Memperhatikan Nama-Nama Tuhan sekali lagi, timbul kebingungan baru. Karena 
nama-nama ar-Rahman, ar-Rahim, ar-Rabb, Al-Maula/al-Wali, dan 
al-Ghaffar/al-Gafur muncul sangat sering, kita pun mengira bahwa nama yang 
tampaknya berhubungan dekat, al-Wadud, akan muncul dua kali lebih banyak. Jika 
kita masukkan banyak penyebutan tentang cinta Tuhan atau tentang penarikan 
cintaNya, maka kita merasa bahwa peningkatan jumlah nama tersebut memang tepat. 
Akan tetapi, saat memeriksa dengan seksama, kita mengetahui bahwa cinta Tuhan 
dalam AQ tidak universal, dan inilah sebenarnya yang membedakan sifat ini dari 
sifat-sifat yang lain. Rahmat-Nya, misalnya, meliputi semua mahluk, termasuk 
pada para pendosa (QS7:156; QS30:33-34, 35, 46; QS40:7, QS42:28); pemeliharaan 
maupun pemberian-Nya berlaku untuk semua mahluk; Tuhan adalah satu-satunya 
pelindung sejati bagi semua jiwa (QS2:107; QS6:62; QS10:30); Dia segera 
menerima semua taubat yang ikhlas (QS4:110; QS13: 6; QS 39:53). Akan tetapi, 
saat AQ berbicara tentang cinta Tuhan, ia menunjukkan suatu hubungan yang 
sangat khusus, yang secara sengaja dimasuki oleh Tuhan dan manusia, suatu 
hubungan yang menurut AQ, ditolak oleh sebagian besar manusia (QS17:89; 
QS25:50, QS17:73). Walaupun rahmat, kasih-sayang, dan kepedulian Tuhan 
menyinari semua umat manusia, namun hanya orang-orang yang kembali kepada-Nya 
dan berjuang sepanjang hidup untuk menyerahkan dirinya kepada Dia yang akan 
memperoleh ikatan cinta dengan-Nya. Cinta ini adalah cinta yang dapat dirasakan 
bersama – cinta yang diterima dan diberikan – dan suatu keterlibatan bersama. 
Karena hanya sedikit yang memilih untuk memasukinya, kita tidak perlu terkejut 
dengant erbatasnya penggunaan nama al-Wadud dalam AQ,s ebab sekalipun hubungan 
cinta dengan Tuhan tersedia bagi semua orang, kebanyakan manusia tidak mau 
memasukinya.

Sekarang kita kembali ke pembahasan tentang apa yang Islam hajatkan dari 
manusia. Selagi kita terus maju melalui AQ, kita, secara berkesinambungan, 
diingatkan pada SIfat Sifat Tuhan dan sifat sifat bawaan dalam diri kita, yang 
seharusnya ktia gali. Telah kitaketahui bahwa ada banyak titik temu antara 
sifat-sifat Tuhan dan manusia, karena hamper semua kebajikan yang kita 
kembangkan, melalui amal kebaikan kita untuk orang lain, memiliki asal-usul dan 
kesempurnaannya pada Tuhan. Misalnya, kita harus lebih bermurah hati, ramah 
tamah, berbuat baik, suka meamafkan, kasih-sayang, dermawan, beramal, luwes, 
menjaga kehormatan, adil, berpengetahuan, amanah, dan bijaksana. Akan tetapi, 
semua sifat ini bersumber dari Tuhan sebagai sifat-sifat kesempurnaanNya. Jadi, 
dengan menumbuhkan sifat-sifat ini dalam diri kita, kita sebenarnya menjadi 
semakin dekat – utk menggunakan istilah Qur'ani – kepada sumber sifat-sifat 
tersbut yang tidak terbatas. Sebab itu, semakin kita memiliki sifat-sifat ini, 
semakin kita mengenal Tuhan. Karena manusia memiliki kemungkinan mengalami dan 
mendapatkan kebajikan2 ini pada tingkat yang lebih tinggi daripada mahluk lain, 
merekapun memiliki potensi untuk berhubungan dengan Tuhan melalui jalan unik 
yang akrab.

…

AQ mengabarkan kepada kita bahwa Tuhan meniupkan sesuatu dari ruhNya kepada 
semua jiwa manusia (QS32:9). Hal ini memperlihatkan bahwa setiap manusia 
membawa benih dari Sifat-Sifat Tuhan di dalam dirinya atau, dengan kata lain, 
kebaikan2 yang dia rasakan tidak lain merupakan hembusan Nama-Nama Tuhan. 
Konsep ini memperlihatkan bahwa semakin orang mengejar kebajikan maka semakin 
besarlah kapasitasnya untuk merasakan ketuhanan, dijelaskan dalam sabda Nabi 
SAW yang menyatakan bahwa semakin orang beriman tekun beribadah dan beramal 
saleh, semakin bersihlah hatinya, 
sehingga ia menjadi lebih siap menerima cahaya ilahiah, dan jika seseorang 
melalaikan kedua hal tersebut, hatinya akan menjadi berkarat dan tidak mampu 
menerima pencaharian ilahiah

wassalam,


--- In wanita-muslimah@yahoogroups.com, "Lina" <linadah...@...> wrote:
>
> Nama-Nama Allah, bagi kaum muslim, adalah suatu sarana untuk menuju cahaya 
> Ilahi yang tidak terbatas. Dengan mengingat nama-nama itu, orang beriman akan 
> berusaha untuk membuka hijab dan menghadap jiwa mereka kearah sumber akhir 
> segala sesuatu. Pengetahuan tentang nama-nama itu merupakan hal esensial bila 
> seseorang ingin memahami hubungan antara Tuhan dan manusia sebagaimana yang 
> di kandung dalam AlQur'an (AQ) dan seperti yang dialam kaum muslim.
> 
> AQ menampilkan dua potret, Tuhan dan aktivitas-NYA. Pada suatu sisi, Dia 
> transenden dan tak terduga. Dia adalah Mahasuci dan Mahatinggi dari sifat2 
> yang mereka (manusia) berikan (QS6: 10) "tidak ada sesuatu pun yang serupa 
> dengan Dia (QS42:11); dan "tidak ada sesorangpun yang setara dengan Dia" 
> (QS112:4). Pernyataan ini meningatkan adanya keterbatasan dan kesulitan 
> bahasa manusia untuk menggambarkan Tuhan [bukan keterbatasan aka 
> manusial-Red], apalagi pernyataan2 spt itu umum digunakan untuk menggambarkan 
> sifat dan prilaku manusia. Selain itu, kecenderungan manusia mengharfiahkan 
> bahasa symbol sering menimbulkan gambaran tentang Tuhan yang menyesatkan. 
> Pernyataan diatas hanya berfungsi sebgai tindakan hati hati dalam AQ, karena 
> AQ juga memang harus memuat gambar-gambar perbandingan spt itu. Jika kita 
> ingin semakin dekat dengan Tuhan, maka kita harus mengenalNya. Dan, untuk 
> dapat berhubungan dengan Dia, perbandingan ini merupakan alat yang penting 
> dan tidak bisa diabaikan.
>  
> Oleh karena itu, selain penegasan ttg Tuhan yang sepenuhnya tidak bisa 
> dibandingkan, kita juga menemukan bermacam2 sifatNya yang disebutkan pada 
> hampir setiap halaman AQ. Secara kolektif, AQ menyebut nama nama ini sebagai 
> al-asma al-husna (nama-nama yang paling indah' (QS7:180, QS17:110, QS20:8, 
> QS59:24)
> 
> Seorang muslim yang tekun beribadah akan membaca AQ paling tidak lima kali 
> sehari dalam sholat wajibnya. Banyak orang muslim mendengarkan AQ melalui 
> kaset rekaman, sama dengan orang Barat mendengarkan musik. Sementara membaca 
> AQ, kaum muslim tak henti-hentinya menyebutkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat 
> Allah yang selalu muncul pada setiap halamannya. Melalui penyebutan yang 
> konstan ini, suatu visi atau imajinasi tertentu terhadap Allah tertulis 
> dengan sendirinya dalam hati dan pikiran orang muslim, dengan sifat2 yang 
> lebih sering disebutkan menempatkan posisi lebih utama daripada yang lebih 
> sedikit disebutkan. Sekiranya kita visualisasikan efek ini, kita mungkin 
> dapat menggambarkan piramida Nama Nama Yang Paling Indah: Allah akan berada 
> pada puncaknya dan kemudian Rabb berada dibawahnya. Dstnya. [Mungkin, karena 
> hal ini lah beberapa muslim tidak mau menyebut nama Allah dengan Tuhan. Kalau 
> dengan Tuhan tidak ada efek dzikrullah...Red]
>  
> Dengan cara ini, seorang muslim mengembangkan suatu konsepsi immateri Tuhan 
> yang sempurna; dia mendekati Tuhan melalui pikiran, hati, jiwa, perasaan, dan 
> intuisi, bukan melalui gambaran fisik. Hal ini, saya rasa, merupakan sumber 
> pokok penentangan Islam terhadap doktrin berhala. Ini bukan fanatisme keras 
> yang berakar pada komunitas sahara yang secara budaya dan artistic primitive; 
> ini adalah suatu efek alami dari cara orang muslim memahami dan berhubungan 
> dengan Tuhan melalui konsep yang mengekspresikan kualitas dan aktivitas 
> secara hakiki, dan bukannya melalui gambaran visual. Karena itulah kita 
> mendapatkan seni kaligrafi orang muslim yang unik tidak mengandung potret2 
> dan patung2, melainkan hanya kata2.
>  
> 
> by: Jeff Lang
> 
>  
> 
> Lanjutnya besok aja aaah....insyaAllah
>


Kirim email ke