Abah HMNA,

kalau membaca penafsiran abah HMNA seri 329 mengenai tentang penciptaan manusia 
dan laki-laki (QS 4:1) dan laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan (QS 4:34) 
tidak jauh berbeda dengan kubu islam liberal atau paling tidak ada semacam 
irisan yang membesar antara pandangan Abah HMNA dengan kubu Islam liberal.

Yang seringkali dimunculkan wacana publik baik oleh kaum islam liberal maupun 
feminis sebagai sasaran kritik adalah ayat-ayat qs atau hadits berikut :

1) nilai bagian warisan laki-laki lebih banyak daripada kaum perempuan (QS 
4:11,12,176) dan hadits Nabi, "Barangsiapa yang tidak menerapkan hukum waris 
yang telah diatur Allah SWT, maka ia tidak akan mendapat warisan 
surga",(muttafak alaih) seringkali pertanyaan yang dimunculkan adalah fenomena 
sosial kultur barat apakah harus diubah mengikuti kultur arab agar sejalan 
dengan bunyi text al qur'an ? atau text qur'an direinterpretasi tanpa mengubah 
kultur barat ?

2) nilai kesaksian satu laki-laki disetarakan dengan dua perempuan (QS 2:282) 
benarkah fakta psikologis mendukung bahwa kaum pria lebih unggul dalam hal 
memberikan kesaksian dibanding kaum perempuan di ranah pengadilan ?? Dari segi 
kajian fiqh di kalangan ulama' madzhab juga belum ada kesepakatan nilai 
kesaksian satu laki-laki disetarakan dengan dua perempuan dalam hal kasus apa : 
Imam Hanafi misalnya hanya setuju untuk kasu nikah, talaq, hiwalah, wakaf, 
wasiat, hibah, ikrar, ibra', kelahiran, nasab. Selain ini boleh saja 
menyetarakan satu pria dan satu perempuan. Imam Malaiki, Syafi'i, dan hanbali 
beda lagi pendapatnya, kesetaraan satu pria dengan dua wanita adalah untuk jual 
beli, sewa, hibah, gadai, dan kafalah lihat 
http://www.badilag.net/data/ARTIKEL/Nilai%20Pembuktian%20Saksi%20Perempuan%20dalam%20Hukum%20Islam.pdf

3) Hadits Nabi sbb : Wanita cerdik di antara mereka bertanya, "Wahai 
Rasulullah, mengapakah kebanyakan dari kami menjadi mayoritas penghuni neraka?" 
Beliau menjawab, "(Karena) kalian sering melaknat dan mengingkari (kebaikan) 
suami, dan tidaklah aku pernah melihat (seorang) di antara kalian para wanita 
yang kurang akal serta agamanya, lebih berakal dari (seorang laki-laki) yang 
berakal". Wanita itu bertanya lagi, "Apa maksud dari kurangnya akal dan agama?" 
Beliau pun menjawab, "Adapun kelemahan akal. karena persaksian dua orang wanita 
sebanding dengan persaksian seorang laki-laki. Inilah (tanda) kurangnya akal, 
serta kalian berdiam selama beberapa hari tidak melaksanakan shalat, serta 
berbuka di (siang hari) Ramadhan. Inilah (indikasi) kurangnya agama. (HR Muslim)

Bagaimana menurut Abah HMNA ??

Wassalam
Abdul Mu'iz

--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "H. M. Nur Abdurahman" 
<mnur.abdurrah...@...> wrote:
>
> BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIYM
> 
> WAHYU DAN AKAL - IMAN DAN ILMU
> [Kolom Tetap Harian Fajar]
> 329. Bukan Theologis Melainkan Sosio-Historis-Kultural
> 
> Partai-partai politik dalam era reformasi ini pada bermunculan, di antaranya 
> Partai Perempuan yang diprakarsai oleh novelis La Rose dan Titi Said. Hemat 
> saya, boleh jadi munculnya Partai Perempuan ini yang antara lain menimbulkan 
> inspirasi dari Kohati Korkom UMI. Yaitu pada hari Kamis 2 Juli 1998 Kohati 
> Korkom UMI menyelenggarakan Dialog Kemuslimahan bertempat di Kampus UMI. Saya 
> mendapat amanah memberikan sekapur sirih. Amanah ini saya terima dalam rangka 
> memperingati Mawlud Nabi Muhammad SAW. Saya padatkan sajian sekapur sirih itu 
> seperti berikut.
> 
> Secara sosio-historis-kultural dalam dunia Islam ada dua pandangan yang 
> saling bertolak belakang di mata kaum laki-laki mengenai aktivitas perempuan 
> "di luar rumah" terutama bagi yang sudah bersuami. Ada yang membolehkan ada 
> yang menolak. Bahkan tidak kurang jumlahnya dari pihak perempuanpun pasrah 
> menerima statusnya dan mencoba berupaya mencintai dan menyenangi kedudukannya 
> sebagai makhluk manusia nomor dua dengan alasan theologis menurut anggapan 
> mereka.
> 
> Sebenarnya pandangan bahwa kaum perempuan adalah sub-ordinat dari kaum 
> laki-laki bertolak dari kisah bahwa Sitti Hawa itu diciptakan Allah dari 
> tulang rusuk Adam yang dicabut tatkala Adam sedang tidur.(*) Bahkan Sitti 
> Hawa dari tulang rusuk Adam ini dijadikan sebagai justifikasi theologis ilmu 
> kejantanan (kaburu'neang) dalam kalangan suku Bugis Makassar, agar kemana 
> saja pergi harus menyisipkan badik di pinggang. Karena belum sempurna sifat 
> jantan dalam dirinya apabila tulang rusuk yang hilang itu tidak disubstitusi 
> dengan badik.
> 
> Sikap pasrah sebagian perempuan sebagai sub-ordinat ini timbul, oleh karena 
> secara theologis mereka merasa bersalah kepada laki-laki. Sitti Hawalah yang 
> mempengaruhi membujuk bahkan merengek Adam supaya makan buah larangan. (Iblis 
> menamakan buah larangan ini dengan buah khuldi, artinya buah kekekalan, 
> khuldi dari akar Kha, Lam, Dal artinya kekal).
> 
> Sebenarnya kisah di atas itu bersumber dari Israiliyat, yaitu produk budaya 
> bangsa Israil, yang tidak berasal dari wahyu yang diturunkan Allah kepada 
> Nabi Musa AS. Di dalam Al Quran tidak ada disebutkan bahwa Sitti Hawa dari 
> tulang rusuk Adam. Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim 
> memang ada disebutkan bahwa perempuan (bukan Sitti Hawa!) dari tulang rusuk 
> (tidak disebutkan dari rusuknya Adam!). Hadits adalah penjelasan Al Quran, 
> akan tetapi tidak menambah substansi. Jadi perempuan dari tulang rusuk, AL 
> Mar.atu min Dhil'In, adalah metaphoris. Apapula jika dibaca Hadits itu secara 
> lengkap, yang artinya: perlakukanlah perempuan itu dengan bijak, karena 
> perempuan itu dari (baca: bersifat) tulang rusuk. Kalau dibiarkan ia bengkok, 
> kalau dikerasi ia patah.
> 
> Kaum perempuan tidak usah dibayang-bayangi rasa bersalah karena Sitti Hawa 
> telah membujuk Adam makan buah larangan, sebab di dalam Al Quran Allah 
> berfirman:
> 
> FaazaLlahuma sysyaytha-nu (S. Al Baqarah, 2:36), maka syaytan menipu keduanya.
> 
> Ayat (2:36) menjelaskan bahwa tidak ada diskriminasi atas Adam dan Sitti 
> Hawa, yaitu keduanya (huma-) sama-sama bersalah.
> 
> Jelaslah bahwa kedudukan diskriminatif perempuan sebagai sub-ordinat 
> laki-laki (wanita dijajah pria sejak dulu menurut nyanyian Sabda Alam), 
> bukanlah bertumpu pada alasan theologis, melainkan hanya bersifat 
> sosio-historis-kultural.
> 
> Memang dari segi jasmani ada perbedaan laki-laki dengan perempuan, sebab pada 
> laki-laki normal hormon jantannya 60%, sedangkan hormon betinanya hanya 40%, 
> sedangkan sebaliknya pada perempuan normal hormon betinanya yang 60%, 
> sedangkan hormon jantannya hanya 40%. Hormon jantan sifatnya keras aktif, 
> hormon betina sifatnya lembut pasif, secara nafsani yang jantan merasa 
> melindungi dan betina merasa dilindungi. Itulah sebabnya dalam konteks 
> kehidupan berumah tangga berlaku qaidah: ar rija-Lu qawwa-muwNna 'ala 
> nnisa-i, laki-laki (baca: suami) itu pemimpin atas perempuan (baca: isteri). 
> Suami adalah Kepala Negara, isteri adalah Menteri Dalam Negeri. Juga di dalam 
> lapangan bulu tangkis perempuan game pada angka 11, sedangkan laki-laki pada 
> angka 15.
> 
> Akan tetapi secara nafsani dan ruhani tidak ada perbedaan antara laki-laki 
> dengan perempuan, yang secara eksplisit dinyatakan oleh Firman Allah:
> 
> Inna lmuslimi-na wa Lmuslima-ti wa lmu'mini-na wa lmu'mina-ti wa lqa-niti-na 
> wa lqa-nita-ti wa shsha-diqi-na wa shsha-diqa-ti wa shsha-biri-na wa 
> shshabira-ti wa lkha-syi-i-na wa lkha-syi'a-ti wa lmutashaddiqi-na wa 
> lmutashaddiqa-ti wa shsha-imi-na wa shsha-ima-ti wa lha-fizhi-na furu-jahum 
> wa lha-fizha-ti wa dzdza-kiri-naLla-ha katsi-ran wa dza-kira-ti a'addaLla-hu 
> maghfiratan wa ajran 'azhi-man (S. Al Ahza-b, 33:35).
> 
> yang artinya: Sesungguhnya orang-orang Islam laki-laki dan orang-orang Islam 
> perempuan, orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan, 
> orang-orang taat laki-laki dan orang-orang taat perempuan, orang-orang benar 
> laki-laki dan orang-orang benar perempuan, orang-orang sabar laki-laki dan 
> orang-orang sabar perempuan, orang-orang khusyu' laki-laki dan orang-orang 
> khusyu' perempuan, orang-orang dermawan laki-laki dan orang-orang dermawan 
> perempuan, orang-orang berpuasa laki-laki dan orang-orang berpuasa perempuan, 
> orang-orang laki-laki yang memelihara kesuciannya dan orang-orang perempuan 
> yang memelihara kesuciannya, orang-orang laki-laki yang berzikir 
> banyak-banyak dan orang-orang perempuan yang berzikir, maka Allah menyediakan 
> bagi mereka pahala yang besar.
> 
> Alhasil para muslimat dapat saja aktif berpolitik dengan persyaratan memiliki 
> sifat-sifat terpuji menurut ayat (33:35) dan bagi yang telah berumah tangga 
> sanggup membagi waktunya dan mendapat izin dari suaminya. Bahkan dapat pula 
> mendirikan Partai Muslimat yang berasaskan Islam, mengapa tidak ?! WaLla-hu 
> a'lamu bishshawab.
> 
> *** Makassar, 5 Juli 1998
>    [H.Muh.Nur Abdurrahman]
> http://waii-hmna.blogspot.com/1998/07/329-bukan-theologis-melainkan-sosio.html

Kirim email ke