Abdul Muiz------------Bismilahirrahmanirrahiim

Belum tentu semua cerita2 peperangan yang anda tulis itu
adalah benar...

Setiap penulis kitab2 sejarah sahabat2 mempunyai Versi masing2
Coba anda baca Versi muslim Syiah..pasti akan berbeda...

jadi jangan di ambil dari kitab2 sejaharah ini sebagai
pegangan aqidah kita dlm memperjuangkan agama islam
Kita bisa tersesatkan,bukankah demikian?

Salam hangat dari saya USA



--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com,  <mui...@...> wrote:
>
> Pada era khalifah Ali bin Abi Thalib, perang saudara terjadi dua kali :
> 
> Pertama perang Jamal, antara Aisyah (Janda Nabi Muhammad sekaligus putri Abu 
> Bakar) Vs Ali bin Abi Thalib (menantu Nabi Muhammad sekaligus saudara sepupu 
> Nabi Muhammad). Satu kubu dengan Aisyah adalah Thalha dan Zubair bin Awwam 
> dua sahabat Nabi ini disebut hadist Nabi sebagai penghuni syurga termasuk 
> lawan perang mereka yaitu Ali bin Abi Thalib. Penyebab pecahnya Perang Jamal 
> karena tidak tercapai deal (kesepakatan) mengenai penyelesaian kasus 
> pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan. Khalifah Ali menghendaki menciptakan 
> stabilitas negara lebih dulu baru mengadili pembunuh Utsman, sedangkan kubu 
> Aisyah menghendaki kasus pembunuhan Khalifah Utsman lebih diutamakan. Konon 
> siti Aisyah pada masa Nabi Muhammad masih hidup di awal pernikahannya bersama 
> Kanjeng Nabi Muhammad terjadi fitnah ketika Aisyah ketinggalan rombongan 
> (kafilah) karena ketiduran dan kafilah Nabi mengira Aisyah ikut serta. 
> Rombongan Kafilah baru menyadari kalau Aisyah ketinggalan saat
>  menyusul kafilah mereka Aisyah disertai sahabat Nabi yang bernama Shafwan 
> bin Muatthol yang menemukan Aisyah ketiduran di tengah jalan sendirian, 
> sehingga timbul desas-desus (kayak berita gosip infotaintment di TV 
> Indonesia) bahwa Aisyah selingkuh. Maka Nabi meminta pendapat sahabat-sahabat 
> terdekatnya, bagaimana beliau sebaiknya menyikapi Aisyah, Ali pada saat itu 
> berpendapat, "masih ada wanita lain yang lebih baik........" maksudnya 
> ceraikan saja Aisyah. Sikap dan saran Ali ini sampai juga ke telinga siti 
> Aisyah. Fitnahpun tidak terbukti dan Aisyah masih menjadi Istri Kanjeng Nabi 
> Muhammad sampai akhir hayat beliau. 
> 
> Akhir perang Jamal adalah dari Kubu Aisyah, terbunuh thalha dan zubair. 
> Sedangkan Aisyah dilumpuhkan Ali dengan memotong kedua kaki onta (jamal) yang 
> ditunggangi Aisyah. Perang berakhir dengan kemenangan di pihak Khalifah Ali 
> bin Abi Thalib, selanjutnya kubu Ali sendiri mengantarkan Aisyah ke Mekkah 
> sehingga Aisyah tidak terdengar lagi terlibat dalam kancah politik hingga 
> akhir hayat.
> 
> Perang yang kedua adalah perang Shiiffin, yaitu perang antara kubu Khalifah 
> Ali bin Abi Thalib VS kubu Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Penyebabnya hampir sama 
> dengan perang Jamal tidak ada kesepakatan (deal) tentang penyelesaian kasus 
> pembunuhan Khalifah Utsman. Dua kubu ini memang berseteru sejak nenek moyang 
> mereka terutama penguasaan Ka'bah di Mekkah. Ali bin Abi Thalib adalah 
> keturunan Bani Hasyim sedangkan Muawiyah adalah keturunan Bani Umayyah. 
> Mu'awiyah adalah kerabat dekat dengan Utsman bin Affan yang menjadi isyu 
> persoalan konflik perang shiffin. Perang saudara ini berakhir imbang dengan 
> sama-sama menderita. 
> 
> Sebenarnya secara militer kubu Ali hampir menang namun kubu Mu'awiyah melalui 
> Amr bin 'Ash menancapkan Mushaf Qur'an di atas tombak menawarkan damai dengan 
> berunding kembali kepada Kitabullah Al qur'an. Ali yang tahu persis sikap dan 
> kelakuan Amr bin 'Ash menolak berunding, akan menuntaskan perang, namun para 
> pengikutnya banyak yang menolak melanjutkan perang karena kelelahan setelah 
> perang Jamal yang menghabiskan banyak energi. Maka Ali tidak mempunyai 
> pilihan kecuali berunding. Disepakati kedua kubu mengirimkan delegasi untuk 
> maju di meja perundingan. Dari kubu Muawiyah menunjuk Amr bin Ash sebagai 
> juru bicara, sementara dari kubu Khalifah Ali bin Abi Thalib semula ingin 
> menunjuk Abdulllah bin Abbas namun ditolak pengikutnya, yang kemudian 
> mayoritas pengikutnya menghendaki Abu Musa al asy'ari sebagai juru bicara 
> sekaligus juru runding. Ali mengetahui persis kepiawaian Amr bin Ash dan 
> keluguan Abu Musa al Asy'ari. Wal hasil Amr bin Ash berhasil
>  mensiasati Abu Musa supaya sepakat memecat pemimpin kedua kubu yang 
> berseteru : Ali bin abi Thalib maupun Mu'awiyah. Amr bin Ash mempersilakan 
> Abu Musa Al 'Asy'ari untuk tampil lebih dulu mengumumkan pemecatan kedua 
> pemimpin yang berseteru ini. Giliran Amr bin Ash tampil dia justru 
> menampilkan sebagai Muawiyah sebagai pemimpin. Perundingan pun berakhir 
> dengan kisruh tanpa ada penyelesaian berarti. 
> 
> Maka muncullah gerakan Khawarij yang artinya keluar dari kelompok yang 
> berseteru. Kelompok ini sebenarnya kebanyakan berasal dari kubu Khalifah Ali 
> bin Abi Thalib, pasca perundingan tsb tidak setuju dengan Ali bin Abi Thalib 
> maupun Muawiyah, maka mereka memutuskan supaya membunuh tiga orang sebagai 
> biang kerok konflik tidak jelas tsb yaitu : Khalifah Ali bin Abi Thalib, 
> Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan Amr bin Ash. Eksekutor pun sudah disiapkan kaum 
> Khawarij namun yang berhasil menjalankan tugas cuma membunuh Ali bin Abi 
> Thalib, sedangkan Mu'awiyah selamat yang akhirnya sepeninggal Khalifah Ali, 
> mendirikan dinasti kekhalifahan Bani Umayyah, sedangkan untuk membalas jasa 
> juru bicaranya, Amr bin Ash diangkat menjadi Gubernur Mesir (dulu pernah 
> menjadi amir di Mesir namun dipecat oleh Khalifah Umar bin Khattab).
> 
> Tidak lama setelah muncul gerakan khawarij muncul pula firqah Syi'ah yang 
> mengagungkan Ali bin Abi Thalib beserta keturunannya dari Fatimah putri 
> Kanjeng Nabi Muhammad. Sebenarnya aliran Syi'ah ini muncul karena konflik 
> politik namun akhirnya bergeser menjadi aliran theologi sampai sekarang tetap 
> exist dengan mayoritas ada i Iran. Juga muncul gerakan mur'ji'ah namun 
> gerakan ini kecil dan hilang ditelan sejarah.
> 
> Nah uniknya, Ibnu taymiyah dan pengikutnya mengharamkan bertanya siapa yang 
> salah dalam konfilik perang jamal mupun perang shiffin.
> 
> Wassalam
> Abdul Mu'iz
> 
> --- Pada Sen, 19/7/10, Waluya <wal...@...> menulis:
> 
> Dari: Waluya <wal...@...>
> Judul: [wanita-muslimah] Re: Kaum muslim Tiongkok bersama dengan non muslim 
> membangun sebuah khilafah Islam yang dikenal dengan Dinasti Ming (1368-1644M).
> Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> Tanggal: Senin, 19 Juli, 2010, 12:44 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
>   
> 
> 
>     
>       
>       
>       > Wikan Danar Sunindyo <wikan.danar@> wrote:
> 
> > baguslah kalau ada sejarawan muslim yang objektif
> 
> > saya juga pengin tahu apa yang penulis itu tulis mengenai konflik 
> 
> > ali vs muawiyah, pembunuhan hussain, terbunuhnya khalifah umar dan 
> 
> > utsman, etc
> 
> 
> 
> Menurut buku sejarah Islam yang saya punya, persaingan Ali dan Muawiyyah 
> tidak lepas dari akarnya, yaitu persaingan Bani Hasyim dengan Bani Umayyah 
> yang terjadi sejak sebelum Islam lahir. Persaingan ini dimulai dari UMAYYAH 
> yang menentang dan akan merebut kekukasaan sang paman HASYIM dalam 
> memperebutkan kekuasaan di Makkah (termasuk pengelolaan Ka'bah). Ummayah 
> kalah dalam medan perkelahian dengan Hasyim, dan akibatnya dia dibuang keluar 
> kota selama 10 tahun.
> 
> 
> 
> Ummayah berputra HARB, sedangkan HASYIM berputra SYABIH dalam perkawinnanya 
> dengan wanita Madinah. SYABIH akhirnya dipanggil ABDUL MUTHTHALIB, karena 
> waktu beliau ikut pamannya MUTHTHALIB ke Madinah,  Orang-orang Madinah 
> menyangka SYABIH itu budaknya MUTHTHALIB. ABDUL MUTHTHALIB akhirnya menjadi 
> "penguasa Makkah" juga seperti bapaknya. HARB, seperti juga bapaknya, tidak 
> menerima kepemimpinan ABDUL MUTHTHALIB. Akhirnya dia juga diusir ke luar 
> kota. Benih-benih permusuhan sudah mulai bersemai.
> 
> 
> 
> Abdul Muththalib berputra Abdullah (menurunkan Nabi Muhammad), Abu Thalib 
> (menurunkan Ali) dan Abbas (kelak keturunannya mendirikan dinasti Abbasyiah). 
> Sedangkan Umayyah, selain berputra HARB yang menurunkan ABU SUFYAN 
> (menurunkan MUawiyyah--> Yazid), juga mempunyai putra bernama ABU AL-AS yang 
> berputra AFFAN dan berputra USMAN (Khalifah Rasyidin ke 3).
> 
> 
> 
> Di jaman Kangjeng Nabi, permusuhan dua Bani ini akhirnya dapat diredam dengan 
> masuk Islamnya Abu Sufyan dan putranya Muawiyah karena kecerdasannya 
> dijadikan "sekretaris" Kangjeng Nabi. Tetapi sepeninggal Kangjeng Nabi, 
> permusuhan ini muncul kembali, apalagi waktu Khalifah Usman, permusuhan ini 
> makin menjadi-jadi.
> 
> 
> 
> Gitu katanya jalan ceritanya. Entahlah, saya cuma orang yang hobi baca buku 
> sejarah, tapi paling tidak saya bisa mafhum kenapa Khalifah Usman yang 
> sebenarnya sama-sama beristri putri Nabi seperti Ali, tidak terlalu dianggap/ 
> tidak diakui oleh orang Syiah.
> 
> 
> 
> Mohon maaf jika ada yang keliru dan terimakasih sekali jika dikoreksi.
> 
> 
> 
> Sumber: Sejarah Islam (Tarik Pramodern). K. Ali, penterjemah Ghufron A. 
> Mas'adi, PT RajaGRafindo Persada, Jakarta, cetakan 2,  1997
> 
> 
> 
> Salam,
> 
> WALUYA
> 
> 
> 
> 
> 
>     
>      
> 
>     
>     
> 
> 
>  
> 
> 
> 
>   
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke