Dear Ning

menabung dalam bentuk emas, bukan hanya sekarang, Nenek saya yang tidak 
paham bank menyimpan 'kekayaan' dalam bentuk emas. Tapi emas tidak 
steril dari 'inflasi' atau penurunan nilai. Misal gini tuju gram emas 
pada Juni 2010, bisa ditukar dengan 1 henpon merk Nokia Type S6600 
misalnya, pada desember 2010 belum tentu penjual Nokia S6600 mau 
menerima 7 gram emas (karena emas dia sudah banyak misalnya), bisa jadi 
dia minta 7.8 gram emas :D

semakin kompleks bila sudah menyangkut jasa, pertukaran barang dan jasa 
bisa dijembatani dengan uang (dari emas maupun kertas). Jadi tidak ada 
bedanya dalam hal inflasi. Juli 2010 biaya cukur di salon Ridy 
Hadisuwarno 3 gram emas, belum tentu bulan januari 2011 Rudy Hadisuwarno 
mau menerima 3 gram emas untuk jasa cukurnya. Makanya dengan gondrong 
saya ngirit biaya cukur, hemat adalah satu satu sikap islami , artinya 
gondrong adalah Islami :D

pada jaman modern ini nilai barang ditentukan oleh faktor kompleks, kalo 
emas tertimbun di masyarakat dalam jumlah banyak, tetap saja akan turun 
nilainya. Nilai platina beberapa tahun terakhir naik karena banyak yang 
pasang kawat gigi. Nilai kupiah naik saat menjelang ramdhlan dan lebaran.

Nilai barang salah satunya ditentukan oleh demand and supply, bukan oleh 
barang itu sendiri

wassalam
./sts

eMail : x1...@gmx.com

http://opotumon.blogspot.com/
Regenerated by Virus Immune system GNU/Linux

On 07/27/2010 02:49 PM, Lestyaningsih, Tri Budi (Ning) wrote:
>
>
> Kalau pake uang yang dipatok ke emas, atau pake emasnya lansgung
> (seperti dinar ini), insya Allah hyper inflasi yang disebut mas di bawah
> kan ngga terjadi. Justru ini melindungi nilai "uang" yang dimiliki
> masyarakat. Pake uang kertas seperti sekarang ini, menabung tidak
> menjadikan orang semakin kaya.. malahan semakin miskin. Jadi masyarakat
> cenderung konsumtif, lha nyimpen duit kertas itu kan nilai dan daya
> belinya turun terus.. mending dibelikan barang 'gitu.. ntar kalau pas
> butuh, baru dijual lagi.
>
> Pake dinar dirham ini memang yang paling adil. Harga barang dalam dinar
> relatively stabil.
>
> Sekarang ramai orang menabung untuk naik haji atau untuk sekolah anak
> dalam dinar. Lebih terlindung nilainya. Jadi bukan 'sekedar' ingin
> merasa islami.
>
> Wallahua'lam.
>
> Wassalaam,
>
> -Ning
>
> From: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> <mailto:wanita-muslimah%40yahoogroups.com>
> [mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
> <mailto:wanita-muslimah%40yahoogroups.com>] On Behalf Of X1123
> Sent: Tuesday, July 27, 2010 3:33 PM
> To: wanita-muslimah@yahoogroups.com
> <mailto:wanita-muslimah%40yahoogroups.com>
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Re: DINAR DAN DIRHAM
>
> sebenarnya sejak jaman baheula uang emas sudah ada, tapi kemudian turun
> popularitasnya karena bila membawa dalam jumlah besar agak repot. Semua
> uang kertas yang diterbitkan menurut aturan harus dijamin dengan emas.
> Tapi karena satu dan lain hal banyak negara tidak taat, akibatnya muncul
>
> inflasi sampai hyper-inflasi.
>
> tahun 1945 indonesia menerbitkan uang emas, hanya saja tidak dipakai
> sehari-hari dan beberapa tahun lalu ada versi uang emas untuk Rupiah.
>
> secara umum lebih mudah menentukan nilai dengan emas, hanya saja sistem
> ini bukan bebas sama sekali dari masalah. banyak para spekulan emas bisa
>
> bermain-main hal ini sehingga nilai uang pun tetap bisa gonjang ganjing.
>
> Misal mendadak sontak harga emas turun, maka nilai yang ditulis dalam
> mata uang tsb bisa tidak setara lagi, kalo seorang penjual menolak
> kejadiannya berabe, banyak penjual dan pembeli berantem karena perbedaan
>
> nilai nominal dan nilai barang tsb (apa ya namanya).
>
> tapi kalo merasa lebih "Islami" karena menggunakan uang tsb jelas salah
> kaprah ...
>
> :D
>
> wassalam
> ./sts
>
> eMail : x1...@gmx.com <mailto:x1123%40gmx.com> <mailto:x1123%40gmx.com>
>
> http://opotumon.blogspot.com/
> Regenerated by Virus Immune system GNU/Linux
>

Kirim email ke