Kang sabri, ada koreksi sedikit :

1) betul dewan wali I memang dari timteng semua, Syekh Maulana Malik Ibrahim 
itu masih kerabat dekat dengan syekh Maulana Ishaq sama-sama dari Samarkand. 
Mungkin saja Syekh Maulana Malik Ibrahim itu pernah ke Turqi karena memang suka 
berkelana, hijrah sambil menyebarkan Islam, pernah ke Pasai, Champa, dan jawa. 
Syekh Maulana Malik Ibrahim ini punya peran besar mengislamkan kerajaan Champa 
(sekarang jadi kampung muslim kecil di Kamboja), tidak hanya berhasil 
mengislamkan Raja Champa juga dijadikan menantu Raja Champa. Raja Champa punya 
dua putri : Dewi anarawati (akhirnya diperistri Raja Majapahit) dan Chandrawati 
dinikahkan dengan Syekh Maula Malik Ibrahim, dari pernikahan ini lahirlah dua 
putra, yang sulung adalah Ali Murtadho (merantau ke jawa dikenal ali murtolo) 
yang kedua adalah Ali rahmat, oleh ibunya karena berdarah Tionghoa Ali Rahmat 
ini diberi nama Bong Swee Hoo (ketika merantau ke Jawa Ali Rahmat dikenal sunan 
Ampel, gelar raden itu diperoleh
 dari Raja Majapahit).

Kerajaan champa saat itu masih di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit, ketika 
rombongan champa datang ke Jawa menyerahkan upeti ke Raja Majapahit dan salah 
satu upeti itu adalah Dewi Anarawati. Raja Brawijaya terpesona kecantikan Dewi 
Anarawati padahal baru saja menikahi Tan Eng Kian dari Tiongkok (pemberian 
Kaisar Tiongkok sebagai pengakuan menjalin hubungan baik dengan Majapahit) dan 
lagi hamil dan anaknya kemudian terlahir dengan nama Tan Eng Hwat alias Raden 
Patah. Ketika Dewi Anarawati (sudah muslimah) telah diperistri raja majapahit 
(tentu saja masih menganut Hindu atau Syiva Budha) terjadi konflik dengan Tan 
Eng kian (biasa soal asmara alias kecemburuan), atas siasat Dewi Anarawatilah 
Tan Eng Kian terusir dari Majapahit dan dititipkan kepada Arya damar yang 
muslim Bupati Palembang. Arya Damar sendiri adalah anak kandung Raja Majapahit 
dari selir lain yang berdarah Tionghoa juga, terlahir dengan nama Swan Lion. 
Berarti Tan Eng Kian itu adalah ibu
 tiri Arya Damar, uniknya setelah Tan Eng Kian melahirkan Raden Patah, Arya 
Damar menikahi sang ibu tirinya.

Atas jasa Dewi Anarawati ia membujuk suaminya (Prabu Brawijaya yang menganut 
Syiwa Budha) mendirikan pesantren mirip padhepokan ala budha, sekaligus meminta 
izin Prabu Brawijaya, suaminya untuk mendatangkan pengasuh pondok pesantren ini 
dari Champa, maka Dewi Anarawati mengundang iparnya Syekh maulana Malik Ibrahim 
beserta putranya Bong Swe Hoo alias Ali Rahmat menjadi pengasuh pondok 
pesantren tersebut yang ada di Ampeldento Surabaya.

Bong Swee Hoo saat dewasa ingin mengenal Bapak kandungnya maka hijrah ke 
Majapahit dan diterima sang Bapaknya (Prabu Brawijaya) bahkan dijadikan salah 
satu tamtama di daerah demak, diberikan pula gelar Raden dengan tetap menganut 
muslim sehingga dikenal dengan Raden Fattah karena lidah jawa susah menyebut 
huruf F maka menjadi Raden Patah, dan belakangan saat majapahit 
gonjang-ganjing, Raden Patah mendirikan kerajaan islam Demak. Karena kesamaan 
agama, Raden Patah bekerja sama dengan Raden Ali Rahmat alias sunan Ampel. 
Kerjasama yang kompak antara ulama' dan umara'. Kalau Majapahit pernah menjadi 
kerajaan besar bahkan kekuasaannya sampai mancanegara, maka setelah munculnya 
kerajaan islam justru sibuk rebutan kekuasaan dan Demak tidak pernah berkembang 
besar apalagi melebihi kebesaran majapahit. Kalau majapahit amat toleran pada 
warganya untuk menganut dan mengembangkan ajaran agama apapun termasuk islam, 
maka demak tidak pernah mengembangkan toleransi
 contohnya persekusi pada Syekh siti jenar.

2) tentang Anusapati, sebenarnya Anusapati itu anak Ken dedes dengan suami 
pertama Tunggul Ametung yang kemudian dibunuh Ken Arok yang akhirnya 
memperistri Ken Dedes. kalau Tohjoyo itu memang benar anak Ken Arok dengan Ken 
Umang. Setelah anusapati lahir, perkawinan Ken Arok dengan Ken Dede 
menghasilkan empat anak : Mahiso wong Ateleng, Panji Saprang, Agni Bhaya dan 
Dewi Rimbu.

Wassalam
Abdul Mu'iz


--- Pada Ming, 11/7/10, stSabri <x1...@gmx.com> menulis:

Dari: stSabri <x1...@gmx.com>
Judul: [wanita-muslimah] Re: Masalah permainan semantik dan Sebab2 runtuhnya 
Khilafah Islamiyah
Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Tanggal: Minggu, 11 Juli, 2010, 9:53 PM







 



  


    
      
      
      --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, papabonbon <masar...@...> wrote:

>

> 1. itu wali seri I versi dari turki alias versi Hizbut tahrir yah.  aslinya

> di indonesia kagak tercatat dan gak ada jasa jasanya.

> 

> Maulana Malik Ibrahim/ Turki

> Maulana Ishak / Samarkand (Rusia)

> Maulana Ahmad Jumadil Kubra/ Mesir

> Maulana Muhammad al_Maghrobi/ Maroko

> Mulana Malik Isroil/ Turki

> Maulana Muhammad Ali Akbar/ Turki

> Maulana Hasanuddin/ Palestina

> Maulana Aliyuddin/ Palestina

> Syekh Subakir/ Persia

> 

> paling maulana malik ibrahim saja yg dikenali.



Arcon, anda ini tendensius: memang demikianlah fakta sejarah Dewan Wali bukan 
pribumi Jawa, mereka sekumpulan "Ulama" yang diutus Turki untuk berdakwah, 
karena Majapahit salah satu Kerajaan Besar dan Berpengaruh di Asia Tenggara.



Maulana Malik Ibrahim Ahli TataNegara dan wafat di Gresik, berdakwah di wilayah 
Jawa Timur (Jantung Pemerintahan Majapahit).



Maulana Ishak, Ahli Pengobatan, Wilayah Dakwah perbatasan Jawa Timur/Jawa 
Barat. Beliau Balik ke Aceh (Pase) dan meninggal di Pase.



Jumadil Kubro, Berdakwah keliling, Ahli Sastra dan meninggal di Trowulan.



Muhammad al-Mughrobi, dikenal Ahli Peternakan, meninggal di Klaten dikenal masa 
sebagai "sunan geseng", asal Maroko.



Malik Isroil, Turki, ahli Tatanegara dan meninggal di wilayah Merak/Banten.



Ali Akbar, asal persia ahli pengobatan. Di Makamkan di Jawa Tengah.



Hasanuddin, meninggal di Banten (Makamnya sebelah Mesjid Banten)



Aliyuddin, meninggal juga di Banten



Ali Subakir, setelah Dahwah di Jawa kembali ke Persia dan meninggal di Persia.



> 2. syekh siti jenar punya murid, masih trah singosari dan majapahit.  ki

> ageng pengging,  kan muridnya syek siti jenar. ki angeng pengging ini jadi

> orang tua angkat joko tingkir alias sultan pajang, hadiwijaya.  jadi

> sebenarnya dari demak ke pajang adalah pindah dari sunni ke syiah filsafati

> model al hallaj.  pada saat yang sama di aceh yg jadi mufti juga hamzah

> fansuri, yg sama saja tasawuf juga.



Ini saya akur, Murid terkemuka Siti Jenar adalah Ki Ageng Pengging. Joko 
Tingkir pernah berguru ke Ki Ageng Pengging dan Kemudian Juga berguru Kepada 
Sunan Kalijogo. Tapi Anak Joko Tingkir (Pangeran Benowo), belajar berbagai Ilmu 
dan menyukai Ilmu sastra dan filsafat, tidak tertarik pada pemerintahan dan 
politik. Guru Agamanya adalah Sunan Muria.



> 

> 3. belakangan ketika aliran tasawuf di aceh digedor oleh nurudin ar raniry,

> di jawa juga sami mawon, pengikut syekh siti jenar ramai ramai dibabat oleh

> walisongo jilid II.  walisongo yg kita kenal.  maka jadilah mataram islam yg

> dipegang sutawijaya mau digedor oleh arya jipang, yang muridnya sunan

> kudus.  rebutan antara aliran fikih vs kejawen/tasawuf memang sudah

> berlangsung lama.  belakangan konflik ini diperbaharui lagi oleh imam bonjol

> dengan golongan satri vs golongan adatnya (maklum baru bersalafy ria ketka

> dolan ke saudi).

> 

> 4. tapi kita perlu mencatat, kalau di jawa kerajaan islam kejawen yg

> menang.  dengan catatan aliran fikih diakomodasi.  tapi ingat juga,

> ketegangan antara islamis vs nasionalis (???) terus berlanjut, tercatat di

> jaman amangkurat II, dia ngebantai habis 6000 santri (ini kejadian di solo

> atau jogja yah, saya kurang jelas, hehehe ^^).

> 

> 5. di ponorogo ada batoro katong (yg jadi pahlawan tradisi di ponorogo yg

> kenyataannya berbasis muhammadiyah).  ketika prabu udara (brawijaya V)  mau

> dilengserkan oleh raden patah, dia dah siap sedia menyerang ke pedalaman

> jawa.  tapi kayaknya berhasil di redam tuh.  (trivia sama versi madiunnya

> sutan sabri.  hayo mana nih yg bener).  yg pasti para warok yg menguasai

> ilmu gaib dan suka sama bocah bocah lelaki ini adalah warisan majapahit dari

> era batoro katong ini.  kalo raden patah anak dari istri yg tidak diakui dan

> belakangan dikawinkan sama adipati di palembang, batoro katong ini anaknya

> brawijaya V dari selir.  jadi satu keluarga hampir baku hantam tuh.  secara

> pesisir dikuasai islamist semua (bahkan di gresik sunan giri nekad deklarasi

> kerajaan islam dan langsung diserang majapahit sampai lumpuh kekuatannya).

> pedalaman isinya masih pengikut setia majapahit.  dan kayaknya rata rata

> hindu deh, bukan budha (versi st sabri di madiun itu budha, aneh bener).



di Madiun, Hindu-Budha hidup berdampingan secara damai, dan kasta dihapuskan 
oleh Panembahan Emas (Bupati Madiun).



Hampir semua kerajaan di Jawa hancur karena intrik politik keluarga didalam 
sebagai buah Poligami. Ken Arok setelah menikahi Ken Dedes, melahirkan 
Anusopati, Ken Arok menikahi Ken Umang melahirkan Tohjoyo. Keturunan Tohjoyo vs 
Anusopati ini bergantian saling berbunuhan dengan legitimasi "Kutukan Empu 
Gandring", Akhirnya Empu Baradah membagi wilayah singosari menjadi "Jenggolo 
dan Kediri" agar pertumpahan darah berhenti.



Kediri Lebih berkembang dan dirubuhkan oleh Raden Wijaya dengan bantuan Bupati 
Tuban Ronggolawe dengan memperalat pasukan Kubilai Khan. Jangan Heran kalo 
kelenteng Terbesar di Asia Tenggara adanya di Tuban.



> 

> yg pasti saat itu majapahit yg kekuasaanya di mojokerto lagi goyah secara

> perekonomian gara gara bencana lumpur semacam lapindo juga, jadi yg dulunya

> kapal samudera bisa masuk sampai mojokerto, sekarang ini gak bisa, sehingga

> daerah pesisir jadi pada hidup perekonomiannya karena jalur perdagangan pada

> pindah ke pelabuhan laut.  sementara islam ada di sana, tumbuhlah jadi pusat

> ekonomi, dan belakangan jadi pusat politik juga. ancaman baru buat

> majapahit.

> 

> gresik yg nekad pentantang penteng dan langsung dihajar, otomatis jadi

> redup.  sehingga ketika daerah daerah peisisir rame rame kolaborasi bikin

> negara islam, pada kagak berani deh bikinnya di jawa timur lagi, berani

> bikin rada jauhan aja, di jawa tengah.  hehehehe ... :D



Wilayah paling pertama bentrok dengen VOC (Maskapai Dagang) adalah wilayah 
Pantai, karena VOC sebenarnya ingin menguasai Jalur Dagang.



Dalam Legenda Jawa ada seseorang dinamakan Pangeran Sabrang Lor (Pangeran dari 
Seberang Utara Jawa). Orang ini bersuku Bugis, makanya dalam Tata Prajurit 
Mataram terdapat Brigade Daeng dan Brigade Bugis. Dua Brigade ini bisa disebut 
sebagai Angkatan Laut mataram yang berangkat dari Demak Menuju Batavia, selain 
infanteri yang berjalan kaki dari Jogya menuju Jakarta (waktu itu kereta api 
argobromo belum beroperasi).



makanya banyak suku Bugis yang menyandang gelar kebangsawanan Jawa



salam

./sts





    
     

    
    


 



  







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke