Sangat masuk akal, tentunya sejauh pengalaman manusia dalam memaknai simbol. 
Wong kemampuan bahasa diakui semua ahli ada genetikanya. Sistem kepercayaan 
adalah seperangkat simbol yang juga "bergenetika". Ini dengan catatan kita 
nggak bermasalah dengan cara tuhan menciptakan kita melalui proses evolusi. 
Dan kapasitas genetika kita juga berbeda. Ada yang cepet menguasai 
bahasa/simbol, ada yang nggak. Ini nggak ada hubungannya dengan baik buruk 
sukses atau gagal. Kuncinya gimana kita memaksimalkan kapasitas yang ada, 
dengan cara yang bervariasi, contohnya obrolan mba fero dan ki sabri ttg solat 
misalnya.

Salam
Mia
-----Original Message-----
From: "stSabri" <x1...@gmx.com>
Sender: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Date: Wed, 21 Jul 2010 12:33:36 
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Reply-To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Subject: [wanita-muslimah] Re: Allah itu Personal?

Apakah mungkin Allah "mencipta", atau menghendaki akal seorang manusia memahami 
tentang Allah :D

Allah : "ana Al-Haq"

wassalam
./STS

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman" 
<mnur.abdurrah...@...> wrote:
>
> Allah itu Personal?
> Haqiqat Allah (Al-Haqq) tidak mungkin dapat dicapai oleh manusia dengan 
> kekuatan akalnya. Haqiqat Al-Haqq tidak mungkin diperoleh dengan upaya akal 
> yang berpikir dengan mekanisme otak yang berwujud filsafat. Juga Haqiqat 
> Al-Haqq tidak dapat dicapai manusia dengan upaya akal yang merenung memakai 
> mekanisme qalbu dalam wujud tasawuf. Haqiqat Al Haqq tidak dapat dicapai 
> melalui filsafat ataupun tasawuf: 
> -- Al Haqqu min rabbikum (Suarh Al-Kahf, 18:29), artinya: Al Haqq itu dari 
> Rabb kamu. 





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke