Semangat Keras dan Pintar (Pa'bambangang Na Macca), 
dan Entrepreneur
Catatan
SYAMSU NUR

JUSUF Kalla memang selalu menarik. Ide-ide dan logikanya menerjemahkan suatu 
masalah sangat masuk akal. Maka ketika dia berbicara di Gedung Graha Pena, 
Sabtu 10 Juli lalu, 500 peserta seminar sangat merasa puas. Seminar
diselenggarakan Harian Fajar dalam rangkaian ulang tahun ketiga Graha Pena 
Makassar, dengan tema "Membangun jiwa entrepreneurship sejak mahasiswa".

Mahasiswa Makassar terkenal dengan demonstrasinya yang sering anarkis, telah 
menjadi bahan ejekan di mana-mana. Kendati kegiatan seperti ini ada hubungan 
dengan jiwa keras, karakter dari suku Bugis Makassar, namun dampak negatif
selalu saja muncul. Karena itu kalimat yang selalu diucapkan sebagai ejekan 
adalah semangat keras dan tolol, perlu dicermati. Apakah itu ada relevansinya?

Pada dasarnya pa'bambangang adalah sifat atau karakter suku Bugis Makassar yang 
memang dimiliki sejak dari nenek moyang. Ini, menurut Jusuf Kalla, susah 
diubah. Sama susahnya mengubah karakter orang Jawa yang kalem dan tenang.
Kalau diterjemahkan, kata pa'bambangang maka artinya, semangat keras, inovasi, 
kerja cepat dalam mencapai tujuan.

Karena itu pa'bambangang bisa punya arti positif. Semangat ini penting bagi 
seorang enterpreneur, yaitu semangat mau maju, semangat untuk melakukan 
inovasi. Maka kata pa'bambangang bisa kita jadikan kekuatan bagi suku Bugis
Makassar. Tapi pa'bambangang na tolo (semangat keras dan tolol) harus diubah 
menjadi pa'bambangang na macca yang artinya semangat keras dan pintar. Semangat 
keras itu ada waktunya dibutuhkan.

Ketika Jusuf Kalla menangani perdamaian Aceh, ia kadang bersikap keras. Yang
namanya pa'bambangang muncul juga. Saat GAM berkeras mau merdeka, Jusuf Kalla 
dengan tegas mengatakan, kalau begitu kita "perang 100 tahun". GAM tidak mau 
mundur dan menyatakan "baik, kita perang 100 tahun." Sesudah jabat tangan
pertanda setuju "perang 100 tahun", Jusuf Kalla mengingatkan, perang seratus 
tahun itu terjadi di Aceh, berarti korban yang banyak adalah rakyat Aceh. Pihak 
GAM berpikir, kemudian berkata "kalau begitu, kita bicara damai." Di sini Jusuf 
ternyata mempraktikkan pa'bambangang na macca. Satu sisi dia bersikap keras, 
tapi satu sisi dia menggunakan akal kepintaran. Maka berkat
pa'bambangang na macca dicapailah perdamaian Aceh.

Ketika semasa mahasiswa, Jusuf Kalla bersama Alwi Hamu, dan Aksa Mahmud, sudah 
mempraktikkan semangat pa'bambangang na macca. Ia sering memimpin demo, sering 
bersuara keras, kritiknya tajam tapi mengena. Argumentasinya kuat dan 
beralasan. Dan yang penting, tidak anarkis. Ia akhirnya bersama teman-temannya 
banyak dikenal. Dia punya banyak relasi, memiliki hubungan
yang luas. Dan ini menguntungkan dan menjadi modal untuk menjadi entrepreneur. 
Dan kemudian, Jusuf Kalla bersama Alwi Hamu, dan Aksa Mahmud,
menjadi pengusaha sukses. Sama-sama memiliki gedung tinggi di Makassar. Sukses 
ini tidak terlepas hubungan dan kepercayaan yang tumbuh ketika
mereka memimpin banyak organisasi kemahasiswaan.

Kalau menjadi pa'bam-bangang na tolo, kita dijauhi orang dan sulit dipercaya. 
Sifat ini tidak menguntungkan jadi entrepreneur. Itu memberi dampak negatif 
yang membuat kita akan jauh dari keberhasilan.

Pengalaman dan kisah Jusuf Kalla ini sangat menarik. Perlu diresapi bahwa
pa'bambangang na macca hendaknya dikembangkan. Karakter kita, suku Bugis 
Makassar, yang pa'bambangang atau sifat dan karakter kerasnya itu perlu
diarahkan menjadi kekuatan yang berguna, bermanfaat bagi kemajuan. Maka sifat 
sinis yang diarahkan ke Sulsel selama ini, pada akhirnya kita harapkan bisa 
membangkitkan semangat berubah.

Semangat meninggalkan pa'bambangan na tolo menjadi pa'bambangan na macca.
Dan kemajuan pastilah akan diraih sekiranya berbarengan dengan itu, muncul juga 
banyak tokoh yang selalu berpikiran sehat common sense seperti Jusuf Kalla.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke