On 8/6/2010 8:02 AM, Ari wrote:
> anak saya asi sampai 2.5 tahunan nih.  asi eksklusifnya juga over, di atas 6
> bulan, soalnya makannya agak susah.  (8 bulan atau 9 bulan yah waktu itu).
> anak juga karakternya nggak bisa ditinggal dengan orang lain.  beruntung
> kami saat itu, karena si ibu merelakan diri tidak bekerja demi si anak.
> merasa lebih beruntung lagi waktu membandingkan anak anak yang ditinggalkan
> ibunya untuk bekerja, karakternya terlihat lebih egois dan temperamental.

Mosok sih papabonbon, anak yang ditinggal ibunya bekerja lebih egois dan 
temperamental hehehe ?

Sy tidak setuju membanding2kan seperti ini. Semua kembali kepada 
kemampuan orangtua dan karakter bawaan si anak. Pandangan spt ini hanya 
akan lagi2 membuat org mencibir pada perempuan yang bekerja di luar rumah.

Sy bisa jamin anak sy tidak lebih temperamental dibanding anak yang 
ibunya fulltime di rumah. Soal egois, itu adalah imbas dari didikan sy 
sendiri yang berusaha agar anak sy dari kecil belajar memiliki prinsip 
agar ia kelak tumbuh besar tidak mudah terpengaruh lingkungan dan 
teman2nya.

Kemampuannya untuk memilih apa yang ia inginkan membuat ia terlihat 
lebih egois ketimbang teman2nya yang cenderung ikut2an. Buat sy itu 
lebih baik daripada ia jadi org yg terlalu bertoleransi dengan 
lingkungan (teman2nya) dan malah akhirnya ia melakukan hal2 buruk hanya 
karena ia ingin dianggap solider atau eksis oleh teman2nya. Misalnya sy 
tidak mau anak sy merokok karena ikut2an temannya, itu namanya gak punya 
prinsip. Ikut2an adalah hal terlarang dalam kamus hidup sy. Ketika ia 
memilih melakukan sesuatu, ia harus tahu mengapa ia melakukan itu. Bukan 
karena ikut2an. Sepintas ia terlihat egois, buat sy itu wajar. Sy yg 
punya ibu seumur-umur tinggal di rumah, juga egois. Gak ada hubungan 
antara ibu bekerja dan ibu di rumah mengenai hasil akhir sifat si anak.

> cuman saya sambil berpikir sih. di jaman yang keras dan hidup penuh
> tantangan begini, yang lebih survive adalah anak anak yang berani bullying
> orang lain, berani egois untuk mendapatkan keinginannya kalau perlu dengan
> kekerasan.  on the expense of others.  (ingat sama abah dan kemauan kerasnya
> supaya memenangkan kompetisi pendapat dan memenangkan dirinya dalam berfatwa
> ria.  ingat juga sama fpi yang dengan egois dan kemauan kerasnya bisa
> bargain apa yang mereka inginkan).

Bullying itu beda dengan kemauan keras untuk memenangkan kompetisi.
Bullying itu penindasan terhadap orang yang lebih lemah. Anak2 harus 
diajari bahwa tindakan menindas orang yang lebih lemah adalah perilaku 
memalukan. Misal senior menindas junior, itu memalukan. Kalo mau ribut, 
cari orang yang sepadan, jangan beraninya dengan orang yang terlihat 
lebih lemah dari dirinya.

Ini sebabnya dulu waktu masih mahasiswa dan jadi panitia Ospek, sy 
menolak utk ikut meneriakin dan memaki2 junior. Rasanya kok sy memalukan 
sekali melakukan hal itu pada junior2 sy yang lebih lemah dari pada sy. 
Dalam bekerja pun sy begitu, lebih baik sy ribut sama atasan sy daripada 
sy harus memaki2 anak buah sy. Pantang menindas orang yang lebih lemah. 
Kalo mau ribut, cari lawan yang lebih kuat. Itu prinsip. Dan itu yang sy 
coba ajarkan pada anak laki2 saya. Kalau itu membuat dia jadi egois, itu 
harga yang memang harus sy bayar.




-- 
Salam Manis,
F e r o n a
http://www.cakefever.com

Kirim email ke