Kalau merujuk pada Al Qur'an, mendekati zina saja tidak boleh apalagi 
bersinggungan dengan menghisap puting wanita dewasa dan yang menghisap juga 
pria dewasa alias bukan anak-anak lagi, dengan merujuk hadits demi mengubah 
status menjadi mahram memiliki beberapa kejanggalan :

1) umumnya hadits yang menjelaskan hubungan mahram karena susuan adalah yang 
disusui itu berstatus masih anak-anak bukan orang dewasa, silakan dicek 
beberapa hadits mengenai ibu susuan.
2) Pria dewasa menetek kepada wanita dewasa lebih banyak mudaratnya daripada 
manfaatnya. Fatwa tsb Juga akan menuai masalah, suami mana atau calon suami 
mana yang merelakan istrinya atau calon istrinya menyusui rekan sekerjanya yang 
berjenis kelamin pria untuk menghisap puting istrinya ? demi mengubah status 
mahram ??. Selanjutnya tinggal ditanya kepada hati nurani kaum wanita, wanita 
mana yang merelakan putingnya dihisap rekan kerja pria dewasa (yang tidak punya 
hubungan nasab) hanya demi mengubah status tidak mahram menjadi mahram ??
3) menurut hemat saya, fatwa tsb bukan sindiran bahkan amat jauh, kalau 
olok-olokan lebih tepat bahkan lebih pantas apabila fatwa tsb memberikan dampak 
bahan ejekan bagi non muslim.
4) kita membutuhkan out of the box of thinking tetapi yang tidak lepas context 
apalagi mengundang ejekan dan olok-olokan logika, moral, etika dan akhlaq.

Wassalam
Abdul Mu'iz

--- Pada Jum, 6/8/10, Miftaha <miftahalza...@yahoo.com> menulis:

Dari: Miftaha <miftahalza...@yahoo.com>
Judul: [wanita-muslimah] Re: Mati ketawa ala fatwa
Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Tanggal: Jumat, 6 Agustus, 2010, 12:44 AM







 



  


    
      
      
      Mengingat status dan kapasitas beliau ini yang pastilah seorang 
intelektual, bukan tidak mungkin fatwa aneh yang diberikannya itu sebenarnya 
hanyalah sebuah sindiran atau semacam olok-olok, atau paling tidak sebuah 
guyonan. Masa keanehan hal semacam itu tidak terpikirkan olehnya? Tidak perlu 
menjadi seorang doktor untuk bisa merasakan kejanggalan fatwa semacam itu. 



--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, Abdul Muiz عبد المعز 
<mui...@...> wrote:

>

> Ulama yang mefatwakan dimaksud adalah Dr. Ezzat Atiyyah sekitar April 2007, 
> Dr Ezzat Atiyyah adalah kepala Jurusan Hadits di Fakultas Usuluddin 
> Universitas Al-Azhar, Kairo, berpendapat bahwa seorang karyawan yang bekerja 
> di ruangan tertutup dan berduaan dengan seorang karyawati lain yang bukan 
> "mahram", boleh menetek dari perempuan itu untuk menghindari larangan 
> khalwat. Dengan menetek dari perempuan itu, karyawan tersebut berubah status 
> menjadi seorang anak dari perempuan tersebut, dan dengan demikian keduanya 
> boleh ber-khalwat.

> 

> Fatwa ini didasarkan kepada sebuah hadis yang sahih. Orang-orang terperangah 
> mendengar fatwa itu. Akibat fatwa ini, Dr. Ezzat dipecat oleh pihak 
> universitas Al-Azhar, karena dalam penilaian yang terakhir itu, fatwa 
> tersebut menyebabkan kebingungan dalam masyarakat, dan menjadikan Islam 
> sebagai bahan olok-olok di mata orang luar Islam. 

> 

> Wassalam

> Abdul Mu'iz

> 

> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Yudi Yuliyadi" <yudi@> wrote:

> >

> > Boleh tahu siapa ulama yang memfatwakan demikian?


 



  







[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke