Seruan Toleransi dan Pluralisme yang Menyesatkan ! 

Kalaulah menjalankan syariah Islam yang kaffah (menyeluruh) dianggap hak
umat Islam Indonesia yang mayoritas , justru pemerintah yang didukung oleh
elit minoritas liberal-sekuler telah menghambat hak utama umat Islam ini. 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menekankan perlunya toleransi keagamaan
sementara meningkatnya seruan kepadanya agar mengambil tindakan tegas
terhadap golongan Islam radikal, yang terus menyerang golongan minoritas.
Dalam pesan kemerdekaannya, Presiden SBY menekankan perlunya toleransi
keagamaan sementara meningkatnya seruan kepadanya agar mengambil tindakan
tegas terhadap golongan Islam radikal, yang terus menyerang golongan
minoritas. 

Dalam pidato penting di depan parlemen pada malam menjelang Peringatan HUT
Kemerdekaan RI, Presiden SBY menyerukan kepada rakyat Indonesia agar
menghayati kehidupan harmonis sejati dalam masyarakat pluralistis.SBY
menghendaki pembangunan kehidupan demokratis dan adil dan menekankan
perlunya memelihara dan memperkuat persaudaraan, harmoni dan toleransi
sebagai bangsa.(VOA ; Senin, 16 Agustus 2010) 

Sehari sebelumnya, ribuan orang dari Jemaat Gereja Huria Kristen Batak
Protestan, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Perhimpunan Mahasiswa
Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Wahid Institut, dan elemen organisasi
masyarakat lain berunjuk rasa di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat,
Ahad (15/8). Mereka menagih janji pemerintah tentang kebebasan beragama. 

Tampak sebuah gerakan yang sistematis belakangan ini yang membangun opini
bahwa di Indonesia tidak ada kebebasan beragama, golongan Islam radikal
menyerang golongan minoritas, gereja dibakar, gereja dirubuhkan . Opini
kemudian disertai dengan pernyataan bahwa pluralism di Indonesia terancam,
Pancasila terancam, dan berujung pada NKRI terancam. Siapa yang mengancam ?
Kelompok-kelompok Islam radikal yang memperjuangkan syariah. 

Jelas ada penyesatan politik luar biasa dibalik ini semua. Benarkah di
Indonesia tidak ada kebebasan beragama ? Benarkah di Indonesia pembangunan
gereja terhambat ? Kenyataannya tidaklah seperti itu. Menurut Kepala Badan
Litbang Departemen Agama, Atho Mudzhar pertumbuhan tempat ibadah yang
terjadi sejak 1977 hingga 2004 justru meningkat. Pertumbuhan rumah ibadah
Kristen justru lebih besar dibandingkan dengan masjid. Rumah ibadah umat
Islam, pada periode itu meningkat 64,22 persen, Kristen Protestan 131,38
persen, Kristen Katolik meningkat hingga 152 persen (Republika: 18 Februari
2006) 

Laporan Majalah Time juga berbicara lain, dalam tulisan yang berjudul
Christianity's Surge in Indonesia
(http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1982223,00.html) majalah
itu menunjukkan gelora peribadahan pemeluk kristen di Indonesia. "Banyak
yang mengira Indonesia adalah sebuah negeri Muslim, tetapi lihatlah
orang-orang ini " kata pendeta David Nugroho. Dia membanggakan jemaat
gerejanya yang berkembang , sekarang berjumlah 400 orang , naik dari 30
orang saat didirikan pada tahun 1967. "Kami tidak takut untuk menunjukkan
iman kami .",ujar Pendeta David 

Dalam laporan yang ditulis Hannach Beech (26/04/2010) itu gelora pertumbuhan
kristen di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari ledakan penganut kristen di
Asia. Jumlah umat Kristen Asia meledak menjadi 351 juta pengikut pada tahun
2005, naik dari 101 juta di tahun 1970 (merujuk kepada the Pew Forum on
Religion and Public Life yang berbasis Washington, D.C. ) 

Masih menurut laporan TIME, sensus penduduk tahun 2000 jumlah penduduk
kristen hanya 10% dari penduduk Indonesia. Sesuatu yang tidak dipercaya oleh
pemimpin-pemimpin kristiani. Bukti sederhananya, di Tamenggung pada tahun
1960 tidak ada gereja Evangelical sama sekali. Namun sekarang terdapat lebih
dari 40 gereja Evangelical. 

Di ibukota Jakarta sekarang dibangun'megachurches' gereja megah yang baru,
seperti layaknya Texas (yang dikenal banyak terdapat gereja) dengan menara
yang menjulang tinggi ke langit .Penganut kristen lain ramai-ramai beribadah
di gereja-gereja tidak resmi di hotel-hotel dan mall , bersaing dengan para
pengunjung yang meningkat di akhir pekan. Patung Yesus Kristus tertinggi
dibangun pada tahun 2007, di kota Manado di Indonesia timur. Sementara TV
kabel Indonesia menyiarkan chanel yang mendakwahkan Kristen 24-jam terus
menerus. 

Melarang Beribadah ? 

Disamping itu tentu sangat keliru menyimpulkan ketika pembangunan sebuah
gereja dihambat berarti tidak ada kebebasan beragama. Umat Islam selama ini
tidaklah mempersoalan hak umat Kristen untuk beribadah. Ajaran Islam juga
memberikan hak kepada agama lain seperti Kristen untuk beribadah
sebebas-bebasnya. Islam melarang pemaksaan untuk memeluk ajaran Islam
apalagi menghancurkan tempat-tempat ibadah umat non muslim. Dalam sejarah
Khilafah Islam , umat kristen hidup berdampngan secara harmonis dibawah
naungan syariah Islam. 

Yang dipersoalkan umat Islam selama ini adalah pembangunan gereja yang
melanggar aturan. Seperti membangun gereja di tempat pemukiman yang
mayoritas muslim sementara yang beragama kristen disana sedikit. Apalagi
sudah banyak terjadi gereja dijadikan basis kristenisasi untuk memurtadkan
penduduk sekitar yang muslim. 

Dalam kasus Bekasi yang kemudian menjadi pemicu unjukrasa bentrok diawali
ketika pihak kristen menggunakan mempergunakan tempat yang semestinya tidak
diperuntukkan bagi peribadahan. Pantas warga di sekitarnya tak berkenan.
Karenanya rumah ibadah itu kemudian disegel oleh Pemkot Bekasi.Jemaat
tersebut mengadakan ibadah di lahan kosong seluas 2.300 meter persegi di
kawasan Pondok Timur Indah, Bekasi, pada Ahad (8/8/2010). Warga sekitar pun
tak berkenan. Mereka membubarkan acara tersebut. Wargapun diprovokasi hingga
menyebabkan bentrok. 

Pemerintah Kota Bekasi sudah menyiapkan tempat gedung untuk ibadah. Tapi
para jemaat sendiri yang menolak. Di Bekasi sendiri berdiri tiga bangunan
ilegal yang dijadikan sebagai tempat ibadah. Di antaranya, Gereja HKBP
Pondok Timur Indah di Kecamatan Mustika Sari, Gereja Gelilea Galaxi di
Kecamatan Bekasi Selatan, Gereja Vila Indah Permai (VIP) di Kecamatan Bekasi
Utara.Rencana pendirian gereja juga seringkali dengan cara menipu warga. 

Panitia pembanguna Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Bogor memalsukan
tandangan tangan warga. Anehnya IMB keluar padahal tidakada satu wargapun
yang menandatanganinya. Padahal berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB)
dua menteri pembangunan fasilitas sosial wajib memiliki 60 hingga 90 tanda
tangan warga. 

Cerita lain, pada November 2009 Satuan Polisi Pamong Praja membongkar lima
gereja di Desa Bencongan, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang. Lima
bangunan gereja yang dibongkar adalah Gereja Kristen Protestan Indonesia
(GKPI), Huria Gereja Batak Protestan (HKBP), Gereja Pantekosta Haleluya
Indonesia (GPHI), Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan Gereja Pantekosta
Indonesia (GPI). Mengapa gereja-gereja itu dibongkar? Berdasarkan keterangan
pejabat setempat, pembangunan lima gereja yang berdiri di lahan seluas 110
hektar milik Sekretariat Negara (Sekneg) itu menyalahi aturan karena tidak
mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB). Sebelumnya, tiga kali peringatan
sudah dikeluarkan Pemda Tangerang, namun pihak Kristiani tetap tak peduli. 

Penyesatan Politik Sistematis 

Fakta-fakta seperti ini sering tidak diungkap, jadi memang ada kesengajaan
untuk membangun opini bahwa di Indonesia tidak ada kebebasan beragama. Di
sisi lain, sangat jarang diblow-up oleh media massa terutama media
internasional, bagaimana sulitnya umat Islam mendirikan masjid di
tempat-tempat yang mayoritas penduduknya non muslim seperti di daerah Papua,
Bali, atau Timor Timur (saat masih bergabung dengan Indonesia). 

Isu pembangunan gereja ini kemudian dipolitisasi oleh kelompok-kelompok
liberal untuk mengkampanyekan ide sesat mereka tentang pluralisme oleh sudah
difatwakan haram oleh MUI. Alasan melindungi pluralisme inilah yang
digunakan untuk membenarkan kelompok-kelompok sesat yang menyimpang dari
Islam. Disisi lain menuntut ormas-ormas Islam yang mereka cap radikal
dibubarkan. Alasan menjaga Pluralisme juga digunakan membenarkan pembangunan
gereja-gereja tanpa izin . Dengan alasan pluralisme ini digunakan oleh pihak
kristen untuk membenarkan kegiatan misionaris mereka memurtadkan umat Islam.
Semua ini menunjukkan memang ide pluralisme sangat berbahaya bagi umat
Islam. 

Pihak Kristen sendiri sudah sejak lama menolak larangan menyebarkan agama
kristen pada umat lain termasuk umat Islam. Beberapa tokoh Islam seperti
H.M. Rasjidi dan M. Natsir pernah mengusulkan agar pemerintahmembuat
peraturan yang pada intinya melarang penyiaran agama lain kepada orang yang
sudah beragama tertentu. Namun kalangan Kristen seperti T.B. Simatupang
menentang usul itu, karena menurut mereka hal itu bertentangan dengan
sifat-dasar agama Kristen sebagai agama misioner, maupun dengan kebebasan
beragama (termasuk beralih agama) yang dijamin oleh Deklarasi Universal
Hak-hak Asasi Manusia (HAM) maupun Undang-Undang Dasar 1945 (Jan S
Aritonang; interfidei.or.id/pdf/DS19113) 

Tidak hanya itu, isu pembangunan gereja ini juga digunakan kelompok sekuler
liberal untuk melakukan stigmatisasi terhadap kelompok-kelompok Islam yang
mereka cap radikal dan ingin menegakkan syariah Islam. Tidak heran kalau
mereka yang selama ini memang getol menyerang syariah Islam seperti
orang-orang yang tergabung dalam Wahid Institute dan Jaringan Islam Liberal
(JIL) sangat aktif berperan . 

Logika minoritas yang ditindas oleh mayoritas juga sangat menyesatkan. Umat
Islam memang mayoritas dari segi jumlah , namun umat Islam di Indonesia
justru menjadi korban dari elit-elit minoritas sekuler baik secara ekonomi
maupun politik. Dengan kebijakan kapitalisme elit-elit minoritas ini
menyengsarakan rakyat Indonesia yang mayoritas muslim. Kalau kita jujur,
siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dengan kebijakan kapatalis-Liberal
ini ? Jelas bukan mayoritas umat Islam. 

Kita juga mempertanyakan , kenapa kelompok liberal-sekuler yang mengklaim
mendukung HAM diam seribu bahasa saat terjadi pembantaian terhadap umat
Islam Palestina, Irak dan Afghanistan, termasuk diam terhadap pembantaian
umat Islam di Ambon dan Poso. Mereka juga diam terhadap ketika
Aktifis-aktifis dan ulama umat Islam juga diperlakukan semena-mena atas nama
perang melawan terorisme ala Amerika. Terakhir, kita ingin mengatakan
kalaulah menjalankan syariah Islam yang kaffah (menyeluruh) dianggap hak
umat Islam Indonesia yang mayoritas , justru pemerintah yang didukung oleh
elit minoritas liberal-sekuler telah menghambat hak utama mayoritas umat
Islam ini. (Farid Wadjdi) 

http://hizbut-tahrir.or.id/2010/08/17/seruan-toleransi-dan-pluralisme-yang-m
enyesatkan/ 

_,_.___

.

 
<http://geo.yahoo.com/serv?s=97490425/grpId=47961099/grpspId=1750076179/msgI
d=1048/stime=1282273446/nc1=1/nc2=2/nc3=3> 





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke