kalau seafood babe lili di cikini, pernah, oom ?  seafood lain yg oke juga,
di wolter monginsidi, dekat pasar santa.  pinggir jalan yah. ada sate ayam
juga di belokan pasar santa. sate ayam dan seafood ini dua duanya rame
banget.  bukanya menjelang maghrib jam 5 an gitu.  saya jadi pengamat dan
penikmat gara gara sekitar 2005 kursus perancis di ccf wijaya. jadi tiap
hari lewat situ hahaha ...


daeng tata emang kurang sip.  kalau yang di kelapa gading, yang konro
lompobatang ya ?  ini memang paling terkenal di makasar.  saya malah nyoba
yg di makasar.  :p  btw, katanya yg pernah nyoba, yg di kelapa gading malah
lebih enak daripada yg di makasar. sepertinya orang makasar, lidahnya
cenderung sederhana, karena bumbu asli. sementara kalau orang jakarta kan
lidahnya sudah rumit, jadi perlu di kasih bumbu dgn sentuhan javanisasi yg
lebih kompleks. :p  saya sih gak makan iga ke kelapa gading soale gak punya
mobil buat pergi ke sana, jadi cari yg deket deket tempat nginep biasanya
:))


ttg rumah makan puas - ini dari postingan alm oom barens hidayat
---
http://www.mail-archive.com/bango-ma...@yahoogroups.com/msg00750.html

Barens Hidayat: Menjelajahi kuliner Condet
Sat, 12 Apr 2008 03:00:17 -0700

Kita mengenal Condet saat ini adalah sebagai sebuah eks panggung
budaya yang lingkupnya sangat khas dengan budaya Betawi. Sebuah cagar
budaya yang dahulu asri, hampir menjadi semacam 'sanctuary' bagi
hiruk pikuknya kota megapolitan ( dulu masih metropolitan ) Jakarta.
Ke sinilah orang 'lari' untuk menghirup udara segar sekaligus 'ngalap'
buah salak, kecapi atau duku setelah kawasan Pasar Minggu menjadi
kenangan.

Saat masih bersekolah dasar di Kampung Melayu dulu, saya sering
sekali bermain ke Condet dan 'memanen' duku di kebun teman. Bahkan
ada beberapa teman pernah pulang ke rumah dengan bergetek ria menyusur
kali Ciliwung dari Condet.

Tapi Condet segera bermetamorfosis tak terkendali. Kebun-kebun salak
dan duku digusur dengan bangunan perumahan, tempat usaha dan
lain-lain. Saking cepat dan semaraknya pembangunan itu status cagar
budaya yang ditetapkan oleh Gubernur DKI- Bang Ali Sadikin, pada tahun
1975, telah dicabut dari Condet. Sekarang mungkin yang paling pas
adalah sebutan cagar TKI saking banyaknya tempat pelatihan dan
penampungan TKI di sini, selain berderetnya kedai penjual minyak wangi.

Dan, entah mengapa, budaya Timur Tengah juga segera merekat di Condet.
Rumah-rumah makan adalah salah sebuah bagian budaya yang makin ramai
di sepanjang daerah pinggir Ciliwung ini. Mungkin ini disebabkan
berkembangnya komunitas Arab-Betawi di Condet. Dulu, kawasan yang
paling terkenal dengan komunitas ini adalah, Kwitang, dengan adanya
ulama Habib Ali dengan pengajian mingguan di Islamic Centernya hingga
sebagian di Kampung Melayu. Selain itu juga di sebagian daerah Kebon
Pala ( Tanah Abang ). Komunitas Arab Condet, ada yang berasal dari
Jawa Timur dan terbesar Jawa Tengah, khususnya Pekalongan, yang lalu
berasimilasi dengan warga Betawi asli.

Deretan rumah makan, warung, gerai makan memanjang dari ujung jalan
yang dekat Cililitan ke ujung jalan mendekat Outer Ring Road. Di jalan
yang saat ini rusak dan banyak lubang, rumah-rumah makan itu sebagian
besar memenuhi bagian Condet Batuampar yang lebih dekat ke tol Jakarta
Outer Ring Road.

Sebuah diantaranya adalah RM Puas yang mengusung menu ala Timur Tengah
yang lumayan kental. Pemiliknya adalah Syadiq Assegaf yang dulu
populer dengan Nasi Kebuli Hotel Sriwijaya di jl. Veteran, Jakarta Pusat.
Jadi, jangan pula keliru, RM Puas Condet ini bukan cabang dari RM Puas
di Pekalongan yang juga markotop dengan Nasi Kebulinya. Yang di Condet
ini, rintisan Maryam Assegaf umi dari Syadiq, cuma memiliki rangkaian
dengan RM Puas lain di daerah Kebun Jeruk dan Jatiwaringin.

Menu andalan di rumah makan Puas adalah Nasi Kebuli, Roti Jala dan
Martabak. Roti jalanya lembut, tidak asin dan saat dicelupkan dalam
kuah kari kambing kelihatan mlekoh dan merangsang selera. Saya bisa
menghabiskan berlembar-lembar kalau sudah begini.
Tetapi Nasi Kebulinya tidak cukup kuat menarik urat gastronomi saya
dibandingkan dengan Nasi Kebuli di RM Layla di Jl. Abdullah Syafei
Kampung Melayu. Penampilannyapun kalah yahud dari Nasi Kebuli RM Ibu
Layla yang kekuningan dan tampak 'berat' itu. Nasi Kebuli RM Puas
datang dengan aroma yang enak untuk disesap, piring penuh nasi
bertabur kismis dan topping irisan kenari di sekeliling potongan
daging kambing yang lembut. Penampilan nasi lebih terang, bersih.
Tetapi, buat saya kurang terasa tekstur rempahnya. Tetapi acarnya yang
asam segar membuat saya meminta sepiring kecil lagi untuk dibawa
pulang dan nanti dimakan di rumah dengan roti jala dan kari kambingnya.

Karena masih ada bagian perut yang masih lowong ( not big tummy
though..:p ), setelah shalat Dzuhur di situ juga, saya memesan seporsi
Sambosa isi daging yang datang dalam sepiring isi 3. Sambosanya gurih,
kulit pembungkus isinya garing walau digoreng agak kematangan.
Tersedia pula Sambosa isi keju yang 'beda'. Pesanan lain, Roti canai
atau Roti Konde yang digoreng kering, tidak berminyak, cenderung
krispi. Buat saya roti canai di sini masih yang terbaik dari roti
canai tempat lain yang pernah sayacicipi. Gurih, menteganya dominan
sekali. Ahh...biar panjang rasanya, saya juga membungkusnya pulang
untuk nanti dimakan dengan madu atau gula serta taburan cinnamon.

Sekitar satu kilometer ke arah Outer Ring Road, kita bisa menemukan
rumah makan yang sangat sederhana, tetapi masakannya lumayan cukup
otentik, namanya Lesehan Jawa Timur. Ke sinilah dalam satu siang yang
lain saya mampir.

Ini rumah makan milik Thalib Musawa, saudara dari Harun Musawa,
wartawan senior di Tempo, yang menyediakan masakan khas Arab. Walau
khas Arab, tetapi saya sedikit berspekulasi ada sampiran India di
dalam masakannya. Memang mirip, sih..

Menu andalannya adalah Gule Kacang Hijaunya yang..ajiibb! Selain itu
kaldu kikil, Nasi Tomat dan Harisa ( bubur gandum ). Perut saya siang
itu terisi dengan sepiring nasi tomat, yang serupa sejenis dengan nasi
goreng di rumah-rumah makan Aceh. Hanya rasa asam tomat membuncah di
sana sini selain harum yang kuat dari daun salam koja. Sepotong daging
kambing dan sejumput acar, lagi-lagi acar Timnas TCM ( Timun Nanas
Tomat Cabe Merah ), menemani penampilan nasi tomat.

Gule Kacang Hijau saya makan di rumah bersama dengan Roti Maryam. Gule
yang kental sekali dengan santan pekat, gurih karena berbagai rempah
terjejak di dalamnya, serta 2 potongan tulang kambing yang berbungkus
daging lembut. Roti Maryam, versi padat Roti Canai, lebih sedikit
gepeng dan moist walau selapis lebih tawar dari roti Canai di RM Puas.

Tampaknya Kaldu Kikil yang sedang disantap orang lain di meja lesehan
sebelah perlu dijelajahi lain waktu. Kental, sekilas mirip Marag, dan
kikil yang menempel di kaki kambingnya (?) tebal-tebal. Sluurppss!!

Oya, sayajuga mencicip dodol arab yang dijual di Lesehan Jawa Timur.
Sebutannya Asid dan makannya dicocol dengan madu dan mentega yang
harum. Di rumah setelah dihangatkan sebentar, Asid, yang legit, lebih
lembut dari dodol tetapi tidak lengket saya colek sedikit demi sedikit
dan membuat sore yang gerimis terlewatkan dengan cepat. Pendamping
yang pas tentu saja kopi nasgitel itu. Panas legi kenthel!

Masih kuat? Ada sate Tegal Abu Salim yang..bujukkk, dahh! Kata orang
Condet, ente jangan sok yahannu lah kalo belon nyoba sate hati kambing
di Abu Salim. Ajjjiibbb!! Kombinasi dengan sate daging kambing yang
berpotongan besar dan empuk, sate hatinya memang menjadi juara tak
tertandingi.Lapisan luar hati yang firm terbakar rata meretas ketika
digigit dan langsung lumat begitu menyusur titik tengahnya.

Nasi Kebuli di Abu Salim juga 'jenis' yang lain lagi. Rempah-rempahnya
datar saja, nasinya sudah masuk kategori nasi lembek dan...ada campur
tangan kecap tampaknya. Menurut saya, adalah ide yang iseng memasukkan
kucuran kecap dalam nasi kebuli. Tetapi kambing gorengnya, apalagi
bagian dengkulnya, menuai resah yang mampu membuat berkeringat.

Bagi pedoyan susu, jangan segan mencoba susu kambingnya yang berempah
itu. Aliran rasa hangat akan segera menyelimuti hingga ke pori-pori
sesaat setelah meminumnya. Tapi, awas, seluruh kombinasi di atas akan
membuat kita gelisah semalaman! Romance scene all over the place!! Hahaha!

Berhentilah sebelum kenyang. Ini risalah sebuah hadis. Tetapi Condet
masih menunggu disambangi para penjelajah kuliner, food
traveller,..whatsoever,.. masih ada Dodol Condet, Emping Condet yang
gurih dan lebar buat oleh-oleh. Juga menu Harisa, bubur gandum dengan
daging kambing di rumah makan sederhana Thalib Musawa dan Bolion Pusa,
minuman kesegaran dari kaldu+telor ayam kampung+rempah di RM Puas.
Masih di kawasan Condet Batuampar, ada warung mungil menjual Nasi
Krawu dan Nasi Madura yang decent, Masakan Muslim Bali milik Jamal
Mubarak, Makanan Khas Cirebon dengan Empal Gentongnya, juga gerai Baso
Atom serta berbagai warung Sate Kambing Muda khas Betawi.

Nahh..!! Eat right, yuk!

Beberapa foto bisa dikunjungi di
http://beha38b.multiply.com/photos/album/305


Syukron!
Barens Hidayat
..berhentilah sebelum kenyang.

t




2010/8/16 st SABRI <sirb...@gmail.com>

>
>
> Nama warungnya "gule kambing Pak Madi (??)" tepatnya lupa, warna tenda
> kuning (tidak selalu berarti afiliasi golkar), kalo daeng Tata khan
> masakan khas sulawesi, di daeng tata ane pesennya "sop konro bakar".
> hanya saja kalo sop konro mending yang di kelapa gading. Kalo sea-food
> ya WIRO SABLENG 212 Kelapa Gading (mungkin pemilik warungnay penggemar
> komik)
>
> RM Puas Condet, nanti deh aku cari di google. Apa ada info lebih jelas.
>
> Aku masih lebih suka menemukan warung dengan penampilan kaki lima,
> tapi memiliki keistimewaan. Nah Bang Dudung kampung melayu ini selain
> masakannya jreng, bang Dudung (Pria sekitar 60-70 tahun) kalo jualan
> penampilan mirip eksekutif BUMN, kemeja lengan panjang, celana setrika
> rapi (baca licin), sepatu kulit mengkilat .... sempat tak tanya, kono
> beliau ini pemain musik keroncong, dulunya selesai berjualan dia harus
> tampil di panggung, karena gak cukup waktu ganti baju dia sejak jualan
> (mulai pukul 1600) sudah sangat rapi kayak mau manggung, dan sampai
> sekarang jadi kebiasaan. Meski sukses jualan sop kambing tapi aku
> melihat mata yang berbinar setiap dia cerita musik keroncong, kuduga
> dia tetap merasa tidak sukses, atau merasa berhasil bukan di bidang
> yang dia inginkan .... (merasa senasib :D).
>
> wassalam
> ./sts
>
> 2010/8/16 Ari <masar...@gmail.com <masarcon%40gmail.com>>:
>
> > dear pak sabri,
> >
> > 1. kepala kambing di casablanca apanya daeng tata, oom ? bukannya sekitar
> > fly over juga tuh.
> >
> > 2. kalau nasi kebuli di jakarta bukannya rumah makan puas di condet, yah
> ?
> > ingat ingat lupa rekomendasi anak anak jalansutra, hehehe :D
> >
> > 2010/8/16 st SABRI <sirb...@gmail.com <sirbats%40gmail.com>>
>
> --
> Powered by ubuntu gnu/linux
>
> 
>



-- 
salam,
Ari

<http://papabonbon.wordpress.com/>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

=======================
Milis Wanita Muslimah
Membangun citra wanita muslimah dalam diri, keluarga, maupun masyarakat.
Twitter: http://twitter.com/wanita_muslimah
Situs Web: http://www.wanita-muslimah.com
ARSIP DISKUSI : http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/messages
Kirim Posting mailto:wanita-muslimah@yahoogroups.com
Berhenti mailto:wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com
Milis Keluarga Sejahtera mailto:keluarga-sejaht...@yahoogroups.com
Milis Anak Muda Islam mailto:majelism...@yahoogroups.com

Milis ini tidak menerima attachment.Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    wanita-muslimah-dig...@yahoogroups.com 
    wanita-muslimah-fullfeatu...@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    wanita-muslimah-unsubscr...@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke