Jilbab Muslimah

Diantara 1001 Kerancuan

 

Pada edisi al-Hujjah yang lalu (Jilbab Wanita Muslimah oleh Syaikh Muhammad
Nashiruddin al-Albani) telah dimuat syarat-syarat pakaian yang wajib
dikenakan oleh wanita muslimah sampai dengan mengenakan pakaian yang
memenuhi syari’at . Sehingga jadilah wanita muslimah berbeda dengan wanita
yang bukan muslimah (baca: wanita kafir) dan memang seharusnya demikian.

pada edisi kali ini kami sajikan kepada sidang pembaca hukum berjilbab atas
wanita muslimah, suatu ketetapan yang tidak bisa ditawar-tawar atau ditolak
dengan dalih apapun, karena Allah yang kita sembah dengan ibadah shalat dan
yang lainnya, Dialah juga yang mewajibkan wanita muslimah untuk berjilbab.

Allah berfirman:

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang mu’min:”Hendaklah mereka men julurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun
lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).

 

MAKNA JILBAB

Dalam ayat di atas ada kata jalaabiib, bentuk plural dari mufrodnya (kata
tunggalnya) yaitu jilbab, yang memiliki makna:

1. Kerudung besar yang menutupi semua anggota badan, sebagaimana penjelasan
Imam Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi 14/232).

2. Pakaian yang menutupi semua anggota badan wanita, sebagaimana yang
dituturkan oleh Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qotadah, Hasan Basri, Said bin Jubair,
Ibrahim An-Nakhoi dan Atho’ al­Khurasani. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/424,
Al­Muhalla 3/219).

3. Selimut yang menutupi wajah wanita dan semua anggota badannya tatkala
akan keluar, sebagaimana yang dituturkan Ibnu Sirin. (Lihat Tafsir Ad-Durul
Mansur 6/657, Tafsir Al­Baidhowy 4/284, Tafsir An-Nasafi 3/453 581, Fathul
Qadir 4/304, Ibnu Katsir 6/424 dan Tafsir Abu Su’ud 7/108).

4. Pakaian yang menutup dari atas kepala sampai ke bawah, sebagaimana yang
dituturkan oleh Ibnu Abbas. (Lihat Tafsri Al-Alusy 22/88).

5. Selendang besar yang menutupi kerudung. Sebagaimana yang dituturkan oleh
Ibnu Mas’ud dan para tabi’in. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 6/ 425).

6. Pakaian sejenis kerudung besar yang menutupi semua badan, sebagaimana
yang dituturkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. (Lihat Tafsir Ats­Tsa’labi
2/581).

Dari keterangan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa jilbab bukanlah
kerudung yang digantungkan di leher, bukan pula kerudung tipis yang
kelihatan rambutnya atau kerudung yang hanya menutup sebagian rambut
belakangnya, bukan pula kerudung sebangsa kopyah yang kelihatan lehernya
atau kerudung yang hanya menutup ujung kepala bagian atas seperti ibu suster
dan wanita Nashrani atau kerudung yang kelihatan dadanya, dan bukan pula
selendang kecil yang dikalungkan di pundak kanannya.

 

HUKUM BERJILBAB

Para ulama’ bersepakat bahwa jilbab hukumnya adalah wajib berdasarkan
Al-Quran dan sunnah,

A. Berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an:

 1. Surat A1-Ahzab: 59.

Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.

 2. Surat A1-Ahzab: 33.

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan
bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu.

Perintah wanita agar menetap di rumah menunjukkan keharusan berjilbab
tatkala keluar darinya.

  3. Surat An-Nur: 31

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.

Apabila menampakkan perhiasan saja dilarang bagi wanita, lantas bagaimana
lagi kalau bersolek dan menampakkan keindahan tubuh mereka?!!.

B. Adapun dalil-dalil dari Sunnah:

 1. Hadits yang mengancam wanita tidak masuk surga karena tidak berjilbab.
Rasulullah r bersabda: Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum
pernah melihatnya: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapl, mereka
memukul manusia dengan cambuknya, dan wanita yang kasiyat (berpakain tapi
telanjang baik karena tipis, atau pendek yang tidak menutup semua auratnya),
Mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang) kepala
mereka seperti punuk onta yang berpunuk dua. Mereka tidak masuk surga dan
tidak mendapatkan baunya padahal bau surga itu akan didapati dari sekian dan
sekian (perjalanan 500 th).. (HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik
1421).

  Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa
tabarruj (bersoleknya kaum wanita) termasuk dosa besar”.

  2. Wanita adalah aurat, dia wajib berjilbab. Rasulullah r bersabda:

“Wanita itu adalah aurat, apabila dia keluar akan dibuat indah oleh syetan.”
(Shahih. HR Tirmidzi 1093, Ibnu Hibban dan At-Thabrani dalam kitab Mu’jmu1
Kabir.Lihat A1-Irwa’: 273).

 3. Ummu Salamah berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana wanita berbuat dengan
pakaiannya yang menjulur ke bawah? Beliau r bersabda: Hendaklah mereka
memanjangkan satu jengkäl, lalu ia bertanya lagi: Bagaimana bila masih
terbuka kakinya? Beliau menjawab: “Hendaknya menambah satu hasta, dan tidak
boleh lebih”. (HR. Tirmidzi 653 dan berkata:“Hadits hasan shahih”).

 4. Kisah wanita yang akan berangkat menunaikan shalat ‘ied, ia tidak
memiliki jilbab, maka diperintah oleh Rasulullah r: “Hendaknya Saudarinya
meminjaminya Jilbab untuknya “. (HR. Bukhari No. 318).

 

HIKMAH BERJILBAB

Semua perintah AIloh dan RasulNya r apabila dikerjakan pasti membawa
manfaat. Diantara manfaat jilbab bagi kaum wanita adalah sebagai berikut:

 1. Untuk membedakan antara wanita muslimah dan lainnya, berdasarkan
firmanNya: “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal”.
Tentunya wanita muslimah lebih bangga dengan jilbabnya, karena inilah
kemuliaan dari Allah.

 2. Jauh dari gangguan orang munafik dan laki-laki yang fasik, karena
firman-Nya “karena itu mereka tidak diganggu” Wahai ukhti muslimah!
Terimalah ketentuan Allah yang selalu belas kasihan kepada hambaNya.

 3. Mendapat ampunan dan rahmat dari Allah sebagaimana firman-Nya: “Dan
Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang “.

 4. Menjaga kesucian hati bagi kaum pria dan wanita. (Lihat keterangan surat
Al-Ahzab: 53 di atas)

 5. Mewujudkan akhlak yang mulia, rasa malu, menghormati dirinya dan orang
lain.

 6. Sebagai tanda wanita afifah, yakni wanita yang menjaga kehormatan
dirinya dari hal-hal yang mengganggunya. Syaikh Bakr Abu Zaid berkata:
“baiknya lahir seseorang menunjukkan baik batinnya”. (Lihat Hirosatul
Fadhilah hal: 85).

 7. Memutus ketamakan dan bahaya syetan, karena dengan jilbab berarti
menjaga masyarakat dari gangguan dan penyakit hati kaum pria dan wanita, dan
mencegah perbutan zina.

 8. Menjaga sifat malu, hal ini merupakan perhiasan utama bagi wanita, jika
rasa malu hilang, hilang pulalah kehidupan, karena haya’ yang berarti malu
diambil dari kata hayat yang berarti kehidupan.

 9. Membendung wanita untuk bersolek, berhias diri di hadapan orang lain dan
membendung pergaulan bebas serta menuju pembentukan masyarakat yang Islami.

 10. Menutup celah-celah perzinaan, sehingga wanita bukan merupakan makanan
empuk bagi setiap penjilat.

 11. Wanita adalah aurat, sedangkan jilbab merupakan penutupnya. 

Allah berfirman: 

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk
menutupi `auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa
itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari
tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS.
Al-A’rof: 26).

 12-Membuat suami senang kepadanya. (Hirosatul Fadhilah hal. 84-88 ).

SYUBHAT DAN BANTAHANNYA

Para propagandis dan penyeru agar wanita menanggalkan jilbabnya berargumen
dengan alasan­alasan yang kropos, diantaranya: Perintah dalam surat Al-Ahzab
ayat: 32, 33 yang tercantum di atas hanyalah diperuntukkan untuk para istri
Rasulullah r saja, bukan untuk semua wañita muslimah karena ayatnya: “Hai
isteri-isteri Nabi”.

Bantahan:

Syaikh Bakr bin Abdullah berkata: “Pembicaraan ini memang ditujukan kepada
isteri Rasulullah , tetapi wanita lainnya ikut di dalamnya, adapun disebut
isteri Rasulullah karena kemuliaan dan kedudukan mereka di sisi Rasulullah
r, mereka sebagai panutan wanita yang lain dan karena mereka kerabat
Rasulullah r yang wajib dinasehati”, sebagaimana firmanNya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka. (QS. At-Tahrim: 6).

Selanjutnya beliau mengatakan: “Ayat ini menunjukkan hukum umum, karena
syariat Allah bukan untuk perorangan, jadi yang menjadi patokan adalah
kaidah “keumuman dalil bukan kekhususan sebab. (Lihat Hirasotul fadhilah:
40-41).

Jika mereka beralasan bahwa ayat A1-Qur’an yang menjelaskan berjilbab hanya
diperuntukkan untuk isteri Rasulullah r, maka ketahuilah bahwa surat
Al-Ahzab ayat: 59 bukan hanya untuk isteri Nabi saja, tetapi untuk putri
beliau dan semua wanita muslimah dan berlaku sampai hari kiamat sebagaimana
sangat jelas dalam teks ayat tersebut. Ketahuilah bahwa kesamaan perintah
berjilbab untuk istri, putri Nabi dan wanita muslimah karena kesamaan iman
kepada hukum Allah.

 

ANCAMAN KELUARGA YANG 

MEMBIARKAN KELUARGANYA TAK

BERJILBAB

Seorang mukmin hendaknya menjauhkan dirinya dan keluarganya dari api neraka.
Rasulullah r bersabda:

Ada tiga perkara, Allah mengharamkan mereka masuk sorga, yaitu pecandu
khomer orang yang tidak taat dan addayus, yang menyetujui istrinya berbuat
kejahatan. (HR. Ahmad 5839, Shahihul Jami’: 3052, 2/290)..

Addayyus yaitu orang yang mengetahui keluarganya melakukan perbuatan keji
seperti zina dan lainnya, tetapi mereka malah mendukungnya atau
mendiamkannya. Contoh lainnya lagi: Orang tua yang membiarkan putrinya
bergaul bebas dan bersendagurau dengan pria yang bukan mahromnya. Suami
setuju melihat isteri atau putrinya hanya berpakaian pendek, tidak
berjilbab, atau membiarkan putri dan isterinya berhadap-hadapan dengan pria
bercelana pendek saat nonton telivisi dan Iainnya. (Lihat Mukhtashor
Al­Kabaair Adz-Dzahabi: 36).

Demikianlah, semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua, semoga Allah
memberi kesabaran bagi ukhti kita yang berjilbab, semoga kita tidak menjadi
penghalang wanita yang berjilbab, semoga kita menjadi pendukungnya walaupun
fitnah tidak kunjung padam. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah, tetapi
Allah ingin menghidupkannya.

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke