Tambahan:
1. 
Kelupaan => http://waii-hmna.blogspot.com/2005/04/672-mengapa-ke-turki.html

2. 
The Fatwa of the Otoman senate:
 
On Tuesday the 27th of April 1909, the 240 members of the Otoman senate agreed 
under the pressure of the National Young Turks to remove Abdul Hameed from 
power. Senator Sheikh Hamdi Afandi Mali wrote the Fatwa of the removal. The 
Otoman Senate approved it. Here is the translation of that Fatwa: 

"If the Imam of the Muslims took the important religous issues from the 
legislative books and collected those books, wasted the money of the state and 
engaed in agreements that contradicted the Islamic Law, killed, arrested, 
exiled the people for no reason, then promised not to do it again and still did 
it to harm the conditions of muslims all around the Islamic world then this 
leader is to be removed from office. If his removal will bring better 
conditions than his staying, then he has the choice of resigning or being 
removed from office."

Afterwards the Head Of The Ministers Council, Tawfiq Pasha was called to tell 
Abdul Hameed about the decision. He refused to do so. So they sent him a group 
of four people : Aref Hikmat, Aram Afandi (Armenian), As'ad Tobatani and 
Emanuel Qrasow (Jewish). As they entered his office, they found him standing 
calmly, Aref Hikmat read the Fatwa to him, then As'ad Tobatani came forward and 
said "The nation has removed you from your office.", Abdul Hameed became angry 
and said "The nation has removed me from my office, that is okay ... but why 
did you bring the Jew to the Quarters of the Khilafa?" and he pointed to 
Qrasow. Obviously that was the point of payback, Abdul Hameed rejected selling 
Palestine to the Jews, and now they show him that they were a part of his 
removal. A chalenge in the face of Abdul Hameed and the face of the Islamic 
Nation.

***

Black campaign on Sultan Abdul Hameed II:

After Abdul Hameed's removal from office many writers started attacking him and 
his person, one of these people was John Haslib, his book "The Red Sultan" 
became very famous, and was translated into many languages such as Arabic and 
Turkish. A Turkish book titled "iki me vrin perde arkasi - yazan : nafiz tansu" 
by Ararat Yayinevi was also a part of hateful propaganda that drawes the 
Ottoman state sinking deeper and deeper only to be saved by the Young Turks who 
removed Abdul Hameed. Another one is by the famous Arab Christian writter 
Georgy Zaydan in his book "Stories Of The Islamic History - The Ottoman 
revolution". These books are nothing but a bunch of lies written by people who 
hate Islam and muslims deeply. It presents Sultan Abdul Hameed as a man sunk 
into pleasures of life such as women and alcohol, and a vicious merciless 
tyrant towards his political enemies and his people. These lies did not stand 
because the truth always prevails.

Sheikh Of Islam Mohammad Dia' Aldin Afandi's commentary:

The Fatwa is very strange and any person can see that the conditions set in it 
do not fit Abdul Hameed's deeds and actions. Such an achivement of Abdul Hameed 
would give the impression that he could not spend on development, but that is 
untrue. Abdul Hameed established fax lines between Yemen, Hijaz, Great Syria, 
Iraq and Turkey. Then he connected it to the fax lines of Iran and India. He 
managaed to earn back the cost of the project withen only two years because of 
the extensive use of these lines by the Hujjaj (the people who go to Mecca to 
do the pilgramage). It is important to mention that the debts of the Ottoman 
state, when Abdul Hameed came to power, were 2,528 Million Ottoman golden 
Leeras. When he was removed from power they were only 106 Million Leera. Which 
means he cut the debt to about 1/20 of its original value. The Young Turks, who 
came after Abdul Hameed, raised it back by 1300%. 

We kindly ask the Muslim reader to read Alfatihah on the soul of Sultan Abdul 
Hameed and the Muslims who dedicated their lives for the well being of Islam 
and the whole Islamic Nation. We hope we have been able to present you with 
something that will make you see things more clearly and strengthen your belief 
in the Islamic Dream and remove any misunderstandings or misconceptions if you 
have had any. Unite to the bond of Islam, may God bless the Islamic Nation and 
have mercy on the soul of Sultan Abdul Hameed and the rest of the sincere 
Muslims. 


----- Original Message ----- 
From: "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrah...@yahoo.co.id>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Wednesday, July 14, 2010 00:39
Subject: [wanita-muslimah] Seri 672. Mengapa ke Turki?

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM

WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
[Kolom Tetap Harian Fajar]
672. Mengapa ke Turki?

Kalau Seri 670 ditimba dari Pidato Sambutan Gubernur Sulsel dalam Upacara 
Pembukaan Kongres III Ummat Islam, maka Seri 672 ini ditimba dari Pidato Ketua 
Lajnah Tanfidziyah KPPSI Sulsel, Abd. Aziz Qahhar Mudzakkar. Ia menyinggung 
bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyediakan anggaran, sekitar 
Rp250-juta, untuk studi banding pelaksanaan Syari'at Islam ke berbagai negara 
antara lain seperti Pakistan dan Turki. Menurut Abd Aziz lebih baik dana itu 
dialihkan saja untuk membiayai kajian-kajian tentang berbagai problema sosial 
dalam masyarakat yang dilakukan oleh lembaga NGO independen seperti UMI dan 
KPPSI sendiri. Ia juga mempertanyakan mengapa Turki yang dipilih untuk studi 
banding tersebut. 

Dalam Seri ini difokuskan seperti pada judul: "Mengapa ke Turki?". Ya, mengapa 
untuk studi banding pelaksanaan Syari'at Islam terpilih antara lain 
direncanakan ke Turki? Apa alasan para penasihat Pemerintah Provinsi Sulawesi 
Selatan memilih Turki? 

***

Sultan Abdul Hamid II dilahirkan pada hari Rabu, 16 Sya'ban 1258  (21 September 
1842). Pada 11 Sya'ban 1293 H [31 Agustus 1876 M] Sultan Hamid diangkat menjadi 
Khalifah. Dia menjadi pemimpin dari Khilafah dengan wilayah yang sangat luas 
dalam situasi yang tegang dan genting, baik di dalam maupun di luar negeri. 
Khalifah mempunyai visi sejarah yang mendalam. Dia melewatkan waktu tiga puluh 
tahun yang penuh dengan tantangan konspirasi ke dalam dan keluar, peperangan, 
revolusi, dan perubahan-perubahan. 

Khalifah Abdul Hamid mempunyai visi membangkitkan rasa kesatuan dalam kalangan 
negeri-negeri Islam di seluruh dunia. Untuk itu Khalifah membangun jaringan 
transportasi, yaitu jalur kereta api Hijaz dari Dimasyk ke Madinah, dari Aqabah 
ke Maan. Untuk memperlancar komunikasi, Khalifah juga membangun sistem telegraf 
dalam jalur Yaman, Hijaz, Syria, Iraq and Turki. Lalu kemudian Khalifah 
menghubungkannya dengan sistem telegraf Iran dan India. Biaya proyek itu telah 
dapat ditebus hanya dalam jangka 2 tahun, karena sistem transportasi dan 
komunikasi itu dipakai secara intensif oleh para jama'ah haji. Khalifah 
melakukan kampanye gagasan tentang kesatuan ummat Islam meliputi bagian selatan 
Rusia, India dan Afrika. Khalifah juga mengundang para terpelajar dari 
Indonesia, India dan Afrika untuk datang menuntut ilmu dalam wilayah Khilafah 
Islamiyah. 

Melihat itu konspirasi negeri-negeri barat bereaksi dengan cepat mengepung dan 
mengoyak Khilafah Islamiyah. Konspirasi itu menghasut dan membantu 
pemberontakan Tunisia (1877), empat tahun kemudian (1881) Tunisia diduduki 
Perancis, dalam tahun 1882 Inggris menduduki Mesir lalu meluas ke India dan 
Sudan dan Rusia menduduki Asia Tengah. Khilafah Islamiyah tinggal menunggu 
waktu saja dihabisi oleh konspirasi negeri barat.

Akhirnya tiba jualah waktu itu. Gerakan Turki Muda sudah demikian kuat, 
sehingga dapat menekan Majelis Syura untuk mencopot Khalifah Abdul Hamid dari 
kedudukannya. Hari Selasa 6 Rabiul Akhir 1327 (27 April 1909) Majelis Syura 
memutuskan untuk menurunkan Khalifah Abdul Hamid dari tahtanya. Empat orang 
diutus kepadanya untuk menyampaikan keputusan itu: Arif Hikmat, Aram Affandi 
(orang Armenia), As'ad Tabtani dan Qrasow (Yahudi). Kehadiran Qrasow dalam 
utusan itu menunjukkan, bahwa dalam konspirasi itu, aktif pula peranan Yahudi.

Setelah PD-I wilayah Khilafah Islamiyah tercabik-cabik. Orang Arab di Hijaz 
memberontak dibantu oleh Inggris dan Perancis, terulang peristiwa Tunisia, 
orang Arab dikhianati dan diduduki oleh Inggris, dan memberikan Palestina 
kepada orang Yahudi. Andaikata saja mereka mendengarkan Abdul Hamid.

Hingga akhir Perang Kemerdekaan Turki melawan negeri-negeri Eropa yang 
menduduki negeri Ottoman setelah PD I, Mustafa Kemal dari Gerakan Turki Muda 
kelihatannya seperti seorang Muslim yang taat. Dia shalat bersama-sama ummat 
Islam di masjid-masjid. Bahkan diapun juga membaca khuthbah Jum'at di beberapa 
masjid. Dia bersumpah akan berperang untuk menyelamatkan Khilafah. Dia 
memuji-muji Allah, Islam dan Nabi Muhammad SAW sepanjang waktu. Dia menyebutkan 
Al Quran sebagai Kitab Suci yang sempurna. Dia berkata Al Quran itu adalah 
konstitusi. Dan dia juga mengatakan itu semuanya pada pembukaan Majelis Agung 
Nasional (National Grand Assembly) di Ankara sewaktu Perang Kemerdekaan. 
Sehingga ummat Islam mempercayainya. Dan dia mendapatkan kekuasaan penuh selama 
Perang Kemerdekaan. Setelah Turki memperoleh kemerdekaannya, dia dipilih oleh 
Majelis sebagai Presiden Turki. Gerakan Turki Muda memperoleh kekuasaan. Pada 
mulanya Mustafa Kemal hanya memotong debat dalam Majelis dan mengatakan 
Khalifah hanya sekadar sebagai figur saja yang tidak punya kekuasaan. Namun 
setelah ia merasa kuat, ia membatalkan Khilafah pada 3 Maret 1924. Maka 
berakhirlah sudah kesatuan kepemimpinan bagi ummat Islam yang telah berlangsung 
selama 1300 tahun. 

Tidak selang berapa lama Mustafa Kemal mulai melakukan Social Enginering yang 
keras dan kejam menerapkan reformasi anti-Islam. Sosok yang dahulunya berkata 
"Al Quran sebagai konstitusi", berbalik mengatakan "Kita tidak menerima hukum 
dari langit". Untuk mencapai reformasi anti-Islamnya, dalam menerapkan 
mekanisme Sosial Engineering, ia tidak segan-segan melakukan pemaksaan, terror, 
tiang gantungan, penyiksaan dan penjara. Apa katanya?: "Islam - this theology 
of immoral Arab- is a dead thing ... God's revelation ! There is no God !" [The 
Gray Wolf, H.G. Armstrong, Capricorn Books, New Yoek, 1961, p.199-200]

***

Maka sejak tahun 1924 Turki itu bukanlah mencerminkan Islam. Ingatlah korban 
keganasan Westerling de Turk (orang Belanda dari etnik Turki) yang terkenal 
dalam Sejarah Perjuangan Kemerdekaan, yaitu Korban 40.000 di Sulawesi Selatan. 
Lalu untuk apa melakukan studi banding pelaksanaan Syari'at Islam ke Turki? Itu 
adalah perbuatan yang mubadzdzir (boros) !
-- AN ALMBDZRYN KANWA AKHWAN ALSYYTHYN (S. BNY ASRAaYL, 17:27), dibaca: innal 
mubadzdziri-na ka-nu- ikhwa-nasy syaya-thi-n (s. bani- isra-i-l), sesungguhnya 
para pemboros itu adalah saudara-saudara setan-setan. WaLlahu a'lamu bisshawab.

*** Makassar, 17 April 2005
   [H.Muh.Nur Abdurrahman]

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke