dan memenej permasalahan. 
2.5. Sampai ke derajat Mujtahid. Kerena orang yang bodoh 
atau berilmu karena ikut-ikutan (taklid), tidak sah 
kepemimpinannya seperti yang dijelaskan Ibnu Hazm, Ibnu 
Taimiyah dan Ibnu Abdul Bar bahwa telah ada ijmak 
(konsensus) ulama bahwa tidak sah kepemimpinan tertinggi 
umat Islam jika tidak sampai ke derajat Mujtahid tentang 
Islam. 
2.6. Adil. Tidak sah jika ia zalim dan fasik, karena Allah 
menjelaskan kepada Nabi Ibrahim bahwa janji kepemimpinan 
umat itu tidak (sah) bagi orang-orang yang zalim. 
2.7. Profesional (amanah dan kuat). Khilafah itu bukan 
tujuan, akan tetapi sarana untuk mencapai tujuan-tujuan 
yang disyari'atkan seperti menegakkan agama Allah di atas 
muka bumi, menegakkan keadilan, menolong orang-orang yang 
yang dizalimi, memakmurkan bumi, memerangi kaum kafir yang 
memerangi umat Islam dan berbagai tugas besar lainnya. 
Orang yang tidak mampu dan tidak kuat mengemban amanah 
tersebut tidak boleh diangkat menjadi Khalifah.

Sebab itu, Imam Ibnu Badran, rahimahullah, menjelaskan 
bahwa pemimpin-pemimpin Muslim di negeri-negeri Islam yang 
menerapkan sistem kafir atau musyrik, tidaklah dianggap 
sebagai pemimpin umat Islam karena mereka tidak mampu 
memerangi musuh dan tidak pula mampu menegakkan syar'ait 
Islam dan bahkan tidak mampu melindungi orang-orang yang 
dizalimi dan seterusnya, kendatipun mereka secara formal 
memegang kendali kekuasaan seperti raja tau presiden. Lalu 
Ibnu Badran menjelaskan : Mana mungkin orang-orang seperti 
itu menjadi Khalifah, sedangkan mereka dalam tekanan Taghut 
(Sistem Jahiliyah) dalam semua aspek kehidupan?

Sedangkan para pemimpin gerakan da'wa yang ada sekarang 
hanya sebatas pemimpin kelompok-kelompok atau jamaah-jamaah 
umat Islam, tidak sebagai pemimpin tertinggi umat Islam 
yang mengharuskan taat fil mansyat wal makrah  (dalam 
situasi mudah dan situasi sulit), kendati digelari dengan 
Khalifah. 
2.8. Sehat penglihatan, pendengaran dan lidahnya dan tidak 
lemah fisiknya. Orang yang cacat fisik atau lemah fisik 
tidak sah kepemimpinannya, karena bagaimana mungkin orang 
seperti itu mampu menjalankan tugas besar untu kemaslahatan 
agama dan umatnya? Untuk dirinya saja memerlukan bantuan 
orang lain. 
2.9. Pemberani. Orang-orang pengecut tidak sah jadi 
Khalifah. Bagaimana mungkin orang pengecut itu memiliki 
rasa tanggung jawab terhadap agama Allah dan urusan Islam 
dan umat Islam? Ini yang dijelaskan Umar Ibnul Khattab saat 
beliau berhaji : Dulu aku adalah pengembala onta bagi 
Khattab (ayahnya) di Dhajnan. Jika aku lambat, aku 
dipukuli, ia berkata : Anda telah menelantarkan (onta-onta) 
itu. Jika aku tergesa-gesa, ia pukul aku dan berkata : Anda 
tidak menjaganya dengan baik. Sekarang aku telah bebas 
merdeka di pagi dan di sore hari. Tidak ada lagi seorangpun 
yang aku takuti selain Allah. 
2.10. Dari suku Quraisy, yakni dari puak Fihir Bin Malik, 
Bin Nadhir, Bin Kinanah, Bin Khuzai'ah. Para ulama sepakat, 
syarat ini hanya berlaku jika memenuhi syarat-sayarat 
sebelumhya. Jika tidak terpenuhi, maka siapapun di antara 
umat ini yang memenuhi persayaratan, maka ia adalah yang 
paling berhak menjadi Khalifah.

3. Sistem Pemilihan Khalifah
Dalam sejarah umat Islam, khususnya sejak masa Al-Khulafa 
Al-Rasyidun sepeninggalan sistem Nubuwah di bawah 
kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. sampai jatuhnya Khilafah 
Utsmaniyah di bawah kepemimpinan Khalifah Abdul Hamid II 
yang berpusat di Istambul, Turkey tahun 1924, maka terdapat 
tiga sistem pemilihan Khalifah.

3.1. Dengan sistem Wilayatul 'Ahd (penunjukan Khalifah 
sebelumnya), seperti yang terjadi pada Umar Ibnul Khattab 
yang ditunjuk oleh Abu Bakar.
3.2. Dengan sistem syura, sebagaimana yang terjadi pada 
Khalifah Utsman dan Ali. Mereka dipilih dan diangkat oleh 
Majlis Syura. Sedangkan anggota Majlis Syura itu haruslah 
orang-orang yang shaleh, faqih, wara' (menjaga diri dari 
syubhat) dan berbagai sifat mulia lainnya. Oleh sebab itu, 
pemilihan Khalifah itu tidak dibenarkan dengan cara 
demokrasi yang memberikan hak suara yang sama antara 
seorang ulama dan orang jahil, yang shaleh dengan penjahat 
dan seterusnya. Baik sistem pertama ataupun sistem kedua, 
persyaratan seorang Khalifah haruslah terpenuhi seperti 
yang dijelaskan sebelumnya. Kemudian, setelah sang Khalifah 
terpilih, maka umat wajib berbai'ah kepadanya.
3.3. Dengan sistem kudeta (kekuatan) atau warisan, seperti 
yang terjadi pada sebagian Khalifah di zaman Umawiyah dan 
Abbasiyah. Sistem ini jelas tidak sah karena bertentangan 
dengan banyak dalil Syar'i dan praktek Al-Khulafa Al-
Rasyidun.

4. Tugas dan Kewajiban Khalifah
Sesungguhnya tugas dan kewajiban khalifah itu sangat 
berat. Wilayah kepemimpinannya bukan untuk sekelompok umat 
Islam tertentu, akan tetapi mecakup seluruh umat Islam 
sedunia. Cakupan kepemimpinannya bukan hanya pada urusan 
tertentu, seperti ibadah atau mu'amalah saja, akan tetapi 
mencakup penegakan semua sistem agama atau syari'ah dan 
managemen urusan duniawi umat. Tanggung jawabnya bukan 
hanya terhadap urusan dunia, akan tetpi mencakup urusan 
akhirat. Tugasnya bukan sebatas menjaga keamanan dalam 
negeri, akan tetapi juga mencakup hubungan luar negeri yang 
dapat melindungi umat Islam minoritas yang tinggal di 
negeri-negeri kafir. Kewajibannya bukan hanya sebatas 
memakmurkan dan membangun bumi negeri-negeri Islam, akan 
tetapi juga harus mampu meberikan rahmat bagi negeri-negeri 
non Muslim (rahmatan lil 'alamin).
Secara umum, tugas Khalifah itu ialah :
4.1. Tamkin Dinillah (menegakkan agama Allah) yang telah 
diridhai-Nya dengan menjadikannya sistem hidup dan 
perundangan-undangan dalam semua aspek kehidupan. 
4.2. Menciptakan keamanan bagi umat Islam dalam 
menjalankan agama Islam dari ancaman orang-orang kafir, 
baik yang berada dalam negeri Islam maupun yang di luar 
negeri Islam. 
4.3. Menegakkan sistem ibadah dan menjauhi sistem dan 
perbuatan syirik (QS.Annur : 55). 
4.4. Menerapkan undang-undang yang ada dalam Al-Qur'an, 
termasuk Sunnah Rasul Saw. dengan Haq dan adil, kendati 
terhadap diri, keluarga dan orang-orang terdekat sekalipun. 
(QS. Annisa' : 135, Al-Maidah : 8 & 48, Shad : 22 & 26) 
4.5. Berjihad di jalan Allah.

Kesimpulan
Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan :
1. Khilafah dan Khalifah dua hal yang saling terkait. 
Keduanya merupakan ajaran Islam yang fundamental. 
Menegakkan Khilafah dan memilih Khalifah hukumnya wajib. 
Semua umat Islam berdosa selama keduanya belum terwujud. 
2. Khilafah belum terbentuk atau belum dianggap ada 
sebelum diangkatnya seorang Khallifah yang memenuhi syarat-
syarat yang disebutkan di atas, dipilih dan diangkat dengan 
sistem Syura umat Islam, dan mampu menunaikan tugas dan 
tanggung jawabnya sebagai pemimpin tertinggi umat Islam 
sedunia. 
3. Khilafah bukan tujuan, akan tetapi adalah alat untuk 
menegakkan dan menerapkan agama Allah secara menyeluruh dan 
orisinil. Allahu a'lamu bish-shawab.


----- Original Message ----- 
From: "Dwi Soegardi" <soega...@gmail.com>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Monday, July 05, 2010 18:22
Subject: Re: Trik-trik Penyusupan Neo-Marxisme <= Re: 
mesttinya ranggas <= Re: [wanita-muslimah] FPI Akan Bongkar 
Patung Naga di Kota

From: "Dwi Soegardi" <soega...@gmail.com>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Subject: Re: Trik-trik Penyusupan Neo-Marxisme <= Re: 
mesttinya ranggas <= Re: [wanita-muslimah] FPI Akan Bongkar 
Patung Naga di Kota
Date: Monday, July 05, 2010 18:23

1. Dulu ada kolomnya Romo Mangun di Tempo (awal 90-an?),
menyoroti tentang politik di komunis Uni Sovyet.
Misalnya:
- sebenarnya ada banyak partai di Uni Sovyet, berlomba-
lomba dalam pemilu,
tapi tentu saja hanya ada satu partai sejati: Partai 
Komunis
- semua pejabat partai, pejabat pemerintah daerah, di-
"drop" dari pusat
- dll
yang ciri-cirinya ternyata mirip dengan "partai berkuasa" 
waktu itu: Golkar.

2. Di masa kepemimpinan Golkar oleh Harmoko,
pernah dalam Kongresnya, si Bung ini berpidato
(tidak berapi-api tentunya, tapi bikin ngantuk)
yang antara lain isinya mengritik PKI seperti biasanya.
Di akhir pidato dia memberi hormat kepada rekan-rekan 
sejawat yang diundang,
para pemimpin partai yang berkuasa di negara-negara 
tetangga
antara lain pemimpin partai di Cina dan Vietnam.
Si Bung ini cukup licin juga (atau licik)
menyebut nama partai tersebut dalam bahasa Inggris, atau 
dalam singkatannya
PKC.
Tapi apa ngga kurang ajar ya?

3. Kembali ke kritik Romo Mangun,
coba baca lagi Draft Konstitusi HT,
atau kalau ada rancangan UUD Syariahnya para pembela Islam 
ini,
jajarkan dengan praktek komunis di Sovyet,
kayaknya susah deh mbedainnya hehehe
"Khalifah" itu terjemahan bahasa Russianya "Sekjen Partai 
Komunis" :-)

[Non-text portions of this message have been removed]




Kirim email ke