ssstt sesama fundamentalis dilarang berdebat :) ha ha ha ha

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "abdul" <latifabdul...@...> wrote:
>
> mnur.abdurra... .............Bismilahirrahmanirrahiim
> 
> Bandingkan DEFINISI Hadits antara golongan Islam Berpaham 
> Konservative-Taliban dan golongna islam Liberal-Progresive,aga para pembaca 
> dpt 2 ilmu yang berbeda,waluapun tidak semua berbeda;
> 
> GOL.ISLAM BERPAHAM LIBERAL;
> 
> 1. Hadits adalah segala sesuatu yang di ucapkan dan dikerjakan oleh 
> Rasulullah saw.semua dicatat oleh para perawi2.
> 
> 2. hadits2 yang sahih adalah hadist2 yang HANYA menjelaskan beberapa
> ayat2 atau wahyu2 ALLAH yg terdapat dlm kitab2 ALLAH Al Quran dan kitab2 
> sebelumnya. Kitab2 nabi sebelumnya.
> 
> 3. hadits2 yang bukan menjelaskan wahyu2 ALLAH adalah hadist2 budaya 
> setempat, budaya Arab,yang mana orang2 arab wajib mentatainya.
> Sedangkan bangsa2 lain tidak wajib mentaatinya. Misalnya; 
> --wanita haram menyopir--wanita haram bersalaman dgn laki2---laki2 wajib 
> berjenggot dan berjabang---wanita haram keluar rumah tampa mahram....hadist2 
> budaya arab ini jumlahnya puluhan ribu.
> 
> 4. Hadits2 palsu; Definisi hadits2 palsu adalah;
> ----a) bertentangan dgn wahyu2 ALLAH
> ----b) mempunyai makna lebih dari satu makna..
> ----c) berdampak negatif kepada masarakat kalau di laksanakan.
> 
> Misalnya apa:
> 
> 1.Rasulullah saw melihat bahwa di syurga itu
> kebanyakan orang orang miskin, sedangkan dalam neraka
> kebanyakan wanita2. HR Muslim-Bukhary.
> 
> Hadits ini berdapak negatif kepada umat kalau di lakukan.Umat tidak mau 
> menjadi orang kaya harta dan uang...maunya hidup miskin atau sederhana.
> 
> Hadits itu juga bertentangan dgn ayat ALLAH dan hadits lainnya seperti hadits 
> ini;
> 
> ALLAH lebih senang muslim yang kuat (iman dan ekonominya) dari pada muslim 
> yang lemah.HR Muslim.
> 
> Carilah oleh mu Rezeki dengan menggali yang tersembunyi di dalam bumi.HR 
> Thabrani.
> 
> Firman ALLAH;
> 
> A god man shall leave an inheritance to his children's children."
> 
> dan,Muslim wajib membuka industri2.
> 
> "Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan 
> berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan 
> supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya 
> padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha 
> Perkasa". QS 57:25
> 
> Jadi hadits diatas itu adalah PALSU.TERBUKTI PALSU.
> 
> 2.1."Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran,hendaklah is 
> mengubah dengan TANGAN MU:jika tidak mempu, hendaklah dengan lisannya; jika 
> tidak mampu hendaklah dengan hatinya.Akan tetapi,yang demikian adalah selemah 
> lemahnya iman.HR.Muslim"
> 
> ( mengubah dengan tangan diartikannya dengan membuat undang2, melarang, 
> mengusir lawannya dan bahkan membakar rumah2 dan kantor2 lawan2nya inilah 
> yang terjadi sekarang ini di negara2 berpenduduk islam.)
> 
> Hadits diatas itu berdampak kekerasan dan negatif, Serta berlawanan dgn ayat2 
> ALLAH dibawah ini
> 
> ALLAH berfirman:
> 
> 1. Maka berilah PERINGATAN ,(kepada peminum2alkohol, wanita2 penari,penjudi2 
> atau kepada penyembah2 berhala, ajaran2 sesat dll) karena sesungguhnya kamu 
> hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa( 
> diktator, atau orang yang memaksa) atas mereka. Tetapi orang yang 
> berpaling,khafir(ingkar,melawan), maka ALLAH akan mengazabnya dengan azab 
> yang besar..(QS.88;21-22).
> 
> 2."Tugas kamu(Muhammad) hanya menyampaikan saja. Kami lah yang menghisab 
> perbuatan2 mereka" dan QS.13:40.
> 
> 3."Jika sekiranya kamu bersikap keras,kasar,jahat budi pekerti, berhati kasar 
> (tidak lemah lembut, tidak senyum ), niscaya larilah tamu-tamu itu dari 
> kamu." (QS.3:159 ). (Anti kekerasan).
> 
> BAGAIMANA RASUL MENEGAKAN AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR?
> 
> YAITU DGN LEMAH LEMBUT DAN SANTUN SERTA BAIK2.
> JADI BUKAN DGN KEKERASAN YG DILAKUKAN OLEH FPI CS..
> FPI CS MERUJUK KPD HADITS PALSU DIATAS ITU,AKIRNYA BERDAMPAK
> KEKERASAN DAN PENINDASAN KPD AHMADIYAH.
> 
> 
> Demikian penjelasan kami dari islam Liberal
> para pembaca dapat menentukan mana definis Hadits yang benar
> antara konservative Taliban dan islam Liberal progressive
> 
> salam
> 
> 
> 
> 
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman" 
> <mnur.abdurrahman@> wrote:
> >
> > Hubungan Hadis dan Al-Quran
> > 
> > Al-hadits  didefinisikan  oleh  pada  umumnya ulama --seperti definisi
> > Al-Sunnah--  sebagai  "Segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Muhammad
> > saw.,  baik  ucapan,  perbuatan  dan  taqrir (ketetapan), maupun sifat
> > fisik dan psikis, baik sebelum beliau menjadi nabi maupun sesudahnya."
> > Ulama ushul fiqh, membatasi pengertian hadis hanya pada "ucapan-ucapan
> > Nabi  Muhammad  saw.  yang  berkaitan  dengan  hukum";  sedangkan bila
> > mencakup pula perbuatan dan taqrir beliau yang berkaitan dengan hukum,
> > maka  ketiga  hal ini mereka namai Al-Sunnah. Pengertian hadis seperti
> > yang  dikemukakan  oleh  ulama ushul tersebut, dapat dikatakan sebagai
> > bagian  dari  wahyu  Allah  SWT yang tidak berbeda dari segi kewajiban
> > menaatinya  dengan ketetapan-ketetapan hukum yang bersumber dari wahyu
> > Al-Quran.
> > 
> > Sementara itu, ulama tafsir mengamati bahwa perintah taat kepada Allah
> > dan  Rasul-Nya  yang  ditemukan  dalam Al-Quran dikemukakan dengan dua
> > redaksi  berbeda.  Pertama  adalah Athi'u Allah wa al-rasul, dan kedua
> > adalah  Athi'u  Allah  wa  athi'u  al-rasul. Perintah pertama mencakup
> > kewajiban  taat  kepada  beliau  dalam  hal-hal  yang  sejalan  dengan
> > perintah  Allah  SWT;  karena itu, redaksi tersebut mencukupkan sekali
> > saja  penggunaan  kata  athi'u. Perintah kedua mencakup kewajiban taat
> > kepada  beliau  walaupun  dalam  hal-hal  yang  tidak  disebut  secara
> > eksplisit  oleh Allah SWT dalam Al-Quran, bahkan kewajiban taat kepada
> > Nabi  tersebut mungkin harus dilakukan terlebih dahulu --dalam kondisi
> > tertentu--  walaupun  ketika  sedang  melaksanakan perintah Allah SWT,
> > sebagaimana  diisyaratkan oleh kasus Ubay ibn Ka'ab yang ketika sedang
> > shalat  dipanggil  oleh Rasul saw. Itu sebabnya dalam redaksi kedua di
> > atas,  kata  athi'u diulang dua kali, dan atas dasar ini pula perintah
> > taat  kepada  Ulu  Al-'Amr  tidak  dibarengi dengan kata athi'u karena
> > ketaatan  terhadap  mereka  tidak  berdiri  sendiri,  tetapi bersyarat
> > dengan  sejalannya  perintah  mereka  dengan  ajaran-ajaran  Allah dan
> > Rasul-Nya. (Perhatikan Firman Allah dalam QS 4:59). Menerima ketetapan
> > Rasul  saw. dengan penuh kesadaran dan kerelaan tanpa sedikit pun rasa
> > enggan  dan  pembangkangan,  baik pada saat ditetapkannya hukum maupun
> > setelah itu, merupakan syarat keabsahan iman seseorang, demikian Allah
> > bersumpah dalam Al-Quran Surah Al-Nisa' ayat 65.
> > 
> > Tetapi,  di  sisi  lain,  harus  diakui  bahwa terdapat perbedaan yang
> > menonjol  antara  hadis  dan  Al-Quran  dari  segi  redaksi  dan  cara
> > penyampaian  atau  penerimaannya.  Dari  segi  redaksi, diyakini bahwa
> > wahyu  Al-Quran disusun langsung oleh Allah SWT. Malaikat Jibril hanya
> > sekadar  menyampaikan  kepada  Nabi  Muhammad  saw.,  dan  beliau  pun
> > langsung menyampaikannya kepada umat, dan demikian seterusnya generasi
> > demi  generasi.  Redaksi  wahyu-wahyu  Al-Quran  itu, dapat dipastikan
> > tidak  mengalami  perubahan,  karena  sejak  diterimanya oleh Nabi, ia
> > ditulis   dan   dihafal   oleh  sekian  banyak  sahabat  dan  kemudian
> > disampaikan  secara  tawatur oleh sejumlah orang yang --menurut adat--
> > mustahil  akan sepakat berbohong. Atas dasar ini, wahyu-wahyu Al-Quran
> > menjadi qath'iy al-wurud. Ini, berbeda dengan hadis, yang pada umumnya
> > disampaikan oleh orang per orang dan itu pun seringkali dengan redaksi
> > yang  sedikit  berbeda dengan redaksi yang diucapkan oleh Nabi saw. Di
> > samping  itu,  diakui  pula  oleh ulama hadis bahwa walaupun pada masa
> > sahabat  sudah  ada  yang  menulis teks-teks hadis, namun pada umumnya
> > penyampaian  atau  penerimaan kebanyakan hadis-hadis yang ada sekarang
> > hanya  berdasarkan  hafalan  para  sahabat dan tabi'in. Ini menjadikan
> > kedudukan hadis dari segi otensititasnya adalah zhanniy al-wurud.
> > 
> > Walaupun  demikian,  itu  tidak  berarti  terdapat  keraguan  terhadap
> > keabsahan  hadis  karena  sekian  banyak faktor -- baik pada diri Nabi
> > maupun  sahabat  beliau,  di  samping kondisi sosial masyarakat ketika
> > itu, yang topang-menopang sehingga mengantarkan generasi berikut untuk
> > merasa tenang dan yakin akan terpeliharanya hadis-hadis Nabi saw.
> > 
> > Fungsi Hadis terhadap Al-Quran
> > Al-Quran  menekankan  bahwa  Rasul  saw.  berfungsi menjelaskan maksud
> > firman-firman  Allah  (QS 16:44). Penjelasan atau bayan tersebut dalam
> > pandangan  sekian  banyak  ulama beraneka ragam bentuk dan sifat serta
> > fungsinya.
> > 
> > 'Abdul  Halim  Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar, dalam bukunya Al-Sunnah
> > fi  Makanatiha  wa  fi Tarikhiha menulis bahwa Sunnah mempunyai fungsi
> > yang   berhubungan   dengan  Al-Quran  dan  fungsi  sehubungan  dengan
> > pembinaan  hukum  syara'.  Dengan  menunjuk kepada pendapat Al-Syafi'i
> > dalam  Al-Risalah,  'Abdul  Halim  menegaskan  bahwa,  dalam kaitannya
> > dengan  Al-Quran, ada dua fungsi Al-Sunnah yang tidak diperselisihkan,
> > yaitu  apa  yang diistilahkan oleh sementara ulama dengan bayan ta'kid
> > dan bayan tafsir. Yang pertama sekadar menguatkan atau menggarisbawahi
> > kembali  apa  yang  terdapat  di  dalam Al-Quran, sedangkan yang kedua
> > memperjelas,   merinci,   bahkan   membatasi,  pengertian  lahir  dari
> > ayat-ayat Al-Quran.
> > 
> > Persoalan  yang diperselisihkan adalah, apakah hadis atau Sunnah dapat
> > berfungsi  menetapkan hukum baru yang belum ditetapkan dalam Al-Quran?
> > Kelompok   yang   menyetujui   mendasarkan  pendapatnya  pada  'ishmah
> > (keterpeliharaan  Nabi dari dosa dan kesalahan, khususnya dalam bidang
> > syariat)  apalagi  sekian banyak ayat yang menunjukkan adanya wewenang
> > kemandirian   Nabi   saw.  untuk  ditaati.  Kelompok  yang  menolaknya
> > berpendapat  bahwa  sumber hukum hanya Allah, Inn al-hukm illa lillah,
> > sehingga  Rasul  pun  harus  merujuk  kepada  Allah SWT (dalam hal ini
> > Al-Quran), ketika hendak menetapkan hukum.
> > 
> > Kalau  persoalannya  hanya  terbatas  seperti  apa yang dikemukakan di
> > atas, maka jalan keluarnya mungkin tidak terlalu sulit, apabila fungsi
> > Al-Sunnah  terhadap  Al-Quran  didefinisikan sebagai bayan murad Allah
> > (penjelasan   tentang  maksud  Allah)  sehingga  apakah  ia  merupakan
> > penjelasan  penguat,  atau rinci, pembatas dan bahkan maupun tambahan,
> > kesemuanya  bersumber  dari  Allah  SWT.  Ketika  Rasul  saw. melarang
> > seorang  suami  memadu  istrinya dengan bibi dari pihak ibu atau bapak
> > sang  istri,  yang  pada  zhahir-nya berbeda dengan nash ayat Al-Nisa'
> > ayat  24,  maka  pada hakikatnya penambahan tersebut adalah penjelasan
> > dari apa yang dimaksud oleh Allah SWT dalam firman tersebut.
> > 
> > Tentu,  jalan  keluar  ini  tidak  disepakati,  bahkan  persoalan akan
> > semakin  sulit  jika  Al-Quran  yang  bersifat  qathi'iy  al-wurud itu
> > diperhadapkan  dengan  hadis yang berbeda atau bertentangan, sedangkan
> > yang  terakhir  ini  yang bersifat zhanniy al-wurud. Disini, pandangan
> > para pakar sangat beragam. Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Al-Sunnah
> > Al-Nabawiyyah  Baina  Ahl  Al-Fiqh  wa Ahl Al-Hadits, menyatakan bahwa
> > "Para  imam  fiqih  menetapkan  hukum-hukum  dengan  ijtihad yang luas
> > berdasarkan  pada  Al-Quran  terlebih dahulu. Sehingga, apabila mereka
> > menemukan   dalam   tumpukan  riwayat  (hadits)  yang  sejalan  dengan
> > Al-Quran,  mereka  menerimanya,  tetapi  kalau  tidak  sejalan, mereka
> > menolaknya karena Al-Quran lebih utama untuk diikuti."
> > 
> > Pendapat  di atas, tidak sepenuhnya diterapkan oleh ulama-ulama fiqih.
> > Yang   menerapkan   secara   utuh   hanya   Imam   Abu   Hanifah   dan
> > pengikut-pengikutnya.  Menurut mereka, jangankan membatalkan kandungan
> > satu   ayat,  mengecualikan  sebagian  kandungannya  pun  tidak  dapat
> > dilakukan  oleh  hadis.  Pendapat  yang demikian ketat tersebut, tidak
> > disetujui oleh Imam Malik dan pengikut-pengikutnya. Mereka berpendapat
> > bahwa  al-hadits  dapat  saja diamalkan, walaupun tidak sejalan dengan
> > Al-Quran,  selama  terdapat  indikator yang menguatkan hadis tersebut,
> > seperti   adanya  pengamalan  penduduk  Madinah  yang  sejalan  dengan
> > kandungan   hadis   dimaksud,   atau  adanya  ijma'  ulama  menyangkut
> > kandungannya.  Karena itu, dalam pandangan mereka, hadis yang melarang
> > memadu  seorang  wanita dengan bibinya, haram hukumnya, walaupun tidak
> > sejalan dengan lahir teks ayat Al-Nisa' ayat 24.
> > 
> > Imam   Syafi'i,   yang   mendapat   gelar  Nashir  Al-Sunnah  (Pembela
> > Al-Sunnah), bukan saja menolak pandangan Abu Hanifah yang sangat ketat
> > itu,  tetapi juga pandangan Imam Malik yang lebih moderat. Menurutnya,
> > Al-Sunnah,   dalam   berbagai  ragamnya,  boleh  saja  berbeda  dengan
> > Al-Quran,  baik  dalam  bentuk pengecualian maupun penambahan terhadap
> > kandungan  Al-Quran.  Bukankah  Allah  sendiri  telah  mewajibkan umat
> > manusia untuk mengikuti perintah Nabi-Nya?
> > 
> > Harus  digarisbawahi  bahwa  penolakan satu hadis yang sanadnya sahih,
> > tidak  dilakukan  oleh  ulama kecuali dengan sangat cermat dan setelah
> > menganalisis  dan  membolak-balik  segala  seginya.  Bila  masih  juga
> > ditemukan  pertentangan,  maka  tidak ada jalan kecuali mempertahankan
> > wahyu  yang diterima secara meyakinkan (Al-Quran) dan mengabaikan yang
> > tidak meyakinkan (hadis).
> > 
> > Pemahaman atas Makna Hadis
> > 
> > Seperti  dikemukakan  di  atas,  hadis,  dalam arti ucapan-ucapan yang
> > dinisbahkan   kepada   Nabi   Muhammad  saw.,  pada  umumnya  diterima
> > berdasarkan  riwayat  dengan  makna,  dalam  arti teks hadis tersebut,
> > tidak  sepenuhnya persis sama dengan apa yang diucapkan oleh Nabi saw.
> > Walaupun  diakui  bahwa cukup banyak persyaratan yang harus diterapkan
> > oleh  para  perawi  hadis,  sebelum  mereka diperkenankan meriwayatkan
> > dengan  makna;  namun  demikian,  problem menyangkut teks sebuah hadis
> > masih  dapat  saja  muncul.  Apakah pemahaman makna sebuah hadis harus
> > dikaitkan  dengan  konteksnya  atau  tidak.  Apakah  konteks  tersebut
> > berkaitan  dengan  pribadi  pengucapnya saja, atau mencakup pula mitra
> > bicara  dan  kondisi  sosial ketika diucapkan atau diperagakan? Itulah
> > sebagian   persoalan   yang  dapat  muncul  dalam  pembahasan  tentang
> > pemahaman makna hadis.
> > 
> > Al-Qarafiy, misalnya, memilah Al-Sunnah dalam kaitannya dengan pribadi
> > Muhammad  saw.  Dalam  hal  ini,  manusia  teladan tersebut suatu kali
> > bertindak  sebagai  Rasul, di kali lain sebagai mufti, dan kali ketiga
> > sebagai qadhi (hakim penetap hukum) atau pemimpin satu masyarakat atau
> > bahkan  sebagai  pribadi  dengan kekhususan dan keistimewaan manusiawi
> > atau  kenabian yang membedakannya dengan manusia lainnya. Setiap hadis
> > dan Sunnah harus didudukkan dalam konteks tersebut.
> > 
> > Al-Syathibi,   dalam  pasal  ketiga  karyanya,  Al-Muwafaqat,  tentang
> > perintah  dan  larangan  pada  masalah  ketujuh,  menguraikan  tentang
> > perintah  dan  larangan syara'. Menurutnya, perintah tersebut ada yang
> > jelas dan ada yang tidak jelas. Sikap para sahabat menyangkut perintah
> > Nabi  yang jelas pun berbeda. Ada yang memahaminya secara tekstual dan
> > ada pula yang secara kontekstual.
> > 
> > Suatu  ketika,  Ubay  ibn  Ka'ab,  yang sedang dalam perjalanan menuju
> > masjid,  mendengar Nabi saw. bersabda, "Ijlisu (duduklah kalian)," dan
> > seketika  itu  juga  Ubay  duduk  di jalan. Melihat hal itu, Nabi yang
> > mengetahui  hal  ini lalu bersabda kepadanya, "Zadaka Allah tha'atan."
> > Di sini, Ubay memahami hadis tersebut secara tekstual.
> > 
> > Dalam  peperangan  Al-Ahzab,  Nabi  bersabda,  "Jangan ada yang shalat
> > Ashar  kecuali di perkampungan Bani Quraizhah." Sebagian memahami teks
> > hadis  tersebut  secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar walaupun
> > waktunya  telah  berlalu  --kecuali  di  tempat  itu. Sebagian lainnya
> > memahaminya  secara  kontekstual,  sehingga mereka melaksanakan shalat
> > Ashar,  sebelum  tiba  di  perkampungan yang dituju. Nabi, dalam kasus
> > terakhir   ini,  tidak  mempersalahkan  kedua  kelompok  sahabat  yang
> > menggunakan pendekatan berbeda dalam memahami teks hadis.
> > 
> > Imam  Syafi'i  dinilai  sangat  ketat dalam memahami teks hadis, tidak
> > terkecuali   dalam   bidang   muamalat.   Dalam  hal  ini,  Al-Syafi'i
> > berpendapat  bahwa  pada  dasarnya  ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis
> > Nabi  saw.,  harus  dipertahankan bunyi teksnya, walaupun dalam bidang
> > muamalat,   karena   bentuk   hukum   dan  bunyi  teks-teksnya  adalah
> > ta'abbudiy,  sehingga  tidak  boleh  diubah.  Maksud  syariat  sebagai
> > maslahat harus dipahami secara terpadu dengan bunyi teks, kecuali jika
> > ada petunjuk yang mengalihkan arti lahiriah teks.
> > 
> > Kajian  'illat,  dalam  pandangan Al-Syafi'i, dikembangkan bukan untuk
> > mengabaikan  teks, tetapi untuk pengembangan hukum. Karena itu, kaidah
> > al-hukm  yaduru ma'a illatih wujud wa 'adam,115 hanya dapat diterapkan
> > olehnya  terhadap  hasil qiyas, bukan terhadap bunyi teks Al-Quran dan
> > hadis.   Itu   sebabnya   Al-Syafi'i   berpendapat  bahwa  lafal  yang
> > mengesahkan  hubungan  dua jenis kelamin, hanya lafal nikah dan zawaj,
> > karena  bunyi  hadis Nabi saw. menyatakan, "Istahlaltum furujahunna bi
> > kalimat  Allah (Kalian memperoleh kehalalan melakukan hubungan seksual
> > dengan  wanita-wanita  karena  menggunakan  kalimat Allah)", sedangkan
> > kalimat  (lafal)  yang  digunakan  oleh  Allah  dalam  Al-Quran  untuk
> > keabsahan hubungan tersebut hanya lafal zawaj dan nikah.
> > 
> > Imam  Abu  Hanifah  lain  pula  pendapatnya.  Beliau sependapat dengan
> > ulama-ulama  lain  yang  menetapkan  bahwa  teks-teks  keagamaan dalam
> > bidang ibadah harus dipertahankan, tetapi dalam bidang muamalat, tidak
> > demikian.   Bidang   ini  menurutnya  adalah  ma'qul  al-ma'na,  dapat
> > dijangkau  oleh nalar. Kecuali apabila ia merupakan ayat-ayat Al-Quran
> > yang   berkaitan   dengan  perincian,  maka  ketika  itu  ia  bersifat
> > ta'abbudiy juga. Teks-teks itu, menurutnya, harus dipertahankan, bukan
> > saja  karena  akal  tidak  dapat memastikan mengapa teks tersebut yang
> > dipilih,  tetapi juga karena teks tersebut diterima atas dasar qath'iy
> > al-wurud.  Dengan  alasan  terakhir  ini,  sikapnya terhadap teks-teks
> > hadis   menjadi   longgar.   Karena,   seperti  dikemukakan  di  atas,
> > periwayatan lafalnya dengan makna dan penerimaannya bersifat zhanniy.
> > 
> > Berpijak pada hal tersebut di atas, Imam Abu Hanifah tidak segan-segan
> > mengubah  ketentuan  yang  tersurat  dalam  teks  hadis, dengan alasan
> > kemaslahatan.  Fatwanya  yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan
> > nilai,  atau  membenarkan  keabsahan  hubungan perkawinan dengan lafal
> > hibah  atau  jual  beli,  adalah  penjabaran  dari  pandangan di atas.
> > Walaupun  demikian,  beliau  tidak membenarkan pembayaran dam tamattu'
> > dalam  haji, atau qurban dengan nilai (uang) karena kedua hal tersebut
> > bernilai ta'abudiy, yakni pada penyembelihannya.
> > 
> > Demikianlah  beberapa  pandangan ulama yang sempat dikemukakan tentang
> > hadis.
> > 
> > Catatan kaki
> > 115  Ketetapan  hukum  selalu berkaitan dengan 'illat (motifnya). Bila
> > motifnya  ada,  hukumnya  bertahan; dan bila motif nya gugur, hukumnya
> > pun gugur.
> > 
> > 
> > MEMBUMIKAN AL-QURAN
> > Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
> > Dr. M. Quraish Shihab
> > Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
> > Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
> > Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
> > mailto:mizan@
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>


Kirim email ke