Penjara tempat eksekusi mati hanya berjarak 5 km dari rumah saya.
Biasanya eksekusi dilakukan dini hari Kamis,
walaupun di negara bagian ini sudah sangat jarang.
Semenjak Rabu sore kalau saya lewat situ sudah ada orang yang protes
dan mulai ramai pasang spanduk dan menyalakan lilin mendekati tengah malam.

Persoalannya bukan itu.

Apakah Pemerintah Swedia dan EU menawarkan suaka politik untuk
para terpidana mati ini? Ataukah menonton saja?

Sama bukan dengan RI yang menahan diri untuk campur tangan urusan dalam
negeri orang lain?
(lha wong urusan dalam negeri sendiri aja morat marit hehehe)


2010/8/5 sunny <am...@tele2.se>

>
>
> Apakah tidak boleh diusulkan atau dipertanyakan?
>
> Anda berdiam dan tentunyaa orang berwarga negara Amerika tetapi tidak tahu
> bahwa tiap kali orang dihukum mati selalu ada saja yang protes?
>
>
> ----- Original Message -----
> From: "Dwi Soegardi" <soega...@gmail.com <soegardi%40gmail.com>>
> To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com <wanita-muslimah%40yahoogroups.com>>
> Sent: Thursday, August 05, 2010 12:09 PM
> Subject: Re: [wanita-muslimah] Iran rejects Brazil asylum for woman facing
> stoning
>
> > Tiap kali ada orang dihukum mati di Amerika, baru-baru ini di Jepang,
> > apakah Swedia, EU dll menawarkan suaka politik untuk para terpidana itu.,
> > ataukah mereka sekedar menonton saja?
> >
> >
> >
> > 2010/8/5 sunny <am...@tele2.se <ambon%40tele2.se>>
> >
> >>
> >>
> >> Pak HMNA,
> >>
> >> Apa yang saya bisa tangkap dari uraian dan konklusi Anda ialah NKRI
> >> berfalsafah "penonton" orang dirajam.
> >>
> >> Wassalam,
> >>
> >>
> >> ----- Original Message -----
> >> From: H. M. Nur Abdurahman
> >> To: wanita-muslimah@yahoogroups.com 
> >> <wanita-muslimah%40yahoogroups.com><wanita-muslimah%
> 40yahoogroups.com>
> >> Sent: Thursday, August 05, 2010 12:09 AM
> >> Subject: Re: [wanita-muslimah] Iran rejects Brazil asylum for woman
> >> facing
> >> stoning
> >>
> >> ----- Original Message -----
> >> From: "sunny" <am...@tele2.se <ambon%40tele2.se> <ambon%40tele2.se>>
> >> To: <Undisclosed-Recipient:;>
> >> Sent: Wednesday, August 04, 2010 16:09
> >> Subject: [wanita-muslimah] Iran rejects Brazil asylum for woman facing
> >> stoning
> >>
> >> Refleksi : Kalau Iran menolak Brazil mungkin bisa dimenegerti, karena
> >> agama
> >> di Brasil umumnya adalah kristen Katholik. Tetapi, kalau pemerintah NKRI
> >> mengajukan permohonan atas dasar kemanusiaan negeri Muslim terbesar di
> >> dunia
> >> untuk memberikan perlindungan suaka kepada wanita yang dihukum mati
> >> dengan
> >> dilempari batu (hukum rajam) mungkin bisa dikabulkan. Apakah pemerintah
> >> NKRI
> >> bersedia mengajukan permohonan ini?
> >>
> >>
> #####################################################################################################
> >> HMNA:
> >> Konstitusi Republik Indonesia, UUD -1945, lahir dari Proklamasi
> >> Kemerdekaan
> >> Indonesia 17 Agusutus 1945 dan berakhir setelah Negara Republik
> Indonesia
> >> Serikat, di mana diberlakukan Konstitusi Republik Indonesia Serikat,
> >> dengan
> >> pengecualian UUD-1945 hanya berlaku dalam Negara Bagian RI Yogyakarta
> dan
> >> Aceh. Setelah RIS bubar, semua Negara Bagian melebur diri dalam Negara
> >> Repuslik Indonesia dengan UUD-Sementara 1950. Konsekwensi peleburan itu
> >> berakhirlah pula Negara Bagian Yogyakarta dan Aceh, sehingga UUD-1945
> >> habis
> >> riwayatnya secara mutlak. Untuk menghilangkan status Sementara menjadi
> >> UUD
> >> definitif, maka UUDS mengamanatkan dalam Pasal 134 UUDS 1950 pembentukan
> >> Lembaga Konstituante melalui Pemilu. Berdasarkan hasil Pemilu 1955,
> >> terbentuklah Konstituante beranggotakan 550 orang.
> >>
> >> Sampai tahun 1959, Konstituante belum berhasil membentuk UUD baru. Pada
> >> saat bersamaann, Presiden Soekarno menyampaikan konsepsinya tentang
> >> Demokrasi Terpimpin. Sejak itu diadakanlah pemungutan suara untuk
> >> menentukan
> >> Indonesia kembali ke UUD 1945. Dari 3 pemungutan suara yang dilakukan,
> >> sebenarnya mayoritas anggota menginginkan kembali ke UUD 1945, namun
> >> terbentur dengan jumlah yang tidak mencapai 2/3 suara keseluruhan.
> >> Setelah
> >> voting ketiga, serempak para fraksi memutuskan tidak akan lagi mengikuti
> >> sidang Konstituante setelah reses 3 Juli 1959. Keadaan gawat inilah yang
> >> menyebabkan Presiden Soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959,
> >> yang
> >> mengakhiri riwayat lembaga ini.
> >>
> >> Tap MPRS No.XX/MPRS/1966, yang telah dikukuhkan oleh Tap MPR
> >> No.V/MPR/1973,
> >> telah menetapkan Dekrit 5 Juli 1960 sebagai sumber hukum, di samping
> >> sumber
> >> hukum Proklamasi 17 Agustus 1945. Dekrit 5 Juli 1960 tersebut menyatakan
> >> Piagam Jakarta menjiwai UUD-1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian
> >> kesatuan dengan UUD-1945.
> >>
> >> Piagam Jakarta sesungguhnya dibuat untuk dijadikan Muqaddimah UUD kelak,
> >> yang juga sekaligus dipersiapkan untuk dibacakan dalam maklumat
> >> (proklamasi)
> >> kemerdekaan Indonesia. Itulah sebabnya maka Piagam Jakarta hampir
> identik
> >> dengan Pembukaan UUD-1945, yang perbedaannya hanya terletak dalam dua
> >> hal:
> >> Muqaddimah vs Pembukaan dan Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan
> >> Syari'at
> >> Islam bagi Pemeluk-pemeluknya vs Ketuhanan Yang Maha Esa. Disebut dengan
> >> Piagam Jakarta, karena Muqaddimah UUD yang akan dibacakan dalam maklumat
> >> kemerdekaan Indonesia, adalah sebuah piagam yang dibuat di Jakarta pada
> >> 22
> >> Juni 1945 oleh Panitia Sembilan yang terdiri dari sembilan orang, yaitu:
>
> >> Ir
> >> Soekarno sebagai ketua merangkap anggota, Drs.Moh Hatta, Mr AA Maramis,
> >> KH
> >> Wahid Hasyim, Abd.Kahar Moedzakkir, Abikoesno Tjokrosoejoso, H.Agoes
> >> Salim,
> >> Mr Ahmad Soebardjo, Mr Moh.Yamin.
> >>
> >> Piagam Jakarta yang dipersiapkan untuk dibacakan dalam maklumat
> >> kemerdekaan
> >> Indonesia urung dilaksanakan, karena sejarah berkata lain. Bung Karno
> dan
> >> Bung Hatta pada 15 Agustus 1945 larut malam diciduk oleh pemuda ke
> Rengas
> >> Dengklok dan di sana didesak untuk memproklamasikan kemerdekaan
> >> Indonesia.
> >> Atas jaminan Mr Ahmad Soebardjo kedua pemimpin itu dikembalikan ke
> >> Jakarta
> >> pada malam 16 Agustus 1945 dengan janji akan memproklamasikan
> kemerdekaan
> >> Indonesia pada pagi-pagi keesokan harinya 17 Agustus 1945. Karena naskah
> >> Piagam Jakarta tidak ditemukan malam itu, berhubung keberangkatan yang
> >> tergesa-gesa karena diciduk pada larut malam 15 Agustus itu, maka
> >> dibuatlah
> >> teks proklamasi berdasarkan ingatan alinea ketiga Piagam Jakarta.
> >> Sehingga
> >> diambillah bagian kalimat terakhir dari alinea ketiga Piagam Jakarta:
> >> rakyat
> >> Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya. Kata "rakyat Indonesia"
> >> diganti dengan "kami bangsa Indonesia". Inilah yang dijadikan bagian
> >> pertama
> >> dari teks proklamasi. Bung Hatta kemudian mengusulkan tambahan untuk
> >> menegaskan status hukum peralihan kekuasaan dan itulah yang menjadi
> >> bagian
> >> kedua dari teks proklamasi: Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan
> >> dan
> >> lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang
> >> sesingkat-singkatnya. Teks itulah yang dibacakan pada 17 Agustus 1945
> jam
> >> 10.00 pagi. Karena bukan Piagam Jakarta yang dibaca secara keseluruhan
> >> pada
> >> waktu proklamasi kemerdekaan, akibatnya ialah Republik Indonesia
> >> diproklamasikan tanpa Muaddimah Undang-Undang Dasar, sehingga terjadi
> >> kevakuman UUD selama satu hari, karena UUD-1945 barulah disahkan pada 18
> >> Agustus 1945.
> >>
> >> Maka pertanyaan "sunny" dalam refleksinya: "Apakah pemerintah NKRI
> >> bersedia
> >> mengajukan permohonan ini?," dapatlah dijawab:
> >> "Pemerintah NKRI tidak boleh mengajukan permohonan ini, karena melanggar
> >> sumber hukum Dekrit 5 Juli 1960 yang menetapkan Piagam Jakarta menjiwai
> >> UUD-1945 dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan UUD-1945."
> >> Kalau dalam negeri NKRI di mana menurut sumber hukum Dekrit Presiden 5
> >> Juli
> >> 1959 yang menetapkan Piagam Jakarta merupakan suatu rangkaian kesatuan
> >> dengan UUD-1945, maka suatu perbuatan yang berlawanan dengan menjalankan
> >> Syari'at Islam itu bertentangan dengan sumber hukum Dekrit Presiden 5
> >> Juli
> >> 1959, maka tentu saja bagaimana mungkin pemerintah NKRI bersedia
> >> mengajukan
> >> permohonan supaya Pemerintah Iran tidak melaksanakan Syari'at Islam
> >> membatalkan hukuman mati Sakineh Mohammadi Ashtiani ?"
> >>
> >>
> >>
> #######################################################################################
> >>
> >> http://www.kuwaittimes.net/read_news.php?newsid=MTIwNTU2NDQ5
> >>
> >> Iran rejects Brazil asylum for woman facing stoning
> >> Published Date: August 04, 2010
> >>
> >> TEHRAN: Iran yesterday rejected an offer by Brazilian President Luiz
> >> Inacio
> >> Lula da Silva to give asylum to an Iranian woman sentenced to death by
> >> stoning, the Foreign Ministry spokesman said. The sentence imposed on
> >> Sakineh Mohammadi Ashtiani for an extra-marital relationship, which she
> >> denies, has angered human rights groups and caused an international
> >> outcry.
> >> Tehran has suspended the sentence, pending a review by the country's
> >> judiciary but it could still be carried out.
> >>
> >> Lula called on Iranian President Mahmoud Ahmadinejad last month to allow
> >> Brazil to give refuge to Mohammadi Ashtiani. "From what we know about Mr
>
> >> da
> >> Silva, he has a humane and sensitive character and probably he has not
> >> been
> >> provided with enough information," Foreign Ministry spokesman Ramin
> >> Mehmanparast told a news conference. "We can give details of this
> >> person's
> >> crimes, who has been convicted, and then I think the issue will be
> >> clarified
> >> for him," Mehmanparast said.
> >>
> >> Iran and Brazil have drawn closer this year after Brazil and Turkey
> >> brokered a proposed compromise deal on Iran's uranium enrichment work,
> >> which
> >> the West fears is a cover for developing a nuclear bomb. Tehran rejects
> >> the
> >> accusation, saying it only wants to generate electricity. Murder,
> >> adultery,
> >> rape, armed robbery, apostasy and drug trafficking are all punishable by
> >> death under Iran's sharia law, enforced since the 1979 Islamic
> >> revolution.
> >>
> >> Human rights group Amnesty International has said Mohammadi Ashtiani was
> >> convicted in 2006 of having an "illicit relationship" with two men and
> >> received 99 lashes as her sentence. The rights group said that, despite
> >> this, she was subsequently convicted of "adultery while being married",
> >> which it said she denied, and was sentenced to death by stoning. Amnesty
>
> >> has
> >> listed Iran as the world's second most prolific executioner in 2008
> after
> >> China, and says it put to death at least 346 people in 2008. The Iranian
> >> authorities routinely dismiss charges of rights abuses, saying they are
> >> following Islamic sharia.-Reuters
> >>
> >> [Non-text portions of this message have been removed]
> >>
> >> [Non-text portions of this message have been removed]
> >>
> >>
> >>
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
> > ------------------------------------
> >
> > =======================
> > Milis Wanita Muslimah
> > Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
> > Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
> > Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
> > ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
> > Kirim Posting 
> > mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com<wanita-muslimah%40yahoogroups.com>
> > Berhenti 
> > mailto:wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com<wanita-muslimah-unsubscribe%40yahoogroups.com>
> > Milis Keluarga Sejahtera 
> > mailto:keluarga-sejaht...@yahoogroups.com<keluarga-sejahtera%40yahoogroups.com>
> > Milis Anak Muda Islam 
> > mailto:majelism...@yahoogroups.com<majelismuda%40yahoogroups.com>
> >
> > Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
>
>  
>



-- 
http://www.genderpedia.org
Proyek Ensiklopedia Gender Online


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejaht...@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelism...@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    wanita-muslimah-dig...@yahoogroups.com 
    wanita-muslimah-fullfeatu...@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke