emang alatif itu fundamentalis apa ya? :-)

kalau dilihat tindak-tanduknya selama ini:
- bikin definisi hadis sendiri
- bikin kriteria sahih sendiri
- klaim liberal-progresif-moderat menurut definisi sendiri
- tidak mau merujuk kepada pendapat2 terdahulu
- tidak pakai metodologi penafsiran yang umum
- bikin kriteria halal-haram sendiri,
- dll

saya rasa dia sejajar dengan para "mujtahid" mutlak
dan pantas untuk membuat mazhab sendiri, mazhab "Latifah"
(kecuali soal terjemahan al-Quran dan Bible, masih ikutan orang lain hihihi,
walaupun kadang dikorupsi sana-sini)



2010/8/2 Abdul Muiz عبد المعز <mui...@yahoo.com>

>
>
> ssstt sesama fundamentalis dilarang berdebat :) ha ha ha ha
>
>
> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com <wanita-muslimah%40yahoogroups.com>,
> "abdul" <latifabdul...@...> wrote:
> >
> > mnur.abdurra... .............Bismilahirrahmanirrahiim
> >
> > Bandingkan DEFINISI Hadits antara golongan Islam Berpaham
> Konservative-Taliban dan golongna islam Liberal-Progresive,aga para pembaca
> dpt 2 ilmu yang berbeda,waluapun tidak semua berbeda;
> >
> > GOL.ISLAM BERPAHAM LIBERAL;
> >
> > 1. Hadits adalah segala sesuatu yang di ucapkan dan dikerjakan oleh
> Rasulullah saw.semua dicatat oleh para perawi2.
> >
> > 2. hadits2 yang sahih adalah hadist2 yang HANYA menjelaskan beberapa
> > ayat2 atau wahyu2 ALLAH yg terdapat dlm kitab2 ALLAH Al Quran dan kitab2
> sebelumnya. Kitab2 nabi sebelumnya.
> >
> > 3. hadits2 yang bukan menjelaskan wahyu2 ALLAH adalah hadist2 budaya
> setempat, budaya Arab,yang mana orang2 arab wajib mentatainya.
> > Sedangkan bangsa2 lain tidak wajib mentaatinya. Misalnya;
> > --wanita haram menyopir--wanita haram bersalaman dgn laki2---laki2 wajib
> berjenggot dan berjabang---wanita haram keluar rumah tampa mahram....hadist2
> budaya arab ini jumlahnya puluhan ribu.
> >
> > 4. Hadits2 palsu; Definisi hadits2 palsu adalah;
> > ----a) bertentangan dgn wahyu2 ALLAH
> > ----b) mempunyai makna lebih dari satu makna..
> > ----c) berdampak negatif kepada masarakat kalau di laksanakan.
> >
> > Misalnya apa:
> >
> > 1.Rasulullah saw melihat bahwa di syurga itu
> > kebanyakan orang orang miskin, sedangkan dalam neraka
> > kebanyakan wanita2. HR Muslim-Bukhary.
> >
> > Hadits ini berdapak negatif kepada umat kalau di lakukan.Umat tidak mau
> menjadi orang kaya harta dan uang...maunya hidup miskin atau sederhana.
> >
> > Hadits itu juga bertentangan dgn ayat ALLAH dan hadits lainnya seperti
> hadits ini;
> >
> > ALLAH lebih senang muslim yang kuat (iman dan ekonominya) dari pada
> muslim yang lemah.HR Muslim.
> >
> > Carilah oleh mu Rezeki dengan menggali yang tersembunyi di dalam bumi.HR
> Thabrani.
> >
> > Firman ALLAH;
> >
> > A god man shall leave an inheritance to his children's children."
> >
> > dan,Muslim wajib membuka industri2.
> >
> > "Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan
> berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan
> supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya
> padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha
> Perkasa". QS 57:25
> >
> > Jadi hadits diatas itu adalah PALSU.TERBUKTI PALSU.
> >
> > 2.1."Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran,hendaklah is
> mengubah dengan TANGAN MU:jika tidak mempu, hendaklah dengan lisannya; jika
> tidak mampu hendaklah dengan hatinya.Akan tetapi,yang demikian adalah
> selemah lemahnya iman.HR.Muslim"
> >
> > ( mengubah dengan tangan diartikannya dengan membuat undang2, melarang,
> mengusir lawannya dan bahkan membakar rumah2 dan kantor2 lawan2nya inilah
> yang terjadi sekarang ini di negara2 berpenduduk islam.)
> >
> > Hadits diatas itu berdampak kekerasan dan negatif, Serta berlawanan dgn
> ayat2 ALLAH dibawah ini
> >
> > ALLAH berfirman:
> >
> > 1. Maka berilah PERINGATAN ,(kepada peminum2alkohol, wanita2
> penari,penjudi2 atau kepada penyembah2 berhala, ajaran2 sesat dll) karena
> sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah
> orang yang berkuasa( diktator, atau orang yang memaksa) atas mereka. Tetapi
> orang yang berpaling,khafir(ingkar,melawan), maka ALLAH akan mengazabnya
> dengan azab yang besar..(QS.88;21-22).
> >
> > 2."Tugas kamu(Muhammad) hanya menyampaikan saja. Kami lah yang menghisab
> perbuatan2 mereka" dan QS.13:40.
> >
> > 3."Jika sekiranya kamu bersikap keras,kasar,jahat budi pekerti, berhati
> kasar (tidak lemah lembut, tidak senyum ), niscaya larilah tamu-tamu itu
> dari kamu." (QS.3:159 ). (Anti kekerasan).
> >
> > BAGAIMANA RASUL MENEGAKAN AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR?
> >
> > YAITU DGN LEMAH LEMBUT DAN SANTUN SERTA BAIK2.
> > JADI BUKAN DGN KEKERASAN YG DILAKUKAN OLEH FPI CS..
> > FPI CS MERUJUK KPD HADITS PALSU DIATAS ITU,AKIRNYA BERDAMPAK
> > KEKERASAN DAN PENINDASAN KPD AHMADIYAH.
> >
> >
> > Demikian penjelasan kami dari islam Liberal
> > para pembaca dapat menentukan mana definis Hadits yang benar
> > antara konservative Taliban dan islam Liberal progressive
> >
> > salam
> >
> >
> >
> >
> > --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com<wanita-muslimah%40yahoogroups.com>,
> "H. M. Nur Abdurahman" <mnur.abdurrahman@> wrote:
> > >
> > > Hubungan Hadis dan Al-Quran
> > >
> > > Al-hadits didefinisikan oleh pada umumnya ulama --seperti definisi
> > > Al-Sunnah-- sebagai "Segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Muhammad
> > > saw., baik ucapan, perbuatan dan taqrir (ketetapan), maupun sifat
> > > fisik dan psikis, baik sebelum beliau menjadi nabi maupun sesudahnya."
> > > Ulama ushul fiqh, membatasi pengertian hadis hanya pada "ucapan-ucapan
> > > Nabi Muhammad saw. yang berkaitan dengan hukum"; sedangkan bila
> > > mencakup pula perbuatan dan taqrir beliau yang berkaitan dengan hukum,
> > > maka ketiga hal ini mereka namai Al-Sunnah. Pengertian hadis seperti
> > > yang dikemukakan oleh ulama ushul tersebut, dapat dikatakan sebagai
> > > bagian dari wahyu Allah SWT yang tidak berbeda dari segi kewajiban
> > > menaatinya dengan ketetapan-ketetapan hukum yang bersumber dari wahyu
> > > Al-Quran.
> > >
> > > Sementara itu, ulama tafsir mengamati bahwa perintah taat kepada Allah
> > > dan Rasul-Nya yang ditemukan dalam Al-Quran dikemukakan dengan dua
> > > redaksi berbeda. Pertama adalah Athi'u Allah wa al-rasul, dan kedua
> > > adalah Athi'u Allah wa athi'u al-rasul. Perintah pertama mencakup
> > > kewajiban taat kepada beliau dalam hal-hal yang sejalan dengan
> > > perintah Allah SWT; karena itu, redaksi tersebut mencukupkan sekali
> > > saja penggunaan kata athi'u. Perintah kedua mencakup kewajiban taat
> > > kepada beliau walaupun dalam hal-hal yang tidak disebut secara
> > > eksplisit oleh Allah SWT dalam Al-Quran, bahkan kewajiban taat kepada
> > > Nabi tersebut mungkin harus dilakukan terlebih dahulu --dalam kondisi
> > > tertentu-- walaupun ketika sedang melaksanakan perintah Allah SWT,
> > > sebagaimana diisyaratkan oleh kasus Ubay ibn Ka'ab yang ketika sedang
> > > shalat dipanggil oleh Rasul saw. Itu sebabnya dalam redaksi kedua di
> > > atas, kata athi'u diulang dua kali, dan atas dasar ini pula perintah
> > > taat kepada Ulu Al-'Amr tidak dibarengi dengan kata athi'u karena
> > > ketaatan terhadap mereka tidak berdiri sendiri, tetapi bersyarat
> > > dengan sejalannya perintah mereka dengan ajaran-ajaran Allah dan
> > > Rasul-Nya. (Perhatikan Firman Allah dalam QS 4:59). Menerima ketetapan
> > > Rasul saw. dengan penuh kesadaran dan kerelaan tanpa sedikit pun rasa
> > > enggan dan pembangkangan, baik pada saat ditetapkannya hukum maupun
> > > setelah itu, merupakan syarat keabsahan iman seseorang, demikian Allah
> > > bersumpah dalam Al-Quran Surah Al-Nisa' ayat 65.
> > >
> > > Tetapi, di sisi lain, harus diakui bahwa terdapat perbedaan yang
> > > menonjol antara hadis dan Al-Quran dari segi redaksi dan cara
> > > penyampaian atau penerimaannya. Dari segi redaksi, diyakini bahwa
> > > wahyu Al-Quran disusun langsung oleh Allah SWT. Malaikat Jibril hanya
> > > sekadar menyampaikan kepada Nabi Muhammad saw., dan beliau pun
> > > langsung menyampaikannya kepada umat, dan demikian seterusnya generasi
> > > demi generasi. Redaksi wahyu-wahyu Al-Quran itu, dapat dipastikan
> > > tidak mengalami perubahan, karena sejak diterimanya oleh Nabi, ia
> > > ditulis dan dihafal oleh sekian banyak sahabat dan kemudian
> > > disampaikan secara tawatur oleh sejumlah orang yang --menurut adat--
> > > mustahil akan sepakat berbohong. Atas dasar ini, wahyu-wahyu Al-Quran
> > > menjadi qath'iy al-wurud. Ini, berbeda dengan hadis, yang pada umumnya
> > > disampaikan oleh orang per orang dan itu pun seringkali dengan redaksi
> > > yang sedikit berbeda dengan redaksi yang diucapkan oleh Nabi saw. Di
> > > samping itu, diakui pula oleh ulama hadis bahwa walaupun pada masa
> > > sahabat sudah ada yang menulis teks-teks hadis, namun pada umumnya
> > > penyampaian atau penerimaan kebanyakan hadis-hadis yang ada sekarang
> > > hanya berdasarkan hafalan para sahabat dan tabi'in. Ini menjadikan
> > > kedudukan hadis dari segi otensititasnya adalah zhanniy al-wurud.
> > >
> > > Walaupun demikian, itu tidak berarti terdapat keraguan terhadap
> > > keabsahan hadis karena sekian banyak faktor -- baik pada diri Nabi
> > > maupun sahabat beliau, di samping kondisi sosial masyarakat ketika
> > > itu, yang topang-menopang sehingga mengantarkan generasi berikut untuk
> > > merasa tenang dan yakin akan terpeliharanya hadis-hadis Nabi saw.
> > >
> > > Fungsi Hadis terhadap Al-Quran
> > > Al-Quran menekankan bahwa Rasul saw. berfungsi menjelaskan maksud
> > > firman-firman Allah (QS 16:44). Penjelasan atau bayan tersebut dalam
> > > pandangan sekian banyak ulama beraneka ragam bentuk dan sifat serta
> > > fungsinya.
> > >
> > > 'Abdul Halim Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar, dalam bukunya Al-Sunnah
> > > fi Makanatiha wa fi Tarikhiha menulis bahwa Sunnah mempunyai fungsi
> > > yang berhubungan dengan Al-Quran dan fungsi sehubungan dengan
> > > pembinaan hukum syara'. Dengan menunjuk kepada pendapat Al-Syafi'i
> > > dalam Al-Risalah, 'Abdul Halim menegaskan bahwa, dalam kaitannya
> > > dengan Al-Quran, ada dua fungsi Al-Sunnah yang tidak diperselisihkan,
> > > yaitu apa yang diistilahkan oleh sementara ulama dengan bayan ta'kid
> > > dan bayan tafsir. Yang pertama sekadar menguatkan atau menggarisbawahi
> > > kembali apa yang terdapat di dalam Al-Quran, sedangkan yang kedua
> > > memperjelas, merinci, bahkan membatasi, pengertian lahir dari
> > > ayat-ayat Al-Quran.
> > >
> > > Persoalan yang diperselisihkan adalah, apakah hadis atau Sunnah dapat
> > > berfungsi menetapkan hukum baru yang belum ditetapkan dalam Al-Quran?
> > > Kelompok yang menyetujui mendasarkan pendapatnya pada 'ishmah
> > > (keterpeliharaan Nabi dari dosa dan kesalahan, khususnya dalam bidang
> > > syariat) apalagi sekian banyak ayat yang menunjukkan adanya wewenang
> > > kemandirian Nabi saw. untuk ditaati. Kelompok yang menolaknya
> > > berpendapat bahwa sumber hukum hanya Allah, Inn al-hukm illa lillah,
> > > sehingga Rasul pun harus merujuk kepada Allah SWT (dalam hal ini
> > > Al-Quran), ketika hendak menetapkan hukum.
> > >
> > > Kalau persoalannya hanya terbatas seperti apa yang dikemukakan di
> > > atas, maka jalan keluarnya mungkin tidak terlalu sulit, apabila fungsi
> > > Al-Sunnah terhadap Al-Quran didefinisikan sebagai bayan murad Allah
> > > (penjelasan tentang maksud Allah) sehingga apakah ia merupakan
> > > penjelasan penguat, atau rinci, pembatas dan bahkan maupun tambahan,
> > > kesemuanya bersumber dari Allah SWT. Ketika Rasul saw. melarang
> > > seorang suami memadu istrinya dengan bibi dari pihak ibu atau bapak
> > > sang istri, yang pada zhahir-nya berbeda dengan nash ayat Al-Nisa'
> > > ayat 24, maka pada hakikatnya penambahan tersebut adalah penjelasan
> > > dari apa yang dimaksud oleh Allah SWT dalam firman tersebut.
> > >
> > > Tentu, jalan keluar ini tidak disepakati, bahkan persoalan akan
> > > semakin sulit jika Al-Quran yang bersifat qathi'iy al-wurud itu
> > > diperhadapkan dengan hadis yang berbeda atau bertentangan, sedangkan
> > > yang terakhir ini yang bersifat zhanniy al-wurud. Disini, pandangan
> > > para pakar sangat beragam. Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Al-Sunnah
> > > Al-Nabawiyyah Baina Ahl Al-Fiqh wa Ahl Al-Hadits, menyatakan bahwa
> > > "Para imam fiqih menetapkan hukum-hukum dengan ijtihad yang luas
> > > berdasarkan pada Al-Quran terlebih dahulu. Sehingga, apabila mereka
> > > menemukan dalam tumpukan riwayat (hadits) yang sejalan dengan
> > > Al-Quran, mereka menerimanya, tetapi kalau tidak sejalan, mereka
> > > menolaknya karena Al-Quran lebih utama untuk diikuti."
> > >
> > > Pendapat di atas, tidak sepenuhnya diterapkan oleh ulama-ulama fiqih.
> > > Yang menerapkan secara utuh hanya Imam Abu Hanifah dan
> > > pengikut-pengikutnya. Menurut mereka, jangankan membatalkan kandungan
> > > satu ayat, mengecualikan sebagian kandungannya pun tidak dapat
> > > dilakukan oleh hadis. Pendapat yang demikian ketat tersebut, tidak
> > > disetujui oleh Imam Malik dan pengikut-pengikutnya. Mereka berpendapat
> > > bahwa al-hadits dapat saja diamalkan, walaupun tidak sejalan dengan
> > > Al-Quran, selama terdapat indikator yang menguatkan hadis tersebut,
> > > seperti adanya pengamalan penduduk Madinah yang sejalan dengan
> > > kandungan hadis dimaksud, atau adanya ijma' ulama menyangkut
> > > kandungannya. Karena itu, dalam pandangan mereka, hadis yang melarang
> > > memadu seorang wanita dengan bibinya, haram hukumnya, walaupun tidak
> > > sejalan dengan lahir teks ayat Al-Nisa' ayat 24.
> > >
> > > Imam Syafi'i, yang mendapat gelar Nashir Al-Sunnah (Pembela
> > > Al-Sunnah), bukan saja menolak pandangan Abu Hanifah yang sangat ketat
> > > itu, tetapi juga pandangan Imam Malik yang lebih moderat. Menurutnya,
> > > Al-Sunnah, dalam berbagai ragamnya, boleh saja berbeda dengan
> > > Al-Quran, baik dalam bentuk pengecualian maupun penambahan terhadap
> > > kandungan Al-Quran. Bukankah Allah sendiri telah mewajibkan umat
> > > manusia untuk mengikuti perintah Nabi-Nya?
> > >
> > > Harus digarisbawahi bahwa penolakan satu hadis yang sanadnya sahih,
> > > tidak dilakukan oleh ulama kecuali dengan sangat cermat dan setelah
> > > menganalisis dan membolak-balik segala seginya. Bila masih juga
> > > ditemukan pertentangan, maka tidak ada jalan kecuali mempertahankan
> > > wahyu yang diterima secara meyakinkan (Al-Quran) dan mengabaikan yang
> > > tidak meyakinkan (hadis).
> > >
> > > Pemahaman atas Makna Hadis
> > >
> > > Seperti dikemukakan di atas, hadis, dalam arti ucapan-ucapan yang
> > > dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw., pada umumnya diterima
> > > berdasarkan riwayat dengan makna, dalam arti teks hadis tersebut,
> > > tidak sepenuhnya persis sama dengan apa yang diucapkan oleh Nabi saw.
> > > Walaupun diakui bahwa cukup banyak persyaratan yang harus diterapkan
> > > oleh para perawi hadis, sebelum mereka diperkenankan meriwayatkan
> > > dengan makna; namun demikian, problem menyangkut teks sebuah hadis
> > > masih dapat saja muncul. Apakah pemahaman makna sebuah hadis harus
> > > dikaitkan dengan konteksnya atau tidak. Apakah konteks tersebut
> > > berkaitan dengan pribadi pengucapnya saja, atau mencakup pula mitra
> > > bicara dan kondisi sosial ketika diucapkan atau diperagakan? Itulah
> > > sebagian persoalan yang dapat muncul dalam pembahasan tentang
> > > pemahaman makna hadis.
> > >
> > > Al-Qarafiy, misalnya, memilah Al-Sunnah dalam kaitannya dengan pribadi
> > > Muhammad saw. Dalam hal ini, manusia teladan tersebut suatu kali
> > > bertindak sebagai Rasul, di kali lain sebagai mufti, dan kali ketiga
> > > sebagai qadhi (hakim penetap hukum) atau pemimpin satu masyarakat atau
> > > bahkan sebagai pribadi dengan kekhususan dan keistimewaan manusiawi
> > > atau kenabian yang membedakannya dengan manusia lainnya. Setiap hadis
> > > dan Sunnah harus didudukkan dalam konteks tersebut.
> > >
> > > Al-Syathibi, dalam pasal ketiga karyanya, Al-Muwafaqat, tentang
> > > perintah dan larangan pada masalah ketujuh, menguraikan tentang
> > > perintah dan larangan syara'. Menurutnya, perintah tersebut ada yang
> > > jelas dan ada yang tidak jelas. Sikap para sahabat menyangkut perintah
> > > Nabi yang jelas pun berbeda. Ada yang memahaminya secara tekstual dan
> > > ada pula yang secara kontekstual.
> > >
> > > Suatu ketika, Ubay ibn Ka'ab, yang sedang dalam perjalanan menuju
> > > masjid, mendengar Nabi saw. bersabda, "Ijlisu (duduklah kalian)," dan
> > > seketika itu juga Ubay duduk di jalan. Melihat hal itu, Nabi yang
> > > mengetahui hal ini lalu bersabda kepadanya, "Zadaka Allah tha'atan."
> > > Di sini, Ubay memahami hadis tersebut secara tekstual.
> > >
> > > Dalam peperangan Al-Ahzab, Nabi bersabda, "Jangan ada yang shalat
> > > Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah." Sebagian memahami teks
> > > hadis tersebut secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar walaupun
> > > waktunya telah berlalu --kecuali di tempat itu. Sebagian lainnya
> > > memahaminya secara kontekstual, sehingga mereka melaksanakan shalat
> > > Ashar, sebelum tiba di perkampungan yang dituju. Nabi, dalam kasus
> > > terakhir ini, tidak mempersalahkan kedua kelompok sahabat yang
> > > menggunakan pendekatan berbeda dalam memahami teks hadis.
> > >
> > > Imam Syafi'i dinilai sangat ketat dalam memahami teks hadis, tidak
> > > terkecuali dalam bidang muamalat. Dalam hal ini, Al-Syafi'i
> > > berpendapat bahwa pada dasarnya ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis
> > > Nabi saw., harus dipertahankan bunyi teksnya, walaupun dalam bidang
> > > muamalat, karena bentuk hukum dan bunyi teks-teksnya adalah
> > > ta'abbudiy, sehingga tidak boleh diubah. Maksud syariat sebagai
> > > maslahat harus dipahami secara terpadu dengan bunyi teks, kecuali jika
> > > ada petunjuk yang mengalihkan arti lahiriah teks.
> > >
> > > Kajian 'illat, dalam pandangan Al-Syafi'i, dikembangkan bukan untuk
> > > mengabaikan teks, tetapi untuk pengembangan hukum. Karena itu, kaidah
> > > al-hukm yaduru ma'a illatih wujud wa 'adam,115 hanya dapat diterapkan
> > > olehnya terhadap hasil qiyas, bukan terhadap bunyi teks Al-Quran dan
> > > hadis. Itu sebabnya Al-Syafi'i berpendapat bahwa lafal yang
> > > mengesahkan hubungan dua jenis kelamin, hanya lafal nikah dan zawaj,
> > > karena bunyi hadis Nabi saw. menyatakan, "Istahlaltum furujahunna bi
> > > kalimat Allah (Kalian memperoleh kehalalan melakukan hubungan seksual
> > > dengan wanita-wanita karena menggunakan kalimat Allah)", sedangkan
> > > kalimat (lafal) yang digunakan oleh Allah dalam Al-Quran untuk
> > > keabsahan hubungan tersebut hanya lafal zawaj dan nikah.
> > >
> > > Imam Abu Hanifah lain pula pendapatnya. Beliau sependapat dengan
> > > ulama-ulama lain yang menetapkan bahwa teks-teks keagamaan dalam
> > > bidang ibadah harus dipertahankan, tetapi dalam bidang muamalat, tidak
> > > demikian. Bidang ini menurutnya adalah ma'qul al-ma'na, dapat
> > > dijangkau oleh nalar. Kecuali apabila ia merupakan ayat-ayat Al-Quran
> > > yang berkaitan dengan perincian, maka ketika itu ia bersifat
> > > ta'abbudiy juga. Teks-teks itu, menurutnya, harus dipertahankan, bukan
> > > saja karena akal tidak dapat memastikan mengapa teks tersebut yang
> > > dipilih, tetapi juga karena teks tersebut diterima atas dasar qath'iy
> > > al-wurud. Dengan alasan terakhir ini, sikapnya terhadap teks-teks
> > > hadis menjadi longgar. Karena, seperti dikemukakan di atas,
> > > periwayatan lafalnya dengan makna dan penerimaannya bersifat zhanniy.
> > >
> > > Berpijak pada hal tersebut di atas, Imam Abu Hanifah tidak segan-segan
> > > mengubah ketentuan yang tersurat dalam teks hadis, dengan alasan
> > > kemaslahatan. Fatwanya yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan
> > > nilai, atau membenarkan keabsahan hubungan perkawinan dengan lafal
> > > hibah atau jual beli, adalah penjabaran dari pandangan di atas.
> > > Walaupun demikian, beliau tidak membenarkan pembayaran dam tamattu'
> > > dalam haji, atau qurban dengan nilai (uang) karena kedua hal tersebut
> > > bernilai ta'abudiy, yakni pada penyembelihannya.
> > >
> > > Demikianlah beberapa pandangan ulama yang sempat dikemukakan tentang
> > > hadis.
> > >
> > > Catatan kaki
> > > 115 Ketetapan hukum selalu berkaitan dengan 'illat (motifnya). Bila
> > > motifnya ada, hukumnya bertahan; dan bila motif nya gugur, hukumnya
> > > pun gugur.
> > >
> > >
> > > MEMBUMIKAN AL-QURAN
> > > Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat
> > > Dr. M. Quraish Shihab
> > > Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996
> > > Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
> > > Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038
> > > mailto:mizan@
> > >
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> >
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejaht...@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelism...@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    wanita-muslimah-dig...@yahoogroups.com 
    wanita-muslimah-fullfeatu...@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke