Refleksi : Kalau dikencangkan ikat pingang bukan cara terbaik untuk mengatasi 
kesulitan hidup sehari-hari dengan adanya lonjakan harga kebutuhan pokok, maka 
apa solusi terbaik menurut Anda? Terus bermimpi cerita Hadazah ke kaisar 
Nebukadnezar?

http://www.kaltengpos.web.id/?menu=detail_atas&idm=744

Minggu, 25 Juli 2010 12:42:08 WIB


Warga Semakin Menjerit, Lantaran Lonjakan Harga Kebutuhan Pokok

BARANG kebutuhan pokok sehari-hari harus terus tersedia didapur, sebab setiap 
hari harus dikonsumsi. Keberadaannya di dalam rumah tangga tidak bisa 
ditawar-tawar. Namun, belakangan ini masyarakat terus menjerit, terutama bagi 
masyarakat menengah ke bawah. Sebab, harganya yang terus melambung naik. 
Bahkan, sejumlah barang kenaikan ada yang mencapai lebih dari seratus persen 
dibanding bulan lalu. Khususnya barang dan sayuran yang didatangkan dari pulau 
Jawa.

Terkait kenaikan harga barang kebutuhan pokok sehari-hari itu, berbagai alasan 
pun dikemukan oleh pihak-pihak berwenang. Mulai dari lantran banjir dan cuaca 
yang estrim di daerah pulau Jawa yang mengakibatkan banyak petani gagal panen. 
Juga ada yang menyebutkan lantaran gelombang tinggi di laut Jawa sehingga biaya 
angkut menjadi lebih mahal. Kemudian, dikaitkan dengan naiknya tarif dasar 
listrik (TDL). Bahkan, juga disebutkan kenaikan beras lantaran dipicu perluasan 
pasar. Dikalangan masyarakat dan para pedagang sendiri berpendapat, bahwa sudah 
menjadi hukum pasar, bahwa setiap menjelang bulan suci Ramadan, harga kebutuhan 
pokok termasuk telur, ayam potong dan daging pasti mengalami kenaikan harga.

Beberapa waktu lalu, untuk mengetahui langsung penyebab kenaikan harga, Wakil 
Walikota Palangka Raya H Maryono bersama Wakil Gubernur Kalteng Ir H Achmad 
Diran melakukan sidak ke beberapa pasar di Kota Cantik. Hasilnya menurut 
Maryono yang paling mencolok mengalami kenaikan adalah beras.

"Menurut pengakuan pedagang, kenaikan harga beras siam unus dipicu perluasan 
pasar. Jika sebelumnya siam unus hanya diminati oleh masyarakat lokal, kini 
seiring perkembangan jaman beras tersebut sudah diminati oleh masyarakat luar 
hingga pulau Jawa. Sehingga pada waktu-waktu tertentu terjadi kelangkaan yang 
mengakibatkan kenaikan harga," jelas Maryono dihadapan sejumlah wartawan, Rabu 
(7/7) lalu.

Sedangkan untuk sejumlah komoditi lainnya, juga mengalami kenaikan. Menurut 
penuturan pedagang kala itu tambah Maryono, kenaikan adalah dampak dari musim 
dan masalah teknis. Pedagang di Palangka Raya selama ini masih mengharapkan 
pasokan dari luar terutama Pulau Jawa.

Akibat kenaikan harga tersebut, tak sedikit warga yang mengeluh dan mengaku 
resah menyikapi lonjakan harga bahan pangan yang terjadi belakangan ini. Kini 
sebagian warga pun telah mengesampingkan selera dan kebiasaannya dalam memilih 
bahan makanan.

"Belakangan ini saya pusing memilih bahan-bahan pangan yang cukup dengan isi 
dompet. Apalagi kan saya harus membeli dalam jumlah yang tidak sedikit, makanya 
saya lebih memilih untuk membeli lauk pauk, sayuran dan beras dengan harga yang 
tidak terlalu mahal dengan kualitas yang terpaksa sedikit dibawahnya," ujar 
Ampung, seorang pemilik kantin di sebuah SMP Negeri, Rabu (21/7).

Sebelumnya dengan uang Rp 100 ribu ia bisa membeli kebutuhan bahan pangan untuk 
dijual di kantin keesokan harinya. Kini uang belanja sejumlah itu tidak cukup 
lagi.

Demikian pula yang dikeluhkan Arie, seorang ibu rumah tangga yang berdomisili 
di kawasan Jalan Rajawali. "Saya lebih memilih untuk membeli ikan sungai yang 
relatif murah daripada ayam potong yang harganya terus melambung," ujar ibu 
satu anak ini. Arie mengaku mengesampingkan selera keluarganya yang menyenangi 
ayam goreng.

Tak jauh berbeda dengan yang disampaikan Kepala Bidang Ketersediaan dan 
Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan (BKP) Provinsi Kalteng Bahrunnada dalam 
sebuah kesempatan beberapa waktu lalu, ia mengaku sedari dulu lebih memilih 
mengkonsumsi jenis beras medium. Karena seleranya akan nasi pulen, yang tidak 
didapati pada jenis beras premium yang didatangkan dari Provinsi Kalimantan 
Selatan.

Pedagang di Pasar Kahayan Palangka Raya pun mengakui kenaikan harga tersebut 
sudah dari agennya. "Karena saya membeli beras per saknya sudah tinggi, maka 
harga jualnya saya naikan agar tetap untung", terang Hj Fadli, Jumat (23/7).

Kapos juga membincangi Janah (40) seorang pemilik warung makan terkait kenaikan 
beras, agar keuntungan tetap stabil, dia menyiasati pemilihan beras dengan 
mengganti beras kualitas tinggi dengan yang biasa saja, kecuali untuk nasi 
goreng, memang harus memakai beras khusus," tuturnya.

Sejumlah pedagang di Pasar kahayan menuturkan, tidak hanya beras yang harganya 
naik, namun jenis barang lainnya pun juga naik tajam. Seperti gula pasir,  
telur sayur wortel, kentang, kubis, bawang, dan ayam potong,  serta lainnya. 
(eld/bin/nik/rud)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke