Mia wrote:
Menurut catatan sejarah aceh emang mendeklarasikan kesetiaan kepada turki abad 
16, tapi tetep independen
##################################
HMNA:
Itulah sejarah versi lama. 
Dan menurut versi "SEJARAH YANG DISEMBUNYIKAN" oleh Dr. Sallehuddin Ibrahim 
yang anggota Ikatan Intelektual Nusantara [IKIN] dalam hasil penelitiannya 
berupa makahnya: PENGAKUAN ALAM MELAYU TERHADAP KHILAFAH ISLAMIYAH, deklarasi 
itu sebenarnya yaitu Aceh menyatakan diri bergabung dengan Kesatuan Khilafah 
Islamiyah ' Utsmaniyah.
Salam 
HMNA


----- Original Message ----- 
From: <al...@yahoo.com>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Sunday, July 11, 2010 23:03
Subject: Fw: Khilafah dan Khalifah <=Re: Trik-trik Penyusupan Neo-Marxisme <= 
Re: mesttinya ranggas <= Re: [wanita-muslimah] FPI Akan Bongkar Patung Naga di 
Kota


-----Original Message-----
From: al...@yahoo.com
Date: Sun, 11 Jul 2010 14:59:28 
To: Waluya<waluya2...@gmail.com>
Reply-To: al...@yahoo.com
Subject: Re: Khilafah dan Khalifah <=Re: Trik-trik Penyusupan Neo-Marxisme <= 
Re: mesttinya ranggas <= Re: [wanita-muslimah] FPI Akan Bongkar Patung Naga di 
Kota

Subordinasi di sini maksudnya negara yg lebih kecil, minta bantuan yang lebih 
besar. Menurut catatan sejarah aceh emang mendeklarasikan kesetiaan kepada 
turki abad 16, tapi tetep independen donk.  istilahnya emang lazimnya disebut 
vassal. Ini catatan paper dari peserta conferensi ICAIOS 2007 di banda aceh, 
yang dipimpin prof. Anthony Reid. 
Dikatakan bahwa ringkasnya Turki nggak bisa intense bantu aceh, tapi pelatihan 
militer yang didatangkan sekali itu sangat berkesan pada orang aceh, salah satu 
lulusannya Malahayati.

Sekali lagi kesan dari sumber itu mengatakan bahwa aceh yg ngebet, turkinya sih 
nggak karena kejauhan dan mungkin kurang nilai tambahnya. Malahan turki 
mendelegasikan otoritas di hejaz dan yemen utk urus aceh. 

Jadi turki juga mungkin nggak terlalu peduli apa penguasa aceh itu perempuan 
melulu. Ato ini yg membuat mereka malas meningkatkan hubungan, merasa nggak 
level gitu lo? Tapi perlu diinget juga sih, penguasa turki kan gaya hidupnya 
liberal pragmatis kapitalis hehe, walaupun deeply conservative thd tradisinya 
sendiri.. Jadi apa mereka peduli perbedaan mazhab di tempat lain?   

Salam
Mia
------Original Message------
From: Waluya
Sender: not...@yahoogroups.com
To: al...@yahoo.com
Subject: Khilafah dan Khalifah <=Re: Trik-trik Penyusupan Neo-Marxisme <= Re: 
mesttinya ranggas <= Re: [wanita-muslimah] FPI Akan Bongkar Patung Naga di Kota
Sent: Jul 11, 2010 9:16 PM

> al...@... wrote:
> Pak waluya, hubungan turki dengan aceh terbatas aceh sbg
> vassal,yaitu kerajaan subordinasi dari turki, karena aceh perang dg
> portugis dan mau kuasai sumatera dengan armada lautnya. Karena jauh,
> hubungan nggak terlalu intense tapi kerajaan aceh berusaha memelihara > 
> hubungan ini. Malahayati itu admiral lulusan angkatan laut turki loh. > Setau 
> saya  dari catatan sejarah turki cuman aceh saja . Emang ada
> bagian nusantara yg lain sebagai negara vassal? Btw negara vassal
> bukan bagian dari negara dominan, tapi biasanya menyatakan kesetiaan
> dan bayar upeti..

Kalau menurut saya mah bukan vassal, tapi SEKUTU. Artinya Aceh dan Imperium 
Turki itu sahabat dan saling membantu, tapi Aceh bukan "bawahan" Turki, tapi 
negara independen. Salah satu buktinya Kesultanan Aceh beberapa kali dipimpin 
sultan perempuan (sultanah). Menurut Prof K. Ali, dalam bukunya "Sejarah 
Islam",  Kebanyakan penguasa Usmani cenderung bersifat taqlid dan fanatik 
terhadap suatu mazhab dan menentang mazhab-mazhab lainnya dan dalam sejarah 
Turki Usmani, belum pernah satu kalipun Turki Usmani dipimpin  Sultan 
perempuan. Nah, kalau Aceh itu vassal dari Imperium Usmani,  bagaimana mungkin 
bisa merestui "negeri bawahannya" dipimpin seorang perempuan?

Salam,
WALUYA

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke