lha balik lagi ke jaman dulu ya :)
btw, jaman sekarang konsep uang sudah ga sama lagi dengan uang jaman dulu
lha sekarang uang itu sebagai penghargaan terhadap prestasi atau
kemanfaatan yang ditimbulkan
banyak hal yang tidak riil yang bisa dihargai dengan uang, kalau dulu
barangnya kan riil semua
seperti musik, motivasi, kepemimpinan, jasa, informasi ...
maka uang itu ya malahan ga berupa sesuatu yang riil juga, namanya
e-duit, cuman berupa informasi mengalir dari satu bank ke bank yang
lain
bentuknya sendiri ga ada
kalau mengukur produktivitas dari seluruh penduduk dunia dengan emas
yang jumlahnya terbatas
bisa abis emas di dunia tapi ga sanggup buat menghargai produktivitas
dari seluruh penduduk dunia yang jumlahnya makin banyak
jaman nabi, jaman khalifah dulu paling penduduk dunia cuman seberapa
sekarang, dalam waktu 100 tahun penduduk dunia udah berlipat hampir 2
kali jadi 6 milyar
kebayang berapa besar emas yang dikeduk dan kerusakan lingkungan yang
terjadi akibat penambangan emas secara brutal hanya untuk memenuhi
keinginan para hamba dinar dan dirham?
lha wong satu freeport aja bisa ngabisin satu gunung besar, apalagi
tar ada freeport2 lain dari kekhalifahan yang mengeduk2 emas buat
dibagikan ke seluruh penjuru kawasannya
makin ancur aja alam semesta

Benar kata Rasul

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, "Rasulullah bersabda, "Merugilah
hamba dinar, hamba dirham dan hamba khamisah (pakaian sutera), jika
diberi ia senang, jika tidak diberi ia marah. Celaka dan merugilah ia!
Apabila tertusuk duri tidak akan tercabut duri itu darinya," (HR
Bukhari (2887).

Lha wong yang dikejar dinar ... dinar ... melulu. Rasul kan ga
melaknat hamba Dollar dan Rupiah. Jadi selama di Indonesia gunakanlah
Rupiah dengan baik dan benar

salam,
--
Wikan

2010/7/27 <al...@yahoo.com>
>
>
>
> Pak yudi, dulu pertanyaan ku apa syekh saudi sudah mengeluarkan fatwa tentang 
> perempuan boleh pemilu apa nggak, dijawab dulu dong - jangan terusin posting 
> dinar dll. sebelum njawab.
> Salam
> Mia

Kirim email ke