Pandangan Hukum Agama Terhadap Para Ayah Yang Enggan Menikahkan
Putri-Putrinya


Rabu, 7 April 2004 07:08:47 WIB

PANDANGAN HUKUM AGAMA TERHADAP PARA AYAH YANG ENGGAN MENIKAHKAN
PUTRI-PUTRINYA KARENA MEREKA INGIN TETAP MEMPEROLEH GAJI PUTRI-PUTRINYA.


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin






Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Bagaimana pandangan hukum
agama menurut Syaikh terhadap para ayah (orang tua) yang enggan menikahkan
putri-putrinya karena masih ingin mendapat bagian dari gaji putri-putri
mereka ?

Jawaban.
Keenganan bapak (orang tua) atau lainnya menikahkan putri-putrinya karena
(agar) tetap mendapat bagian dari gaji putrinya adalah haram hukumnya. Jika
yang enggan menikahkan itu selain bapak (ayah) maka tidak ada hak baginya
mengambil harta perempuan asuhannya sedikitpun, dan jika dia adalah ayah
dari perempuan itu maka boleh mengambil (memiliki) harta milik putrinya
selagi tidak membahayakan sang putri dan tidak dibutuhkannya. Sekalipun
begitu, ayah tidak boleh enggan (menghalang-halangi) menikahkannya karena
hal tersebut, sebab yang demikian itu merupakan pengkhianatan terhadap
amanat. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman.

"Artinya : Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan
Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan keapadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa
hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi
Allah-lah pahala yang besar" [Al-Anfal : 27-28]

Mari perhatikan dan hayati dua ayat di atas. Setelah Allah Subhanahu wa
Ta'ala melarang mengkhianati Allah dan RasulNya dan melarang mengkhianati
amanah, Dia befirman, "Bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai
cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar" [Al-Anfal :
27-28], sebagai suatu isyarat bahwa berkhianat itu tidak boleh, apakah
karena ingin mendapat keuntungan harta atau karena sayang kepada anak.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Apabila seseorang yang kamu ridhai agama dan akhlaknya datang
kepadamu untuk melamar, maka kawinkanlah ia (dengan putrimu), jika tidak
(kamu kawinkan), niscaya terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi
ini" [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan Ibnu Majah, namun predikatnya mursal.
Hadits ini mempunyai syahid lain di dalam riwayat At-Turmudzi dari riwayat
Abu Hatim Al-Muzani]

Jika ditakdirkan bahwa ayah atau wali yang lain enggan dan tidak mau
menikahkan putrinya dengan lelaki yang layak baginya, maka dalam kondisi
seperti ini urusan kewaliannya berpindah kepada wali-wali yang lain
berdasarkan urutan yang paling atas. Dan jika seperti itu terulang (pada
wali-wali yang lain), maka kewaliannya menjadi gugur, karena walinya telah
menjadi fasiq.

[Bagian dari fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin yang beliau tanda tangani]


[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min
Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal
443-444 Darul Haq]




Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=mo
<javascript:if(confirm('http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_
id=595&bagian=0%20%20\n\nThis%20file%20was%20not%20retrieved%20by%20Teleport
%20Pro,%20because%20it%20is%20addressed%20on%20a%20domain%20or%20path%20outs
ide%20the%20boundaries%20set%20for%20its%20Starting%20Address.%20%20\n\nDo%2
0you%20want%20to%20open%20it%20from%20the%20server?'))window.location='http:
//almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=595&bagian=0'>
re&article_id=595&bagian=0



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke