Mia,

Di Pekalongan timun suri ini bernama BARTEH, memang buah standar bulan
Puasa, barangkali karena murah harganya atau mengandung sesuatu yang
baik buat makanan bagi orang berpuasa.

sejujurnya, setiap Ramadhlan selama sepuluh tahun terakhir, hatiku
sumelang (ragu), karena bagiku puasa Ramadhlan seperti "Persiapan
Makan Enak". Aku senang menahan lapar dan dahaga karena makan di saat
maghrib selalu nikmat. Makna pahala dan "kemuliaan" ramadhlan ini jadi
tidak terlintas dalam pikiranku :D Menahan hawa nafsu (Berahi)
misalnya sudah bukan persoalan lagi, karena entah mengapa setiap
Ramadhlan memang berahi menurun jauh, melihat kancing blouse perempuan
muda dibuka satu dua kancing sebelah atas juga rasanya biasa saja. Nah
yang agak berat memang menahan marah. Aku perhatikan kawan2 kolega dan
mitra kerja kalo setelah pukul 1400 di bulan Ramadhlan kalo nelpon
nadanya pada tinggi. Persoalan sepele bisa jadi penyebab amarah.

untuk pribadi memang aku sudah mulai kekurangan tantangan, pekerjaan
sangat tidak menarik minat. Lebih mengundang minat belajar membuat
script2 php, phyton dkk :D

Tahun ini aku melaksanakan kedua kali ide baru, memberi hadiah lebaran
kepada orang2 yang aku benci dan tidak aku sukai, agak sulit membuat
daftarnya tapi ketemu saja orang/saudara yang tidak kusukai.

Mungkin jalur hidupku memang tak seindah kisah2 ajaib atau bagiku agak
sulit menangkap makna keagungan Ramdhlan sebagaimana digambarkan oleh
para khatib dan ulama. Aku senang membaca posting Mia, tentang
ramadhlan dan timun suri ini, minimal aku merasa tidak lagi sendirian
menikmati ramdhlan dengan hal-hal sederhana dan sepele.

selamat berlebaran

./sts


2010/8/28 <al...@yahoo.com>
>
>
>
> Oh ketimun suri nan mletak, setiap malam dan sahur dikau kujelang bersama 
> potongan melon merah, papaya, buah naga,rumput laut, sedikit sirop dan jeruk 
> nipis. Betapa berat mengakhiri bulan puasa karena kita tak kan bersua lagi 
> sampai tahun depan..oh timun suriiiii.....hiksss
> Salam
> Mia
>

--
Powered by ubuntu gnu/linux

Kirim email ke