mnur.abdurra... .............Bismilahirrahmanirrahiim

Bandingkan DEFINISI Hadits antara golongan Islam Berpaham Konservative-Taliban 
dan golongna islam Liberal-Progresive,aga para pembaca dpt 2 ilmu yang 
berbeda,waluapun tidak semua berbeda;

GOL.ISLAM BERPAHAM LIBERAL;

1. Hadits adalah segala sesuatu yang di ucapkan dan dikerjakan oleh Rasulullah 
saw.semua dicatat oleh para perawi2.

2. hadits2 yang sahih adalah hadist2 yang HANYA menjelaskan beberapa
ayat2 atau wahyu2 ALLAH yg terdapat dlm kitab2 ALLAH Al Quran dan kitab2 
sebelumnya. Kitab2 nabi sebelumnya.

3. hadits2 yang bukan menjelaskan wahyu2 ALLAH adalah hadist2 budaya setempat, 
budaya Arab,yang mana orang2 arab wajib mentatainya.
Sedangkan bangsa2 lain tidak wajib mentaatinya. Misalnya; 
--wanita haram menyopir--wanita haram bersalaman dgn laki2---laki2 wajib 
berjenggot dan berjabang---wanita haram keluar rumah tampa mahram....hadist2 
budaya arab ini jumlahnya puluhan ribu.

4. Hadits2 palsu; Definisi hadits2 palsu adalah;
----a) bertentangan dgn wahyu2 ALLAH
----b) mempunyai makna lebih dari satu makna..
----c) berdampak negatif kepada masarakat kalau di laksanakan.

Misalnya apa:

1.Rasulullah saw melihat bahwa di syurga itu
kebanyakan orang orang miskin, sedangkan dalam neraka
kebanyakan wanita2. HR Muslim-Bukhary.

Hadits ini berdapak negatif kepada umat kalau di lakukan.Umat tidak mau menjadi 
orang kaya harta dan uang...maunya hidup miskin atau sederhana.

Hadits itu juga bertentangan dgn ayat ALLAH dan hadits lainnya seperti hadits 
ini;

ALLAH lebih senang muslim yang kuat (iman dan ekonominya) dari pada muslim yang 
lemah.HR Muslim.

Carilah oleh mu Rezeki dengan menggali yang tersembunyi di dalam bumi.HR 
Thabrani.

Firman ALLAH;

A god man shall leave an inheritance to his children's children."

dan,Muslim wajib membuka industri2.

"Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai 
manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah 
mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah 
tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa". QS 57:25

Jadi hadits diatas itu adalah PALSU.TERBUKTI PALSU.

2.1."Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran,hendaklah is mengubah 
dengan TANGAN MU:jika tidak mempu, hendaklah dengan lisannya; jika tidak mampu 
hendaklah dengan hatinya.Akan tetapi,yang demikian adalah selemah lemahnya 
iman.HR.Muslim"

( mengubah dengan tangan diartikannya dengan membuat undang2, melarang, 
mengusir lawannya dan bahkan membakar rumah2 dan kantor2 lawan2nya inilah yang 
terjadi sekarang ini di negara2 berpenduduk islam.)

Hadits diatas itu berdampak kekerasan dan negatif, Serta berlawanan dgn ayat2 
ALLAH dibawah ini

ALLAH berfirman:

1. Maka berilah PERINGATAN ,(kepada peminum2alkohol, wanita2 penari,penjudi2 
atau kepada penyembah2 berhala, ajaran2 sesat dll) karena sesungguhnya kamu 
hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa( 
diktator, atau orang yang memaksa) atas mereka. Tetapi orang yang 
berpaling,khafir(ingkar,melawan), maka ALLAH akan mengazabnya dengan azab yang 
besar..(QS.88;21-22).

2."Tugas kamu(Muhammad) hanya menyampaikan saja. Kami lah yang menghisab 
perbuatan2 mereka" dan QS.13:40.

3."Jika sekiranya kamu bersikap keras,kasar,jahat budi pekerti, berhati kasar 
(tidak lemah lembut, tidak senyum ), niscaya larilah tamu-tamu itu dari kamu." 
(QS.3:159 ). (Anti kekerasan).

BAGAIMANA RASUL MENEGAKAN AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR?

YAITU DGN LEMAH LEMBUT DAN SANTUN SERTA BAIK2.
JADI BUKAN DGN KEKERASAN YG DILAKUKAN OLEH FPI CS..
FPI CS MERUJUK KPD HADITS PALSU DIATAS ITU,AKIRNYA BERDAMPAK
KEKERASAN DAN PENINDASAN KPD AHMADIYAH.


Demikian penjelasan kami dari islam Liberal
para pembaca dapat menentukan mana definis Hadits yang benar
antara konservative Taliban dan islam Liberal progressive

salam




--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman" 
<mnur.abdurrah...@...> wrote:
>
> Hubungan Hadis dan Al-Quran
> 
> Al-hadits  didefinisikan  oleh  pada  umumnya ulama --seperti definisi
> Al-Sunnah--  sebagai  "Segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Muhammad
> saw.,  baik  ucapan,  perbuatan  dan  taqrir (ketetapan), maupun sifat
> fisik dan psikis, baik sebelum beliau menjadi nabi maupun sesudahnya."
> Ulama ushul fiqh, membatasi pengertian hadis hanya pada "ucapan-ucapan
> Nabi  Muhammad  saw.  yang  berkaitan  dengan  hukum";  sedangkan bila
> mencakup pula perbuatan dan taqrir beliau yang berkaitan dengan hukum,
> maka  ketiga  hal ini mereka namai Al-Sunnah. Pengertian hadis seperti
> yang  dikemukakan  oleh  ulama ushul tersebut, dapat dikatakan sebagai
> bagian  dari  wahyu  Allah  SWT yang tidak berbeda dari segi kewajiban
> menaatinya  dengan ketetapan-ketetapan hukum yang bersumber dari wahyu
> Al-Quran.
> 
> Sementara itu, ulama tafsir mengamati bahwa perintah taat kepada Allah
> dan  Rasul-Nya  yang  ditemukan  dalam Al-Quran dikemukakan dengan dua
> redaksi  berbeda.  Pertama  adalah Athi'u Allah wa al-rasul, dan kedua
> adalah  Athi'u  Allah  wa  athi'u  al-rasul. Perintah pertama mencakup
> kewajiban  taat  kepada  beliau  dalam  hal-hal  yang  sejalan  dengan
> perintah  Allah  SWT;  karena itu, redaksi tersebut mencukupkan sekali
> saja  penggunaan  kata  athi'u. Perintah kedua mencakup kewajiban taat
> kepada  beliau  walaupun  dalam  hal-hal  yang  tidak  disebut  secara
> eksplisit  oleh Allah SWT dalam Al-Quran, bahkan kewajiban taat kepada
> Nabi  tersebut mungkin harus dilakukan terlebih dahulu --dalam kondisi
> tertentu--  walaupun  ketika  sedang  melaksanakan perintah Allah SWT,
> sebagaimana  diisyaratkan oleh kasus Ubay ibn Ka'ab yang ketika sedang
> shalat  dipanggil  oleh Rasul saw. Itu sebabnya dalam redaksi kedua di
> atas,  kata  athi'u diulang dua kali, dan atas dasar ini pula perintah
> taat  kepada  Ulu  Al-'Amr  tidak  dibarengi dengan kata athi'u karena
> ketaatan  terhadap  mereka  tidak  berdiri  sendiri,  tetapi bersyarat
> dengan  sejalannya  perintah  mereka  dengan  ajaran-ajaran  Allah dan
> Rasul-Nya. (Perhatikan Firman Allah dalam QS 4:59). Menerima ketetapan
> Rasul  saw. dengan penuh kesadaran dan kerelaan tanpa sedikit pun rasa
> enggan  dan  pembangkangan,  baik pada saat ditetapkannya hukum maupun
> setelah itu, merupakan syarat keabsahan iman seseorang, demikian Allah
> bersumpah dalam Al-Quran Surah Al-Nisa' ayat 65.
> 
> Tetapi,  di  sisi  lain,  harus  diakui  bahwa terdapat perbedaan yang
> menonjol  antara  hadis  dan  Al-Quran  dari  segi  redaksi  dan  cara
> penyampaian  atau  penerimaannya.  Dari  segi  redaksi, diyakini bahwa
> wahyu  Al-Quran disusun langsung oleh Allah SWT. Malaikat Jibril hanya
> sekadar  menyampaikan  kepada  Nabi  Muhammad  saw.,  dan  beliau  pun
> langsung menyampaikannya kepada umat, dan demikian seterusnya generasi
> demi  generasi.  Redaksi  wahyu-wahyu  Al-Quran  itu, dapat dipastikan
> tidak  mengalami  perubahan,  karena  sejak  diterimanya oleh Nabi, ia
> ditulis   dan   dihafal   oleh  sekian  banyak  sahabat  dan  kemudian
> disampaikan  secara  tawatur oleh sejumlah orang yang --menurut adat--
> mustahil  akan sepakat berbohong. Atas dasar ini, wahyu-wahyu Al-Quran
> menjadi qath'iy al-wurud. Ini, berbeda dengan hadis, yang pada umumnya
> disampaikan oleh orang per orang dan itu pun seringkali dengan redaksi
> yang  sedikit  berbeda dengan redaksi yang diucapkan oleh Nabi saw. Di
> samping  itu,  diakui  pula  oleh ulama hadis bahwa walaupun pada masa
> sahabat  sudah  ada  yang  menulis teks-teks hadis, namun pada umumnya
> penyampaian  atau  penerimaan kebanyakan hadis-hadis yang ada sekarang
> hanya  berdasarkan  hafalan  para  sahabat dan tabi'in. Ini menjadikan
> kedudukan hadis dari segi otensititasnya adalah zhanniy al-wurud.
> 
> Walaupun  demikian,  itu  tidak  berarti  terdapat  keraguan  terhadap
> keabsahan  hadis  karena  sekian  banyak faktor -- baik pada diri Nabi
> maupun  sahabat  beliau,  di  samping kondisi sosial masyarakat ketika
> itu, yang topang-menopang sehingga mengantarkan generasi berikut untuk
> merasa tenang dan yakin akan terpeliharanya hadis-hadis Nabi saw.
> 
> Fungsi Hadis terhadap Al-Quran
> Al-Quran  menekankan  bahwa  Rasul  saw.  berfungsi menjelaskan maksud
> firman-firman  Allah  (QS 16:44). Penjelasan atau bayan tersebut dalam
> pandangan  sekian  banyak  ulama beraneka ragam bentuk dan sifat serta
> fungsinya.
> 
> 'Abdul  Halim  Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar, dalam bukunya Al-Sunnah
> fi  Makanatiha  wa  fi Tarikhiha menulis bahwa Sunnah mempunyai fungsi
> yang   berhubungan   dengan  Al-Quran  dan  fungsi  sehubungan  dengan
> pembinaan  hukum  syara'.  Dengan  menunjuk kepada pendapat Al-Syafi'i
> dalam  Al-Risalah,  'Abdul  Halim  menegaskan  bahwa,  dalam kaitannya
> dengan  Al-Quran, ada dua fungsi Al-Sunnah yang tidak diperselisihkan,
> yaitu  apa  yang diistilahkan oleh sementara ulama dengan bayan ta'kid
> dan bayan tafsir. Yang pertama sekadar menguatkan atau menggarisbawahi
> kembali  apa  yang  terdapat  di  dalam Al-Quran, sedangkan yang kedua
> memperjelas,   merinci,   bahkan   membatasi,  pengertian  lahir  dari
> ayat-ayat Al-Quran.
> 
> Persoalan  yang diperselisihkan adalah, apakah hadis atau Sunnah dapat
> berfungsi  menetapkan hukum baru yang belum ditetapkan dalam Al-Quran?
> Kelompok   yang   menyetujui   mendasarkan  pendapatnya  pada  'ishmah
> (keterpeliharaan  Nabi dari dosa dan kesalahan, khususnya dalam bidang
> syariat)  apalagi  sekian banyak ayat yang menunjukkan adanya wewenang
> kemandirian   Nabi   saw.  untuk  ditaati.  Kelompok  yang  menolaknya
> berpendapat  bahwa  sumber hukum hanya Allah, Inn al-hukm illa lillah,
> sehingga  Rasul  pun  harus  merujuk  kepada  Allah SWT (dalam hal ini
> Al-Quran), ketika hendak menetapkan hukum.
> 
> Kalau  persoalannya  hanya  terbatas  seperti  apa yang dikemukakan di
> atas, maka jalan keluarnya mungkin tidak terlalu sulit, apabila fungsi
> Al-Sunnah  terhadap  Al-Quran  didefinisikan sebagai bayan murad Allah
> (penjelasan   tentang  maksud  Allah)  sehingga  apakah  ia  merupakan
> penjelasan  penguat,  atau rinci, pembatas dan bahkan maupun tambahan,
> kesemuanya  bersumber  dari  Allah  SWT.  Ketika  Rasul  saw. melarang
> seorang  suami  memadu  istrinya dengan bibi dari pihak ibu atau bapak
> sang  istri,  yang  pada  zhahir-nya berbeda dengan nash ayat Al-Nisa'
> ayat  24,  maka  pada hakikatnya penambahan tersebut adalah penjelasan
> dari apa yang dimaksud oleh Allah SWT dalam firman tersebut.
> 
> Tentu,  jalan  keluar  ini  tidak  disepakati,  bahkan  persoalan akan
> semakin  sulit  jika  Al-Quran  yang  bersifat  qathi'iy  al-wurud itu
> diperhadapkan  dengan  hadis yang berbeda atau bertentangan, sedangkan
> yang  terakhir  ini  yang bersifat zhanniy al-wurud. Disini, pandangan
> para pakar sangat beragam. Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Al-Sunnah
> Al-Nabawiyyah  Baina  Ahl  Al-Fiqh  wa Ahl Al-Hadits, menyatakan bahwa
> "Para  imam  fiqih  menetapkan  hukum-hukum  dengan  ijtihad yang luas
> berdasarkan  pada  Al-Quran  terlebih dahulu. Sehingga, apabila mereka
> menemukan   dalam   tumpukan  riwayat  (hadits)  yang  sejalan  dengan
> Al-Quran,  mereka  menerimanya,  tetapi  kalau  tidak  sejalan, mereka
> menolaknya karena Al-Quran lebih utama untuk diikuti."
> 
> Pendapat  di atas, tidak sepenuhnya diterapkan oleh ulama-ulama fiqih.
> Yang   menerapkan   secara   utuh   hanya   Imam   Abu   Hanifah   dan
> pengikut-pengikutnya.  Menurut mereka, jangankan membatalkan kandungan
> satu   ayat,  mengecualikan  sebagian  kandungannya  pun  tidak  dapat
> dilakukan  oleh  hadis.  Pendapat  yang demikian ketat tersebut, tidak
> disetujui oleh Imam Malik dan pengikut-pengikutnya. Mereka berpendapat
> bahwa  al-hadits  dapat  saja diamalkan, walaupun tidak sejalan dengan
> Al-Quran,  selama  terdapat  indikator yang menguatkan hadis tersebut,
> seperti   adanya  pengamalan  penduduk  Madinah  yang  sejalan  dengan
> kandungan   hadis   dimaksud,   atau  adanya  ijma'  ulama  menyangkut
> kandungannya.  Karena itu, dalam pandangan mereka, hadis yang melarang
> memadu  seorang  wanita dengan bibinya, haram hukumnya, walaupun tidak
> sejalan dengan lahir teks ayat Al-Nisa' ayat 24.
> 
> Imam   Syafi'i,   yang   mendapat   gelar  Nashir  Al-Sunnah  (Pembela
> Al-Sunnah), bukan saja menolak pandangan Abu Hanifah yang sangat ketat
> itu,  tetapi juga pandangan Imam Malik yang lebih moderat. Menurutnya,
> Al-Sunnah,   dalam   berbagai  ragamnya,  boleh  saja  berbeda  dengan
> Al-Quran,  baik  dalam  bentuk pengecualian maupun penambahan terhadap
> kandungan  Al-Quran.  Bukankah  Allah  sendiri  telah  mewajibkan umat
> manusia untuk mengikuti perintah Nabi-Nya?
> 
> Harus  digarisbawahi  bahwa  penolakan satu hadis yang sanadnya sahih,
> tidak  dilakukan  oleh  ulama kecuali dengan sangat cermat dan setelah
> menganalisis  dan  membolak-balik  segala  seginya.  Bila  masih  juga
> ditemukan  pertentangan,  maka  tidak ada jalan kecuali mempertahankan
> wahyu  yang diterima secara meyakinkan (Al-Quran) dan mengabaikan yang
> tidak meyakinkan (hadis).
> 
> Pemahaman atas Makna Hadis
> 
> Seperti  dikemukakan  di  atas,  hadis,  dalam arti ucapan-ucapan yang
> dinisbahkan   kepada   Nabi   Muhammad  saw.,  pada  umumnya  diterima
> berdasarkan  riwayat  dengan  makna,  dalam  arti teks hadis tersebut,
> tidak  sepenuhnya persis sama dengan apa yang diucapkan oleh Nabi saw.
> Walaupun  diakui  bahwa cukup banyak persyaratan yang harus diterapkan
> oleh  para  perawi  hadis,  sebelum  mereka diperkenankan meriwayatkan
> dengan  makna;  namun  demikian,  problem menyangkut teks sebuah hadis
> masih  dapat  saja  muncul.  Apakah pemahaman makna sebuah hadis harus
> dikaitkan  dengan  konteksnya  atau  tidak.  Apakah  konteks  tersebut
> berkaitan  dengan  pribadi  pengucapnya saja, atau mencakup pula mitra
> bicara  dan  kondisi  sosial ketika diucapkan atau diperagakan? Itulah
> sebagian   persoalan   yang  dapat  muncul  dalam  pembahasan  tentang
> pemahaman makna hadis.
> 
> Al-Qarafiy, misalnya, memilah Al-Sunnah dalam kaitannya dengan pribadi
> Muhammad  saw.  Dalam  hal  ini,  manusia  teladan tersebut suatu kali
> bertindak  sebagai  Rasul, di kali lain sebagai mufti, dan kali ketiga
> sebagai qadhi (hakim penetap hukum) atau pemimpin satu masyarakat atau
> bahkan  sebagai  pribadi  dengan kekhususan dan keistimewaan manusiawi
> atau  kenabian yang membedakannya dengan manusia lainnya. Setiap hadis
> dan Sunnah harus didudukkan dalam konteks tersebut.
> 
> Al-Syathibi,   dalam  pasal  ketiga  karyanya,  Al-Muwafaqat,  tentang
> perintah  dan  larangan  pada  masalah  ketujuh,  menguraikan  tentang
> perintah  dan  larangan syara'. Menurutnya, perintah tersebut ada yang
> jelas dan ada yang tidak jelas. Sikap para sahabat menyangkut perintah
> Nabi  yang jelas pun berbeda. Ada yang memahaminya secara tekstual dan
> ada pula yang secara kontekstual.
> 
> Suatu  ketika,  Ubay  ibn  Ka'ab,  yang sedang dalam perjalanan menuju
> masjid,  mendengar Nabi saw. bersabda, "Ijlisu (duduklah kalian)," dan
> seketika  itu  juga  Ubay  duduk  di jalan. Melihat hal itu, Nabi yang
> mengetahui  hal  ini lalu bersabda kepadanya, "Zadaka Allah tha'atan."
> Di sini, Ubay memahami hadis tersebut secara tekstual.
> 
> Dalam  peperangan  Al-Ahzab,  Nabi  bersabda,  "Jangan ada yang shalat
> Ashar  kecuali di perkampungan Bani Quraizhah." Sebagian memahami teks
> hadis  tersebut  secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar walaupun
> waktunya  telah  berlalu  --kecuali  di  tempat  itu. Sebagian lainnya
> memahaminya  secara  kontekstual,  sehingga mereka melaksanakan shalat
> Ashar,  sebelum  tiba  di  perkampungan yang dituju. Nabi, dalam kasus
> terakhir   ini,  tidak  mempersalahkan  kedua  kelompok  sahabat  yang
> menggunakan pendekatan berbeda dalam memahami teks hadis.
> 
> Imam  Syafi'i  dinilai  sangat  ketat dalam memahami teks hadis, tidak
> terkecuali   dalam   bidang   muamalat.   Dalam  hal  ini,  Al-Syafi'i
> berpendapat  bahwa  pada  dasarnya  ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis
> Nabi  saw.,  harus  dipertahankan bunyi teksnya, walaupun dalam bidang
> muamalat,   karena   bentuk   hukum   dan  bunyi  teks-teksnya  adalah
> ta'abbudiy,  sehingga  tidak  boleh  diubah.  Maksud  syariat  sebagai
> maslahat harus dipahami secara terpadu dengan bunyi teks, kecuali jika
> ada petunjuk yang mengalihkan arti lahiriah teks.
> 
> Kajian  'illat,  dalam  pandangan Al-Syafi'i, dikembangkan bukan untuk
> mengabaikan  teks, tetapi untuk pengembangan hukum. Karena itu, kaidah
> al-hukm  yaduru ma'a illatih wujud wa 'adam,115 hanya dapat diterapkan
> olehnya  terhadap  hasil qiyas, bukan terhadap bunyi teks Al-Quran dan
> hadis.   Itu   sebabnya   Al-Syafi'i   berpendapat  bahwa  lafal  yang
> mengesahkan  hubungan  dua jenis kelamin, hanya lafal nikah dan zawaj,
> karena  bunyi  hadis Nabi saw. menyatakan, "Istahlaltum furujahunna bi
> kalimat  Allah (Kalian memperoleh kehalalan melakukan hubungan seksual
> dengan  wanita-wanita  karena  menggunakan  kalimat Allah)", sedangkan
> kalimat  (lafal)  yang  digunakan  oleh  Allah  dalam  Al-Quran  untuk
> keabsahan hubungan tersebut hanya lafal zawaj dan nikah.
> 
> Imam  Abu  Hanifah  lain  pula  pendapatnya.  Beliau sependapat dengan
> ulama-ulama  lain  yang  menetapkan  bahwa  teks-teks  keagamaan dalam
> bidang ibadah harus dipertahankan, tetapi dalam bidang muamalat, tidak
> demikian.   Bidang   ini  menurutnya  adalah  ma'qul  al-ma'na,  dapat
> dijangkau  oleh nalar. Kecuali apabila ia merupakan ayat-ayat Al-Quran
> yang   berkaitan   dengan  perincian,  maka  ketika  itu  ia  bersifat
> ta'abbudiy juga. Teks-teks itu, menurutnya, harus dipertahankan, bukan
> saja  karena  akal  tidak  dapat memastikan mengapa teks tersebut yang
> dipilih,  tetapi juga karena teks tersebut diterima atas dasar qath'iy
> al-wurud.  Dengan  alasan  terakhir  ini,  sikapnya terhadap teks-teks
> hadis   menjadi   longgar.   Karena,   seperti  dikemukakan  di  atas,
> periwayatan lafalnya dengan makna dan penerimaannya bersifat zhanniy.
> 
> Berpijak pada hal tersebut di atas, Imam Abu Hanifah tidak segan-segan
> mengubah  ketentuan  yang  tersurat  dalam  teks  hadis, dengan alasan
> kemaslahatan.  Fatwanya  yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan
> nilai,  atau  membenarkan  keabsahan  hubungan perkawinan dengan lafal
> hibah  atau  jual  beli,  adalah  penjabaran  dari  pandangan di atas.
> Walaupun  demikian,  beliau  tidak membenarkan pembayaran dam tamattu'
> dalam  haji, atau qurban dengan nilai (uang) karena kedua hal tersebut
> bernilai ta'abudiy, yakni pada penyembelihannya.
> 
> Demikianlah  beberapa  pandangan ulama yang sempat dikemukakan tentang
> hadis.
> 
> Catatan kaki
> 115  Ketetapan  hukum  selalu berkaitan dengan 'illat (motifnya). Bila
> motifnya  ada,  hukumnya  bertahan; dan bila motif nya gugur, hukumnya
> pun gugur.
> 
> 
> MEMBUMIKAN AL-QURAN
> Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
> Dr. M. Quraish Shihab
> Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
> Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
> Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
> mailto:mi...@...
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke