Menghalalkan yang haram dengan akal-akalan.

    Satu generasi sebelum generasi saya adalah generasi  terakhir yang masih 
menjumpai Selayar sebagai penghasil jeruk manis.  Jika musim jerus manis tiba, 
maka aktiflah pula pedagang musiman  yang berdagang  jeruk manis. Modal 
pedagang musiman itu  berasal  dari hasil  "penjualan"  ringgit  emas pada  
"pedagang  khusus"  emas. Seperti  lazimnya  harga  jual emas  berbeda  dengan  
harga  beli (bandingkan  misalnya harga beli uang seumpama $  berbeda  dengan 
harga  jualnya  di bank). Biasanya waktu itu harga  jual  ringgit emas 2% lebih 
rendah,  sedangkan  harga beli lebih tinggi 2% dari harga  di  pasar  bebas. 
Setelah  pedagang  musiman  itu  selesai berdagang  jeruk,  maka mereka itu 
pergi  pula  kepada  "pedagang 
khusus"  emas  yang bersangkutan menanyakan apakah  ada  tersedia ringgit  emas 
 yang  akan "dijual". Maka  "pedagang  khusus"  itu menjawab tersedia ringgit 
emas yang akan "dijual", yang jumlahnya sebanyak  keping ringgit emas yang 
pernah "dijual" oleh  pedagang musiman  itu  kepada  "pedagang  khusus"  itu  
sebelumnya.   Maka terjadilah pula transaksi "jual-beli", sehingga pedagang  
musiman itu  memperoleh lagi keping ringgit emasnya, yang  akan  "dijual" nanti 
 pada musim jeruk tahun berikutnya untuk mendapatkan  modal berdagang jeruk.  
Namun  transaksinya berbeda dengan harga pasar, harga jual dahulu 20& lebih  
rendah,  namun  harga beli 20& lebih tinggi dari "pedagang  khusus" emas itu 
ketimbang harga pasar .

    Apa  yang  terjadi dalam proses akal-akalan jual beli  ringgit  emas  itu 
kelihatannya tidak  melanggar  syari'at menurut Al Quran:

    Ahalla  Llahu lBay'a wa Harrama rRibaw- (S.Al Baqarah,  275). Allah 
menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.

    Akan  tetapi kalau kita melihatnya menurut kacamata  hakikat, maka  proses  
"jual-beli" antara "pedagang  khusus"  emas  dengan pedagang  musiman  itu, 
yakni: "Pedagang khusus"  emas itu pada hakikatnya adalah bankir  gelap,  
rentenir 
pemakan  riba yang biasa dijuluki dengan ungkapan  lintah  darat, yang mendapat 
keuntungan 40% dalam waktu 2 bulan.

                              ***

    Dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi karangan Bung Karno  ada pula cerita 
yang menarik. Walaupun buku itu sudah tidak ada  pada saya  (dipinjam  teman  
dan  tidak  dikembalikan),  namun   masih mengendap  dalam  ingatan  saya. Di 
suatu tempat  di  Jawa  Barat terdapat   sebuah  rumah  "penghulu".  Orang  
yang   menginginkan "isteri" dapat datang ke rumah itu yang menyediakan 
"calon-calon" isteri.  Apabila  terjalin kesepakatan antara  yang  bersangkutan 
dengan "penghulu" dan "calon isteri", maka "yang mencari  isteri" dinikahkanlah 
 dengan "calon isteri" oleh "penghulu", di  hadapan para "saksi". Bung Karno 
mengeritik hal ini, bagaimana  pelacuran dapat dihalalkan dengan akal-akalan. 

Bukankah secara hakikat "yang mencari  isteri"  itu adalah pelanggan yang  
hidung   belang, "penghulu"  pada  hakikatnya  adalah germo,  "calon  isteri"  
itu secara  hakikat adalah pelacur, dan para "saksi" adalah  karyawan rumah 
bordel itu? WaLlahu A'lamu bi shShawab.

Wassalam, 
HMNA


----- Original Message ----- 
From: "Abdul Muiz" <mui...@yahoo.com>
To: <wanita-muslimah@yahoogroups.com>
Sent: Friday, August 06, 2010 04:04
Subject: Bls: [wanita-muslimah] Re: Mati ketawa ala fatwa


Kalau merujuk pada Al Qur'an, mendekati zina saja tidak boleh apalagi 
bersinggungan dengan menghisap puting wanita dewasa dan yang menghisap juga 
pria dewasa alias bukan anak-anak lagi, dengan merujuk hadits demi mengubah 
status menjadi mahram memiliki beberapa kejanggalan :

1) umumnya hadits yang menjelaskan hubungan mahram karena susuan adalah yang 
disusui itu berstatus masih anak-anak bukan orang dewasa, silakan dicek 
beberapa hadits mengenai ibu susuan.
2) Pria dewasa menetek kepada wanita dewasa lebih banyak mudaratnya daripada 
manfaatnya. Fatwa tsb Juga akan menuai masalah, suami mana atau calon suami 
mana yang merelakan istrinya atau calon istrinya menyusui rekan sekerjanya yang 
berjenis kelamin pria untuk menghisap puting istrinya ? demi mengubah status 
mahram ??. Selanjutnya tinggal ditanya kepada hati nurani kaum wanita, wanita 
mana yang merelakan putingnya dihisap rekan kerja pria dewasa (yang tidak punya 
hubungan nasab) hanya demi mengubah status tidak mahram menjadi mahram ??
3) menurut hemat saya, fatwa tsb bukan sindiran bahkan amat jauh, kalau 
olok-olokan lebih tepat bahkan lebih pantas apabila fatwa tsb memberikan dampak 
bahan ejekan bagi non muslim.
4) kita membutuhkan out of the box of thinking tetapi yang tidak lepas context 
apalagi mengundang ejekan dan olok-olokan logika, moral, etika dan akhlaq.

Wassalam
Abdul Mu'iz

--- Pada Jum, 6/8/10, Miftaha <miftahalza...@yahoo.com> menulis:

Dari: Miftaha <miftahalza...@yahoo.com>
Judul: [wanita-muslimah] Re: Mati ketawa ala fatwa
Kepada: wanita-muslimah@yahoogroups.com
Tanggal: Jumat, 6 Agustus, 2010, 12:44 AM











  


    
      
      
      Mengingat status dan kapasitas beliau ini yang pastilah seorang 
intelektual, bukan tidak mungkin fatwa aneh yang diberikannya itu sebenarnya 
hanyalah sebuah sindiran atau semacam olok-olok, atau paling tidak sebuah 
guyonan. Masa keanehan hal semacam itu tidak terpikirkan olehnya? Tidak perlu 
menjadi seorang doktor untuk bisa merasakan kejanggalan fatwa semacam itu. 



--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, Abdul Muiz عبد اÙ"Ù.عز 
<mui...@...> wrote:

>

> Ulama yang mefatwakan dimaksud adalah Dr. Ezzat Atiyyah sekitar April 2007, 
> Dr Ezzat Atiyyah adalah kepala Jurusan Hadits di Fakultas Usuluddin 
> Universitas Al-Azhar, Kairo, berpendapat bahwa seorang karyawan yang bekerja 
> di ruangan tertutup dan berduaan dengan seorang karyawati lain yang bukan 
> "mahram", boleh menetek dari perempuan itu untuk menghindari larangan 
> khalwat. Dengan menetek dari perempuan itu, karyawan tersebut berubah status 
> menjadi seorang anak dari perempuan tersebut, dan dengan demikian keduanya 
> boleh ber-khalwat.

> 

> Fatwa ini didasarkan kepada sebuah hadis yang sahih. Orang-orang terperangah 
> mendengar fatwa itu. Akibat fatwa ini, Dr. Ezzat dipecat oleh pihak 
> universitas Al-Azhar, karena dalam penilaian yang terakhir itu, fatwa 
> tersebut menyebabkan kebingungan dalam masyarakat, dan menjadikan Islam 
> sebagai bahan olok-olok di mata orang luar Islam. 

> 

> Wassalam

> Abdul Mu'iz

> 

> --- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Yudi Yuliyadi" <yudi@> wrote:

> >

> > Boleh tahu siapa ulama yang memfatwakan demikian?


 



  







[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejaht...@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelism...@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke