Mbak Fe,

Suasana hati yang berubah-ubah itu adalah hal lumrah dan fitrah dasar manusia, 
karena sesuai dengan makna "qalbu" yang artinya bolak balik tergantung stimulus 
dari luar dan dalam serta pengalaman batin seseorang. Maka terkadang muncul 
rasa bad mood sehingga malas shalat, tetapi kadang bisa juga semangat. Kalau 
kembali ke konsep qur'an, " ....... Dirikanlah shalat agar mengingat Aku", maka 
sebenarnya kita diminta selalu dalam kondisi berkesadaran tinggi baik lahir 
maupun batin, di mana pusat dari segala kesadaran itu ya Allah SWT Tuhan rabbul 
'alamin. 

Dari segi fiqh memang shalat itu ada yang wajib dan ada yang sunnah, namun 
terlepas dari sisi kewajiban, Allah menegaskan bahwa shalat itu tujuannya 
supaya mengingat Aku. Alias selalu dalam kondisi "kesadaran tertinggi" makanya 
kalau orang yang memiliki kesadaran tinggi ya pasti pro pada akhlaqul karimah 
enggan berpaling pada akhlaqul mazmumah sehingga ya otomatis connect pada 
prinsip rahmatan lil alamin, juga tujuan akhir yaitu ilaihi rajiun. Maka shalat 
tidak lagi menjadi kewajiban tetapi menjadi kebutuhan. Kalau kemudian Shalat 
menjadi aktivitas meditasi yang banyak manfaatnya itu hanya sekedar hikmat 
terlepas dari pro dan kontra.

Wassalam
Abdul Mu'iz


--- Pada Rab, 21/7/10, F e r o n a <cakefe...@gmail.com> menulis:

Dari: F e r o n a <cakefe...@gmail.com>
Judul: Re: [wanita-muslimah] Allah Tidak Tidur
Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Tanggal: Rabu, 21 Juli, 2010, 7:49 AM







 



  


    
      
      
      Perkara shalat, saya pun sempat lama malas melakukan shalat. Pikir saya, 

shalat ini lama-lama menjadi ritual belaka seperti upacara bendera.



Tapi justru di situ saya merasa Allah itu sayang pada saya. Ketika saya 

ngeyel dan malas melakukan ibadah karena merasa itu cuma ritual belaka, 

saya diberi sebuah jalan cerita yang mau tidak mau membuat saya merasa 

buntu dalam hidup. Allah pun menurunkan pemeran cerita berikutnya yang 

membimbing saya terus menerus. Tidak mengajari dan menyuruh, karena saya 

alergi disuruh-suruh. Makin disuruh makin mbandel. Tapi Allah ndak 

pernah marah dengan kebandelan saya ini.



Dan shalat memang jadi terapi yang menakjubkan. Belum lagi "pembalasan 

instan" yang ditunjukkan Allah tiap kali saya selesai melakukan shalat, 

membuat shalat menjadi pengalaman spiritual yang membuka hati saya, 

bahwa shalat bukan upacara bendera yang dijalani dgn hati 

bersungut-sungut karena merasa ini kewajiban dan ketaatan.



Shalat pun tak lagi menjadi kewajiban, namun menjadi kebutuhan. Saya 

shalat bukan lagi karena merasa itu kewajiban, namun kebutuhan. Tidak 

ada lagi tempat berlari dan berlindung dari semua masalah di dunia ini 

selain Allah. Dan Shalat adalah salah satu dari sekian banyak cara saya 

berkomunikasi dengan Allah.



Saya paham apa yang dirasakan anak Mbak Mia, karena saya dulu pun merasa 

begitu. Merasa shalat tak perlu karena sudah berbuat baik, tak pernah 

korupsi, tak pernah mencuri dalam segala bentuknya, selalu membantu 

mereka yang kesusahan, dsb. Tapi Allah punya rencana lain rupanya dan 

alhamdulillah rencana Allah terasa indah akhirnya ...



Mudah2an anak Mbak Mia nanti pun bisa merasakan nikmatnya shalat, karena 

saya yakin manusia yang selalu berpikir untuk bermanfaat bagi makhluk 

lainnya, selalu dijaga Allah, walau mungkin dalam perjalanan hidupnya 

sempat keliru, tapi dia akan cepat menemukan lagi jalannya.



Salam Manis,

F e r o n a

http://www.cakefever.com



On 7/21/2010 7:31 AM, al...@yahoo.com wrote:

>

>

> Anak saya sendiri mengaku nggak percaya agama sejak smp, dan ini anak

> al-azhar, dg background keluarga NU, Muhammadiyah plus PKS hehe.

> Komentar temen, like mother like son... Maksutnya anak kita itu seolah

> komiknya bapak-ibunya...:-(

>

> Tapi gimana kamu mengisi batin/psikis dirimu kalo nggak solat?, tanyaku.

> Dia bilang setiap kali berbuat baik dirinya terisi, termasuk kerja

> dengan tekun (dia perawat di rumah sakit angkatan laut).

>

> Saya nasihatin dia, hati2 saja dengan ego kita sendiri, setiap saat bisa

> jadi 'tuhan'. So kamu perlu solat.

>

> Kemudian saya sadar sendiri, bahwa nilai/paradigma yang sedang kita

> usung sekarang adalah "tuhan personal" yang kita persepsikan dari

> keinginan2 manusiawi kita yang masih dalam tahap begini ini. Dan

> barangkali itulah "content" solat kita.

>

> Salam

> Mia



    
     

    
    


 



  







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke