Dear Fero,

sejujurnya, aku belum bisa sampai ke titik, dimana anda sampai saat ini. 
Atau lebih tepat model hubungan dengan Tuhan tidak sama polanya. aku 
lebih sering menganggap faktor Tuhan tidak perlu diperhitungkan dalam 
menjalani strategi kehidupan. Maknanya sebagai yang Maha berkehendak, 
silahkan saja menjalankan kehendak-NYA. Ketika kita berharap Tuhan 
melaksanakan kehendak seperti yang kita inginkan, untuk aku, lebih 
sering tidak sesuai, sehingga kupikir Tuhan itu sang Maha Komedian. 
Salah satu pencegah stress dan tidak kena stroke (menurut istriku), kami 
sekeluarga di-anugerahi kemampuan melihat segala peristiwa dari sisi 
'LUCU' ... ketika Istri saya semakin mengenal keluargaku, dia sering 
tertawa dan bilang "kalian semua sangat lucu, dan selalu melihat segala 
situasi dari sisi lucu". Sifat ini ada hampir pada semua saudara kandungku.

Entah pengaruh gen, entah tumbuh dalam keluarga yang melihat segala 
peristiwa dari sisi lucu, aku bisa survive dibawah berbagai tekanan, 
bila menemukan masalah yang 'dead lock' termasuk dalam pekerjaan, aku 
cuma menganggapnya sebuah komedi kehidupan. Sebagai contoh, usaha yang 
dikelola bersama keluarga ini mengalami peristiwa 'menjengkelkan' yang 
menyebabkan harus melepas beberapa aset, secara akunting mungkin namanya 
kerugian, bila dinilai uang digitnya bisa sampai 10 digit. Hati rasanya 
sesak memutuskan hal tersebut, hasil kerja lebih sepuluh tahun harus 
dilepas begitu saja. Tapi akhirnya kami bisa memutuskan sambil tertawa 
(ketika teken akte notaris). Anehnya ketika aset tsb lepas (dari segi 
kepemilikan), bathin malah entheng. Aset tergantikan dengan cara utang 
bank :D

situasinya sama saja entah itu aset entah itu keinginan pribadi, 
persoalannya menyangkut 'hati' dan 'pikiran'. Ketika Fero bisa memilih 
mengenakan jilbab dengan bahagia, sebenarnya dia melepas sesuatu yang 
dalam pikiran sangat berharga. Bahkan pasti lebih berharga dari sekedar 
aset, karena prinsip selalu lebih berharga dibanding aset duniawi.

perbedaan yang kualami, aku selalu tidak mau menghubungkan ini dengan 
'kehendak Tuhan" minimal aku merasa ini terlalu kecil untuk melibatkan 
kuasa Tuhan. Karena tokh kalo dirunut semuanya kehendak Tuhan, lha kalo 
sudah jelas begitu buat apa lagi dipikirkan, lebih baik menjalani saja. 
Arti ikhlas juga kadang rumit, karena bila ingat sebuah situasi 
menyakitkan masih muncul juga rasa masghul dan kesal, meski dengan cepat 
bisa mengusir kekesalan tsb.

persamaannya, barangkali aku sudah tidak lagi memaksakan jalan hidup, 
maknanya dalam hidup kita jalani saja, melakukan usaha semaksimal yang 
bisa diusahakan, kalo ikut tender ya penuhi semua syaratnya, kalah ... 
tokh banyak temannya, malah pemenang cuma satu. Di ruang pembukaan 
tender, aku sering bilang "kasihan dia, menang tender ... tidak ada 
kawannya"

wassalam
./sts

eMail : x1...@gmx.com

http://opotumon.blogspot.com/
Regenerated by Virus Immune system GNU/Linux

On 07/25/2010 05:37 PM, F e r o n a wrote:
>
>
> On 7/25/2010 2:14 PM, Abdul Muiz wrote:
>  >
>  > Saya pikir pada titik-titik tertentu Nabi Muhammadpun juga mengalami
>  > yang namanya gelisah dan pertanyaan ala curhat itu juga lumrah dialami
>  > yang namanya manusia. Saya setuju mbak Mia kalau semua para Nabi
>  > termasuk Nabi Muhammad adalah Risk Taker yang hebat. Saya tentu tidak
>  > berani Ge eR sebagai Risk Taker, tetapi terima kasih atas analisis
> mbak Mia.
>
> Tidak ada tempat curhat terbaik selain kepada Allah. Seringkali kalo
> hati rasanya sudah mau runtuh, sy nangis sendirian dan mengeluh bahwa sy
> tidak kuat diberi cobaan seperti ini. Namun bila memang sy harus
> menjalani cobaan ini, sy mohon Allah menguatkan hati sy dan menunjukkan
> jalan. Hanya Allah yg bisa menghapus airmata sy, tidak ada yang lain.
> Dan sy bisa merasakan bahwa bila ketika hati memang sudah berserah diri
> dan pasrah, pertolongan Allah datang segera. Seketika. Tidak sampai lima
> menit. Betapa mudah Allah membalikkan hati yang tadinya sudah terpuruk
> putus asa, kembali kuat dan lapang seakan-akan hidup ini tiada prahara
> yang melanda.
>
> Dari pengalaman itu sy bisa mengatakan bahwa bagi Allah tidak ada yg
> namanya durhaka kepadaNya. Sy kurang apa durhaka kepada Allah kalau
> durhaka dilihat dari sikap bertanya dan mengkritisi isi Qur'an? Tapi
> Allah tidak seperti ibu Malin Kundang yang mengutuk anak kandungnya
> sendiri karena durhaka padanya. Allah lebih besar dan lebih kuat
> daripada ibu Malin Kundang, dan tidak perlu tindakan emosional seperti
> menganggap hambaNya durhaka lantaran mempertanyakan eksistensinya.
>
> Sy sungguh terkadang merasa kita keserimpet menganggap Allah itu seperti
> kita juga. Yang marah kalo dihina, yang membalas kalo ditonjok, yang
> murka kalau disepelekan. Allah Maha Besar, tak sanggup sy memikirkan
> Allah yg ngambeg-an seperti halnya manusia ...
>
> --
> Salam Manis,
> F e r o n a
> http://www.cakefever.com

Kirim email ke