http://female.kompas.com/read/xml/2010/08/07/17413897/80.Persen.Bayi.Indonesia.Alami.Masalah.Kulit-12


80 Persen Bayi Indonesia Alami Masalah Kulit

Sabtu, 7/8/2010 | 17:41 WIB
KOMPAS.com - "Sekitar 80 persen kulit bayi di Indonesia bermasalah," ujar dr 
Titi Lestari Sugito, SpKK, Ketua PPP Persatuan Dokter Spesialis Kulit dan 
Kelamin Indonesia. Hal ini ia sampaikan pada acara Johnson's Baby Day yang 
berlangsung pada hari Sabtu (7/8/2010) di Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta.

Diterangkan oleh dr Titi, karakteristik kulit anak adalah sensitif, lembut, dan 
mudah teriritasi. Kulit merupakan organ terluar dan merupakan lini perlindungan 
pertama pada anak, "Sehingga, jika terjadi sesuatu pada anak, kulitlah yang 
akan paling dulu terkena. Kulit merupakan barrier pertama si anak. Lebih dari 
80 persen anak pernah alami masalah kulit."

Itulah mengapa, ketika tidak terawat dengan benar, akan timbul masalah pada 
kulit. Pada dasarnya, struktur kulit bayi atau anak hampir sama dengan kulit 
orang dewasa. Namun, fungsinya belum berkembang sempurna. Penting untuk orang 
yang mengasuh bayi agar memerhatikan benar kesehatan kulit si bayi.

Dalam presentasinya, dr Titi menyampaikan beberapa penyakit kulit yang paling 
banyak menghinggapi anak-anak dan bayi, di antaranya:

- Dermatitis Atopik
Penyakit kulit ini biasa juga disebut dengan eksim susu. Ini adalah penyakit 
kulit terbanyak yang ditemukan pada anak-anak. Hal ini ditengarai dicetuskan 
oleh faktor eksternal, seperti detergen, polusi, debu, dan keringat akibat 
aktivitas. Ia terlihat seperti radang kronik (kemerahan), berulang, terasa 
gatal, dan bisa terjadi karena hipersensitivitas.

- Miliria
Dikenal juga dengan keringat buntet, penyakit ini juga sering sekali ditemukan 
pada anak-anak. Miliria biasanya terjadi pada daerah dahi, dada, dan punggung. 
Ia bisa dicegah dengan menjaga ventilasi udara dan memastikan udara di sekitar 
si anak cukup nyaman dan pakaian yang dikenakan juga menyerap keringat. Selalu 
memastikan kebersihan kulit si bayi dan tidak membiarkan keringatnya mengendap.

- Dermatitis popok
Disebut juga dengan ruam popok, dermatitis popok merupakan kondisi peradangan. 
Dijelaskan oleh dr Titi, belakangan, pasien yang datang akibat masalah ini 
makin banyak. Biasanya kesalahan terjadi pada orang yang mengasuh si bayi 
kurang tanggap terhadap keadaan popok si bayi. Seharusnya, ketika popok sudah 
mulai mau melebihi batas kapasitasnya, segera ganti, jangan biarkan urine 
terlalu banyak mengendap pada popok karena bisa kembali bersentuhan dengan 
kulit si bayi dan menyebabkan iritasi pada kulit. Jumlah urine yang dihasilkan 
oleh bayi berbeda-beda sehingga perlu kejelian dan kewaspadaan dari orang yang 
mengasuh si bayi. Hal ini paling sering terjadi pada waktu malam karena bayi 
paling jarang diganti popoknya pada malam hari.

- Dermatitis seboroik
Sering pula dikenal dengan "sarap", dermatitis seboroik adalah kondisi ketika 
kulit bayi bersisik, berkerak, kemerahan, berminyak, terutama di daerah kepala, 
muka, telinga, dada, dan lipatan. Ini biasanya terjadi karena hormon ibu yang 
menempel pada bayi saat di kandungan. Lama-kelamaan, kulit yang mengelupas ini 
akan hilang, lebih kurang selama 6 bulan.

"Kulit bayi dan anak relatif rentan terhadap berbagai kelainan kulit 
dibandingkan orang dewasa. Amat penting untuk orang yang mengasuh anak agar 
menjaga kesehatan kulit anak dengan selalu menjaga kebersihan kulitnya. 
Sebaiknya, selalu cegah masalah kulit dengan perawatan yang benar: membersihkan 
dengan sabun dan air, selalu melembabkan dengan lotion atau krim, dan gunakan 
bedak untuk mengurangi gesekan pada lipatan kulit anak

Artikel Terkait: 
  a.. 10 Masalah Pada Bayi Baru Lahir 
  b.. Makanan Terlarang untuk Bayi 
  c.. Merawat Kulit Bayi Baru Lahir 
  d.. Masalah Kulit Pada Bayi dan Anak Perlu Diantisipasi 
  e.. Aktivitas Selama Hamil Bikin Jantung Bayi Sehat 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke