Hal yang
  boleh dikerjakan oleh orang yg shaum

  Penulis: Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly

  Fiqh, 29 Oktober 2003, 04:41:57 
  Seorang hamba yang taat serta
  paham Al-Qur'an dan Sunnah tidak akan ragu bahwa Allah menginginkan kemudahan
  bagi hamba-hamba-Nya dan tidak menginginkan kesulitan. Allah dan Rasul-Nya
  telah membolehkan beberapa hal bagi orang yang puasa, dan tidak menganggapnya
  suatu kesalahan jika mengamalkannya. Inilah perbuatan-pebuatan tersebut
  beserta dalil-dalilnya.
  

  1.         Memasuki waktu subuh dalam keadaan
  junub
  

  Diantara perbuatan Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah masuk fajar dalam
  keadaan junub karena jima' dengan isterinya, beliau mandi setelah fajar
  kemudian shalat.
  

  Dari Aisyah dan Ummu Salamah Radhiyallahu 'anhuma (yang artinya) : “
  Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memasuki waktu subuh dalam
  keadaan junub karena jima' dengan isterinya, kemudian ia mandi dan
  berpuasa" [Hadits Riwayat Bukhari 4/123, Muslim 1109]
  

  2.         Bersiwak
  

  Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “
  Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak
  setiap kali wudlu" [Hadits Riwayat Bukhari 2/311, Muslim 252
  semisalnya].
  

  Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengkhususkan bersiwak untuk
  orang yang puasa ataupun yang lainnya, hal ini sebagai dalil bahwa bersiwak
  itu diperuntukkan bagi orang yang puasa dan selainnya ketika wudlu dan
  shalat. [Inilah pendapat Bukhari Rahimahullah, demikian pula Ibnu Khuzaimah
  dan selain keduanya. Lihat Fathul Bari 4/158, Shahih Ibnu Khuzaimah 3/247,
  Syarhus Sunnah 6/298]
  

  Demikian pula hal ini umum di seluruh waktu sebelum zawal (tergelincir
  matahari) atau setelahnya. Wallahu 'alam.
  

  3.         Berkumur dan Istinsyaq
  

  Karena beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkumur dan beristinsyaq
  (memasukkan air ke hidung) dalam keadan puasa, tetapi melarang orang yang
  berpuasa berlebihan ketika beristinsyaq.
  

  Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “ ...
  Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali dalam keadaan puasa"
  [Hadits Riwayat Tirmidzi 3/146, Abu Daud 2/308, Ahmad 4/32, Ibnu Abi Syaibah
  3/101, Ibnu Majah 407, An-Nasaai no. 87 dari Laqith bin Shabrah, sanadnya
  SHAHIH]
  

  4.         Bercengkrama dan mencium
  isteri
  

  Aisyah Radhiyallahu 'anha pernah berkata (yang artinya) : “ Adalah Rasulullah
  Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mencium dalam keadaan berpuasa dan
  bercengkrama dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling
  bisa menahan diri" [Hadits Riwayat Bukhari 4/131, Muslim 1106].
  

  "Kami pernah berada di sisi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
  datanglah seorang pemuda seraya berkata, "Ya Rasulullah, bolehkah aku
  mencium dalam keadaan puasa ?" Beliau menjawab, "Tidak".
  Datang pula seorang yang sudah tua dan dia berkata : "Ya Rasulullah,
  bolehkah aku mencium dalam keadaan puasa ?". Beliau menjawb :
  "Ya" sebagian kami memandang kepada teman-temannya, maka Rasulullah
  Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya orang tua itu
  (lebih bisa) menahan dirinya".[ Hadits Riwayat Ahmad 2/185,221 dari jalan
  Ibnu Lahi'ah dari yazid bin Abu Hubaib dari Qaushar At-Tufibi darinya.
  Sanadnya dhaif karena dhaifnya Ibnu Lahi'ah, tetapi punya syahid (pendukung)
  dalam riwayat Thabrani dalam Al-Kabir 11040 dari jalan Habib bin Abi Tsabit
  dari Mujahid dari Ibnu Abbas, Habib seorang mudallis dan telah 'an-'anah,
  dengan syahid ini haditsnya menjadi hasan, lihat Faqih Al-Mutafaqih 192-193
  karena padanya terdapat hadits dari jalan-jalan yang lain].
  

  5.         Mengeluarkan darah dan
  suntikan yang tidak mengandung makanan [1]
  

  Hal ini bukan termasuk pembatal puasa, lihat pada pembahasan halaman
  sebelumnya.
  

  6.         Berbekam
  

  Dahulu berbekam merupakan salah satu pembatal puasa, namun kemudian dihapus
  dan telah ada hadits shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa
  beliau berbekam ketika puasa. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas
  Radhiyallahu 'anhuma (yang artinya) : “ Sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi
  wa sallam berbekam, padahal beliau sedang berpuasa" [Hadits Riwayat
  Bukhari 4/155-Fath, Lihat Nasikhul Hadits wa Mansukhuhu 334-338 karya Ibnu
  Syahin]
  

  7.         Mencicipi makanan
   
  Hal ini dibatasi, yaitu selama
  tidak sampai di tenggorokan berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu
  'anhuma (yang artinya) : “ Tidak mengapa mencicipi sayur atau sesuatu yang
  lain dalam keadaan puasa, selama tidak sampai ke tenggorokan" [Hadits
  Riwayat Bukhari secara mu'allaq 4/154-Fath, dimaushulkan Ibnu Abi Syaibah
  3/47, Baihaqi 4/261 dari dua jalannya, hadits ini Hasan. Lihat Taghliqut
  Ta'liq 3/151-152]
  

  8.         Bercelak, memakai tetes mata
  dan lainnya yang masuk ke mata
   
  Benda-benda ini tidak membatalkan
  puasa, baik rasanya yang dirasakan di tenggorokan atau tidak. Inilah yang
  dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam risalahnya yang bermanfaat
  dengan judul Haqiqatus Shiyam serta murid beliau yaitu Ibnul Qayim dalam
  kitabnya Zadul Ma'ad, Imam Bukhari berkata dalam shahhihnya[(4/153-Fath)
  hubungkan dengan Mukhtashar Shahih Bukhari 451 karya Syaikh kami Al-Albani
  Rahimahullah, dan Taghliqut Ta'liq 3/151-152] : "Anas bin Malik, Hasan
  Al-Bashri dan Ibrahim An-Nakha'i memandang, tidak mengapa bagi yang
  berpuasa".
  

  9.         Mengguyurkan Air ke Atas
  Kepala dan Mandi
   
  Bukhari menyatakan dalam kitab
  Shahihnya [lihat maraji’ di atas] Bab : Mandinya orang yang puasa, Umar
  membasahi [dengan air untuk mendinginkan badannya karena haus ketika puasa]
  bajunya kemudian dia memakainya ketika dalam keadaan puasa. As-Sya'bi masuk
  kamar mandi dalam keadaan puasa. Al-Hasan berkata : "Tidak mengapa
  berkumur-kumur dan memakai air dingin dalam keadaan puasa".

  Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengguyurkan air ke kepalanya dalam
  keadaan puasa karena haus atau kepanasan. [Hadits Riwayat Abu Daud 2365,
  Ahmad 5/376,380,408,430 sanadnya shahih]
  

  Footnote :

  1.         Lihat Risalatani Mujizatani
  fiz Zakati washiyami hal.23 Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
  Rahimahullah.
  

  Judul Asli : Shifat shaum an Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii Ramadhan,
  penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid.
  Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H. Edisi Indonesia Sifat
  Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh terbitan Pustaka Al-Mubarok
  (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H.


Sumber artikel : http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=309 

  
 





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke