lho, Abah HMNA menyebut Ibrahim tidak skeptis itu kan setelah menerima firman 
Allah sebagaimana yang disebutkan di Al qur'an tsb. Sebelumnya, Nabi Ibrahim 
itu ya skeptis (saat wahyu belum diterima) dengan mencari dan mencari sang 
kebenaran, coba simak di qur'an ketika Ibrahim mencari Tuhan dengan bertanya 
dan mengira-ngira, semula yang paling hebat disangka Ibrahim sebagai Tuhan 
adalah Matahari, ternyata matahari terbenam sore hari, kemudian menyangka 
rembulan yang terang di malam hari ternyat juga tidak nampak saat berganti 
siang, maka sampailah pada kesimpulan Iman, setelah menerima wahyu, bahwa 
dirinya (Nabi Ibrahim) berlindung kepada Allah dari syirik (hal-hal yang 
menyekutukan Allah), sekiranya Nabi Ibrahim tidak diberitahu Allah maka dirinya 
akan terjerumus dalam kegelapan.

Pengalaman spiritual Nabi Ibrahim ya rada mirip dengan pengalaman Nabi Musa 
saat berdialog dengan Tuhan di bukti Thursina, untuk meyakinkan diri 
(meneguhkan imannya) maka nabi Musa meminta agar diberikan kesempatan melihat 
Allah dengan mata fisiknya, ini juga dikisahkan di Al qur'an.

Sikap penasaran untuk mencari tahu tentang kebenaran itu pada hakekatnya adalah 
skeptis makanya kalau sikap ragu ini diupgrade terus ya akan mencapai atau 
menuju yang namanya al haq atau haqqul yaqin.

Wassalam
Abdul Mu'iz

--- Pada Sab, 24/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrah...@yahoo.co.id> 
menulis:

Dari: H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrah...@yahoo.co.id>
Judul: Re: [wanita-muslimah] Allah itu Personal?
Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Tanggal: Sabtu, 24 Juli, 2010, 7:17 AM







 



  


    
      
      
      

----- Original Message ----- 

From: "Abdul Muiz" <mui...@yahoo.com>

To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>

Sent: Saturday, July 24, 2010 07:41

Subject: Re: [wanita-muslimah] Allah itu Personal?



Dalam batas-batas tertentu boleh saja skeptis pada iman, contohnya Nabi 

ibrahim ketika ingin meneguhkan imannya, Nabi Ibrahim mencari bukti dengan 

observasi, sebagaimana disebutkan di al qur'an :



وَإِذۡ

 قَالَ إِبۡرَٲهِـۧمُ رَبِّ أَرِنِى ڪَيۡفَ تُحۡىِ ٱلۡمَوۡتَىٰ‌ۖ قَالَ

أَوَلَمۡ تُؤۡمِن‌ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَـٰكِن لِّيَطۡمَٮِٕنَّ قَلۡبِى‌ۖ

قَالَ فَخُذۡ أَرۡبَعَةً۬ مِّنَ ٱلطَّيۡرِ فَصُرۡهُنَّ إِلَيۡكَ ثُمَّ

ٱجۡعَلۡ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ۬ مِّنۡہُنَّ جُزۡءً۬ا ثُمَّ ٱدۡعُهُنَّ

يَأۡتِينَكَ سَعۡيً۬ا‌ۚ وَٱعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ۬ (٢٦٠



Dan

 [ingatlah] ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku

bagaimana Engkau menghidupkan orang mati". Allah berfirman: "Belum

yakinkah kamu?". Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya, akan tetapi

agar hatiku tetap mantap [dengan imanku]".

#################################################################################

HMNA:

Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya," itu BUKAN suatu pernyataan yang 

menunjukkan Ibrahim skeptis. Lebih-lebih didahului dengan kata bala, yang 

tidak ikut diterjemahkan. Bala itukan artinya BAHKAN, itu tegas menyatakan 

TIDAK skeptis.

##################################################################################

 Allah berfirman: "[Kalau

demikian] ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah [kata "fashurhunna" 

ada yang menafsirkan "jinakkanlah" ada yang menafsirkan "potonglah"] 

semuanya

olehmu. [Allah berfirman]: "Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit

satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya

mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Maha

Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS 2: 260)



Wassalam

Abdul Mu'iz



--- Pada Sab, 24/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrah...@yahoo.co.id> 

menulis:



Dari: H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrah...@yahoo.co.id>

Judul: Re: [wanita-muslimah] Allah itu Personal?

Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com

Tanggal: Sabtu, 24 Juli, 2010, 6:16 AM



----- Original Message ----- 



From: "papabonbon" <masar...@gmail.com>



To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>



Sent: Friday, July 23, 2010 14:32



Subject: Re: [wanita-muslimah] Allah itu Personal?



ngeri juga yah.  secara kuliah s2 dan s3 wajib ikutan mata kuliah filsafat



ilmu.  doktor juga kalau di luar negeri gelarnya Ph.D  doktor filsafat.



jadi pada tersesat tuh.  ngeri bener.  (memperingatkan dengan sopan supaya



berhati hati bagi yang sekolah s2 dan s3 ataupun yang ingin sekolah lagi).



metode ilmiah juga ketika s1 bahkan dalam pelajaran biologi dan fisika di



smp mengajarkan supaya skeptis.



####################################################################################



HMNA:



Dalam hal apa orang mesti skeptis? Silakan Simak Seri 004 di bawah:



********************************************************



BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM



WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU



[Kolom Tetap Harian Fajar]



004. Kursi Iman dan Kursi Ilmu. Dibedakan Tetapi Tidak Dipisahkan



Di dalam diri kita harus disediakan dua kursi, yaitu kursi iman dan kursi 

ilmu. Kedua kursi itu harus dapat dibedakan, tetapi tidak boleh dipisahkan, 

karena keduanya merupakan satu sistem. Kedua kursi itu harus dibedakan, oleh 

karena apabila kita menempatkan sesuatu hal tidak pada kursinya, misalnya 

suatu hal yang harus didudukkan pada kursi ilmu, tetapi kita dudukkan pada 

kursi iman, pikiran kita akan beku, tidak berkembang, karena sesuatu yang 

patut kita pertanyakan, kita tidak berani mempertanyakannya. Sebaliknya, 

jika sesuatu hal yang seharusnya didudukkan pada kurasi iman, tetapi kita 

dudukkan pada kursi ilmu, maka iman kita akan cacat, karena kita akan 

mempertanyakan sesuatu, yang sepatutnya kita tidak boleh mempertanyakannya.



Uraian di atas itu berpangkal pada perbedaan sikap dalam beriman dan 

berilmu. Sikap kita harus skeptik, jika kita menghadapi obyek ilmu. Apakah 

yang menjadi obyek llmu itu? Yang menjadi obyek ilmu adalah produk akal 

manusia. Yaitu fakta dan hasil penafsiran manusia terhadap fakta itu, yang 

lazim disebut dengan teori ataupun hipotesa. Dan apakah fakta itu? Fakta 

adalah hasil observasi dari sumber informasi yang dapat ditangkap oleh 

pancaindera secara langsung, maupun secara tidak langsung. Maksudnya 

dideteksi terlebih dahulu oleh instrumen dalam laboratorium. Skeptik berarti 

ragu, tidak menolak, tetapi belum menerima, dan sebaliknya tidak menerima, 

tetapi belum menolak. Sikap ragu itu akan berakhir dengan menerima, atau 

menolak, tergantung hasil jawaban pertanyaan-pertanyaan berikut: Betulkah 

begitu? Apa fakta-fakta yang menguatkan pembuktian itu?



Sebalikanya, kita tidak boleh bersikap skeptik terhadap obyek iman. Terhadap 

apa yang harus diimani, akal kita tidak boleh bertanya seperti rentetan 

pertanyaan dalam berilmu di atas itu. Dan apakah obyek iman itu? Obyek iman 

itu berasal dari sumber informasi berupa wahyu dari Allah SWT yang 

diturunkan kepada para nabi dan rasul. Informasi wahyu ini tentu saja yang 

otentik berasal dari nabi dan rasul yang menerima wahyu itu. Apakah kriteria 

sumber informasi wahyu yang otentik itu? Tidak boleh ada 

penafsiran/interpretasi manusia yang disisipkan ke dalamnya. Tidak boleh ada 

perubahan kalimat ataupun kata, baik berupa penambahan, atau pengurangan. 

Harus dalam bahasa asli bangsa dari rasul yang diutus itu. Satu-satunya 

sumber informasi wahyu yang dapat memenuhi kriteria itu adalah Al Quran. 

Semua wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW ada dalam Al Quran yang 

dituliskan oleh para juru tulis Rasulullah. Itulah sebabnya Al Quran (yang 

dibaca) disebut pula Al

 Kitab (yang dituliskan). Dan tak ada satupun yang bukan wahyu yang ikut 

dimasukkan dalam Al Quran. Dan Al Quran itu adalah dalam bahasa Arab yang 

dipergunakan oleh suku bangsa Quraisy, yaitu suku bangsa di mana Nabi 

Muhammad SAW tergolong dalam suku itu.



-- Inna anzalnahu Quranan Arabiyyan la'allakum ta'qilun.



-- Sesungguhnya Kami turunkan Al Quran dalam bahasa Arab, mudah-mudahan kamu 

pergunakan akalmu (S.Yusuf 1).



Keadaan Al Quran yang dapat bertahan keotentikannya terhadap zaman, adalah 

konsekwensi logik bahwa Nabi Muhammad Rasulullah SAW adalah nabi dan rasul 

yang terakhir, Khatamun Nabiyyien, penutup para nabi.



Telah disebutkan di atas iman dan ilmu harus dibedakan, tetapi tidak boleh 

dipisahkan. Karena memisahkan iman dengan ilmu akan mengakibatkan pecahnya 

kepribadian seseorang. Di satu saat ia akan bicara sebagai seorang ilmuwan, 

di satu saat yang lain akan bicara sebagai seorang yang beriman. Misalnya di 

satu saat sebagai seorang pakar kebudayaan, akan memasukkan agama ke dalam 

kebudayaan, artinya agama itu adalah bagian dari kebudayaan, dan di suatu 

saat yang lain ia bicara sebagai orang beriman lalu mengatakan bahwa agama 

itu bukan bagian dari kebudayaan, karena agama itu sumbernya dari  wahyu 

Allah SWT.  Apabila ia menjumpai adanya pertentangan antara apa yang mesti 

dia imani dengan yang mesti dia ilmui, dia akan bingung. Salah satu 

alternatif ini yang akan terjadi, ia akan berhenti menjadi pakar dan akan 

frusturasi, lalu ia akan beragama secara dogmatik, akalnya beku, yang akan 

menjerumuskannya ke dalam taklid buta. Atau sebaliknya ia akan memilih

 ilmunya dan mencapakkan imannya, dan menjadi acuh tak acuh terhadap 

agamnya, menjadi orang agnostik.



Apabila iman dan ilmu tidak kita pisahkan, kepribadian kita akan menjadi 

utuh, sehingga kita tidak akan terjerumus ke dalam sikap beragama yang 

bertaklid buta, dan juga tidak terjerumus ke dalam sikap yang agnostik. 

Kalau suatu saat kita melihat adanya pertentangan di antara keduanya, kita 

tambah ilmu untuk mendapatkan informasi yang relevan untuk iman kita. Atau 

kita tinjau kembali ilmu kita, melakukan reinterpretasi, penafsiran kembali, 

karena kebenaran ilmiyah itu sifatnya sementara, artinya relatif dalam arti 

menurut tempat, situasi, waktu dan peralatan ilmu bantu. Untuk contoh di 

atas, kalau kita sedikit jeli, mengapa terjadi pertentangan, karena ada 

agama yang berasal dari akar yang historik, maka itu adalah agama 

kebudayaan, ia termasuk dalam bagian kebudayaan. Ada agama yang berasal dari 

akar yang non-historik, yaitu wahyu, maka itu adalah agama wahyu, ia bukan 

bagian dari kebudayaan. Dan ada agama yang sebagian mempunyai akar historis 

dan

 sebagian bersumber dari wahyu. Agama jenis ketiga ini, sebagiannya menjadi 

bagian dari kebudayaan, dan sebagiannya bukan bagian dari kebudayaan.



Di dalam berilmu ada sebuah pendekatan yang dirasa perlu dikemukakan di 

sini, yaitu pendekatan sistem. Melihat obyek ilmu secara kaffah (totalitas), 

yang mempunyai fungsi dan tujuan, yang terdiri atas komponen-komponen yang 

mempunyai kaitan tertentu antara satu dengan yang lain, dan yang kaffah itu 

melebihi dari sekadar kumpulan komponen-komponen itu semuanya. Pendekatan 

ini dapat diterapkan dalam obyek iman, oleh karena pendekatan ini tidak akan 

merusak iman kita, bahkan Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk memegang 

prinsip kaffah ini, seperti firmanNya dalam S. Al Baqarah, ayat 208:



-- Ya ayyuhalladziena amanu udkhulu fie ssilmi kaffah, artinya:



-- Hai orang-orang beriman, masukilah keselamatan secara kaffah/totalitas.



Maka dengan metode pendekatan sistem ini, dapatlah kita menjadikan iman dan 

ilmu menjadi satu sistem, dan terlepaslah  klita insya Allah, yang pakar dan 

bukan pakar, dari bahaya pecahnya kepribadian, terhindarlah kita dari 

alternatif atau beragama yang dogmatik, atau bersikap agnostik, acuh tak 

acuh mencuekkan agama.



WaLlahu a'lamu bishshawab.



*** Makassar, 10 November 1991



[H.Muh.Nur Abdurrahman]



http://waii-hmna.blogspot.com/2007/06/004-kursi-iman-dan-kursi-ilmu-dibedakan.html



##################################################################################



2010/7/22 Yudi Yuliyadi <y...@geoindo.com>



>



>



> Bingung pa maksudnya



>



> Yang jelas ilmu filsafat banyak menyesatkan manusia, seperti kata imam



> al-ghazaly( sesungguhnya ada 2 ilmu yang kita dapatkan dari barat, yang



> satu



> sesat dan yang satu baik, yang sesat itu ilmu filsafat, kita tidak bisa



> memkirkan tentang zat ALLAH dengan akal kita) kita bisa merenungi tentang



> adanya ALLAH melalui ciptaanya yang ada di langit dan dibumi



>



> _____



>



> From: wanita-muslimah@yahoogroups.com <wanita-muslimah%40yahoogroups.com>



> [mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com<wanita-muslimah%40yahoogroups.com>]



> On Behalf Of H. M. Nur Abdurahman



> Sent: Wednesday, July 21, 2010 7:25 PM



>



> To: wanita-muslimah@yahoogroups.com <wanita-muslimah%40yahoogroups.com>



> Subject: [wanita-muslimah] Allah itu Personal?



>



>



> Allah itu Personal?



> Haqiqat Allah (Al-Haqq) tidak mungkin dapat dicapai oleh manusia dengan



> kekuatan akalnya. Haqiqat Al-Haqq tidak mungkin diperoleh dengan upaya 

> akal



> yang berpikir dengan mekanisme otak yang berwujud filsafat. Juga Haqiqat



> Al-Haqq tidak dapat dicapai manusia dengan upaya akal yang merenung 

> memakai



> mekanisme qalbu dalam wujud tasawuf. Haqiqat Al Haqq tidak dapat dicapai



> melalui filsafat ataupun tasawuf:



> -- Al Haqqu min rabbikum (Suarh Al-Kahf, 18:29), artinya: Al Haqq itu dari



> Rabb kamu.



>



> Haqiqat Al Haqq tidak mungkin diketahui manusia dengan kekuatan akalnya.



>



> Sekali lagi ditekankan: Haqiqat Al Haqq tidak dapat dicapai melalui



> filsafat



> ataupun tasawuf. Oleh sebab itu Haqiqat Al-Haqq itu, karena tidak dapat



> dicapai melalui filsafat ataupun tasawuf, maka Haqiqat Al-Haqq itu



> didatangkan kepada manusia melalui wahyu kepada Nabi Muhammad SAW, dalam



> redaksional yang sekadar dapat dicerna oleh pikiran dan direnungkan qalbu



> manusia melalui ayat Al-Quran seperti di bawah:



>



> Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, Yang tetap hidup, Yang kekal



> selama-lamanya mentadbirkan/mengurus (sekalian makhlukNya). Yang tidak



> mengantuk usahkan tidur. Yang memiliki segala yang ada di langit dan yang



> ada di bumi. Tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat / pertolongan di



> sisiNya melainkan dengan izinNya. Yang mengetahui apa yang ada di hadapan



> mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui



> sesuatu pun dari (kandungan) ilmu Allah melainkan apa Yang Allah kehendaki



> (memberitahu kepadanya). Luasnya Kursi Allah (ilmuNya dan kekuasaanNya)



> meliputi langit dan bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah



> menjaga serta memelihara keduanya. dan Dia-lah Yang Maha Tinggi (darjat



> kemuliaanNya), lagi Maha Besar (kekuasaanNya). [Surah Al-Baqarah, 2:255]



>



> Allah Yang menerangi langit dan bumi. bandingan Nur / Cahaya itu adalah



> sebagai sebuah "misykaat" / relung yang berisi sebuah lampu; lampu itu



> dalam



> geluk kaca (qandil), geluk kaca itu pula (jernih terang) laksana bintang



> yang bersinar cemerlang; lampu itu dinyalakan dengan minyak dari pokok 

> yang



> banyak manfaatnya, (Iaitu) pokok zaitun yang yang tumbuh tidak di sebelah



> timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya(*); hampir-hampir



> minyaknya itu - dengan sendirinya - memancarkan cahaya bersinar (kerana



> jernihnya) walaupun ia tidak disentuh api; (Sinaran Nur hidayah Yang



> demikian bandingannya adalah Sinaran Yang berganda-ganda): Nur berlapis



> Nur.



> Allah memimpin sesiapa yang mau dipimpin (menurut undang-undang dan



> peraturanNya) kepada Nur hidayahNya itu; dan Allah mengemukakan



> berbagai-bagai misal perbandingan untuk umat manusia; dan Allah Maha Tahu



> akan tiap-tiap sesuatu. [Surah An-Nur, 24:35]



> -----------------------------------------------



> (*)



> Maksudnya: pohon zaitun itu tumbuh di puncak bukit ia dapat sinar matahari



> bukan sahaja disinari matahari semasa naiknya dan bukan sahaja semasa



> turunnya, tetapi ia sentiasa terdedah kepada matahari, sehingga pohonnya



> subur dan buahnya menghasilkan minyak yang baik



>



> Salam



> HMNA



[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------



=======================

Milis Wanita Muslimah

Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.

Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah

Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com

ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages

Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com

Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com

Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejaht...@yahoogroups.com

Milis Anak Muda Islam mailto:majelism...@yahoogroups.com



Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links





    
     

    
    


 



  







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke