Khadijah Tak Berpuasa Ramadan
Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Dari kupasan itu kita tahu bahwa sejumlah Sahabat Nabi banyak yang meninggal
dunia tanpa menjalankan puasa Ramadan. Khadijah binti Khuwailid, isteri Nabi
Muhammad, pun tak pernah menjalankan puasa Ramadan. Bahkan, Khadijah juga
tak sempat menjalankan shalat lima waktu, juga zakat, karena semuanya
disyariatkan ketika yang bersangkutan sudah meninggal dunia.

Sebagian besar agama mengenal tradisi puasa atau pantang. Ada banyak ragam
puasa yang diperkenalkan agama-agama. Dalam al-Qur'an (Mariam [19]: 26)
disebut bahwa Bunda Maria (Siti Mariam) bernazar puasa untuk tak bicara
dengan manusia manapun. "Inni nadzartu li al-rahman shawma fa lan ukallima
al-yawma insiya" (Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang
Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada
hari ini).

Puasa juga bisa dalam bentuk tak melakukan hubungan seksual. Jika umat Islam
pantang melakukan kontak seksual pada siang bulan Ramadan, maka para Romo
dan Pastur Katolik berpuasa dari hubungan seksual sepanjang hayat atau
selama yang bersangkutan masih menjadi pastur. Bentuk-bentuk puasa kian
banyak dijumpai jika kita memperhatikan adat dan tradisi. Ada puasa dengan
tidak makan dan minum selama tiga hari tiga malam. Sebagian masyarakat juga
mengenal tradisi pantang memakan "yang bernyawa", seperti hewan, ikan, dan
lainnya.

Sebagaimana agama lain, Islam pun mensyariatkan puasa. Bentuknya adalah
dengan tak makan-minum dan menahan hubungan seksual di siang hari. Dalam
periode Mekah, umat Islam menjalankan puasa tiga hari dalam setiap bulan
plus puasa Asyura. Dalam Shahih Bukhari (hadits ke-1893) disebutkan bahwa
masyarakat Arab pra-Islam sudah biasa melakukan puasa Asyura. Orang-orang
Yahudi saat itu juga berpuasa pada hari Asyura, karena hari itu diyakini
sebagai hari diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran dan ancaman bunuh
Fir'aun. Begitu Islam datang, Nabi Muhammad memerintahkan umat Islam untuk
puasa Asyura. (Al-Qurthubi, al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, Jilid I, hlm. 660).

Dengan demikian, ibadah puasa sebetulnya didasarkan pada syari'at sebelum
Islam (syar'u man qablana). Al-Qur'an (al-Baqarah [2]: 183) menyebutkan,
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas umat sebelum kalian, supaya kalian bertakwa".

Sejumlah referensi menjelaskan bahwa Islam dalam fase Mekah tak mengenal
puasa Ramadan. Puasa baru disyariatkan dalam periode Madinah. Menurut
al-Juzairi, puasa Ramadan diundangkan tanggal 10 Sya'ban tahun kedua
Hijriyah, atau 1,5 tahun setelah hijrah (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh
`ala al-Madzahib al-Arba'ah, Juz I, hlm. 416). Menurut Syatha al-Dimyathi
dalam I'anah al-Thalibin (Juz II, hlm. 215), selama 10 tahun tinggal di
Madinah, Rasulullah SAW menjalankan puasa Ramadan hanya sembilan kali. Satu
tahun pertama di Madinah, puasa Ramadan belum disyariatkan. Pada tahun itu,
Nabi Muhammad dan umat Islam masih menjalankan puasa Asyura, melanjutkan
kebiasaan puasa Asyura selama 13 tahun di Mekah. Dengan demikian, selama 14
tahun, Islam berjalan tanpa puasa Ramadan.

Dari kupasan itu kita tahu bahwa sejumlah Sahabat Nabi banyak yang meninggal
dunia tanpa menjalankan puasa Ramadan. Khadijah binti Khuwailid, isteri Nabi
Muhammad, pun tak pernah menjalankan puasa Ramadan. Bahkan, Khadijah juga
tak sempat menjalankan shalat lima waktu, juga zakat, karena semuanya
disyariatkan ketika yang bersangkutan sudah meninggal dunia. Namun, kita tak
perlu panik dan masygul. Khadijah tetap akan masuk surga walau tanpa shalat,
tanpa zakat, dan tanpa puasa Ramadan. Tuhan Khadijah (tentu Tuhan kita
semua) adalah Tuhan inklusif yang akan memasukkan hamba-hamba-Nya yang
beriman dan beramal saleh seperti Khadijah ke dalam surga. Wallahu A'lam bi
al-Shawab.


-- 
Aldo Desatura ® & ©
================
Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala dan Perjuangan Adalah pelaksanaan kata kata


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke