IMHO (pasti sopan kan, humble kok gak sopan), 

Pynocline itu salah satu fenomena natural yang tercantum di Al-Quran.
Sangat mudah dijelaskan oleh hukum-hukum alam. Ada banyak fenomena lainnya juga 
yg tercantum di Al-Quran juga.

Dalam menghadapinya:
- Ada yang berbahagia karena akhirnya "bersaksi" dengan sebenar-benarnya 
persaksian,
seperti (mungkin) Jacq. Costeau yang bersungguh-sungguh (berjihad),
bekerja keras dengan ikhlas dan jujur, dan akhirnya menemukan pencerahan.
- Ada yang hanya jadi tukang obat, "kecap nomor satu", dengan modal testimoni 
dari orang-orang beruntung di atas.
Padahal tidak ada keuntungannya sedikitpun bagi dirinya kecuali pernah 
betul-betul bersaksi dengan sebenar-benarnya persaksian.

Luqman ra. berwasiat kepada anaknya bukan hal yang aneh-aneh, cukup "La Tusyrik 
Billah".
Sepertinya hal yang sederhana, yang lalu biasanya kita tafsirkan berorientasi 
pada hal-hal ritual dan fiqh. 
Kembali dengan sopan saya katakan, 
Luqman berbicara ttg mental-state yang lepas dari tujuan-tujuan keduniaan, 
kecuali Al-Haq. 
- Jika anda seorang polisi, semua yang anda lakukan bertujuan untuk menegakkan 
keadilan, yang Haq, biarpun ada ulama yang bilang usir Ahmadiyah, batasi Syiah, 
bantai Kristen dll.
- Jika anda seorang ilmuwan, semua kesimpulan didasarkan pada fakta-fakta yang 
Haq, walaupun ada ulama yang mengharamkan evolusi, sok tau tentang katalis dll.
- Jika anda seorang ekonom, semua pendapat didasarkan pada bagaimana Allah 
membangun hukum ekonomi alam ini, bukan pada pendapat sektarian dari seorang 
ulama, uang, jabatan dll.



  ----- Original Message ----- 
  From: Abdul Muiz 
  To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
  Sent: Saturday, July 24, 2010 7:58 AM
  Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: Allah itu Personal?


    
  kalau  di muara sungai, bukan dua laut yang mengalir. Satu 
  sungai, satu laut. Bergeser ke arah laut, perbedaan salinitas membentuk 
  pynocline. Tetapi sekali lagi, juga bukan dua laut mengalir, karena 
  batasnya adalah batas level, bukan teritorial.

  Kalau merujuk qur'an, "Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir 
(berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan 
Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi" (Al Furqan : 53)

  Yang disampaikan Al qur'an tsb memang telah dibuktikan oleh berbagai 
penelitian ilmuwan antara lain :

  1) Adanya di pertemuan Laut Merah dan Samudera Hindia (Teluk Aden) <--- 
berdasarkan penelitian scientist Jerman

  2) Juga di pertemuan Laut Tengah dan Samudera Atlantik (Selat Gibraltar) <--- 
berdasarkan penelitian Cousteau

  Just info, di Singaraja - Bali, tepatnya di desa Sahih (sekitar 17 km) 
merupakan tempat wisata kolam renang. Air dari kolam pemandian ini sangat 
jernih dan menyegarkan. Air memancar
  tiada henti dari bawah pasir dan mengalir lagi ke laut. Meskipun 
  lokasinya tepat di pinggir pantai, uniknya air di kolam pemandian ini 
  adalah air tawar, bukan asin.

  Wassalam
  Abdul Mu'iz

  --- Pada Sab, 24/7/10, H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrah...@yahoo.co.id> 
menulis:

  Dari: H. M. Nur Abdurahman <mnur.abdurrah...@yahoo.co.id>
  Judul: Re: [wanita-muslimah] Re: Allah itu Personal?
  Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
  Tanggal: Sabtu, 24 Juli, 2010, 7:03 AM

   

  ----- Original Message ----- 

  From: "Waluya" <wal...@plasa.com>

  To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>

  Sent: Friday, July 23, 2010 17:07

  Subject: [wanita-muslimah] Re: Allah itu Personal?

  > "Yudi Yuliyadi" <y...@...> wrote:

  > Sudah dijelaskan oleh harun yahya dengan ilmu pengetahuan, mengapa 

  > setiap laut memiliki kadar garam yang berbeda dan mengapa air tawar 

  > tidak bis menyatu dengan air asin tetapi terpisah

  Ikut nimbrung, tapi cuma merasa terganggu sekali dengan kalimat "air tawar 
dengan air asin tidak menyatu". 

  
######################################################################################

  HMNA:

  Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara televisi `Discovery' pasti 
kenal Mr.Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli kelautan (oceanografer) dan ahli 
selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang 
hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film 
dokumenter tentang keindahan alam bawah laut untuk ditonton jutaan pemirsa di 
seluruh dunia.

  Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba 
ia menemukan beberapa kumpulan air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena 
tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, 
seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

  Fenomena ganjil itu membuat penasaran Mr. Costeau dan mendorongnya untuk 
mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah 
lautan. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung 
mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

  Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia 
pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran 
tentang bertemunya dua lautan: 

  -- Wa huwa lladziy maraja lbahrayni ha-dzaa 'adzbun furaatun wa ha-dzaa 
milhun ajaajun wa ja'ala baynahumaa bazakhan wa hiran tahjuwran (S. Al Furqaan, 
25:53), artinya: 

  -- Dialah (Allah) yang mempertemukan dua laut, yang ini tawar lagi segar dan 
yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antar keduanya dinding dan batas 
yang menghalang di antara keduanya. 

  -- Maraja lbahraini yaltaqiya-ni . Baynahumaa barzakhun laa yabghiya-ni (S. 
ArRahma-n, 55:19-20), artinya: 

  -- Dialah (Allah) biarkan dua lautan bertemu . Di antara keduanya ada batas 
yang tidak bisa ditembus. 

  Biasanya para penafsir mengatakan pertemuan air tawar dengan air lau di muara 
sungai, ada juga yang menafsirkannya dengan Terusan Suez. Namun penafsiran ini 
tidak memuaskan, karena tidak dapat menjelaskan apa yang disebutkan dalam ayat 
yang berikutnya: 

  -- Yakhruju minhuma lu'lu`u wa lmarjaan (S.ArRahma-n, 55:22), artinya: 

  -- Keluar dari keduanya mutiara dan marjan. 

  Di muara sungai dan Terusan Suez tidak ditemukan mutiara dan marjan.

  
################################################################################

  Maaf pisan, maksud Mas/Kang/ Pak Yudi teh bagaimana? Air tawar dengan air 
asin kalau dicampur, ya jelas akan jadi air payau (air setengah asin, 
tergantung kadar garamnya). Itu kejadian biasa, tidak perlu mengutip Harun 
Yahya, di dapur juga sering kejadian, kalau sayur keasinan, ya ditambah air 
tawar ..hehehe

  Salam,

  WALUYA

  [Non-text portions of this message have been removed]

  [Non-text portions of this message have been removed]



  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke