Dear Ferona,

sejauh ini saya baik-baik saja, walaupun sering henk :D

Kayaknya ada yang sedikit pandangan tentang kawan anda, dia sangat religius, 
kini tidak beragama. Kupikir sangat mungkin seseorang TIDAK BERAGAMA Tapi 
RELIGIUS. Diluar definisi umum Religi = Agama, Religius = Beragama. Bagiku 
sangat mungkin seseorang religius tanpa meyakini satu agama-pun, sebagaimana 
pernah disinyalir oleh ibnu Sinna dalam kitab "al Isyarah ..." Secara Pribadi 
saya sendiri pernah mengalami sebuah periode ini, dimana enggan melakukan 
ritual Agama, tapi sama sekali tidak kehilangan Keyakinan Terhadap Gusti Allah, 
diskusi dengan Gusti Allah (kelihatannya seperti Ngomel wong Gusti Allah gak 
menjawab secara verbal) dikala duduk diatas klothok (perahu tradisional khas 
banjarmasin, barang yang sama di samarinda namanya ketinting). dikala berdiri 
diatas Tumpukan batu bara di jaman bergaul dengan dunia hitam itu: (Quit dari 
dunia batu bara karena dilarang Istri).

IMHO, tidak ada hubungan antara Religius dan beragama. Agama adalah sebuah 
Jalan, sebuah Petunjuk, sebuah Guidance. Dalam dunia Ibarat, banyak manusia 
bisa memahami arah tanpa kompas, mengerti jurusan tanpa peta. Masyarakat Jawa 
sebelum Islam masuk, sudah mengenal Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Widhi, 
artinya masyarakat Jawa sudah Tauwhid sebelum Islam masuk, sehingga tidak 
mengeharankan bila Islam sebagai Agama Tawhid dengan cepat diterima masyarakat 
Jawa. Dan sangat banyak masyarakat lain di permukaan bumi ini sudah ber-Tauwhid 
sebelum "agama" sampai pada mereka.

Tidak sedikit gejala, masyarakat beragama MenuHankan agama itu sendiri sehingga 
"seakan-akan" Tuhan= Agama. CMIIW, kaum Krsitiani menyatakan : Tidak akan 
sampai pada "Bapa" tanpa melalui "Anak. Kaum Muslim juga memiliki Aroma ini, 
Tidak akan sampai pada Tujuan yang benar Tanpa "syahadat". Dalam Pikiran Nakal 
saya, sering terpikir, aroma ini menyempitkan "Kebesaran Tuhan". Gusti Allah 
jauh lebih besar dari sekedar Agama, Tuhan Lebih Agung dibanding segala jenis 
ritual.

Dalam skala pemikiran manusia, tidak pantaskah seorang Mahatma Gandhi menikmati 
Surga (?)

"..." ana al-Haq

wassalam
./STS



----- Original Message -----
From: Ferona Y. Faizal
Sent: 07/20/10 05:35 PM
To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Subject: Re: [wanita-muslimah] Allah Tidak Tidur

Dear Pak Sabri,

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menyapa pak Sabri di milis ya .. apa
kabar pak?

Menyambung email pak Sabri di bawah ini. Memang pengalaman hidup manusia
berbeda-beda. Alhamdulillah saya seringkali diberi pengalaman "pembalasan
instan" oleh Allah. Mungkin itu caranya Allah mengajari saya yang memang
ndableg dari dulu sampai sekarang :)

Karena seringkali pengalaman spritual manusia berbeda-beda, membuat saya
rasanya tak lagi sekedar mendefinisikan Allah Tidak Tidur. Allah ada di
sini, di dekat hati saya dan tak pernah meninggalkan saya. Seringkali apa
yang saya tangiskan, dalam lima menit ke depan "dibalas" Allah dengan
segera, sehingga ketika airmata belum sempat kering di pipi namun hati yang
tadi lara berubah seketika menjadi bahagia. Saya akhirnya selalu percaya,
kesedihan memang tiada artinya ketika hati telah pasrah kepadaNya. Hati yang
selalu berbaik-sangka pada Allah, ringan menjalani setiap cerita hidup yang
tak selalu berisi tawa, namun juga lara dan nestapa.

Karena itu saya tertegun sekali mendengar pengakuan seorang kawan yang
dulunya sangat religius kini mengaku tak beragama dan tak lagi bisa
merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupannya. Betapa hati manusia memang
mudah terbolak-balik. Saya tidak mengatakan kawan saya salah -mungkin itu
adalah bagian dari perjalanan hidupnya, tetapi saya bersyukur saya tetap
merasakan cinta Allah pada saya dan di usia saya, saya bisa menemukan
ketenangan dan kehadiran Allah dalam hidup saya.

Ketika umur semakin lanjut dan jiwa yang gelisah menemukan labuhannya,
apalagi yang dicari selain menikmati setiap zarrah nikmat Allah dengan
membaginya kepada mereka yang membutuhkan.



Salam Manis,
F e r o n a
http://www.goldoven.com

Kirim email ke